Rebeca Alexander terbiasa mendapatkan segalanya. Kaya, cantik, dan berpengaruh, ia tak pernah ragu merendahkan Cika, gadis sederhana yang berani menjadi saingannya di kampus.
Bagi Rebeca, Cika hanyalah gadis miskin yang tidak tahu tempat.
Namun hidupnya hancur saat sang ayah membawa seorang wanita baru ke rumah mereka. Dan wanita itu adalah Cika.
"Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai ibu tiriku!"
Cika menyahut dingin. "Bagus. Karena aku juga tidak berniat menggantikan ibumu. Aku hanya akan menjadi istri ayahmu. Dan mulai detik ini, aku punya aturan baru di rumah ini ... belajarlah untuk menghargai orang lain, terutama aku."
Bisakah dua gadis seumuran dan keras kepala itu bersatu dan akur? Atau malah jadi musuh selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Cika menarik napas pelan sebelum akhirnya menjawab dengan suara lembut. "Sama Pak Robinson."
Sinta langsung menganga. Bola matanya membulat lebar. "Pak ... Robinson?" ulangnya tak percaya.
Cika mengangguk pelan. "Iya."
Sinta masih terdiam beberapa detik. Wajah polos gadis kecil berusia delapan tahun itu dipenuhi keterkejutan. "Pak Robin memang baik banget sama kita," ucapnya lirih. "Beliau juga sering membantu kita." Ia berhenti sejenak, lalu bertanya dengan polos, "Tapi ... beliau kan sudah tua, Kak." Cika tersenyum tipis mendengar kepolosan sang adik. Sinta kembali bertanya dengan rasa penasaran yang begitu besar. "Kakak serius jatuh cinta sama Pak Robin?"
Pertanyaan itu membuat Cika tertegun.
Senyumnya perlahan memudar. Ia menatap wajah Sinta yang masih polos, lalu menggenggam tangan mungil adiknya dengan lembut. Di dalam hati, Cika merasa dadanya sesak. "Bagaimana mungkin aku mengatakan yang sebenarnya?" Ia tak mungkin menjelaskan bahwa keputusan menikahi Robinson bukan semata-mata karena perasaan. Semua ini ia lakukan demi menyelamatkan nyawa Sinta. Biaya pengobatan kanker yang dijalani adiknya sangat besar. Operasi, kemoterapi, obat-obatan, hingga perawatan lanjutan membutuhkan dana yang bahkan tak sanggup ia bayangkan jika harus ditanggung sendiri. Dengan menikah dengan Robinson, pengobatan Sinta bisa terus berjalan tanpa terhambat biaya. Namun, semua itu terlalu berat untuk diketahui seorang anak berusia delapan tahun.
Cika mengusap lembut punggung tangan Sinta. "Yang jelas ..." ucapnya pelan sambil tersenyum hangat, "Pak Robinson itu orang baik. Beliau selalu menghormati Kakak dan juga sangat peduli sama kamu."
Sinta masih menatap kakaknya lekat-lekat. "Jadi ... Kakak nggak dipaksa, kan?"
Cika menggeleng pelan. "Nggak."
"Serius?"
"Iya." Meski bibirnya mengucapkan jawaban itu, di dalam hati Cika berdoa semoga suatu hari nanti Sinta tidak pernah merasa bersalah jika mengetahui bahwa keputusan terbesar dalam hidup kakaknya diambil demi satu tujuan ... agar adiknya bisa terus berjuang melawan kanker dan memiliki kesempatan untuk hidup lebih lama.
***
Pesawat yang ditumpangi Rebeca akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Incheon. Begitu lampu tanda sabuk pengaman dipadamkan, ia segera meraih koper kabinnya. Senyum tak henti-hentinya menghiasi wajahnya. Sudah begitu lama ia tidak bertemu sang mama.
Setelah melewati proses imigrasi dan mengambil koper di bagasi, Rebeca melangkah keluar menuju area penjemputan. Matanya menyapu kerumunan orang yang membawa papan nama maupun buket bunga.
"Rebeca!"
Suara yang begitu dikenalnya membuat Rebeca spontan menoleh. Di sana berdiri Giselle dengan senyum lebar, melambaikan tangan ke arahnya. "Mama!" Tanpa ragu, Rebeca berlari kecil menghampiri. Sesampainya di depan sang mama, ia langsung memeluk wanita itu erat-erat.
"Sayang, Mama kangen banget sama kamu," ujar Giselle sambil mengusap punggung putrinya penuh kasih.
"Aku juga kangen, Ma ..." jawab Rebeca dengan mata berkaca-kaca. "Rasanya pengen cepat-cepat ketemu Mama."
Mereka melepaskan pelukan. Giselle mengusap pipi Rebeca yang tampak sedikit lebih kurus. "Kamu capek, Sayang? Penerbangannya panjang."
"Capek sedikit, tapi sekarang udah hilang karena ketemu Mama."
Giselle tersenyum hangat. "Ayo, mobil sudah menunggu. Kita pulang dulu. Mama sudah masak makanan kesukaanmu."
Mata Rebeca langsung berbinar. "Serius? Wah, aku kangen masakan Mama."
"Iya. Selama di sini, Mama yang akan manjain kamu."
Rebeca terkekeh kecil. Ia kemudian menggandeng lengan sang mama, sementara seorang sopir mengambil koper mereka. Keduanya berjalan berdampingan meninggalkan area kedatangan bandara dengan wajah sama-sama dipenuhi kebahagiaan.
Di sepanjang perjalanan menuju mobil, Rebeca tak berhenti bercerita tentang kegiatannya di Indonesia, sementara Giselle mendengarkan dengan penuh perhatian. Liburan yang telah lama dinantikannya akhirnya benar-benar dimulai. Di dalam hati, Rebeca juga berharap, selain menikmati waktu bersama sang mama, ia juga ingin segera bertemu dengan Elgar.
Sekitar satu jam perjalanan dari bandara, mobil hitam yang mereka tumpangi akhirnya memasuki kawasan hunian elite di jantung Kota Seoul. Gedung-gedung pencakar langit menjulang megah di sekelilingnya, sementara deretan apartemen premium berdiri dengan desain modern yang elegan.
Mobil perlahan berhenti di depan sebuah apartemen mewah tempat Giselle tinggal. Seorang petugas keamanan segera membukakan pintu mobil, disusul seorang staf yang membantu menurunkan koper Rebeca.
Rebeca mendongak menatap bangunan tinggi itu sambil tersenyum kagum. "Masih sama seperti terakhir kali aku ke sini," gumamnya.
Giselle tersenyum. "Mama memang sudah betah tinggal di sini."
Keduanya kemudian berjalan memasuki lobi yang begitu luas. Lantai marmer mengilap, lampu kristal menggantung indah di langit-langit, serta aroma lembut pengharum ruangan membuat suasana terasa begitu nyaman dan berkelas.
Mereka menaiki lift khusus menuju lantai tempat apartemen Giselle berada. Tak lama kemudian, pintu lift terbuka. Giselle membuka pintu apartemennya menggunakan akses sidik jari. "Selamat datang di rumah, Sayang," ucapnya hangat.
Rebeca melangkah masuk sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Interior apartemen itu didominasi warna putih dan krem dengan sentuhan kayu yang hangat. Jendela kaca besar membentang dari lantai hingga langit-langit, memperlihatkan panorama Kota Seoul yang begitu indah. "Rumah Mama tetap cantik, sama seperti orangnya," puji Rebeca.
Giselle tersipu dan memeluk Rebeca. "Kamu juga makin cantik, Sayang." Ia balas memuji. "Ayo, istirahat dulu. Kamar kamu sudah Mama siapkan."
Rebeca mengangguk. Ia mengikuti Giselle menuju kamar yang telah dipersiapkan khusus untuknya. Saat pintu dibuka, kamar itu tampak begitu rapi dan nyaman. Seprai baru telah terpasang, vas berisi bunga segar menghiasi meja samping tempat tidur, dan beberapa camilan kesukaan Rebeca sudah disiapkan di atas meja.
Melihat perhatian kecil itu, hati Rebeca terasa hangat. Ia sadar, sejauh apa pun jarak memisahkan mereka, kasih sayang seorang ibu tidak pernah berubah. "Sejujurnya, daripada tinggal sama Papa ... aku lebih nyaman tinggal sama Mama. Tapi, kenapa sih hak asuhku harus jatuh ke Papa, aneh?" batin Rebeca heran.
"Beca." Panggilan lembut itu membuat Rebeca tersadar dari lamunannya.
"Iya, Ma."
"Kamu kenapa melamun?" tanya Giselle sambil menarik Rebeca agar duduk di atas ranjang.
Rebeca menarik napas dalam. "Ma ... kenapa sih dulu hak asuhku harus jatuh ke tangan Papa? Kenapa nggak ke Mama aja?"
Giselle menegang, ia menelan ludah susah payah. "Aduh, aku harus jawab apa? Aku nggak boleh keceplosan." Giselle membatin bingung. Ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya, kalau hak asuh Rebeca jatuh ke tangan Robinson karena dirinya selingkuh. Itu adalah aib yang selama ia tutupi. Tiba-tiba, perjanjiannya dengan sang mantan suami berkelebatan.
"Aku tidak akan pernah menceritakan keburukanmu pada Rebeca, tapi syaratnya ... kamu tidak boleh menggugat hak asuh Beca. Biarkan dia tinggal bersamaku!"
"Baiklah. Silakan ambil hak asuh Beca. Tapi aku minta bagian harta gono-gini yang besar. Aku tidak mau dibagi rata. Aku mau tujuh puluh persen dari harta bersama kita!"
"Ya. Aku setuju."
"Ma, Mama!" Tepukan halus di bahu Giselle membuat wanita itu terhenyak.
"Eh, iya, Sayang?" Giselle sontak menatap Rebeca.
"Kenapa Mama malah jadi bengong? Pertanyaanku kok nggak dijawab sih?"
Giselle buru-buru memeluk Rebeca. "Maaf, Sayang. Pertanyaanmu tadi membuat Mama teringat pada saat perceraian dengan Papamu. Hati Mama perih lagi, Beca. Mama terpaksa-"
"Oke, Ma!" Rebeca menggeleng keras. "Nggak usah dijawab. Aku minta maaf kalau sudah membuat luka lama Mama kembali terbuka." Rebeca gegas memeluk sang ibu. "Aku nggak akan menanyakan hal itu lagi. Apa pun yang terjadi dulu, aku yakin ... Papa lah yang salah, dan Mama memilih pergi meninggalkanku bersama Papa pasti karena Papa yang minta. Papa kan pemaksa, keras dan kejam. Mentang-mentang dia punya segalanya, iya kan, Ma?"
"Iya, Sayang." Giselle mengangguk lega. "Kalau gitu, nggak usah bahas itu lagi ya. Mending sekarang kita makan siang dulu yuk."
"Ayo, Ma." Rebeca mengangguk ceria.
"Selamat, selamat." Giselle merasa lega.
***
Robinson baru saja menyelesaikan rapat dengan jajaran direksi. Setelah semua orang keluar dari ruangan, ia menyandarkan tubuh sejenak di kursi. Pikirannya melayang pada Rebeca.
Robinson mengambil ponselnya. Jemarinya bergerak pelan mengetik sebuah pesan. "Beca, apakah kamu sudah sampai?"
Tak butuh waktu lama, layar ponselnya menyala. "Sudah." Hanya satu kata.
Robinson menatap balasan singkat itu beberapa saat. Meski terasa begitu formal, setidaknya ia tahu Rebeca telah tiba dengan selamat. Ia mengembuskan napas lega, lalu membalas lagi. "Syukurlah. Selamat berlibur. Jaga kesehatan." Pesan itu terkirim.
Robinson menunggu beberapa detik. Tak ada tanda-tanda balasan masuk. Satu menit berlalu. Hingga lima menit. Layar ponselnya tetap sunyi.
Robinson hanya tersenyum tipis. Ia sudah terbiasa dengan sikap Rebeca yang tidak banyak bicara kepadanya. Yang terpenting baginya, putrinya sudah sampai dengan selamat dan bisa menikmati waktu bersama ibunya.
Dengan perlahan, Robinson meletakkan ponselnya di atas meja kerja, lalu kembali menekuni setumpuk berkas yang telah menunggu untuk ditandatangani. Meski hubungan mereka belum sedekat yang ia harapkan, ia tetap berharap suatu hari nanti jarak di antara dirinya dan Rebeca bisa perlahan memudar.
***
Rebeca baru saja selesai mandi. Rambut panjangnya yang masih basah dibiarkan tergerai, sementara tubuhnya hanya dibalut handuk putih tebal yang melilit hingga sebatas lutut.
Ia sedang mengeringkan ujung rambutnya ketika ponsel di atas nakas berdering. Layar menampilkan panggilan video dari Elgar. Rebeca langsung membeku. "Ya ampun, Kak Elgar VC." Jemarinya menggantung di atas layar. Ia ragu mengangkatnya. Penampilannya saat ini jelas belum pantas untuk melakukan panggilan video. "Ah ... nanti saja," gumamnya.
Namun, keraguan itu hanya bertahan beberapa detik. Sejak pesawat mendarat, diam-diam ia juga merindukan lelaki itu. Keinginan melihat wajah Elgar akhirnya mengalahkan rasa malunya.
Dengan napas pelan, ia menekan tombol terima. Layar langsung menampilkan wajah Elgar.
Awalnya lelaki itu tersenyum lebar. "Hai, Sweety-" Kalimatnya terhenti begitu melihat Rebeca. Mata Elgar langsung membulat. Ia terpaku beberapa detik, benar-benar melongo. "Ya ampun ..."
Rebeca yang baru menyadari bagaimana dirinya terlihat di layar spontan menunduk, lalu memeluk handuknya lebih erat. "Jangan melongo begitu, dong, Sayang ..." protesnya dengan pipi yang mulai memerah.
Elgar berkedip beberapa kali, berusaha mengembalikan fokusnya. "Maaf ... aku benar-benar nggak nyangka kalau kamu seseksi ini." Ia berdeham pelan sambil mengalihkan pandangan sesaat agar tidak membuat Rebeca semakin salah tingkah. "Kamu ... baru selesai mandi?"
Rebeca mengangguk malu. "Iya. Aku tadi sempat mau nolak panggilannya, tapi ..." Ia menggigit bibir bawahnya pelan. "Aku kangen banget sama kamu, Sayang."
Mendengar pengakuan itu, senyum Elgar perlahan mengembang. "Sama dong. Aku juga kangen banget sama kamu. Pengen segera bertemu."
Rebeca tersipu. Ia tidak langsung menjawab, hanya tersenyum kecil.
Elgar menatap Rebeca dengan senyum yang tak kunjung pudar. "Sweety ..."
"Hm?"
"Kalau malam nanti kamu nggak ada acara sama Mamamu, kita ketemuan yuk? Mumpung aku masih punya waktu luang, soalnya besok aku akan sangat sibuk."
"Ayo, Sayang. Di mana? Jam berapa?"
"Jam tujuh aja. Nanti aku share lock."
"Oke, Sayang."
"Tapi jangan bilang ke Mamamu kalau kamu mau ketemu aku ya. Ingat kan pesanku soal jangan ada yang tahu hubungan kita?"
"Ingat, dong, Sayangku. Tenang saja. Aku nggak akan beritahu siapa pun."
"Makasih, cantikku." Elgar menunduk dan diam-diam menyeringai. "Malam ini ... akan kumulai langkah awal untuk membuat Rebeca makin cinta padaku," batinnya licik.
gimana kl tahu mama kebanggaanmu itu gk lbh dr jalang kelakuannya+ lo dah jd korban taruhan jg berbagi cinta selingkuhan mamamu...🤫🙉