Alya yang baru tamat SMA harus menerima takdir perjodohan kakak kandungnya yang mengakibatkan Alya harus mengubur mimpi dan menerima perlakuan kasar dari Suaminya sendiri yang merupakan Pacar kakak kandungnya.
Namun takdir membawa Alya bertemu dengan Trainer Aerobik yang memiliki kepedulian melebihi kakak kandungnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Was-was
Pagi menjelang dengan sinar matahari yang mulai menyelinap di balik tirai jendela. Cahaya keemasan itu masuk perlahan, menciptakan garis-garis tipis di lantai marmer kamar, merayap naik ke atas ranjang, menyentuh wajah-wajah yang masih terlelap.
Alya sudah terbangun sejak satu jam lalu. Bukan karena ia ingin bangun, tapi karena tubuhnya sudah terbiasa bangun pagi. Hanya saja, pagi ini ia tidak bisa bergerak.
Tangan Reza masih berada di atas pinggangnya.
Bukan genggaman yang keras atau mencengkeram seperti malam itu. Tangan itu hanya tergeletak di sana, di atas selimut yang menutupi tubuh Alya, seolah pemiliknya tidak sadar sedang menyentuh istrinya.
Reza masih tidur, napasnya dalam dan teratur, wajahnya yang tampan itu terlihat lebih muda saat tertidur—garis-garis tegang di dahi mengendur, rahang yang biasa mengeras kini tampak lebih lembut.
Tapi Alya tidak peduli dengan semua itu.
Jantungnya berdegup kencang, begitu kencang hingga ia khawatir suaranya akan membangunkan pria di sampingnya. Setiap sel dalam tubuhnya berteriak untuk bangkit, untuk lari, untuk menjauh. Namun ia memaksakan diri untuk tetap diam. Tidak bergerak. Bernapas teratur.
Ia ingat nasihat yang pernah ia baca di suatu tempat: jangan membangunkan predator yang sedang tidur. Dan meskipun Reza bukan predator—atau mungkin ia adalah predator di malam itu—Alya tidak ingin mengambil risiko.
Trauma malam itu masih membekas. Bekas tamparan di pipinya sudah memudar, memar di tubuhnya perlahan menguning, tapi ketakutan di dalam hatinya masih utuh.
Setiap kali ia merasakan kehadiran Reza terlalu dekat, tubuhnya secara otomatis mempersiapkan diri untuk melawan atau melarikan diri. Fight or flight. Dan pagi ini, ia memilih untuk membeku.
Ia terus menatap dinding di depannya, matanya terpejam rapat, napasnya ia atur sedalam mungkin. Hitung dalam hati. Satu... dua... tiga... empat...
Setiap detik terasa seperti abad. Alya bisa merasakan beban tangan Reza di pinggangnya, hangat tapi menyesakkan. Ia ingin mendorongnya pergi, tapi ia tidak berani bergerak. Ia hanya bisa berharap, berdoa dalam diam, agar pria itu segera bangun dan pergi.
Seperti mendengar doanya, Reza mulai bergerak.
Pria itu menggeliat pelan, tangan di pinggang Alya terangkat dan mengusap wajahnya sendiri. Ada suara desahan kecil, lalu suara tubuh yang membalikkan badan. Alya merasakan beban di ranjang bergeser, dan untuk pertama kalinya sejak ia terbangun, ia bisa bernapas sedikit lega.
Namun ia belum sepenuhnya aman. Ia harus tetap berpura-pura tidur sampai Reza benar-benar keluar dari kamar.
Dia mendengar suara Reza duduk di tepi ranjang. Ada keheningan beberapa detik. Alya tidak tahu apakah Reza menatapnya atau tidak, dan ia tidak mau tahu. Ia hanya terus mempertahankan napasnya yang teratur, wajahnya yang tenang, matanya yang terpejam.
Lalu suara langkah kaki. Reza berjalan menuju kamar mandi. Pintu terbuka dan tertutup. Suara air mengalir.
Alya akhirnya bisa bernapas.
Ia membuka matanya perlahan, masih belum berani bergerak terlalu cepat. Napasnya ia hembuskan panjang-panjang, melepaskan semua ketegangan yang tertahan sejak tadi.
Tangannya yang sedari tadi menggenggam erat ujung selimut perlahan ia relakskan, jari-jarinya terasa kaku dan kesemutan.
Setengah jam kemudian, Reza keluar dari kamar mandi. Alya mendengar suaranya mengenakan pakaian, meraih sesuatu dari meja rias, lalu langkah kaki menuju pintu.
Pintu terbuka. Langkah kaki keluar.
Dan pintu tertutup.
Alya menunggu sampai suara langkah kaki itu benar-benar hilang, sampai ia mendengar suara pintu depan terbuka dan tertutup, sampai suara mobil meninggalkan garasi. Baru setelah semuanya sunyi, ia membiarkan tubuhnya lemas di atas ranjang.
"Syukurlah..." bisiknya lirih, suaranya serak karena semalaman terjaga.
Ia berbaring di sana beberapa saat, memulihkan diri. Kemudian perlahan ia bangun. Tubuhnya masih terasa kaku karena semalaman tidak berani bergerak, otot-ototnya terasa pegal. Ia berjalan menuju kamar mandi, mencuci muka dengan air dingin, menatap pantulannya di cermin.
Mata masih sembab, tapi tidak separah kemarin. Bekas di pipi hampir tidak terlihat lagi. Setidaknya ia bisa tampil normal hari ini.
Setelah berganti pakaian—kaus katun berwarna krem dan celana panjang kain coklat muda—Alya turun ke lantai bawah.
---
Di dapur, Aminah, Ningsih, dan Wati sudah menunggu. Mereka sedang menyiapkan sarapan di meja makan. Menunya sederhana—nasi goreng dengan telur mata sapi, tumis kangkung, dan kerupuk. Bukan menu mewah seperti biasanya, tapi aroma masakannya menguar harum.
"Selamat pagi, Mbak," sapa Aminah dengan senyum hangat.
Alya tersenyum kecil. "Pagi, Bu Aminah. Pagi, Ningsih. Pagi, Wati."
"Kami sudah siapin sarapan, Mbak. Semoga Mbak suka," kata Ningsih sambil mengatur piring di meja.
Alya duduk di kursi kayu yang biasa ia tempati. Biasanya ia sarapan sendirian di meja besar yang panjang itu. Tapi pagi ini, Aminah dan yang lain duduk bersamanya.
Mereka membawa piring masing-masing dan duduk di kursi di sekeliling meja, tidak lagi berdiri di pinggir seperti pelayan.
Ini sudah menjadi kebiasaan baru sejak kejadian itu. Mereka tidak lagi menjaga jarak seperti dulu. Mereka makan bersama Alya, berbincang-bincang, membuat suasana dapur yang semula sunyi menjadi hangat.
"Kok hari ini Bu Aminah masak nasi goreng? Biasanya kan roti atau bubur?" tanya Alya sambil menyendok nasi ke piringnya.
Aminah tersenyum. "Mbak Alya kan kemarin bilang suka nasi goreng buatan Aminah. Makanya pagi-pagi Aminah sudah bangun masakin."
Alya terkejut. Ia tidak menyangka perkataannya yang dulu diucapkan sekadar basa-basi itu diingat. "Wah, Bu Aminah baik banget. Makasih, ya."
"Jangan makasih-makasih, Mbak. Ini tugas kami kok," sahut Wati sambil tertawa kecil. "Lagipula senang juga masak buat Mbak. Mbak kan doyan makan, beda sama... ya, beda."
Ucapan Wati terputus di tengah, tapi semua mengerti apa yang tidak ia katakan. Reza jarang makan di rumah, dan ketika ia ada pun, ia tidak pernah menghargai masakan mereka. Alya memilih untuk tidak mengomentari.
Mereka makan bersama dengan suasana yang hangat. Alya bercerita sedikit tentang rencananya mendaftar kuliah, dan ketiga wanita itu mendengarkan dengan antusias. Aminah bahkan menawarkan diri untuk membantu mengurus berkas-berkas yang diperlukan.
"Kami dukung Mbak Alya kuliah," ujar Aminah dengan semangat. "Mbak muda, harus punya pendidikan tinggi. Biar nanti bisa mandiri."
Alya tersenyum mendengar dukungan itu. Di rumah yang dingin ini, setidaknya ia punya mereka.
---
Sore hari, langit mulai berwarna jingga. Alya sedang duduk di ruang tamu sambil membaca buku—novel pinjaman dari Wati yang bergenre roman remaja. Bukan bacaan favoritnya, tapi setidaknya bisa mengalihkan pikirannya untuk sementara.
Lalu suara mobil terdengar memasuki halaman.
Alya mengernyit. Jam menunjukkan pukul lima sore. Reza biasanya pulang lebih malam dari itu. Mungkin ia lupa sesuatu?
Ia meletakkan buku di pangkuannya, bersiap untuk kembali ke kamar jika ternyata Reza yang pulang. Tapi saat pintu terbuka, yang masuk bukanlah sosok tinggi dengan bahu lebar itu.
jangan lupa mampir yaa🤭