Rui Naru sebenarnya capek jadi pewaris yang hidupnya diatur-atur kakeknya. Baru bahagia sebentar saja bisa pulang ke Indonesia untuk memeluk sang bunda, kakek masih saja menjadi bayang-bayang yang terus mengekangnya.
Satu-satunya hiburan buat dia cuma Nuha, cewek polos berkuncir air mancur yang diam-diam dia taksir. Setiap kali bertemu, ada saja kesan yang membuatnya kian ingin mendekat.
Makanya, waktu tahu Nuha lagi diincar dan mau dimanfaatin sama cowok narsistik paling populer di sekolah, Naru enggak bisa tinggal diam lagi. Ini saatnya dia bertindak.
Naru nekat lepas total atribut mewahnya dan menyamar masuk ke sekolah Nuha lewat jalur yayasan ibunya. Dia rela jadi cowok "biasa" demi bisa jagain Nuha dari dekat sekaligus jadi pembatas dari gangguan Dilan.
Bisa tidak Naru sukses melakukan penyamarannya tersebut sampai akhir? Apa sih yang dia cari sebenarnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Nurhuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Rantai & Keputusan
Naru menatap ke arah layar ponsel flip-nya. Foto kiriman bunda masih terpampang jelas. Empat gadis itu melompat girang merayakan kemenangan mereka. Sementara di tengah-tengahnya, senyum Nuha tampak begitu tulus dan lega.
Sudut bibir Naru terangkat nyaris tanpa sadar. Syukurlah ... Gadis itu tidak melarikan diri lagi dari kenyataan. Ia memilih menghadapi semuanya.
Tepat saat itulah,
sepasang mata tua yang tajam menangkap perubahan sekecil apa pun pada raut wajahnya. Kakek Hiyashi menatap cucunya dalam diam. Senyum tipis yang baru saja muncul itu begitu asing. Selama bertahun-tahun, hampir tak pernah sekali pun ia melihat Naru tersenyum seperti itu.
"Beritahu padaku, Siapa gadis itu?"
Meskipun batinnya tersentak, Naru tetap mempertahankan topeng ketenangannya. Dengan gerakan lambat yang sengaja dibuat sesantai mungkin, ia menutup flip-nya, seolah benda itu tidak menyimpan rahasia apa pun yang patut dicurigai.
Takashi menarik sebuah kursi agar tuan besarnya bisa duduk dengan nyaman. "Aku tahu apa yang kau lakukan, Naru," lanjut sang kakek, suaranya sedatar es.
"Bahkan apa yang kau sembunyikan sekalipun, teramat mudah bagiku untuk menjangkaunya. Beritahu aku sekarang, atau aku sendiri yang membongkarnya sampai ke akar-akarnya."
"Kenapa Kakek harus repot-repot memata-mataiku?" Naru balik bertanya, suaranya berat menahan diri. "Padahal aku tidak pernah berniat sedikit pun untuk mengkhianati Kakek."
"Karena kau adalah jaminan seumur hidup atas kedamaian rumah tangga ibumu. Aku memberimu kebebasan untuk berada di negara itu bukan berarti aku melepasmu begitu saja. Hidup, mati, bahkan jodohmu kelak, akulah yang mengatur."
Cengkeraman jemari Naru pada besi di sisi ranjang seketika mengeras hingga buku-buku jarinya memutih. Sepasang matanya menampakkan denyut getir yang luar biasa, menyiratkan luka yang dikorek paksa.
Hiyashi memperhatikan riak emosi yang gagal disembunyikan cucunya itu dengan tatapan menilai. "Jika kau mencoba melakukan kesalahan yang sama seperti yang ibumu lakukan dulu, aku tidak akan segan-segan menjatuhkan hukuman yang lebih dari yang sudah-sudah."
"Kakek benar-benar tega melakukan semua ini?!" Geraman Naru akhirnya lolos, tertahan di balik giginya yang mengatup rapat. "Aku sudah melakukan semua perintah Kakek tanpa membantah. Tidak bisakah Kakek memberikan sedikit saja ruang untuk apa yang aku mau?"
"Aku memberikannya, tapi tetap dalam kendaliku," sahut sang kakek mutlak. "Jika kau memang berniat kembali ke negeri seberang demi gadis itu, aku izinkan. Tapi ingat satu hal, masa depanmu tetap berada di tanganku."
Keheningan menggantung beberapa saat. Naru memejamkan mata, menarik napas panjang, lalu membuka kembali matanya dengan tekad yang telah bulat.
"Aku ingin kembali."
_____________________
"Nuha, bangun! Kucing pemalas!"
Gedoran pintu dari Kak Muha menjadi penanda dimulainya rutinitas pagi di rumah kecil itu. Nuha memang punya kebiasaan buruk. Sekeras apa pun jam weker di kamar berbunyi, tangannya pasti akan otomatis meraba meja, mematikan alarm, lalu kembali mendengkur di balik selimut.
Tahu adiknya bakal kebablasan kalau dibiarkan, Muha tidak punya pilihan selain masuk ke kamar dan melakukan aksi bangun paksa. Namun, baru saja tangan kekarnya menyentuh bahu, Nuha malah semakin meringkuk erat seperti kepompong.
"Aku nggak mau bangun, Kak. Hari ini aku mau bolos aja, capek banget!" bantah Nuha dari balik selimut.
"Bolos kamu bilang? Apa kata dunia kalau kakak punya adik sebadung kamu?! Mau Kakak jemur kamu di atas genteng, hah?!"
"Ih, jangan ganggu!"
Muha menghela napas panjang. Sebagai anak sulung yang otomatis jadi kepala keluarga sejak ayah mereka meninggal, ada rasa bersalah yang diam-diam sering mampir di hatinya.
Dia merasa gagal menepati janji untuk selalu ada di samping ibu dan adiknya. Waktunya habis terkuras untuk bekerja mencari nafkah, sampai-sampai waktu luang buat keluarga hampir tidak ada.
Sementara itu, Ibu sendiri tipe orang yang terlalu penyabar. Beliau hampir tidak pernah membuat aturan yang mengikat untuk putri bungsunya. Hal ini kerap membuat Muha sendiri frustasi.
Setiap kali Muha protes soal kelakuan Nuha, Ibu pasti langsung membela dengan kalimat andalannya, "Biarkan sajalah, adikmu kan masih anak-anak." Atau, "Sudah, biarkan saja, dia kan masih anak sekolah." Ibu selalu tersenyum tenang, lalu menambahkan, "Nanti juga bakal mapan dan berubah sendiri kalau pikirannya sudah matang."
Sebagai kakak yang punya kemampuan empathy accurate (bisa merasakan emosi sekaligus melihat sosok imajiner di sekitar adiknya) ia langsung mengalihkan pandangan pada sosok gaib yang sedang duduk santai di tepi kasur.
"Hawa, beritahu Kakak, apa yang sebenarnya terjadi? Apa Nuha terlibat masalah? Dengan siapa sampe dia nekat bolos begini?" tanyanya menyelidik.
Hawa hanya tertawa usil. "Hehe, banyak banget kak dan panjaaang ceritanya. Sayangnya itu rahasia perusahaan, bleeeh!"
"Hawa!"
"Kyaaa!"
Melihat Muha mulai melotot, Hawa langsung melompat panik dan menyusup masuk kembali ke dalam tubuh Nuha. Pagi-pagi yang masih sejuk begini, emosi Muha sudah dibuat hampir meledak oleh tingkah adik tengilnya.
"Pasti ada yang dia sembunyikan,"
Insting kakak tidak pernah salah. Benar saja, saat matanya mengedar, ia mendapati sebuah ponsel layar sentuh yang tergeletak mencurigakan di rak meja belajar Nuha. Muha langsung berjalan mendekat, memicingkan mata penuh rasa penasaran.
"Jadi ini ..." geramnya, membuat rahangnya mengeras seketika. "Ponsel siapa ini? Jangan-jangan pemberian cowok? Bukannya belajar malah coba-coba pacaran, ini nggak bisa dibiarin."
Kedua matanya memicing tajam saat membaca deretan teks SMS dari nama kontak bernama Dilan. Ketikannya benar-benar menguji kesabaran: “1mudt, t3mu1 GW ntR d Jm Ist1rHt!!”
"Sialan, berani banget dia ngerayu adek gue pakai sebutan imut. Belum tahu dia sedang berhadapan sama siapa!"
Tanpa buang waktu, jemarinya langsung bergerak cepat di atas layar sentuh ponsel Nuha. Sambil tersenyum kecut, ia mengetikkan balasan dengan gaya tulisan yang sengaja dibuat tak kalah menyebalkan:
"g UsAh sOk iMuT lO!! Gw K2nY. kEtEmU gW sEkArAnG Or gW sanTet lO, bocAH!"
Klik.
Tombol send ditekan tanpa ragu.
Muha meletakkan kembali ponsel itu ke tempat semula, lalu melirik adiknya sekali lagi sebelum melangkah keluar dari kamar. "Kakak bakal bener-bener sidang kamu, Nuha, kalau sampai berani pacaran!"
Jika hal itu sampai terjadi, Muha tidak akan tinggal diam. "Kakak bersumpah akan memelototi dan memberi pelajaran habis-habisan pada cowok bernama Dilan itu kalau masih nekat merayumu!"
Di sekolah,
suasana di kelas XI TKJ 1 berbanding terbalik. Brak! Dilan melempar ponselnya ke dinding kelas hingga hancur berkeping-keping setelah membaca balasan SMS menantang tadi.
Napasnya memburu menahan malu dan amarah yang tumpah ruah. Ia sama sekali tidak menyangka kalau gadis culun yang sedang ia permainkan ternyata punya kakak yang berani menantangnya secara terang-terangan.
"Brengsek! Baj_ngan! Gue bahkan gagal jadi Ketua OSIS dan terancam didepak dari sekolah gara-gara rekaman sialan itu! Ini semua gara-gara kuartet Multimedia! Gimana bisa mereka dapetin semua bukti itu, hah?! Gue bakal bales kalian semua!" amuk Dilan frustrasi, menendang kaki meja hingga menggeser posisinya.
Dika yang sedang duduk santai di atas meja sebelah berseloroh tanpa beban, "Bos, rumornya sih, kalau kita cari masalah sama anak-anak Multimedia, kita emang bakal ketularan sial, Bos."
"Diam lo, Dika" bentak Dilan naik pitam, matanya menukik tajam. "Sekarang tugas lo berdua cari cara buat bersihin nama baik gue, sekalian usut semua kebusukan kuartet Multimedia itu sampai dapat!"
"Si-- siap, Bos! Laksanakan!"
"Ck! Kalo sampe nama burukku sampai ke telinga Daddy, bisa gawat gue nggak dapet warisan. Arrggghh ... Gue harus buru-buru beresin ini semua. Persetan para siswa bakal ngehujat gue, asal para guru masih mau kasih gue kesempatan!"
Hari-hari berikutnya, Dilan justru disibukkan oleh urusan Bimbingan Konseling (BK). Ia dipaksa membuat laporan pertanggungjawaban bertubi-tubi atas semua perbuatannya yang kini terbongkar satu per satu. Mulai dari kebiasaannya mempermainkan siswi-siswi, memberi uang dengan syarat-syarat manipulatif, hingga kebiasaannya mengancam murid-murid yang lemah.
Daftar dosa Dilan yang selama ini tersimpan rapat di balik kedok murid teladan, kini tak lagi bisa disembunyikan.
.
.
. Next》Bab 17. Sampai jumpa besok 👋
🤣🤣 Udah dibangun tegang, romantis, deg-degan, eh ditutup dengan panggilan Bambang.
🤣 malah ngajak tinggal bareng di kos biar bisa nyiksa mentalnya pelan-pelan. Musuh paling bahaya emang yang senyumnya paling kalem. 😭👌
Selama ini dia kebanyakan gaya dan ngerasa semua bisa diselesain pake duit, eh giliran nama bokapnya dibawa langsung ciut. Karma emang nggak pernah salah alamat. 😂🔥
kak nama2 tokoh mu unik2 yx ,,
lanjut kak
Kan dia suka sama Naru.