Dua kali gagal menikah membuat Rellunae berhenti percaya pada cinta. Baginya, semua orang hanya datang untuk pergi, tidak ada pria yang benar-benar mencintai dirinya dengan tulus. Sampai ia bertemu Orion. Seorang pasien dengan masa lalu kelam yang dipindahkan dari satu rumah sakit jiwa ke rumah sakit jiwa lainnya karena tak seorang pun mampu menanganinya.
Awalnya Rellunae hanya ingin menyembuhkan. Namun ia tidak menyadari bahwa setiap senyuman, perhatian, dan kebaikan yang diberikannya perlahan membuat dirinya menjadi pusat dunia pasiennya. Bagi Orion, Rellunae bukan hanya sekedar psikiater, melainkan seseorang yang harus tetap berada di sisinya apa pun yang terjadi. Tapi bagaimana jika satu-satunya orang yang mencintainya dengan tulus adalah seseorang yang mencintainya terlalu dalam hingga berubah menjadi obsesi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04 | Pria bernama Xabiru
Luna masuk ke dalam SUV hitam milik seorang pria. Kabinnya terasa lapang dengan jok kulit berwarna hitam yang masih tampak bersih. Udara sejuk dari pendingin mobil langsung menyapu wajahnya, mengusir rasa gerah setelah seharian beraktivitas di rumah sakit. Samar-samar tercium aroma kopi dan parfum maskulin yang begitu khas, seolah sudah menjadi ciri pemilik mobil itu.
"Udah nunggu lama, kak?" tanya Luna setelah memasang sabuk pengaman.
"Engga, aku juga baru sampai."
Pria itu masuk dari sisi pengemudi lalu menutup pintu. Jemarinya memutar kunci hingga mesin mobil menyala. Suara mesin yang halus nyaris tak terdengar. Sesaat kemudian, alunan musik jazz pelan memenuhi ruang, menemani perjalanan mereka meninggalkan Silver Oak.
Di luar, langit mulai berubah warna. Jingga yang sejak tadi menghiasi ufuk barat perlahan memudar, digantikan semburat keunguan yang menandakan malam tak lama lagi tiba. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, berpadu dengan deretan lampu kendaraan yang memenuhi jalan kota.
Suara klakson terdengar sesekali, diselingi deru mesin kendaraan yang berlalu-lalang. Meski lalu lintas mulai padat, suasana di dalam mobil justru terasa begitu tenang. Luna menyandarkan kepalanya ke jok mobil sambil memandangi pemandangan di balik jendela. Gedung-gedung tinggi, pepohonan di tepi jalan, hingga orang-orang yang berjalan tergesa-gesa silih berganti melewati pandangannya.
Tanpa sadar, Luna mengembuskan napas pelan yang membuat pria disampingnya melirik sekilas ke arahnya. "Capek, Re?"
Luna mengangguk kecil tanpa mengalihkan pandangan dari luar jendela. "Sedikit."
"Udah makan?" tanya si pria lagi.
"Udah tadi pas sarapan," jawab Luna seadanya.
Ckittt!
Si pria reflek menginjak rem hingga mobil mendadak berhenti. Luna yang sedang menikmati pemandangan sore tiba-tiba terdorong ke depan, tubuhnya menabrak dashboard mobil hingga menimbulkan suara 'dug' yang cukup keras.
"Kakak gila?!" seru Luna sambil mengelus bagian tubuhnya yang masih terasa nyeri akibat rem mendadak tadi. "Sakit tau!"
Xabiru menghela napas lalu kepalanya menoleh, menatap wanita disampingnya yang lagi gerundel sendiri. "Yang gila itu kamu," balas Xabiru tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Luna mengernyit. "Kok aku?"
Xabiru menatapnya beberapa detik seolah sedang menahan sesuatu. "Kamu gila karena ini udah hampir malam dan kamu cuma hidup dari sarapan tadi pagi."
"Ya... ngga ada salahnya, kan? Toh juga banyak orang yang kayak gitu, skip makan siang," sanggah Luna sambil meniup poninya karena masih kesal.
Xabiru menatapnya beberapa saat, lalu menggeleng pelan. Entah sejak kapan wanita di sampingnya ini menjadi begitu keras kepala. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia menginjak pedal gas. SUV hitam itu kembali melaju membelah jalanan yang mulai dipenuhi lampu kendaraan.
Luna mengira perdebatan mereka telah berakhir sampai saat mobil yang mereka tumpangi tiba-tiba berbelok ke arah yang berlawanan dari rumahnya. "Loh? Kok belok, kak?" tanya wanita itu dengan alis bertaut.
Xabiru tetap fokus menatap jalan. Pertanyaan Luna seperti angin lalu. Beberapa menit kemudian, SUV itu memasuki area parkir sebuah restoran. Luna langsung menatap pria di sampingnya dengan ekspresi tidak percaya.
"Kak...?"
"Turun," tandas Xabiru yang langsung melepas sabuk pengamannya. Tanpa babibu, ia keluar dari SUV hitamnya lalu menutup pintu dengan cukup keras. Luna masih bengong di dalam mobil. Kedua netranya mengikuti langkah Xabiru yang berjalan mengitari bagian depan mobil. "Ini orang dengerin ngga, sih?" gerutunya pelan.
Tak lama kemudian, sosok pria itu muncul di samping pintu penumpang. Dibukanya pintu di sisi Luna. Xabiru berdiri di sana sambil menatap Luna datar. "Ayo, turun."
"Kan udah dibilangin kalo aku ngga laper, kakk," balas Luna ogah-ogahan. Dirinya memang sedang tidak mood untuk makan.
Xabiru berdecak pelan. "Mau turun sendiri atau aku gendong?" celetuknya dengan tatapan yang masih sama seperti tadi, datar. Terlalu datar hingga Luna sulit menebak apakah pria itu sedang bercanda atau serius. "Kak?"
"Aku hitung sampai tiga."
Luna langsung membelalakkan mata. "Kakak bercanda, kan?"
"Satu."
"Astaga..."
"Dua."
"Oke! Oke! Aku turun!" Luna langsung melepas sabuk pengamannya lalu buru-buru turun dari mobil. Kedua kakinya menginjak aspal area parkir restoran.
"Nah, gitu dong dari tadi," gumam Xabiru puas.
"Sialan lu," umpat Luna lirih tapi ternyata masih cukup keras karena Xabiru yang sudah berjalan beberapa langkah langsung menoleh.
"Bilang apa tadi?"
Luna refleks membeku. "Hah? E-engga, ngga bilang apa-apa."
Mata si pria kemudian menyipit. "Aku denger, Renae," ucapnya lambat-lambat.
"I-itu cuma perasaan kakak aja," sanggah Luna yang diakhiri nyengir tak bersalah.
"Bilangin papah kamu ah nanti..." celetuk Xabiru sambil melanjutkan langkahnya menuju pintu restoran. Cengiran Luna langsung lenyap ditelan bumi.
"JANGAN!!" seru Luna seraya menarik tangan kiri si pria yang bertubuh lebih tinggi darinya. "Please kak... jangan ngadu ke papah..." lanjut Luna dengan mata memelas.
Xabiru terkekeh melihat ekspresi Luna yang panik. Sebenarnya, alasan Luna setakut itu cukup sederhana. Papahnya sangat tidak suka mendengar anaknya mengumpat atau menggunakan kata-kata kasar. Sejak kecil, Luna sudah terbiasa mendapat ceramah setiap kali tidak sengaja mengucapkan kata yang dianggap tidak pantas.
Bukan ceramah yang menyeramkan, tentu saja. Hanya saja, rasa malu karena ketahuan berbicara kasar di depan papahnya jauh lebih menyiksa dibanding ceramah itu sendiri. Dan Luna tidak berniat mengulang pengalaman itu dalam waktu dekat.
"Iya iyaa, ngga jadi ngadu ke papahmu."
"Janji?" tanya Luna memastikan. Xabiru masih tersenyum lalu mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Luna.
"Janji." Xabiru masih menahan tawanya saat mendorong pintu kaca restoran.
Ting!
Bel kecil di atas pintu berbunyi pelan menandakan kedatangan pelanggan baru. Aroma makanan hangat langsung menyambut mereka begitu masuk ke dalam. Suasana restoran cukup ramai, namun tidak sampai membuat sesak. Lampu-lampu berwarna kuning keemasan menggantung di langit-langit, menciptakan kesan hangat dan nyaman. Seorang pelayan segera menghampiri mereka.
"Selamat malam. Berdua?"
Xabiru mengangguk singkat. Pelayan itu kemudian mengantar mereka menuju meja yang berada di dekat jendela. Luna langsung menjatuhkan tubuhnya ke kursi. "Ahh... Nikmatnyaa..."
"Tuan putri mau pesan apa?" tanya Xabiru sambil menarik kursi lalu mendudukinya. Ia membuka menu yang disodorkan oleh pelayan.
"Terserah kak Biru aja dehh, aku ngikutt," jawab Luna malas-malasan sambil menyenderkan tubuhnya ke kursi hingga punggungnya menempel penuh pada sandaran. Bahkan memilih makanan pun terasa seperti pekerjaan berat saat ini.
Xabiru yang sedang membaca menu mengangkat pandangannya. "Capek, ya, seharian ngurus pasien?"
"Yah begitulah..."
Tatapan Xabiru masih tertuju ke wanita dihadapannya yang kini menopang dagu dengan satu tangan. Tak lama kemudian, Luna menguap lebar tanpa berusaha menutup mulutnya. "Kalo nguap itu ditutup. Kasian loh nanti makanan punya orang yang ada disini kesedot sama mulut kamu," ledek Xabiru yang kini kembali melihat menu.
"Ngga ada lucu-lucunya sama sekali bercandaanmu, kak. Cringe jatuhnya," sahut Luna dengan tatapan sebal.
"Orang tadi aku ngga ngelucu," bela Xabiru. Ia kemudian memanggil pelayan untuk memesan.
"Jadi pesan apa saja, pak?" tanya pelayan dengan satu tablet di tangannya untuk mencatat pesanan.
"Saya pesan dua grilled wagyu medium rare, dua truffle mashed potato, americano tanpa gula dan strawberry milkshake," ucap Xabiru lancar.
Pelayan langsung mencatat pesanannya. Luna yang sejak tadi menopang dagu langsung mengangkat kepala. "Kak, kok pesen wagyu?"
"Oh iya," ujar Xabiru seolah baru teringat. "Tambah satu premium cheesecake juga."
"Baik, Pak. Mohon ditunggu pesanannya."
Pelayan itu kemudian berpamitan. Barulah setelah sosoknya menjauh, Xabiru mengalihkan pandangan ke arah Luna yang sejak tadi masih menatapnya penuh tanda tanya. "Apa?"
"Kok pesen wagyu?" ulang Luna dengan alis bertaut.
"Karena itu makanan favoritmu," jawabnya santai.
"Ya... tapi kan mahal, kakk."
Xabiru menghela napas lalu menatap mata Luna. "Re, kalo aku ngajak kamu makan, itu artinya aku udah siap bayar."
Jawaban pria itu sukses membuat Luna terdiam.
"Jangan kebiasaan mikirin dompet orang lain," lanjut Xabiru. "Mikirin perut sendiri dulu."
Luna menunduk pelan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. "Iya."
"Nah, gitu."
"Makasih ya, kak."
Xabiru hanya mengangguk kecil. "Sama-sama."
Tak lama kemudian, suasana kembali hening. Bukan hening yang canggung, melainkan hening yang terasa nyaman bagi keduanya. Tanpa disadari, wajah Luna terlihat jauh lebih hidup dibanding beberapa minggu terakhir. Dan itu cukup membuat Xabiru merasa sedikit lega.
☆☆☆
Alarm ponsel berbunyi tepat pukul lima pagi. Mata Rellunae Keller terbuka perlahan. Selama beberapa detik, wanita itu hanya menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih gading. Entah mengapa, tidur selama lima jam semalam tetap tidak mampu menghilangkan rasa lelah yang menumpuk di tubuhnya.
Dengan enggan, Luna meraih ponsel di nakas. Beberapa notifikasi langsung memenuhi layar. Pesan dari rekan kerja, pengingat rapat, hingga satu pesan dari Xabiru yang dikirim sekitar pukul sebelas malam.
Besok jangan lupa sarapan!
Sudut bibir Luna terangkat tipis. "Iya, iya..."
Ia meletakkan ponselnya kembali lalu bangkit dari tempat tidur. Kedua kakinya menyentuh lantai kayu yang dingin. Hari ini akan menjadi hari yang panjang. Setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian, Luna berdiri di depan cermin kamar. Rutinitas paginya tidak jauh berbeda dari kebanyakan wanita pada umumnya. Membersihkan wajah, memakai skincare satu per satu dengan telaten, lalu mengaplikasikan make up tipis-tipis.
Jas putih yang menjadi identitas profesinya kini telah terpasang rapi di atas kemeja krem dan celana bahan hitam. Rambut panjangnya yang berwarna cokelat gelap ia ikat agar tidak mengganggu aktivitasnya. "Semangat, Rellunae Keller," gumamnya pada bayangan dirinya sendiri.
Beberapa menit kemudian, Luna sudah berada di dapur. Secangkir susu hangat mengepul di atas meja makan. Ia menatap roti panggang yang telah disiapkan asisten rumah tangganya semalam. Lima menit berlalu dan rotinya masih utuh. Luna menghela napas pelan sebelum akhirnya memaksa dirinya menggigit sepotong kecil roti tersebut.
"Nanti Kak Biru marah lagi..." gumamnya. Setidaknya itu cukup menjadi alasan baginya untuk sarapan.
Setelah memastikan semua barang masuk ke dalam tas, Luna melangkah keluar rumah. Udara pagi menyambutnya dengan sejuk. Matahari baru saja naik, memantulkan cahaya keemasan diantara gedung-gedung pencakar langit. Langkahnya tiba-tiba terhenti begitu tiba di garasi.
Disamping mobil sedan putih miliknya, terparkir sebuah Kawasaki Ninja berwarna hitam dengan aksen hijau neon yang masih mengilap meski sudah beberapa minggu tidak digunakan. Bodinya yang ramping dan agresif memantulkan cahaya matahari pagi, sementara logo kecil di fairing sampingnya seolah memanggil-manggil Luna untuk segera memutar gas.
"Naik mobil..." Ia memandang sedan putihnya. Kemudian kembali menatap Ninja tersebut.
"Atau motor ya..."
"Jangan coba-coba." Kalimat itu sukses membuat Luna reflek menoleh ke belakang kemudian matanya langsung membelalak.