NovelToon NovelToon
Belenggu Janji Dan Rasa

Belenggu Janji Dan Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: "Emy"

seorang pria dingin yang terjebak di situasi tak terduga. Pria itu di nikah paksa oleh warga setempat, menikahi gadis sma kelas 3 bernama Rara Sephyra. Dalam hitungan detik statusnya berubah menjadi seorang suami.
Namun di sisi lain dia juga memiliki tunangan seusianya.
Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya.
Apakah si pria akan mempertahan pernikahannya?
Atau akan memilih tunangannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon "Emy", isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Malam itu sunyi, sampai Rara mendengar suara rintihan tertahan di samping rumahnya. Saat memeriksa keluar, jantungnya nyaris copot.

Seorang laki-laki asing terkapar bersimbah darah dengan luka parah di sekujur tubuh. Panik namun tak tega, Rara segera memanggil kedua adiknya Fino dan Nina. Bersama-sama, mereka bersusah payah memapah tubuh kekar pria itu masuk ke dalam rumah untuk memberikan pertolongan pertama.

Tanpa Rara sadari, sepasang mata mengintai dari balik kegelapan. Nisa, sahabat dekatnya sendiri, melihat kejadian itu. Alih-alih membantu, kilat licik muncul di mata Nisa. Rasa iri yang lama dipendamnya memicu niat buruk. Ia segera berlari ke arah kampung, menyebarkan fitnah keji bahwa Rara sedang memasukkan seorang pria asing ke dalam kamarnya tengah malam. Provokasi Nisa berhasil membakar emosi warga setempat, memicu aksi penggerebekan yang menghancurkan masa depan Rara dalam sekejap.

"Siapa namamu, Nak?" Ustadz Mahmud bertanya ramah, berusaha mencairkan suasana tegang di dalam ruangan.

"Athur Louise Kaelan."

"Berapa nominal mahar yang akan kau berikan?"

Tidak langsung menjawab, laki-laki itu meraba sakunya dan mengambil dompet. Di dalamnya hanya ada beberapa lembar uang tersisa. Ia mengeluarkan semua uang itu, lalu menyerahkannya kepada Ustadz Mahmud.

"Hanya ada ini."

Ustadz Mahmud menghitung lembaran uang tersebut, lalu menatap Athur. Garis kekecewaan sempat terlintas tipis di wajah sang ustadz, namun ia cepat menguasai diri. Sambil tersenyum teduh, ia melanjutkan pengisian data.

"Tidak apa-apa, Nak. Yang penting kamu ikhlas. Besar atau kecilnya nominal mahar itu tidak masalah. Insya Allah semuanya akan berkah jika diberikan dengan ketulusan hati."

Rara yang duduk di sebelahnya spontan menoleh mendengar tutur kata Ustadz Mahmud. Sementara itu, Ustadz Mahmud mencatat nama, nominal mahar, dan alamat yang tertera di KTP Athur. Semua itu dilakukan untuk melengkapi data awal, agar memudahkan mereka jika kelak ingin mendaftarkan pernikahan ini secara resmi ke Kantor Urusan Agama.

Rara membatin pahit. Nama pria asing itu saja baru ia ketahui sekarang. Bagaimana mungkin sebuah pernikahan terjadi tanpa ada proses saling mengenal terlebih dahulu? Pikiran itu terus berputar, mengiris hatinya.

Setelah semua data dirasa cukup, acara sakral yang sama sekali tidak pernah direncanakan itu pun dimulai. Di luar sana, banyak wanita memimpikan pernikahan mewah dengan pria yang dicintai. Berbeda nasib dengan Rara, ia harus terikat komitmen seumur hidup hanya karena fitnah dan penggerebekan warga.

Tak ada gaun mewah, tak ada polesan MUA, bahkan tidak ada pelaminan. Rara hanya mengenakan baju muslimah sederhana berwarna putih kelabu. Wajah polosnya bersih tanpa riasan, namun justru memancarkan kecantikan yang manis dan alami. Athur sempat mencuri pandang. Ada sedikit rasa kagum di matanya; meski dalam kondisi tertekan dan berbalut pakaian sederhana, aura Rara tetap terlihat anggun.

Ustadz Mahmud menjabat tangan Athur, memulai akad.

"Saya terima nikah dan kawinnya Rara zephyra Danzell binti Abraham Danzell dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai!" ucap pria asing itu lantang dalam satu tarikan napas.

"Sah!" sahut warga yang menyaksikan dengan serempak.

Buliran bening jatuh tak tertahankan lagi dari pelupuk mata Rara. Ia tidak tahu permainan takdir kejam seperti apa yang sedang dihadapinya saat ini. Sedih sudah pasti, namun ada rasa hampa yang tidak bisa ia jelaskan. Rara hanya menunduk diam tanpa kata. Pikirannya kosong, mengiringi air matanya yang terus mengalir membasahi pipi.

"Baik Nak, kalian sekarang sudah sah secara agama. Kalian bisa mendaftarkan pernikahan kalian nanti, dibantu oleh perangkat desa."

Pria yang baru saja mengucapkan ijab kabul itu mengangguk paham mendengar arahan Ustaz Mahmud. Namun, tak ada jawaban dari gadis yang baru saja menyandang status istri dalam sekejap tersebut. Dia masih bergeming, entah apa yang sedang berkecamuk di dalam pikirannya.

‘'Ini balasan karena kau berani mendekati Alden,’' batin seseorang. Sebuah senyum sinis tersungging tipis, tak terlihat oleh siapa pun di antara kerumunan warga yang sedang memandangi kedua mempelai.

"Nak? Nak Rara?" Ustaz Mahmud memanggil Rara karena melihat tak ada respons dari gadis itu.

Masih tetap hening.

"Sayang, kamu baik-baik saja?" Pertanyaan macam apa itu? Seorang paru baya tahu persis perasaan Rara sedang hancur. Namun, dia hanya ingin menyadarkan Rara dari lamunannya. Tangan ringkihnya mengusap lembut punggung Rara.

Kesadaran Rara akhirnya kembali. Dia menoleh, memandangi wanita paruh baya di sampingnya.

Tanpa sepatah kata pun, Rara langsung memeluk nya dengan sangat erat. Bahunya bergetar, terisak lirih dalam dekapan yang hampir tak terdengar. Bagaimanapun juga, seorang ibu pasti tahu betapa perihnya hati Rara saat ini.

Di sisi lain, laki-laki di hadapan Ustaz beralih menatap seseorang dengan pandangan tajam yang sulit ditebak. Hampir satu jam lamanya mereka berusaha menenangkan Rara hingga akhirnya gadis itu mulai mereda. Satu per satu warga pun mulai membubarkan diri dari rumah Pak Ustaz.

Rara zephyra Dancell. Nama itu kini sudah terikat kuat dengan status baru sebagai seorang istri.

Gadis itu menatap langit malam yang pekat tanpa bintang dan bulan, hanya ditemani suara rintik hujan. Pikirannya menerawang jauh entah ke mana.

"Ehem," sebuah deheman lembut membuyarkan lamunan laki-laki di dekatnya. Pria itu menoleh.

"Ada apa?"

"Ti ... tidak. I ... itu ...," Rara mendadak gugup. Dia takut melihat tatapan pria di sampingnya yang seolah ingin memangsa dirinya hidup-hidup.

Laki-laki itu langsung membuang muka begitu melihat ekspresi ketakutan di wajah Rara.

"Katakan," satu kata, namun terdengar sangat tegas dan penuh penekanan.

Rara menunduk takut, sekaligus bingung harus memulai dari mana. "Em ..., itu. Apa ... luka Anda baik-baik saja?"

"Hemm."

Jawaban yang sangat tidak memuaskan. Rara tahu pria ini sedang berlagak tangguh. Jelas-jelas tadi ia melihat rembesan warna merah segar mulai menembus kain perban di lengan kiri Athur.

Tapi laki-laki itu malah bersikap seolah itu hanya goresan pena. Rasa kemanusiaan Rara terusik, ia tidak bisa abai melihat orang terluka di depannya, terlepas dari status paksa di antara mereka.

"Nan ... nanti, Anda bisa tidur di kamar saya," ucap Rara, mencoba mengontrol suaranya agar terdengar tegar. "Biar saya tidur bersama kedua adik saya di kamar sebelah. Jika Anda memerlukan sesuatu atau perbannya perlu diganti... panggil saja kami."

Athur hanya menghela napas pendek. "Hemm."

Rara mengigit bibir bawahnya, agak kesal dengan respons super irit pria itu. Namun sebelum ia sempat berbalik, sebuah suara familier yang sengaja dikeraskan memotong keheningan dari arah ruang tengah.

"Duh, yang sudah sah, kelihatannya sibuk banget ya negosiasi jadwal ronda malam," cerocos Fino, adik laki-laki Rara yang berusia 15 tahun, sambil bersandar di kusen pintu dengan melipat tangan.

Wajahnya sengaja dipasang sok keren, lengkap dengan cengiran tengilnya.

"Fino, jangan mulai," tegur Rara setengah berbisik, takut Athur tersinggung.

Fino berjalan mendekat tanpa rasa takut pada aura menyeramkan Athur. Ia langsung berdiri menengahi di antara Rara dan kakak ipar dadakannya itu. Tubuh remaja Fino memang kalah tegap dari Athur, tapi tatapan matanya menantang.

"Heh, Kakak Ipar Misterius," panggil Fino blak-blakan dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos. "Kamar Mbak Rara itu kamar paling bagus di rumah ini. Kasurnya empuk, meskipun kipas anginnya agak bunyi ngik-ngok. Jadi, silakan dipakai. Tapi ingat ya..."

Fino sengaja menjeda kalimatnya, lalu menatap Athur lurus-lurus dengan nada yang mendadak turun satu oktav, kehilangan nada tengilnya.

"...Mbak Rara itu aset paling berharga di keluarga ini. Jangan mentang-mentang Mbak Rara orangnya gak enakan dan lembut, Kakak bisa cuek bebek begitu. Kalau perban Kakak butuh diganti, bilang. Jangan sampai merepotkan Mbak Rara sampai dia begadang. Dia tadi sudah cukup capek menangis gara-gara situasi gila ini."

"Fino! Jaga bicaramu!" Rara menarik lengan jaket adiknya, panik.

Fino hanya menjulurkan lidah pada Rara, kembali ke mode tengilnya. "Loh, Fino kan cuma menyampaikan fakta humas keluarga, Mbak. Biar Mas Kakak Ipar ini paham medannya." Fino lalu melirik lengan Athur yang berdarah. "Lagian, kalau Kakak Ipar pingsan karena kehabisan darah di rumah ini, nanti kami yang repot gotongnya ke puskesmas. Badan Kakak berat banget kayak karung beras premium."

Athur tidak marah. Ia justru menatap Fino dengan alis yang terangkat sebelah. Ada kilat ketertarikan samar di matanya melihat keberanian remaja di depannya yang sedang berusaha melindungi kakaknya dengan cara yang unik.

"Aku tidak selembek itu," sahut Athur dingin, namun kali ini kalimatnya lebih panjang dari sekedar 'hemm'.

Fino tersenyum puas, merasa misinya memancing suara Athur berhasil. "Bagus deh. Berarti telinga Kakak masih berfungsi normal. Ya sudah, Mbak Rara, ayo masuk. Kamar sebelah sudah aku bersihkan dari kecoa, aman untuk kita bertiga tidur malam ini."

Fino merangkul bahu Rara dengan protektif, menuntun kakaknya masuk ke dalam rumah, namun sebelum benar-benar pergi, Fino menoleh lagi ke arah Athur. "Selamat istirahat, Mas Athur. Kamar mandi ada di sebelah dapur, gayungnya warna merah, jangan sampai salah pencet saklar lampu ya, suka nyetrum."

Rara hanya bisa pasrah ditarik oleh adiknya, meninggalkan Athur yang masih berdiri di sana, menatap punggung kakak-beradik itu dengan arti tatapan yang sulit diartikan.

1
Embhul82
bagus ceritanya q suka
Emy: makasih sudah mau mampir. Jangan lupa kritik dan saran
total 1 replies
Embhul82
up lagi kak 🤭
Brigita
kurang paham di ini sih
Emy: makasih bnyak kak sudah di koreksi. sebagai manusia pasti tetap ada kesalahan. Alhamdulillah kak sudah di perbaiki
total 1 replies
Brigita
lanjutt truss kakk😍👍💪
Emy: terimakasih kak
total 1 replies
Brigita
semangat kakkk💪💪💪👍😍
Emy: Makasih sudah hadia kak. kritik dan sarannya y kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!