Dua puluh tahun lalu sebuah praktek satanisme gagal. Ijah diringkus lalu dibakar hidup-hidup oleh masa sebab dianggap petaka.
Lima orang dipanggil kembali oleh satu sosok yang datang di dalam cermin. Mereka diberitahu untuk menuju ke salah satu tempat yang sempat mereka tinggali dahulu.
Tempat itu sudah lama ditutup. Huruf arab ditempelkan dibanyak pohon hutan sebelum menuju bangunan itu.
Huruf arab itu konon katanya adalah sebuah ayat sebagai penghalang apa yang ada dibangunan itu supaya tidak keluar dari dalam sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 020 : Ibu, Aku mau menyapa mereka!
Di antara kegelapan hutan. Tepat di jantung hutan sana. Telah duduk satu makhluk bertubuh kecil. Dia tak lain tak bukan adalah bocah bergelang di tangan dan kakinya.
Dia adalah bocah yang sama yang menemui Desta serta berada dalam mimpi Farah. Bocah itu berkulit hitam.
Matanya merah menyala seakan meleleh ke bawah. Bocah itu tersenyum ketika merasakan bahwa jiwa-jiwa hidup tertarik masuk ke dalam belantara.
Grusukkkk
Grusukkkk
Suara di balik ilalang tinggi menyita perhatian bocah itu. Dari dalam sana berjalan seekor monyet putih. Monyet putih berjalan ke arah bocah bergelang di tangan dan kakinya.
Monyet itu berhenti tepat di belakangnya bocah seram itu. Kehadiran kekuatan lain di belakangnya membuat bocah itu tersenyum.
"Ini saatnya!" suara kecil itu berasal dari monyet putih. Anehnya, bibirnya tidak mengucap. Tetapi, suaranya ada dalam dirinya.
Bocah seram itu tersenyum semakin lebar mendengar itu. Sudah cukup lama rasanya dia menunggu. Sudah cukup lama rasanya dia dan wanita berambut sebahu itu memberi isyarat kepada mereka berlima yang datang kemari.
"Aku sudah menunggu momennya! Ibu..." ucapan bocah seram itu terpotong. Dia memilih membalikkan tubuhnya.
Itu tidak terjadi secara perlahan. Itu terjadi cukup cepat sehingga pergerakan mata manusia mungkin tidak bisa menalarnya.
Ketika pandangan mereka bertemu. Antara bocah seram dan monyet putih saling beradu pandang.
"Aku adalah aksara hilang, yang mereka cari! Aku, memiliki Ong! Huruf terakhir sebagai kunci aktifnya ajian Dasa aksara! Kamu tahu, bukan? Kami tidak bersalah dan aku hanya korban!" kata bocah itu kepada monyet putih.
Sementara itu, monyet putih itu hanya diam sejenak. Satu detik, dua detik, lima detik barulah dia bersuara.
"Ibumu orang baik! Kamu tidak seharusnya mati. Tetapi untuk menemukan jawabannya. Serta mewujudkan niatmu! Mereka harus menghadapi ujian mereka sendiri. Kau, separuh darimu dikendalikan oleh iblis. Aku harap, kau bisa tetap kuat pada dirimu dan tidak membiarkan mereka mengambil dirimu serta mencelakai salah seorang dari mereka yang datang!" kata monyet putih itu.
Perkataan yang sangat ironi. Sebetulnya, bocah ini tidaklah jahat. Hanya saja, dia menjadi tumbal yang belum selesai. Sebab separuh dari dirinya dilindungi oleh mantra kuno yang suci.
"Aku tahu itu! Maka, aku akan menuntun mereka menemui, Ibu! Farah, aku yakin! Dia dan aku adalah kutub. Dia kuncinya untuk membawa pesanku. Jika dia mengikutinya, aku yakin mereka akan sampai pada Ibu!" kata bocah seram itu.
Dia membalikkan kepalanya. Menghadap ke arah belantara dan pepohonan tinggi. Membelakangi monyet putih itu. Tubuhnya tidak ikut berbalik. Dia hanya memutar kepalanya saja.
Saat itu, seakan tahu apa yang akan terjadi. Monyet putih itu memilih untuk segera pergi. Sebab asap-asap hitam kembali menguar dari balik punggung bocah seram itu.
Ya, ini adalah pertanda bahwa iblis yang memakannya sudah datang. Dia adalah tumbal yang tidak bisa dimakan sepenuhnya. Karena mantra yang ada dalam dirinya. Membuat Iblis hanya bisa mengendalikannya separuh.
Dari asap-asap itu muncullah sosok iblis yang sangat menyeramkan. Kehadiran bocah itu seakan tertelan olehnya. Sorot mata tajam iblis itu menatap lekat ke arah belantara. Dia menggeram kemudian.
"Grrrrrr!" geramnya.
Suaranya itu menggema. Tetapi tak cukup sampai ke arah enam jiwa hidup yang baru saja masuk ke dalam belantara.
Sementara itu, di ujung sana. Farah yang berjalan di belakang sendiri bersama Ardin di sampingnya. Merasakan sesuatu, dia memilih menoleh ke arah kanan dan kiri. Entah mengapa, sepertinya ada yang memperhatikan mereka?
"Kamu kenapa?" tanya Ardin di sampingnya. Farah memperhatikan Ardin. Mereka masih berjalan. Sementara Rifki yang ada di depan mereka mendengar percakapan itu. Dia pun berkata,
"Kalau kamu capek, kita bisa berhenti!" ujar Rifki pada Farah. Ya, sekalipun Farah tadi membentaknya, rasanya tidak menjadi dendam bagi Rifki kepadanya.
Farah menggelengkan kepalanya.
"Aku gak apa, Mas! Cuma.." kata Farah. Rifki menoleh sebentar ke arah Farah.
"Apa?" tanya Rifki padanya.
"Aku ngrasa ada yang nglihatin kita, loh! Hutannya sunyi, senyap! Tapi, kok rasanya ramai, ya?" kata Farah.
Rifki menghela nafas. Dia pun juga merasakan itu. Tetapi, apa yang Farah katakan itu memang benar. Rifki menoleh ke atas. Ke arah langit yang tertutupi oleh dedaunan pohon yang rapat sehingga cahaya bulan pun sukar menembus masuk.
Dan di sana, ada hal yang membuat Rifki tersenyum. Dia tahu, bahwa hutan adalah sarang Ghoib.
Dunia supranatural sangat kental di sini. Di sana, dia melihat enam pasang mata berwarna merah menyala sedang memperhatikan mereka.
"Farah!" panggil Rifki padanya.
"Ya?" tanya Farah ketika namanya dipanggil. Rifki memasukkan kedua tangannya ke dalam saku Hoodie miliknya. Sambil terus berjalan memperhatikan tiga kawannya yang lain. Rifki pun berkata,
"Buto ijo di atas sana ada sedang memperhatikan kita!" kata Rifki secara terang-terangan. Sungguh, dia tidak memikirkan perasaan temannya yang penakut.
Aldi, Haikal dan Desta yang mendengar itu hanya diam. Bulu kuduk mereka sejujurnya berdiri. Tetapi, Desta yang tak tahan pun memilih untuk berkata, mengomel pada Rifki.
"Kamu buat apa ngomong kayak gitu, Mas! Udah tahu juga kita lagi di sini. Berdiri bulu kudukku ini rasanya!" kata Desta pada Rifki.
Sementara Farah di belakang. Sejujurnya juga takut. Tidak ada satupun di antara mereka kecuali Rifki yang berani menoleh ke atas. Rifki yang melihat Desta tantrum pun menjawab.
"Untung cuma bulu kudukmu yang beridiri, bukan bawahanmu loh! Lagi pula kita ramai, tenang saja! Mati satu mati semua!" katanya Rifki gamblang.
"Si dudul emang!" umpat Haikal kini mengatai Rifki. Obrolan kecil namun receh terkadang diperlukan.
Mereka mungkin lelah. Jika suasananya sudah mencekam. Rasanya harus ada salah satu yang menjadi pelangi agar tetap ada warna di antara mereka supaya tak hambar.
Waktu terus berjalan. Dan mereka tetap bercengkerama meskipun terkadang gangguan datang.
Hingga mereka tiba tepat di area hutan yang pohonnya ditempeli huruf Arab Pegon. Di situlah, Aldi membulatkan kedua matanya. Dia yang berada di depan tersenyum.
"Inilah, waktunya kita pecahkan sandi!" ujar Aldi antusias.
Haikal menganggukkan kepalanya. Begitupun dengan yang lain. Mereka kembali mendekat dan masuk ke dalam ke area arah Pegon itu.
Namun, belum sempat mereka mendekati area itu. Dari sisi kanan, tepatnya di rerumputan tinggi setinggi badan manusia. Terdengar suara gelang kaki.
Kricikkk
Kricikkk
"Kalian dengar gak?!" kata Desta, yang panik. Ucapannya membuat seluruh rekannya juga terdiam.
Mereka dengan seksama mendengarkan suara itu. Hingga mereka secara spontan menghadap ke arah ilalang tinggi itu.
Sebab suaranya berasal dari sana. Mereka berdiri di tempat mereka. Menunggu sesuatu dari dalam sana muncul. Suara itu kian mendekat.
Srekkkk
"Anak-anak manis!" kata seorang wanita dengan mahkota di kepalanya. Wajahnya tidak anggun.
Tak pula manis. Wanita itu berkulit hitam legam. Suaranya berat. Giginya bukan gigi manusia. Seluruh giginya adalah taring. Dan dari dalam bibir itu, air liurnya terus berjatuhan.
Sungguh di momen ini. Mereka semua membeku. Termasuk, Rifki! Sejujurnya, ini adalah hantu paling menyeramkan yang baru saja Rifki saksikan selama dia hidup. Jujur saja, bahkan auranya nampak sangat jahat.
Aldi yang tahu, ini tak baik. Segera menarik tangan Haikal. Sementara Haikal menarik tangan Rifki, lalu Rifki yang tersadar menarik tangan Desta, Desta menarik Farah dan Farah menarik Ardin.
Mereka masuk lari ke dalam hutan secepat mungkin sebelum sosok itu menangkap mereka.
ternyata dia lebih tua dari aku🤣