Berawal dari petaka sebuah konser band terkenal, seorang gadis harus membuatnya menerima reward besar karena baru putus cinta. Gadis itu tidak tau bahwa dirinya sedang di kerjai teman kuliahnya hingga membuat seorang Letnan terkena imbasnya.
Disisi lain, akibat petaka tak sengaja, sang Letnan terpaksa harus menanggung akibatnya. Bukan hal mudah menaklukan hati pria yang ternyata adalah Abang dari gadis tersebut, namun pada kenyataannya, lebih sulit menaklukan gadis yang tiba-tiba masuk dalam hidupnya tanpa permisi, apalagi jejak kehidupannya kini di mulai pada wilayah dengan resiko yang cukup tinggi, wilayah yang bisa di katakan rawan, KARANG HITAM.
KONFLIK.. Harap SKIP bagi yang tidak bisa ber KONFLIK.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Entah dimana salahnya.
Untaian kata yang terucap begitu tenang namun mampu menembus relung hati Phia yang paling dalam. Ia menatap pria di hadapannya, pria yang bersedia berdiri menyelamatkan dirinya di tengah dunianya yang tengah hancur lebur. Bang Hernando menjadi satu-satunya pria yang memegang teguh batas kehormatan. Pria yang siap menanggung rasa sakit, asalkan ia bis hidup bahagia.
"Abang.. Tidak menuntut apapun dari Phia?"
"Kamu paham posisimu sebagai istri saya, tugas saya adalah mendidik dan melindungimu, bukan menuntutmu." Jawab Bang Hernando.
Suaranya rendah namun tegas, tak ada sedikit pun keraguan di matanya yang menatap lekat wajah Phia.
"Tidak perlu memaksakan cinta yang belum tumbuh, tidak perlu berpura-pura kuat saat hatimu masih rapuh. Kehadiranmu di samping saya, kesediaanmu untuk mencoba melangkah dan menerima saya... itu sudah lebih dari cukup sebagai bayaran bagi seluruh hidup saya."
...
Malam ini, lagi-lagi Bang Hernando menyuapi Phia. Menu ayam bakar sudah masuk dalam perut Phia.
"Apa nggak di marahi dokter, Bang?" Bisik Phia.
"Dokter mana yang berani marah?? Biarpun melanggar aturan, lebih baik pasiennya makan daripada tidak selera makan dan menambah penyakit." Kata Bang Hernando.
Seorang dokter masuk ke dalam ruang rawat, tatapannya tidak biasa melihat Bang Hernando menyuapi Phia makan malam yang menurutnya mungkin tidak sesuai standart gizi.
"Besok pagi, Ibu Phia sudah boleh keluar dari rumah sakit. Sepertinya beliau juga sudah sehat." Ujar dokter, entah itu pernyataan atau sindiran.
"Baik, dok. Terima kasih..!!" Bang Hernando menanggapinya dengan wajar.
"Ada aturan yang menerangkan selama pasien berasa di rumah sakit, termasuk makanan harus dalam pengawasan dokter. Anda sudah melanggar aturan rumah sakit." Tegur dokter.
"Terima kasih atas tegurannya, ibu dokter. Istri saya mengalami keguguran, bukan berpantang karena penyakit tertentu dan sebelum saya 'lancang' untuk bertindak, saya sudah bertanya pada dokter senior dari tanah barat." Jawab Bang Hernando sambil menghabiskan makan malam di piringnya.
Phia mulai takut, Bang Hernando menjawab tanpa menatap dokter tapi jawaban itu sudah bisa meremangkan bulu kuduk di belakang leher.
"Siapa nama dokter itu?" Tanya dokter.
"Rida, Dokter Farida."
"Oohh.. Maaf, Bapak..!! Kami benar-benar tidak tau." Jawab dokter tersebut, wajahnya pun seketika menjadi pucat.
"Pada jadwal tugas selanjutnya, dokter turun di bagian IGD..!!" Perintah Bang Hernando.
"Ba_ik, Pak." Dokter tersebut segera berlalu pergi.
"Abaaaang.. Iihhh.. Jangan bikin masalah. Ini rumah sakit."
"Nggak ada yang bilang di sini kebun binatang." Jawab Bang Hernando santai.
//
"Ada apa, dok??" Tanya perawat di bangsal VVIP tempat Phia di rawat.
"Kenapa kamu nggak bilang kalau yang kita tangani adalah istri dari CEO baru rumah sakit ini??? Jadwal piket saya selanjutnya di pindahkan di IGD." Jawab dokter tersebut.
"Mak_sudnya bagaimana, dok?? Pak Gerald ada di sini???"
"Iyaaa.. Yang di panggil Hernando itu, ternyata Pak Gerald." Kata dokter.
Perawat tersebut buru-buru membuka catatan penanggung jawab pasien atas nama Phia. Benar tertera disana nama, Gerald P. Hernand Marabunta.
"Aduuuhh.. Aku ada salah nggak ya??" Gumam sang perawat.
***
Sore hari, saat mobil dinas kantor menjemput Phia, sudah berjajar para dokter dan perawat untuk memberikan salam perpisahan.
"Lekas sehat kembali Ibu Gerald..!!" Ucap mereka sembari menunduk hormat.
Phia menjadi kikuk sendiri, tak terkecuali Bang Reigar. Hanya Bang Putra yang tersenyum santai lalu masuk ke mobil di belakangnya sambil meletakan telunjuk di depan bibirnya.
Setelah di dalam mobil, Phia melihat nama dada Bang Hernando yang setengah tertutup jacket.
"Sebenarnya nama Abang itu, Hernando, Hernand, Nando, Gerald, atau......."
"Hernand." Jawab Bang Hernando singkat saja.
"Lantas kenapa ada yang panggil Nando?"
"Biar gampang saja, kau tau kan lidah pribumi gampang terpeleset. Suka-suka mereka saja." Balas Bang Hernando. Nampak dari pakaiannya kini tertera nama 'RULI'.
"Siapa lagi, Ruli?" Gumam Phia tak ingin mengganggu Bang Hernando yang nampak sibuk dengan ponselnya.
"Nama saya juga." Jawab Bang Hernando yang ternyata mendengar gumam lirih Phia.
...
Sampai di rumah, baru saja Phia melangkah turun. Ratusan kembang api tiba-tiba menyala terang menyambutnya. Phia pun kaget setengah mati, ia melangkah mundur ke belakang punggung Bang Hernando.
"Bagus, kan?? Bukannya perempuan suka kembang???"
Bang Reigar dan Bang Putra yang baru saja turun dari mobil langsung melongo dan saling menoleh mendengarnya. Tepat saat itu Bang Jan yang melintas di depan rumah dinas Bang Hernando sampai berhenti sejenak.
"Laahh.. Kok kembang api?? Waduuuhh.. Nggak pinter bener si Hernando." Ia pun berjalan menghampiri.
Phia yang melihatnya masih dalam keadaan syok mendapatkan kejutan dari Bang Hernando. "Apa nggak ada kembang yang lain???"
Bang Hernando menatap Phia sambil berpikir keras. "Kembang..... Kol?? Atau kembang go_yang???" Tanyanya lirih sembari menebak.
"Abang goyang saja sendiri." Jawab Phia sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
.
.
.
.
Bang Jan...udah beri bang Hernad pencerahan tp knp jadinya kyk gini😄😄🤭
kocak ini ...lanjut mba Nara👍
lanjut mba nara🤭
semangat jg buat mba Nara👍