Dibuang dan dicap sebagai ancaman oleh militer korup karena membangkitkan Morthas—Malaikat Maut Kelas Misterius yang arogan dan ditakuti sejarah—Kael Ardyn diselamatkannya oleh guild terlarang di luar dinding peradaban. Bersama tiga jiwa abnormal lainnya, Kael harus melatih ranah jiwanya di Lapisan Kedua yang mematikan. Ini adalah kisah persekutuan empat jiwa yang siap mengguncang hukum dunia yang korup!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NERAKA DI GERBANG VOLCANIA
BAB 22: NERAKA DI GERBANG VOLCANIA
Di celah ngarai barat yang kini telah hening, Kael menyelesaikan proses penyerapan sisa energi Kristal Inti Beast Peringkat Menengah.
Asap hitam Void terakhir memudar, kembali masuk ke dalam dimensi jiwanya bersamaan dengan hilangnya pendaran Sabit Morthas.
Kael mengatur napasnya yang masih sedikit memburu, mencoba menstabilkan aliran energi di wadah jiwa Perunggu Puncaknya yang sempat terkoyak beban kekuatan Morthas.
Ia menoleh ke arah Ren, wajah datarnya memancarkan keseriusan yang dingin.
"Ren, sebaiknya kita harus segera bergerak," ucap Kael, nadanya rendah namun mendesak.
Ren, yang sedang asyik membersihkan noda darah Beast di pelindung lengannya, mendongak.
"Firasatku semakin memburuk," lanjut Kael, matanya menatap tajam ke ufuk timur, ke arah kepulan asap hitam yang semakin pekat membumbung dari Kerajaan Volcania.
Analisis taktis di kepalanya menyusun skenario terburuk: Jika Beast Peringkat Menengah bisa lepas hingga ke sini, maka pertahanan di gerbang utama kemungkinan besar sudah berada di titik nadir.
Ren mengangguk mantap, menyeringai lebar. "Kau benar! Ayo kita susul mereka!"
Di luar penampilannya yang patuh, batin pemuda berambut merah itu sebenarnya sedang bergejolak. Rasa kagumnya pada strategi Kael memang besar, tapi ego maniak duelnya tidak bisa berbohong.
Aku harus segera sampai di sana! batin Ren berapi-api. Aku ingin memamerkan kemenangan kombinasi taktis kita tadi kepada Kapten Gareth dan si Gendut Hugo! Mereka pasti akan terperangah melihat bagaimana Kraken dan Morthas bersatu!
Tanpa membuang sedetik pun, Kael dan Ren memacu kaki mereka.
Keduanya melesat membelah kabut luar dinding, berlari dengan kecepatan penuh untuk mengejar ketertinggalan dan menyongsong badai yang sedang mengamuk di depan sana.
Sementara itu, di jalur lintasan timur yang semakin dekat dengan target.
BOOOM! BAAAM!
Suara dentuman dahsyat dan raungan purba kini terdengar sangat jelas, tidak lagi teredam oleh jarak.
Kapten Gareth, Elena, Suna, dan Hugo akhirnya tiba di sebuah bukit batu yang menghadap langsung ke gerbang utama Kerajaan Volcania.
Begitu pandangan mereka terbebas dari halangan tebing, kengerian yang sesungguhnya terhampar telak di depan mata.
Wajah veteran Kapten Gareth seketika membeku. Matanya membelalak menatap pemandangan neraka di bumi yang tersaji di depan sana.
Ratusan—mungkin ribuan—Beast bertanduk tunggal Peringkat Menengah bermanifestasi dalam wujud banteng-banteng batu berukuran raksasa, sedang merangsek maju secara masif bagaikan air bah abu-abu yang tak terbendung.
Deru langkah mereka mengguncang tanah, menciptakan awan debu setinggi gedung.
Dan yang paling mengerikan... di barisan paling belakang, berdiri dua sosok Beast Peringkat Tinggi setinggi delapan meter.
Dua Beruang Kembar dengan taring-taring panjang melengkung dan cakar-cakar berbaja itu Meraungkan napas maut, berdiri tegak bak menara kematian yang siap meruntuhkan peradaban. Aura mereka menekan gravitasi di sekitar benteng hingga ke titik nadir.
"Bagaimana mungkin...!" ucap Kapten Gareth tercekat, suaranya bergetar menahan syok.
Elena, Suna, maupun Hugo terperangah diam di tempat. Wajah mereka sepucat kertas.
Di sepanjang garis pandang mereka, pemandangan tragis menyergap indra. Mayat-mayat prajurit Volcania berserakan mengerikan di atas tanah yang telah berubah warna menjadi merah pekat.
Dinding peradaban Volcania yang legendaris, yang tadinya menjulang kokoh, kini telah retak di mana-mana.
Hantaman batu-batu raksasa dari Beruang Kembar membuat struktur pertahanan itu semakin hancur, perlahan runtuh menjadi puing-puing berdebu di bawah tatapan putus asa para warga sipil di barisan evakuasi jauh di utara.
Kapten Gareth mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga sarung tangan besinya berdecit keras. Amarah batin seorang veteran guild bergejolak melihat pembantaian brutal manusia oleh ciptaan Vitallion.
Namun, di tengah lautan keputusasaan itu, kilatan heroisme masih menyala beringas.
Di pusat kepungan ratusan Beast Peringkat Menengah, Jenderal Veron dan segelintir prajurit yang tersisa terus bertarung habis-habisan.
Wujud Anima Serigala Zirah Besi milik Veron melesat bagai hantu keemasan, menebas dan merobek rahang setiap Beast Menengah yang mencoba mendekat.
Meskipun wadah jiwa Veron sudah sangat lelah dan energinya berada di ambang kekeringan total, semangat bertarung demi tanah air dan rakyatnya justru menyala semakin kokoh dan beringas di detik-detik terakhirnya.
TRANK! SRAAAK! BOOOOM!
Visual pertarungan itu teramat brutal dan dramatis.
Prajurit Volcania membentuk formasi lingkaran, perisai Anima mereka beradu frontal dengan tanduk batu Beast. Seorang prajurit di sisi kanan Veron berteriak histeris saat perisainya hancur tertabrak, namun di detik terakhir hidupnya, ia berhasil menusukkan tombaknya dalam-dalam ke mata Beast tersebut.
Jenderal Veron melompat ke udara, pedang besarnya berpendarkan aura Emas murni, menebas jatuh seekor Beast Menengah hingga terbelah dua.
Ia mendarat di atas tumpukan bangkai, taring Serigala Zirah Besinya mencabik leher monster lain. Veron bertarung bukan untuk menang, melainkan untuk memastikan setiap detik yang ia beli dengan nyawanya bisa menyelamatkan satu warga sipil lagi di barisan utara.
Mereka bertarung dalam mode tempur penuh tanpa memedulikan rasa sakit fisik, murni digerakkan oleh harga diri dan cinta pada tanah air yang sedang sekarat di bawah kaki mereka.
Neraka di gerbang Volcania telah mencapai puncaknya, sementara takdir bantuan Scar Horizon sedang dipertaruhkan oleh waktu.
Melihat pemandangan membara tersebut, Kapten Gareth dan timnya tak akan tinggal diam. Jenderal Veron adalah satu-satunya tulang punggung Kerajaan Volcania. Jika sang Jenderal gugur, kerajaan ini akan rata dengan tanah!
"Kalian tidak akan mati hari ini!" geram Kapten Gareth, matanya memancarkan tekad membara.
Wuuushhh!
Pendaran emas tebal mendadak merekah dari punggung Kapten Gareth. Anima Banteng Tanduk Baja bermanifestasi utuh, melilit tubuh veteran itu dengan pelindung armor Emas yang teramat masif.
Di sisinya, aura keemasan menyilaukan turut membumbung tinggi.
Kraaak!
Sayap api abadi bermanifestasi anggun di punggung Elena. Anima Phoenix Pyrael mengepakkan sayap apinya, melontarkan hawa panas yang membakar udara di sekitarnya. Gadis berambut pirang itu menatap dingin ke barisan musuh.
Tak ketinggalan, Suna memusatkan aliran energinya ke kedua kaki. Manifestasi Anima Cheetah Kinetik merayapi tubuhnya, memunculkan arus kilat menyambar-nyambar yang siap memicu dorongan kecepatan absolut.
Di barisan paling belakang, Hugo masih terengah-engah hebat. Paru-parunya terasa seperti terbakar karena memacu diri tanpa henti.
Namun, begitu sepasang matanya menyaksikan pembantaian brutal dan kegigihan para prajurit Volcania, rasa takut di hatinya lebur seketika. Gairah tempurnya meledak!
"Aku... aku tidak akan membiarkan kalian membantai mereka lagi!" raung Hugo berapi-api.
"MORG RATH!"
BRUUUSHHH!
Hugo menghentakkan kedua kakinya secara brutal ke atas tanah. Energi Elemen Bumi murni dari Anima Mammoth Morgrath merembet masuk ke dalam lapisan tanah.
KRAAAK! BOOOM!
Bumi terbelah! Sebuah celah tebing batu terangkat ke udara, menciptakan landasan jalan lurus berstruktur kokoh yang meratakan bebatuan liar, langsung memotong rute menuju pusat pertempuran!
Melihat reaksi spontan dan manuver taktis yang diciptakan Hugo, Kapten Gareth terbelalak kagum. Pemuda tambun yang biasanya ragu-ragu itu kini mampu memberi dampak strategis sebesar ini dalam sekejap mata!
"Kerja bagus, Hugo!" puji Kapten Gareth tegas.
Kapten Gareth langsung mengambil alih komando tempur dengan suara menggelegar:
"Elena, ambil jarak di udara dan serang garis belakang Beast! Hancurkan formasi cadangan mereka!"
"Siap, Kapten!" sahut Elena lugas.
Dengan sekali kepakan Sayap Pyrael, gadis berambut pirang itu melesat tinggi ke angkasa menembus asap hitam, mencari sudut elevasi terbaik untuk melontarkan badai api.
"Suna, ikuti aku dari samping! Kita terobos barisan depan dan selamatkan para prajurit Volcania!" perintah Kapten Gareth lagi.
"Ya!" balas Suna singkat, matanya memancarkan fokus tajam.
Wuuush! Wuuush!
Menggunakan jalur lintasan tanah yang diciptakan oleh kekuatan Morgrath milik Hugo, Kapten Gareth dan Suna melesat bagai dua anak panah emas membelah medan perang, menerjang lautan Beast demi menyongsong pertarungan hidup dan mati di gerbang Volcania!