NovelToon NovelToon
Satpam: Kekuatan Setara Seribu Tahun

Satpam: Kekuatan Setara Seribu Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Penyelamat / Action
Popularitas:248
Nilai: 5
Nama Author: Aldiaza Ahyani

Kaito Nakamura, pemuda keturunan penjaga warisan energi kuno dari pegunungan Jepang, datang ke Malang, Indonesia untuk memulai hidup baru sebagai orang biasa. Ia menyembunyikan kekuatan luar biasa yang terakumulasi selama lebih dari seribu tahun, memilih bekerja sebagai satpam di Gedung Surya Pratama agar tetap tenang dan jauh dari sorotan.

Namun kedamaiannya terganggu saat ia bertemu Anindya Prameswari, pewaris perusahaan tempat ia bekerja, serta kedatangan Rafael Wijaya—tunangan Anindya yang angkuh dan berkuasa. Saat terlibat dalam perselisihan, rahasia kekuatan Kaito perlahan mulai tercium, menjadikannya sasaran kebencian dan rencana jahat Rafael.

Di tengah tugas menjaga keamanan, menyembunyikan jati diri, dan tumbuhnya perasaan pada Anindya, Kaito harus memilih: tetap hidup dalam bayang-bayang, atau mengeluarkan kekuatan seribu tahun itu untuk melindungi orang-orang yang ia sayangi—meski berarti membongkar semua rahasianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aldiaza Ahyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Malam Pertarungan Penentu

Malam itu turun dengan sangat tenang, tapi ketenangan itu terasa seperti topeng yang menyembunyikan badai yang akan meledak. Langit gelap tanpa bintang, hanya diterangi cahaya lampu jalan yang redup. Angin berhembus kencang, membawa suasana dingin dan perasaan tidak nyaman yang terasa menusuk tulang.

Di dalam Gedung Surya Pratama, semua karyawan sudah dipulangkan lebih awal. Hanya tersisa keluarga Harjo, Budi, Pak Suryo, dan aku yang tetap berada di tempat. Anindya, Ayah dan Ibunya sudah menunggu di ruang tengah yang paling aman, sementara aku berdiri tegak di depan gerbang, mataku terpejam namun indraku menyebar luas hingga ratusan meter ke sekeliling.

Aku bisa merasakannya — gelombang energi yang gelap, berat, dan penuh keserakahan semakin mendekat. Bukan hanya satu atau dua orang, tapi ada puluhan orang, ditambah dengan enam aliran energi yang jauh lebih kuat dan mematikan dibandingkan yang datang kemarin.

Tidak lama kemudian, suara deru kendaraan yang keras menggema memecah keheningan malam. Puluhan mobil dan sepeda motor berhenti berbaris rapi di depan halaman, menimbulkan debu yang beterbangan diterpa cahaya lampu kendaraan.

Pintu mobil paling depan terbuka, dan turunlah seorang pria paruh baya dengan postur tubuh tegap, mengenakan jas hitam yang rapi tapi terasa dingin. Wajahnya tajam, matanya menyala seperti bara api, dan dari tubuhnya keluar tekanan energi yang membuat daun-daun di sekitar halaman berputar liar dan kering seketika. Itu adalah Tuan Arga.

Di belakangnya berdiri lima orang ahli kultivator dengan aura yang sama kuat, dan di belakang mereka lagi berbaris lebih dari lima puluh orang preman yang bersenjata lengkap dengan tongkat besi, pisau, dan bahkan senjata api sederhana.

Tuan Arga melangkah maju perlahan, tatapannya langsung tertuju padaku. Dia menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu tersenyum miring penuh rasa meremehkan.

“Jadi kaulah penjaga ajaib yang membuat orang-orangku lari ketakutan kemarin? Hanya seorang satpam biasa yang berani menghalangi jalanku?” suaranya berat dan bergema, membuat udara terasa semakin sesak.

Aku tetap berdiri tegak di tempat, tidak mundur selangkah pun. Suaraku tenang namun jelas, mampu didengar oleh semua orang yang ada di sana:

“Aku bukan penjaga ajaib, Tuan Arga. Aku hanya orang yang memiliki janji untuk melindungi apa yang menjadi tanggung jawabku. Dan kalian datang ke sini dengan niat untuk merusak, mencuri, dan melecehkan orang lain. Itu sudah cukup alasan bagiku untuk menghalangi jalan kalian.”

Tuan Arga tertawa keras, suaranya terdengar dingin dan menakutkan.

“Janji? Tanggung jawab? Itu hanya omong kosong bagi orang yang lemah! Di dunia ini, kekuatan adalah segalanya. Kalau kamu kuat, kamu bisa mengambil apa saja yang kamu inginkan. Gadis itu menolak tawaranku, dia membuatku marah, dan sekarang dia punya pelindung sepertimu? Baiklah… aku akan membuktikan padamu bahwa kekuatanmu tidak ada artinya di hadapanku!”

Dia mengangkat tangannya, dan seketika energi berwarna hitam pekat menyelimuti telapak tangannya, terasa panas dan beracun. Udara di sekitarnya terasa bergetar hebat.

“Kalau kamu minggir sekarang, aku mungkin masih bisa membiarkanmu hidup. Tapi kalau kamu tetap keras kepala, maka malam ini akan menjadi malam terakhir dalam hidupmu!”

Aku menggeleng pelan, lalu mengangkat kedua tanganku perlahan. Energi lembut berwarna keemasan mulai menyelimuti tubuhku, tidak terlalu terang hingga menyilaukan mata, tapi cukup untuk mengusir hawa dingin dan gelap yang datang dari arah mereka.

“Aku sudah memberitahu mereka kemarin, dan sekarang aku katakan padamu secara langsung — selama aku masih berdiri di sini, tidak ada satu orang pun yang bisa masuk ke dalam gedung ini, apalagi menyentuh Anindya atau keluarganya. Kalau kamu ingin melangkah lebih jauh, silakan coba. Tapi bersiaplah menerima akibat dari perbuatanmu sendiri.”

Mendengar jawabanku yang tegas, amarah Tuan Arga meledak. Dia melambaikan tangannya dengan keras dan berteriak:

“Serang dia! Hancurkan dia, lalu masuk dan tangkap gadis itu! Jangan ada yang menyisakan dia hidup-hidup kalau dia terlalu susah dikalahkan!”

Segera, puluhan preman melesat maju secara bersamaan, mengayunkan senjata mereka dengan gerakan kasar dan penuh amarah. Di belakang mereka, dua ahli kultivator melepaskan serangan energi gelap yang melesat cepat seperti panah menuju tubuhku.

Orang-orang di dalam gedung yang melihat dari jendela tertegun ketakutan. Budi memegang dadanya, sementara Anindya menggenggam tangannya sendiri erat-erat, matanya terfokus padaku dengan rasa cemas namun penuh keyakinan.

Namun bagiku, semua gerakan itu terlihat jelas dan terasa lambat. Aku menggerakkan tangan dengan tenang, mengalirkan energi ke udara. Satu gelombang lembut yang menyebar ke segala arah.

“DORR!”

Suara benturan terdengar keras. Semua serangan energi itu lenyap begitu saja saat menyentuh lapisan perlindungan yang aku buat. Dan para preman yang melompat mendekat terasa seperti menabrak tembok yang tidak terlihat — mereka terpental mundur, terjatuh berhamburan ke tanah tanpa bisa melukai dirinya sendiri, hanya terkejut dan bingung.

Melihat itu, Tuan Arga mengerutkan kening. Dia menyadari bahwa aku jauh lebih kuat dari perkiraannya. Dia memberi isyarat kepada tiga ahli kultivator lainnya.

“Serang bersama-sama! Gunakan seluruh kekuatanmu! Jangan tahan lagi!”

Ketiga orang itu segera berdiri sejajar, lalu menggabungkan energi mereka menjadi satu aliran besar berwarna abu-abu gelap yang berputar kencang. Mereka mendorongnya ke depan, menciptakan gelombang tekanan yang cukup kuat untuk merobohkan pohon besar sekalipun.

Aku mengangkat satu tangan, lalu menahan serangan itu dengan tenang. Kedua energi itu bertabrakan, menimbulkan suara gemuruh dan angin kencang yang menerbangkan debu dan kerikil di sekitar halaman. Aku merasa sedikit tertekan, tapi tidak ada rasa sakit atau kesulitan yang berarti. Aku hanya perlu menstabilkan aliran energiku agar tidak meluap terlalu banyak dan merusak lingkungan sekitar.

“Apakah ini semua yang kalian miliki?” tanyaku dengan suara yang masih tenang. “Energi yang dibangun dari rasa tamak dan benci tidak akan pernah bisa mengalahkan energi yang tumbuh dari ketenangan dan kebaikan hati. Kalian sudah salah jalan sejak awal.”

Wajah Tuan Arga memerah karena malu dan marah. Dia akhirnya melangkah maju sendiri, mengeluarkan seluruh kekuatannya. Tubuhnya membesar sedikit, otot-ototnya menegang, dan energi hitam pekat menyelimuti dirinya seolah dia dibalut kabut gelap.

“Baiklah! Kalau begitu, biar aku sendiri yang mengurusmu! Aku ingin melihat seberapa tebal tembok pertahananmu itu!”

Dia melesat maju dengan kecepatan yang luar biasa, tangannya mengepal dan memukul ke arahku dengan kekuatan yang cukup untuk merobohkan dinding beton tebal.

Aku tidak menghindar. Aku hanya mengangkat telapak tanganku dan menangkis pukulannya secara langsung.

“BRAK!”

Suara benturan yang sangat keras menggema hingga ke seluruh penjuru kawasan. Tanah di sekitar kami retak membentuk lingkaran besar, dan angin kencang meledak ke segala arah. Lampu-lampu di sekitar halaman padam seketika karena getaran yang dihasilkan.

Tuan Arga terpental mundur tiga langkah, wajahnya terkejut dan terasa sakit di tangannya. Dia menatapku dengan pandangan tidak percaya. Sedangkan aku, hanya berdiri di tempat yang sama, tidak bergeser sedikit pun.

“Kekuatan… kekuatan macam apa ini? Kamu tidak mungkin sekuat ini!” teriaknya dengan suara tercekik.

Aku melangkah maju perlahan, mataku menatapnya dengan pandangan yang tegas namun tidak penuh kebencian.

“Aku sudah memberimu kesempatan untuk pergi dengan selamat. Tapi kamu memilih untuk terus melanggar batas dan berniat menyakiti orang lain. Sekarang, aku tidak akan lagi menahan diri terlalu banyak.”

Aku menurunkan tangan perlahan, dan energi keemasan yang menyelimuti tubuhku mulai memancar lebih terang, menerangi seluruh halaman seperti cahaya bulan yang lembut namun kuat. Di dalam cahaya itu, terlihat samar-samar bentuk bunga teratai yang berputar perlahan di sekelilingku — lambang dari kekuatan leluhur yang kini aku gunakan untuk melindungi.

“Kalian datang dengan tujuan menghancurkan gedung ini, menculik Anindya, lalu ingin mempermainkan dan melecehkannya demi memuaskan keinginanmu sendiri. Itu adalah kejahatan yang tidak bisa dimaafkan. Sekarang, rasakanlah akibat dari niat buruk yang kalian bawa ke sini.”

Aku mengangkat kedua tanganku, lalu mendorongnya ke depan dengan gerakan yang tenang namun pasti. Gelombang energi keemasan meluncur keluar, tidak untuk membunuh, tapi untuk melumpuhkan dan menghapus kekuatan yang mereka gunakan untuk kejahatan.

Begitu energi itu menyentuh mereka, semua orang langsung terjatuh berlutut ke tanah. Para preman terasa lemas dan tidak bisa mengangkat tangan lagi. Para ahli kultivator berteriak kesakitan seolah energi di dalam tubuh mereka tersedot keluar perlahan, tidak bisa digunakan lagi. Dan Tuan Arga sendiri tertekan hingga wajahnya pucat pasi, napasnya terengah-engah, dan kekuatan yang selama ini dia bangun selama puluhan tahun terasa hilang begitu saja.

Dia menatapku dengan pandangan ketakutan, tidak lagi terlihat sombong seperti tadi.

“Kamu… siapa sebenarnya kamu?” tanyanya dengan suara bergetar.

Aku berhenti mendekat, lalu berdiri tegak kembali.

“Aku hanya Kaito, penjaga tempat ini. Ingatlah malam ini. Kalau kamu atau orang-orangmu berani kembali lagi ke sini dengan niat buruk apa pun, maka hukuman yang kamu terima tidak akan sesederhana ini. Pergilah, dan jangan pernah mengganggu kedamaian tempat ini lagi.”

Dengan tenaga yang tersisa, Tuan Arga mengangguk dengan cepat, lalu memberi isyarat kepada anak buahnya untuk pergi. Mereka semua bangun dengan tergesa-gesa, berjalan terhuyung-huyung menuju kendaraan mereka, lalu melaju pergi secepat mungkin tanpa menoleh lagi.

Begitu mereka menghilang, energi di sekitarku perlahan mereda kembali, dan aku menjadi diriku yang biasa. Cahaya lampu di halaman menyala kembali secara otomatis, dan suasana malam kembali tenang, meski masih terasa bekas pertarungan yang baru saja terjadi.

Tidak lama kemudian, pintu gedung terbuka lebar. Anindya berlari keluar dan langsung memelukku erat-erat, tangannya gemetar menyentuh punggungku. Di belakangnya, Pak Harjo, Bu Siti, dan yang lain keluar dengan wajah penuh lega dan rasa kagum.

“Mas… kamu selamat! Aku sangat khawatir tadi,” bisiknya dengan suara yang tercampur rasa lega dan haru.

Aku membalas pelukannya dengan lembut, lalu menepuk punggungnya untuk menenangkannya.

“Aku selamat, Nin. Semuanya sudah berakhir. Mereka tidak akan berani kembali lagi setelah merasakan sendiri kekuatannya. Tempat ini aman sekarang.”

Pak Harjo mendekat dan menepuk bahuku dengan kuat, matanya berkaca-kaca karena terharu.

“Terima kasih, Nak Kaito. Kalau tidak ada kamu, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada perusahaan ini dan pada putriku. Kamu benar-benar menjaga janjimu dengan segenap jiwa.”

Budi dan Pak Suryo hanya bisa mengangguk setuju, masih terpesona melihat apa yang baru saja mereka saksikan.

Malam itu, kami semua kembali masuk ke dalam gedung dengan perasaan lega yang mendalam. Ancaman yang datang sudah berhasil diusir, dan kedamaian kembali terjaga. Tapi aku tahu satu hal — selama aku masih berdiri di sini, selama aku masih memiliki kekuatan ini, aku akan selalu siap menjaga kebahagiaan dan kedamaian yang telah aku temukan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!