Menggambarkan kemegahan hidup Doni Salman di usia 46 tahun, puncak kekuasaan Salman Group, hingga tragedi malam berdarah saat racun melumpuhkan sarafnya.
Konfrontasi kejam Amanda dan Andreas, pengakuan mengejutkan tentang anak gelap mereka, serta fakta mengerikan bahwa Zahra diperkosa dan dibunuh atas perintah Amanda.
Doni mati dalam murka, memicu keajaiban langit yang melempar jiwanya kembali ke tahun saat ia berusia 26 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33: Sebelum Badai Resmi
Minggu kedua di bulan Juli tahun 2006 dibuka dengan gumpalan awan hitam yang menggantung rendah di atas langit Jakarta.
Udara di luar terasa pengap, membawa aroma air asin bercampur solar dari arah utara. Di dalam ruang kerja utama ruko Salman Holdings di Pluit, ketenangan justru terasa begitu pekat.
Doni Salman duduk di balik meja jatinya yang rapi, sementara di hadapannya, Joko sedang sibuk mencocokkan beberapa berkas laporan keuangan yang baru saja tiba melalui kurir rahasia subuh tadi.
Berkas-berkas itu bukan laporan keuangan biasa. Di atas sampulnya tertera logo emas PT SANTOSO KARYA, lengkap dengan cap bertuliskan CONFIDENTIAL - FOR BOARD OF DIRECTORS ONLY.
"Pak Doni, hak akses sepuluh persen saham kita benar-benar bekerja seperti kunci induk," Joko membuka lembaran berkas dengan mata yang berbinar penuh kepuasan.
"Tim audit kita tidak perlu lagi mengemis data ke Menara Thamrin."
"Sesuai undang-undang perseroan, bagian legal mereka terpaksa menyerahkan seluruh salinan mutasi rekening koran dan kewajiban jangka pendek perusahaan untuk kuartal ini kepada kita."
Doni meraih salah satu bundel dokumen tersebut, membalik halamannya dengan gerakan jemari yang tenang namun pasti.
Tatapannya tertuju pada lembar rekonsiliasi utang vendor yang kini telah mencantumkan nama Salman Holdings sebagai kreditur prioritas utama menggantikan posisi PT Baja Utama dan CV Semen Nusantara.
"Bagaimana dengan pergerakan kas internal mereka setelah penandatanganan kemarin?" tanya Doni, suaranya terdengar stabil, menyimpan kedalaman intuisi yang sulit diukur oleh Joko.
"Goyah total, Pak," Joko menunjuk ke sebuah grafik arus kas yang menukik tajam di lembar ketiga.
"Meskipun utang logistik Sektor Utara sebesar lima belas miliar sudah kita hapus buku lewat konversi saham, Devan Santoso tetap tidak punya uang tunai untuk mendanai operasional harian di Sektor Selatan dan Timur. Kas yang tersisa di bank pemerintah hanya cukup untuk membiayai gaji karyawan Menara Thamrin sampai akhir bulan ini."
"Mereka benar-benar sedang berjalan di atas seutas benang yang sudah mulai terbakar."
Doni menutup berkas itu dengan ketukan pelan.
Jiwa penguasa bursa berusia empat puluh enam tahun di dalam dirinya tahu bahwa situasi ini adalah replika sempurna dari momen kejatuhan para raksasa properti yang tidak memperhitungkan risiko likuiditas makro.
Devan Santoso terlalu terbiasa menggunakan kekuatan politik untuk menekan perbankan, hingga lupa bahwa ketika sistem perbankan itu sendiri yang diguncang badai, koneksi politik paling kuat sekalipun tidak akan bisa mencetak uang tunai dalam semalam.
"Biarkan benang itu terbakar sampai ke ujungnya, Joko," bisik Doni Salman, seulas senyuman dingin yang sangat tipis terukir di wajah tirusnya.
"Jangan lakukan pergerakan apa pun yang bisa memicu kecurigaan."
"Tugas kita saat ini hanyalah mengamati dari jarak aman dan memastikan tidak ada aset berharga mereka yang dialihkan secara ilegal ke perusahaan cangkang di luar negeri."
Sementara itu, di lantai tertinggi Menara Thamrin, atmosfer kerja telah berubah menjadi sebuah ruang interogasi yang mencekam.
Devan Santoso duduk di balik meja marmernya dengan kepala yang disandarkan pada kedua telapak tangan. Di sampingnya, Amanda berdiri dengan melipat tangan, wajah cantiknya tampak pucat dengan gurat lingkaran hitam di bawah mata yang tidak bisa lagi disembunyikan oleh riasan mahal mana pun.
Di hadapan mereka, Hendra berdiri dengan memegang beberapa lembar surat peringatan dari Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam).
"Pak Devan... kita tidak bisa lagi menunda pengumuman laporan keuangan tengah tahunan,"
Hendra berbicara dengan suara yang sengaja direndahkan, takut memicu ledakan amarah baru dari sang Direktur Utama.
"Otoritas bursa sudah mengirimkan surat peringatan pertama. Jika dalam waktu lima hari kerja kita belum menyerahkan laporan audit independen mengenai posisi likuiditas kita, saham PT Santoso Karya akan dikenakan status suspensi perdagangan sementara di lantai bursa."
"Suspensi?!" Amanda memotong dengan nada suara yang bergetar panik.
"Hendra, kamu tahu apa artinya itu bagi rencana ekspansi kita?!
"Jika saham kita dibekukan, seluruh nilai agunan kita di bank-bank lain akan jatuh! Kita akan dipaksa melakukan margin call yang nilainya puluhan miliar!"
"Saya tahu, Nona Amanda..." Hendra menyeka keringat dingin di dahinya dengan saputangan.
"Tapi masalah utamanya adalah tim auditor independen menolak memberikan opini Unqualified (Wajar Tanpa Pengecualian).
"Mereka bersikeras memasukkan catatan kaki mengenai risiko kelangsungan usaha akibat pembekuan dana lima puluh miliar kita di Bank Nusa Sentosa."
"Mereka menganggap kita tidak memiliki kemampuan untuk menyelesaikan proyek Marunda tepat waktu."
Devan Santoso mengangkat wajahnya perlahan. Matanya tampak memerah, memancarkan kombinasi rasa frustrasi yang masif dan kebencian yang mendalam.
Kebenciannya bukan lagi sekadar pada angka-angka di atas kertas, melainkan pada bayang-bayang sesosok pemuda dari ruko Pluit yang seolah-olah selalu berdiri satu langkah di depannya.
"Ini semua karena anak haram pelabuhan itu..." desis Devan Santoso, suaranya terdengar serak dan bergetar hebat.
"Doni Salman... dia sengaja mengambil sepuluh persen saham kita untuk mengunci pergerakan kita dari dalam."
"Dia tahu kita tidak bisa memanipulasi angka laporan keuangan selama tim analisnya memiliki hak legal untuk memeriksa buku kas kita."
Pria tua itu bangkit berdiri dengan tubuh yang tampak lebih ringkih dibandingkan minggu lalu. Ia berjalan mendekati jendela kaca besar, menatap hamparan mobil yang merayap kecil di sepanjang Jalan Sudirman.
"Amanda... hubungi relasi kita di sekuritas papan atas. Katakan pada mereka bahwa kita bersedia melepas blok saham treasury kita sebesar lima persen di bawah harga pasar kepada investor institusi mana pun yang bisa menyediakan uang tunai dalam waktu empat puluh delapan jam."
"Kita harus menyelamatkan muka perusahaan ini sebelum Bapepam membongkar borok kita ke publik."
Amanda menggigit bibir bawahnya, merasakan keruntuhan total dari dunia sosialitanya yang selama ini penuh kemewahan.
"Aku... aku akan mencobanya, Papa."
"Tapi di tengah sentimen pasar yang sedang memburuk akibat isu Bank Nusa Sentosa, aku tidak yakin ada institusi besar yang mau mengambil risiko membeli saham kita tanpa melakukan due diligence yang ketat."
"Lakukan saja!" bentak Devan, suaranya menggelegar di dalam ruangan sunyi itu, membuat Amanda terlonjak kaget.
"Jangan banyak bertanya lagi! Cari uang itu sekarang juga!"
Kembali ke ruko Pluit, jarum jam telah menunjukkan pukul lima sore. Suara ketukan papan ketik di lantai satu mulai mereda, menandakan para analis muda telah menyelesaikan tugas harian mereka.
Namun di lantai dua, Doni Salman baru saja menerima sebuah panggilan telepon penting melalui jalur kabel paralel pribadinya.
Doni mengangkat gagang telepon, menempelkannya ke telinga tanpa mengucapkan sepatah kata pun, menunggu suara di seberang sana memulai percakapan.
"Pak Doni... ini informasi dari dalam gedung Bapepam," sebuah suara pria paruh baya terdengar berbisik dengan latar belakang suara bising koridor kantor pemerintah.
"Baru saja tim legal PT Santoso Karya memasukkan draf permohonan penjualan saham treasury darurat sebesar lima persen di luar pasar reguler (crossing saham). Mereka sedang mencari pembeli institusi untuk menutupi kebutuhan kas mendesak."
Doni Salman menarik sudut bibirnya, membentuk seulas senyuman kemenangan yang sangat dingin di dalam kegelapan ruang kerjanya yang hanya diterangi cahaya temaram lampu meja.
"Siapa nama perusahaan sekuritas yang mereka gunakan sebagai agen penjual?" tanya Doni, nadanya tetap datar, seolah-olah ia sudah memprediksi langkah panik Devan ini sejak berhari-hari lalu.
"Artha Sekuritas, Pak."
"Transaksi direncanakan akan dieksekusi pada hari Kamis pagi pekan ini jika mereka berhasil menemukan pembeli yang cocok," jawab informan tersebut.
"Bagus."
"Terima kasih atas informasinya. Dana kompensasi Anda sudah ditransfer ke rekening biasa," kata Doni sebelum memutuskan sambungan telepon dengan bunyi klik yang bersih.
Doni meletakkan gagang telepon, lalu membalikkan tubuhnya menghadap papan tulis putih di dinding.
Ia mengambil spidol hitamnya, lalu menarik sebuah garis baru di bawah tulisan TARGET ACQUISITION. Di sana, ia menuliskan sebuah angka baru dengan huruf tebal: +5% TREASURY SHARES.
Dengan tambahan lima persen saham treasury ini, jika ia berhasil membelinya lewat tangan pihak ketiga atau perusahaan cangkang yang ia kendalikan, total kepemilikan Salman Holdings di PT Santoso Karya akan melonjak menjadi lima belas persen.
Angka yang sudah lebih dari cukup untuk menempatkan satu orang kepercayaannya langsung di dalam jajaran dewan komisaris pada RUPS berikutnya.
"Devan... Anda benar-benar seorang pengusaha tua yang patuh pada skenario yang kutulis," bisik Doni Salman pada keheningan ruangan lantai dua.
Matanya berkilat kejam memantulkan bayangan malam Jakarta yang mulai turun membawa angin badai dari arah pantai Marunda.
"Anda pikir Anda sedang mencari pelampung untuk menyelamatkan diri, padahal Anda sendiri yang sedang mengantarkan sisa-sisa leher kekaisaran bisnis Anda ke dalam perangkap besi yang sudah kusiapkan sejak lama."