Bagi Adista, barang antik bukan sekadar benda mati; mereka memiliki jiwa, cerita, dan keindahan tersendiri. Hobinya mengoleksi barang-barang unik dan kuno selalu berhasil membawa kepuasan tersendiri, hingga suatu malam di sebuah ruang pelelangan rahasia, matanya terpaku pada sebuah mahakarya yang unik.
Sebuah lukisan tua berbingkai emas kusam yang menggambarkan sosok perempuan dengan air mata darah.
Ada daya tarik magis yang tak kasat mata, seolah lukisan itu sengaja memanggil namanya. Tergiur oleh keunikan dan aura mistisnya, Adista berhasil memenangkan lelang tersebut tanpa tahu harga yang harus ia bayar bukan sekadar uang.
Sejak lukisan itu tergantung di dinding rumahnya, atmosfer berubah mencekam. Langkah kaki misterius, bau anyir yang menguap di udara, hingga bisikan ghaib yang menyayat hati mulai meneror malam-malam Adista. Sosok perempuan dalam kanvas itu seolah hidup, dan tangisan darahnya perlahan mulai merembes keluar dari bingkai, menuntut balas yang mengerikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 30
Hujan baru berhenti ketika langit mulai berubah menjadi abu-abu. Cahaya fajar perlahan menyelinap di balik awan tebal, tetapi sinarnya sama sekali tidak mampu menghangatkan hati Adista. Semalaman ia tidak memejamkan mata. Tubuhnya memang berada di dalam kamar, namun pikirannya masih tertinggal di halaman belakang rumah, tepat di bawah tumpukan tanah yang baru saja menelan jasad Rian.
Adista duduk di tepi ranjang dengan tubuh diselimuti selimut tebal. Rambutnya masih sedikit basah karena mandi setelah menggali kuburan semalaman. Meski tubuhnya sudah bersih, perasaannya justru semakin kotor. Setiap kali ia menutup mata, wajah Rian yang berlumuran darah selalu muncul seolah berdiri tepat di hadapannya.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan pelan di pintu membuat Adista tersentak.
"Non... ini saya, Bik Sumi," terdengar suara pelan dari luar.
Adista menarik napas panjang sebelum membuka pintu.
Bik Sumi berdiri dengan wajah yang tidak kalah pucat. Matanya sembab karena menangis sepanjang malam.
"Non belum tidur?" tanyanya lirih.
Adista hanya menggeleng.
"Saya juga tidak bisa tidur. Setiap menutup mata, saya teringat kejadian semalam."
Adista mempersilakan Bik Sumi masuk. Mereka duduk saling berhadapan tanpa banyak bicara. Suasana di dalam kamar terasa begitu sunyi hingga suara detak jam dinding terdengar sangat jelas.
"Apa halaman belakang sudah kelihatan normal?" tanya Adista akhirnya.
"Sudah, Non. Hujan deras tadi malam meratakan tanahnya. Dari jauh tidak kelihatan kalau habis digali."
Jawaban itu seharusnya membuat Adista lega. Namun entah mengapa, justru dadanya semakin sesak.
Ia bangkit menuju jendela.
Dari balik tirai, halaman belakang terlihat basah oleh sisa hujan. Pohon-pohon besar bergoyang perlahan diterpa angin pagi. Tidak ada sesuatu yang tampak aneh.
Namun saat matanya menatap ke arah pohon besar dekat tempat mereka mengubur Rian, napas Adista kembali tercekat.
Seekor burung gagak hitam bertengger di salah satu dahan. Burung itu menatap lurus ke arah jendelanya.
"Kraaak..."
Suara gagak itu menggema pelan.
Entah kenapa bulu kuduk Adista langsung berdiri.
"Kenapa, Non?" tanya Bik Sumi.
"Itu... burung itu."
Bik Sumi ikut melihat keluar.
"Ah, cuma gagak."
"Tapi sejak kapan ada gagak di sini?"
Bik Sumi tidak menjawab.
Burung itu kembali bersuara sebelum akhirnya terbang menghilang ke balik pepohonan.
Adista mencoba mengusir rasa tidak enak di hatinya.
Mungkin itu hanya kebetulan.
Namun sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, suara bel rumah tiba-tiba berbunyi.
Ting... tong...
Adista dan Bik Sumi saling berpandangan.
"Pagi-pagi begini siapa yang datang?" gumam Bik Sumi.
"Ayo kita lihat."
Mereka turun ke lantai bawah dengan langkah hati-hati.
Begitu pintu dibuka, ternyata yang berdiri di depan rumah adalah seorang pria paruh baya berpakaian rapi.
"Selamat pagi. Maaf mengganggu," katanya sopan.
"Ya, ada perlu apa?" tanya Adista.
"Saya petugas keamanan perumahan."
Jantung Adista langsung berdegup lebih cepat.
"Ada apa, Pak?"
"Tadi malam salah satu kamera di gerbang utama merekam mobil yang keluar masuk cukup larut. Kami hanya sedang melakukan pendataan karena cuaca buruk semalam."
Adista berusaha tetap tenang.
"Oh begitu."
"Boleh saya tahu apakah tadi malam ada tamu datang ke rumah ini?"
Pertanyaan itu membuat tenggorokan Adista terasa kering.
Ia harus menjawab apa?
Kalau ia mengaku Rian datang, bagaimana jika nanti petugas bertanya ke mana perginya?
Namun kalau ia mengatakan tidak ada tamu sama sekali, bukankah kamera bisa saja merekam mobil Rian?
Beberapa detik terasa begitu panjang.
"Lalu... bagaimana, Non?" bisik Bik Sumi pelan.
Adista akhirnya tersenyum tipis.
"Iya, memang ada teman saya datang sebentar."
"Namanya siapa, Bu?"
"Rian."
"Beliau pulang sekitar jam berapa?"
Adista menelan ludah.
"Mungkin sekitar jam sebelas malam."
Petugas itu mengangguk sambil mencatat sesuatu.
"Baik. Terima kasih atas informasinya."
Pria itu pun berpamitan.
Setelah pintu ditutup kembali, kaki Adista langsung terasa lemas.
"Hampir saja..." gumamnya.
Bik Sumi memegang dadanya sendiri.
"Saya kira mereka sudah tahu semuanya."
Adista menggeleng pelan.
"Belum."
Namun kata-kata itu tidak mampu menenangkan dirinya sendiri.
Karena ia sadar, kebohongan pertama telah diucapkannya.
Dan biasanya, satu kebohongan akan melahirkan kebohongan-kebohongan berikutnya.
Menjelang siang, rumah kembali sunyi.
Adista mencoba menyibukkan diri dengan membersihkan ruang tengah.
Meski darah sudah dibersihkan semalam, masih ada beberapa noda samar di sela-sela lantai marmer.
Ia menggosoknya berkali-kali.
Semakin digosok, semakin ia merasa noda itu tidak pernah benar-benar hilang.
Tiba-tiba...
Brak!
Kain lap yang dipegangnya jatuh begitu saja.
Adista membeku.
Barusan ia mendengar sesuatu.
Seperti langkah kaki.
Perlahan ia menoleh ke arah tangga.
Tidak ada siapa-siapa.
Mungkin hanya perasaannya.
Ia kembali mengambil kain lap.
Tok...
Tok...
Tok...
Kini suara itu terdengar lagi.
Jelas sekali.
Seperti seseorang sedang berjalan pelan dari lantai atas.
"Siapa di sana?" teriak Adista.
Tidak ada jawaban.
Suasana kembali sunyi.
Dengan jantung berdebar kencang, ia memberanikan diri menaiki tangga.
Satu per satu anak tangga dilewatinya.
Semakin dekat ke lantai atas, udara terasa semakin dingin.
Padahal semua jendela tertutup rapat.
Sesampainya di lorong kamar, ia melihat pintu kamar yang selama ini kosong sedikit terbuka.
Padahal ia yakin setelah kematian Bram pintu itu sudah ditutup lama .
Perlahan ia mendekat.
Tangannya gemetar saat mendorong pintu.
Creeeek...
Ruangan itu kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun hawa dingin masih terasa menusuk.
Adista mengembuskan napas lega.
"Mungkin hanya angin."
Saat hendak keluar, matanya menangkap sesuatu di atas cermin tua yang berada di sudut kamar.
Ada tulisan kecil.
Tulisan itu seperti dibuat menggunakan cairan merah yang masih basah.
Adista mendekat dengan napas tertahan.
Kalimat itu hanya terdiri dari tiga kata.
"Masih ada lagi."
Tubuh Adista langsung membeku.
Jantungnya seperti berhenti berdetak.
"Tidak... tidak mungkin..."
Ia mengucek matanya.
Namun tulisan itu masih tetap ada.
Tiba-tiba terdengar suara tawa perempuan.
"Hehehe..."
Pelan.
Sangat pelan.
Seolah berasal dari belakang tubuhnya.
Adista menoleh secepat kilat.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun saat ia kembali melihat ke arah cermin, tulisan merah itu perlahan menghilang dengan sendirinya, seakan diserap oleh permukaan kaca.
Yang tersisa hanyalah bayangan wajah Adista sendiri yang tampak pucat dan penuh ketakutan.
Ia berlari keluar kamar sambil berteriak memanggil Bik Sumi.
"Bik! Bik Sumi!"
Bik Sumi segera naik ke lantai atas.
"Ada apa, Non?"
"Tadi... tadi ada tulisan di cermin."
"Tulisan apa?"
Adista menunjuk cermin dengan tangan gemetar.
"Itu... di sana."
Namun ketika Bik Sumi melihatnya, cermin itu tampak bersih seperti biasa.
"Tidak ada apa-apa, Non."
"Ada! Saya melihatnya sendiri!"
Bik Sumi memandang Adista dengan wajah cemas.
"Non... jangan-jangan Non mulai kelelahan."
Adista menggeleng kuat.
"Bukan. Saya benar-benar melihatnya."
Kalimat itu masih terngiang jelas di kepalanya.
Masih ada lagi.
Apa maksudnya?
Apakah teror belum berakhir?
Ataukah hantu wanita itu sedang memberi peringatan bahwa akan ada korban berikutnya?
Belum sempat ia menemukan jawabannya, tiba-tiba terdengar suara ponsel berdering dari dalam kamar.
Nomor yang muncul di layar membuat wajah Adista semakin pucat.
Telepon itu berasal dari ibu Rian.
Tangannya gemetar hebat.
Ia hanya mampu menatap layar yang terus bergetar, sementara perasaan takut kembali menguasai seluruh isi hatinya.
krn dosa lama kai skrg menempuh apa yg kau tabur
tp.setidaknjya klo berani mengakui dn bertibat akan lenih enteng tp ini tak ada niat ya sudah lah
apakah dgn riyan juga ya
nahhh ini jadi misteri
weehhh kira2 apa ya
aduh entah lah
aduh kira2 kmn lagi akan melangkah
knp.sih susah sekali nyebut namanya hadeh
tp setifak nya g ada yg mati dlu deh kasihan jiwa adista terguncang hebat dgn kejadian kematian yg tak wajar
waduh gmn dong
yg pasti kukisan nya g minta tumbal lagi