Gimana rasanya suka sama customer sendiri?
Kalau customer-nya jomblo, oke lah... masih bisa dideketin pelan-pelan.
Lah, aku?
Aku ajah kerja di toko bunga.
Yang artinya, sebagian besar customer-ku datang buat beli bunga untuk pacarnya, calon istrinya, atau bahkan istrinya beneran.
Sial banget nggak sih?
Gini nih kalau kelamaan jomblo. Sekalinya suka sama cowok, malah suka sama cowok yang kemungkinan besar udah ada yang punya.
Huhuhu.
Tapi tenang, aku tahu diri kok.
Aku cuma mengaguminya dari jauh.
Lagian, mana mungkin ada kisah cinta antara karyawan toko bunga biasa sepertiku dengan customer yang cuma datang sesekali?
...kan?
Atau jangan-jangan, semesta memang sedang menyiapkan sesuatu yang nggak pernah aku duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rygobii_15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
gajian time
"Mbak, ini pitanya lepas."
"..."
"Mbak?"
"..."
"Mbak?"
Wulan tersadar dari lamunannya.
" hah? Oh! kirain putus"
...
...
...
Mata Wulan langsung membulat.
Ya ampun.
barusan gue ngomong apaan coba?
"Ehh... maksudnya, saya perbaiki ya, Kak!" Wulan buru-buru mengambil buket dari tangan Saka.
Di sisi lain, Kak Sarah yang menyadari situasi itu langsung tersenyum ramah.
"Mari, Kak. Sambil menunggu, bisa duduk dulu di ruang tunggu."
"Oh, baik. Terima kasih," jawab Saka.
Setelah memastikan Saka sudah berjalan bersama Kak Sarah, Wulan langsung mengusap wajahnya sendiri.
"Anjir lah. Punya mulut kagak bisa ditahan," gerutunya sambil memperbaiki pita buket.
Tangannya memang sibuk bekerja, tetapi pikirannya berlarian ke mana-mana.
Ya gimana nggak salah paham?
Datang lagi bawa buket Valentine.
Bilang ada masalah.
Aku juga jadi ikut deg-degan.
Tidak butuh waktu lama bagi Wulan untuk memperbaiki pita yang terlepas.
"Oke. Beres."
Wulan mengembuskan napas pelan sebelum menghampiri ruang tunggu.
Namun langkahnya sedikit melambat saat melihat Kak Sarah dan Saka tampak asyik bercengkerama.
"Idih... apaan sih yang diobrolin?" gumamnya pelan.
Panas deh.
Baru lihat Kak Sarah ngobrol sama Babang Saka aja aku udah panas.
Apalagi kalau lihat Babang Saka sama ceweknya nanti.
Huhuhu.
"Permisi, Kak. Ini buketnya sudah selesai," ucap Wulan sambil menyerahkan kembali buket tersebut.
"Ah, iya. Makasih ya, Mbak," jawab Saka sambil menerima buketnya.
"Maaf atas ketidaknyamanannya, Kak," ucap Kak Sarah sambil menjabat tangan Saka. "Semoga berhasil."
Lalu, entah kenapa, perempuan itu mengedipkan mata dengan senyum tengilnya.
Wulan yang melihat itu hanya bisa tersenyum kaku.
"Ihhh... sebel, sebel, sebel," gerutunya dalam hati.
Kenapa coba harus pakai segala semoga berhasil?
Aku juga tahu kok itu buket buat orang spesialnya.
"Lanjut ya, cantik," ucap Kak Sarah sambil tersenyum jahil dan menoel pipi Wulan sebelum kembali ke ruangannya.
Jarum jam menunjukkan pukul 16.00.
Waktunya pulang.
Wulan segera membereskan toko dengan cepat dan gesit. Sebab hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh para pekerja.
Hari gajian.
"Kak Sarah..." Wulan memasuki ruang kerja Kak Sarah. Perempuan itu sedang duduk di depan mejanya dengan berbagai berkas yang menumpuk.
Ya gimana nggak banyak? Bisnisnya aja banyak.
"Ekhm..." Wulan berdeham pelan sebelum duduk di kursi depan meja. "Aku datang menjemput pujaan hatiku."
"Alah-alah, pujaan hati katanya," sahut Kak Sarah sambil mengambil sebuah amplop putih dari laci mejanya. "Nih."
Wulan langsung membungkukkan badan dan merentangkan kedua tangannya dengan hormat saat menerima amplop tersebut.
"Terima kasih, Yang Mulia."
"Bulan ini kamu dapat bonus, lho."
Tangan Wulan yang hendak membuka amplop langsung terhenti.
"Omo. Omo. Omo."
"Pantesan berat."
Kak Sarah hanya terkekeh melihat tingkah anak buahnya itu.
Wulan segera menyimpan amplop tersebut ke dalam tasnya. Setelah itu, ia membuat simbol saranghae menggunakan kedua tangannya.
"Lop you, Kak. Aku pulang ya. Assalamu'alaikum."
Wulan menyalami Kak Sarah sebelum berjalan menuju pintu.
Namun, sebelum benar-benar keluar dari ruangan, ia berbalik.
"Jangan pulang malam-malam, Kak. Nggak sehat. Babayyy!"
"Iya. Makasih, Wulan. Sana pulang," jawab Kak Sarah sambil menggelengkan kepala.
Menurutnya, Wulan memang aneh.
Tapi kalau Wulan tiba-tiba jadi normal...
Mungkin justru itu yang aneh.
Wulan memilih menerima gajinya secara tunai. Sebenarnya Kak Sarah membebaskan karyawannya mau menerima gaji melalui transfer atau cash.
Dan Wulan memilih cash.
Entah kenapa rasanya lebih menyenangkan.
Wulan menunggu di depan toko.
Ia selalu berangkat dan pulang bersama sahabatnya yang rumahnya satu desa dan tempat kerjanya searah.
TIN TIN!
Klakson motor berbunyi sebelum berhenti tepat di depan Wulan.
"Halo, Sawiii."
"Sawi-sawi. Nggak sekalian sawit?" gerutu Siwi. "Cepetan naik."
Namanya Siwi.
Tapi Wulan memang suka asal memberi julukan.
"Nggak boleh marah-marah, dong. Nanti jadi sawi layu," ucap Wulan sambil terkikik. "Mending jajan aja. Gue traktir biar lo jadi sawi segar lagi."
Siwi menaikkan sebelah alisnya.
"Eits... bentar."
"Tanggal berapa nih?"
Mata Siwi langsung membulat.
"Anjay. Habis gajian. Gas lah!"
Tak lama kemudian, mereka tiba di pusat jajanan dekat lapangan.
Tempat itu memang selalu ramai menjelang malam.
"Eh, aku pengen pancake durian deh," ucap Siwi sambil melihat-lihat deretan penjual.
"Yang eling, nggak ada jir. Paling cilok."
Wulan menunjuk ke arah sebuah gerobak.
"Eh, ada takoyaki gadungan tuh. Beli, yuk!"
"Ayo. Let's go."
"Bang, beli. lima ribuan dua."
Setelah mememesan, mereka duduk di pinggir lapangan.
Tempat favorit mereka untuk mengobrol.
"Wi..." panggil Wulan.
"Hmm?"
"Gue mau cerita."
"Apa lagi?"
"Tadi pagi aku dapat customer ganteng pol. Tipe aku banget."
"Terus?"
"Ya... dia udah taken."
Siwi tertawa.
"Hahaha. Lu mah aneh-aneh. Dah tau pelanggan toko bunga pas Valentine nggak mungkin jomblo."
"Iya sih..."
"Ini, Mbak."
Abang penjual takoyaki menyerahkan pesanan mereka.
"Eh, makasih, Bang," ucap Wulan dan Siwi bersamaan.
"Eh, foto dulu yuk. Buat SG," ajak Wulan yang sudah siap dengan kameranya.
Mereka pun berfoto bersama.
Lalu berfoto sendiri-sendiri.
Memberi makan Instagram, istilahnya.
Tanpa terasa, waktu sudah semakin malam.
Karena besok masih harus bekerja, mereka memutuskan untuk pulang.
Motor Siwi berhenti di depan gang rumah Wulan.
"Eh, Lan. Kayaknya besok aku nggak kerja deh. Temen kerja aku izin," ucap Siwi sebelum berpamitan.
"Dih. Bisa gitu ya?"
" gimana kalo gue juga izin kita healing yang deket-deket aja tapii "
" wah bagus tuh tapi mangnya lu gapapa " Siwi memastikannya ia ngga enak juga.
" tenang aja jatah libur bulan ini kan belom kepake dari pada hangus kan"
" oke deh sampai jumpa besokk btw Makasih nih makanannya."
"Yaelah."
Begitulah mereka.
Kadang saling memuji.
Kadang saling menghina.
"Yaudah. Bayyy!"
Wulan melanjutkan perjalanan menuju rumahnya yang hanya berjarak kurang dari lima menit berjalan kaki.
"Assalamu'alaikum."
Wulan masuk ke dalam rumah sambil membawa plastik berisi martabak telur.
Ia segera menyalami mamanya yang sedang bersiap berangkat ke musala.
"Wa'alaikumussalam. Bawa apaan tuh?"
"Martabak telur. Katanya Gina kemarin pengen."
Mamanya tersenyum kecil.
"Yaudah, Mah. Aku mandi dulu."
Wulan masuk ke kamar, mengambil pakaian ganti, lalu membersihkan dirinya.
Masih terbalut handuk, ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.
"Hahh..."
"Nikmat mana lagi yang kau dustakan."
"Ya ampun. Enak banget."
Setelah merasa lebih segar, Wulan mengenakan pakaian rumahnya.
Ia kembali merebahkan diri sambil membuka ponselnya.
Wishlist.
Keranjang kuning.
Diskon.
Promo.
Menghabiskan waktu dengan berbelanja tanpa harus capek keluar rumah memang terasa menyenangkan.
Sampai-sampai...
Wulan tertidur dengan ponsel yang masih berada di tangannya.