Perhatian Kian Sakala selalu tercuri pada teman perempuan SMAnya, Wanda Safia yang selalu diperlakukan seperti babu oleh Aditama Hasta.
Wajah lelah dan tertekannya selalu mengusik hati manusiawinya Kian. Tapi sepertinya pertolongannya terhadalp Wanda malah selalu berbuah pahit untuk temannya itu
Semoga suka, ya♡♡♡
Spin off Pesona Cassanova. Tapi bisa dibaca terpisah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Firasat Elia
Elia merasa ada sesuatu yang sudah terjadi tanpa setau dirinya ketika melihat Wanda sudah tidak lagi bersama Aditama beberapa hari ini.
Yang cukup mencengangkan, Wanda sekarang bersama Kian.
Ada apa ini?
Dia merasakan firasat buruk.
Ngga mungkin Aditama menyerahkan Wanda begitu saja. Apalagi dia sempat melihat aura perseteruan dua kubu ini makin bertambah kuat.
Elia juga teringat acara makan siangnya dengan Ezra yang dipercepat. Laki laki itu minta maaf dan segera pergi dengan alasan janjian dadakan dengan klien. Tapi Elia ngga yakin. Dia yakin pada hari itu telah terjadi sesuatu.
Haruskah aku bertanya padanya?
Elia menghela nafas. Laki laki itu tidak menghubunginya lagi. Jangan, kan, mengajaknya kembali bertemu seperti janjinya. Menanyakan kabarnya juga tidak
Nyes ....!
Elia merasa aneh dengan dirinya. Kenapa dia harus memikirkan Ezra.
Tapi rasa penasarannya tidak bisa mencegahnya untuk menghubungi laki laki itu.
Elia telanjur mengirimkan pesan untuk Ezra.
Siang, maaf mengganggu. Ada yang mau saya tanyakan.
Pesan itu tidak langsung dibaca, apalagi dibalas. Perasaan kesal kembali memonopoli hati dan pikiran Elia. Dia teringat kejadian beberapa hari yang lalu saat laki laki sok sibuk itu tidak membalas pesannya dalam waktu lama.
Uuuggghhh..... Sesibuk apa, sih, dia, gerutu Elia membatin. Akhirnya Elia memutuskan mengabaikan saja pesannya. Dia kemudian menyibukkan lagi dengan pekerjaannya. Tapi sesekali dia mengecek ponselnya.
Gilaa....umpatnya lagi dalam hati karena pesannya masih juga belum tercentang biru. Perasaan dongkol membuat rongga dadanya terasa penuh.
Dia ini selalu mengabaikan pesan, ya? omelnya lagi dalam hati.
Elia berjalan pelan ke arah kantin. Dia melihat pemandangan unik. Wanda sekarang bersama Keyra dan si kembar Dira dan Vira. Seperti waktu dia melihat ketika Azula dan teman temannya waktu membullynya.
Jadi sekarang kayak gini, ya. Elia mulai mengerti. Keluarga besar Kian menjaga Wanda.
Elia jadi tergelitik untuk tau identitas Wanda yang sedang diperebutkan dua kubu.
Dia.kemudiam ke bagian administrasi.
Sebagai guru BP; sangat mudah baginya mengakses data para murid. Apalagi dia putri pemilik sekolah ini. Pegawai bagian administrasi akan mengijinkannya melihat data siswa yang.bermasalah.
Ibunya almarhummah Danayanti, bapaknya almarhum Renggojati. Oooh... Dia yatim piatu, gumamnya saat sudah mengetahui nama.orang tua Wanda. Elia merasa bersalah karena dia sempat menaruh duga kalo bapaknya Wanda adalah papanya Aditama. Karena menurut penglihatannya, ada garis wajah keduanya yang sedikit mirip.
Tapi entahlah, mungkin hanya perasaannya saja.
Alamat Wanda tertera di sana sama dengan alamat rumah Aditama. Panji Hasta adalah walinya.
DEG
Perasaannya tiba tiba terasa aneh.
Dia membaca lagi keterangan yang ada di sana. Ibunya Wanda bekerja sebagai asisten rumah tangga keluarga Aditama.
Sekarang Elia mengerti kenapa Wanda selalu membawakan barang barangnya Aditama. Remaja tanggung itu juga menganggapnya sebagai pelayannya.
Elia menghela nafas panjang. Dia belum lama bekerja sebagai guru BP. Begitu lulus kuliah profesi psikolog, papanya memintanya bekerja di sekolah milik keluarganya.
Ngga dia sangka.di sini dia menemukan banyak pembully.
Elia menghela nafas panjang lagi.
Setelah mendapatkan informasi yang dia butuhkan, Elia berjalan lagi ke arah ruangannya.
Perlahan dia melangkah mulai mer@ba situasi yang akan terjadi. Sekarang suasana masih adem ayem. Anak anak itu masih menjalani hukuman darinya. Walaupun yang bekerja tetap cleaning service sekolah, tapi tetap saja siswa siswanya itu berpura pura menjalani hukumannya.
Ancamannya akan memperpanjang hukuman sepertinya membuat mereka mau melakukan gencatan senjata.
Tapi langkahnya memelan ketika. melihat siapa yang berdiri ngga tenang sambil mendekatkan ponsel ke telinganya.
Si om kurang ajar itu ternyata.
Segaris senyum terbit di bibir tipis Elia.
Rasakan, batinnya pu@s. Saat ini ponselnya sengaja dia tinggalkan di ruangannya karena sebal.
Telpon aja terus, tawa Elia senang dalam hati. Ngga dia sangka laki laki itu mendapat karma secepat ini.
Mungkin karena mendengar derap langkah yang mendekat, Ezra menoleh dan tersenyum padanya. Ponselnya sudah dia turunkan dari telinganya.
"Kirain kamu di dalam," ucap Ezra begitu Elia berada di depannya.
Elia memperhatikan tampilan CEO ini yang sama sekali tidak tampak gusar. Bahkan senyumnya menimbulkan perasaan aneh di hati Elia.
Tapi Elia tentu saja tidak mau perasaan kagumnya terlihat. Dia sudah cukup tau tentang banyaknya perempuan yang sering digandeng Ezra.
"Ponselku ketinggalan di dalam." Elia melewati Ezra dan membuka pintu ruangannya yang terkunci.
"Oooh," angguk Ezra mengerti. Dia menatap punggung Elia yang ditutupi rompi blazer hitam yang menutupi hingga ke pinggangnya.
"Aku belum sempat makan, bagaimana kalo kita makan di luar?"
Ajakan Ezra menghentikan langkah kaki Elia. Dia membalikkan tubuhnya, tidak jadi memasuki ruangannya.
"Sekalian menjawab yang akan kamu tanyakan," jawab Ezra dengan tatapan penuh makna.
Mereka kini saling menatap. Ngga butuh waktu lama Elia menganggukkan kepalanya.
"Oke."
*
*
*
"Harusnya kamu tinggal bersama kami," kesal Dira sambil menatap Keyra. Keputusan daddynya Kian membuatnya kecewa.
"Kalo bersama Keyra, kamu hanya akan jadi patung. Dia ngga suka bicara," tambahnya lagi membuat Vira terkikik. Sedangkan Keyra tetap memasang wajah datar.
Wanda tersenyum tipis. Dia ngga mungkin bisa memilih, kan? Sebenarnya kalo bisa, Wanda akan lebih santai saat bersama Dira dan Vira. Kalo bersama Keyra, dia bukan seperti patung, tapi malah seperti tersangka yang sudah melakukan kejahatan.
"Kita bisa lebih sering menginap di rumah Keyra. Lagi pula daddy akan senang kalo hanya berdua mami saja di rumah," sela Vira masih di tengah derai tawanya.
"Oh iya." Dira menimpali dengan tawa.
"Key, mami dan daddy ngga terganggu kalo kita sering nginap, kan?" tanya Vira sambil menatap kerabatnya.
"Engga." Karena mami dan daddynya lebih suka menghabiskan waktu di paviliun yang terpisah dari rumah mereka. Lagi pula orang tuanya dan si kembar lebih sering ke luar kota atau ke luar negeri untuk urusan bisnis.
"Kamu bertanya seolah kita ngga pernah nginap di rumah Keyra aja," decih Dira mengejek membuat Vira tambah tergelak.
udah dikenalin sbg calon istri berarti ezra serius