NovelToon NovelToon
Dendam Manis Di Cawan Hitam

Dendam Manis Di Cawan Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:170
Nilai: 5
Nama Author: Neef

Di Oakhaven, cinta adalah racun paling murni, dan aku baru saja meminumnya hingga tetes terakhir."
​Dulu, aku adalah mesin pembunuh bagi pemerintah. Kini, aku adalah Marie Vance—seorang putri bangsawan yang dibuang untuk dijadikan boneka. Di kota yang selalu menangis di bawah hujan neon ini, aku terikat kontrak darah dengan Julius Vance, monster yang menguasai aliran Nectar di jantung kota. Dia menginginkan kemampuanku untuk mengungkap konspirasi, sementara aku menginginkan kepala setiap orang yang menghancurkan hidupku. Namun, di antara ranjang yang dingin dan pengkhianatan yang mematikan, aku menyadari satu hal: kami berdua adalah predator yang saling memangsa, hingga tak ada lagi yang tersisa kecuali dendam yang manis... dan cawan hitam yang siap menampung darah kami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neef, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gema dari Akar Dunia dan Pilihan Terlarang

*"Jangan pernah menganggap bahwa keheningan dunia ini adalah tanda kedamaian, karena di balik setiap helai daun dan setiap detak jantung tanah ini, tersimpan ribuan tahun amarah yang siap melahap siapa saja yang berani membawa ketidakpastian ke dalam harmoni yang mereka jaga."*

Suara pria tua itu terdengar jauh, tenggelam oleh deru energi biru yang kini memenuhi ruang gua. Aku mencengkeram *Buku Kosong* itu hingga jemariku memutih. Benda itu tidak lagi terasa panas, melainkan bergetar dengan irama yang sinkron dengan detak jantung raksasa yang masih terasa di bawah kakiku. Di depan kami, Penjaga Dunia—makhluk kolosal dari kristal dan akar kuno—masih berdiri tegak, matanya yang seperti matahari meredup perlahan, menciptakan suasana temaram yang mencekam.

Julius berdiri di depanku, pedang sihir murninya yang berpendar emas mulai retak di beberapa bagian karena tekanan atmosfer sihir yang terlalu pekat di dalam gua ini. Dia menoleh padaku, sorot matanya tajam namun penuh dengan perlindungan.

*"Marie, dengarkan aku,"* bisik Julius, suaranya nyaris tak terdengar di tengah gemuruh energi. *"Penjaga ini tidak sedang menyerang kita. Dia sedang *meminta*. Dia merasakan residu dari 'penulis' lama yang masih melekat pada buku itu. Jika kau tidak ingin dia menulis ulang duniamu, kau harus menunjukkan padanya bahwa kau bukan sekadar tinta, tapi kau adalah pena itu sendiri."*

Aku menelan ludah. *Menjadi pena?* Bagaimana mungkin aku, seorang manusia yang hanya ingin bertahan hidup, bisa menjadi penguasa atas realitas yang begitu megah ini?

Makhluk raksasa itu menggerakkan lengannya. Belati-belati kristal yang melayang di udara bergetar, mengeluarkan suara denting yang menyakitkan telinga. *TING! TING! TING!* Suara itu seolah memecah fokusku, memaksa pikiranku untuk menyerah pada kehendak Penjaga Dunia.

*"Kau tidak pantas membawa sejarah yang tidak kau pahami,"* suara gabungan ribuan orang itu bergema lagi, kali ini terasa lebih dekat, seolah-olah Penjaga itu sedang berdiri tepat di depan hidungku.

Aku melangkah maju, melepaskan pegangan Julius pada lenganku.

*"Aku tidak memintamu untuk memahamiku!"* teriakku, suaraku menggema, memecah kesunyian gua. *"Aku tidak ingin menjadi bagian dari sejarahmu, tidak juga sejarah Kronos, atau sejarah siapa pun! Jika buku ini adalah beban, maka aku akan menanggungnya. Tapi jangan pernah berani-berani mencoba merampas kehendakku!"*

Aku tidak menggunakan sihir. Aku tidak merapal mantra. Aku hanya membuka *Buku Kosong* itu lebar-lebar di depan wajah Penjaga raksasa tersebut.

Halaman-halaman buku itu tidak lagi kosong. Mereka mulai menyerap cahaya biru dari tubuh Penjaga Dunia. Tinta emas yang liar muncul dari ujung jariku, mengalir ke dalam kertas, bukan menuliskan kata-kata, melainkan memproyeksikan seluruh kenanganku—setiap air mata, setiap tawa, setiap keputusan brutal yang kulakukan untuk bertahan hidup di Oakhaven—langsung ke dalam kesadaran makhluk itu.

Penjaga itu terhuyung ke belakang. Kristal-kristal di tubuhnya retak lebih dalam. Akarnya yang menancap di langit-langit gua melepaskan pegangannya, membuat bebatuan berjatuhan seperti hujan.

*"Ini... ini adalah penderitaan yang murni,"* desah Penjaga itu. *"Ini bukan sejarah yang ditulis oleh tangan penguasa. Ini adalah sejarah yang ditempa oleh darah."*

Pria tua yang tadi bersama kami bersujud di tanah, matanya terbelalak melihat apa yang terjadi. *"Dia sedang... dia sedang menelan realitas Marie. Jika dia tidak berhenti, Marie akan terkuras habis!"*

*"Marie, hentikan!"* teriak Julius. Dia mencoba menarikku, namun tubuhku seolah terikat oleh tarikan energi yang luar biasa kuat antara buku itu dan si raksasa.

Aku merasakan tubuhku menjadi ringan, hampir transparan. Setiap memori yang kuserahkan adalah bagian dari diriku yang hilang. Apakah ini caranya untuk menjadi penulis? Apakah aku harus mengosongkan diriku sendiri untuk mengisi dunia ini?

*Tidak,* bisik sebuah suara di dalam hatiku. *Itu bukan caranya.*

Aku membalikkan aliran energinya. Alih-alih memberikan ingatanku, aku menarik ingatan dunia ini ke dalam diriku. Aku membiarkan pengetahuan tentang bagaimana cara menumbuhkan hutan, bagaimana cara memanggil hujan, dan bagaimana cara menjaga harmoni sihir murni masuk ke dalam jiwaku.

Cahaya emas dari tubuhku menyatu dengan cahaya biru milik Penjaga Dunia. Gua itu meledak dalam keheningan yang luar biasa—sebuah ledakan warna yang menghapus segala ketegangan.

Saat cahaya itu meredup, Penjaga Dunia itu sudah tidak lagi tampak seperti raksasa yang murka. Dia mengecil, wujudnya kini menyerupai pria tua yang anggun dengan jubah yang terbuat dari lumut dan kristal. Dia menatapku dengan mata yang kini terlihat jauh lebih manusiawi.

*"Kau telah memilih beban yang lebih berat daripada yang kubayangkan,"* katanya dengan suara yang tenang. *"Kau tidak memberikan sejarahmu, kau mengambil beban sejarah dunia ini. Mulai saat ini, kau adalah 'Penjaga yang Berjalan'. Setiap langkahmu akan menentukan apakah tanah ini akan tumbuh subur atau berubah menjadi debu."*

Dia menghilang menjadi serpihan cahaya, meninggalkan kami di dalam gua yang kini tenang.

Julius segera berlari ke arahku, memelukku erat-erat. Tubuhku terasa sangat lelah, seolah aku telah berlari selama berabad-abad.

*"Jangan pernah lakukan itu lagi,"* bisiknya di rambutku, suaranya penuh dengan rasa cemas yang tak tertahankan.

Pria tua berjanggut tadi mendekat dengan hormat, dia membungkuk dalam-dalam. *"Anda telah menerima restu dari sang Penjaga. Namun, ingatlah, Marie... dengan kekuatan ini, setiap keputusan yang kau ambil akan berdampak langsung pada keseimbangan sihir dunia ini. Jika kau salah melangkah, dunia ini akan runtuh bersamamu."*

Kami keluar dari gua itu, dan dunia di luar sudah berubah. Pegunungan ungu tadi kini memancarkan cahaya keemasan. Hutan-hutan yang tadinya tampak liar, kini tampak seolah sedang menunduk hormat saat kami lewat.

Kami memiliki kekuatan untuk menulis sejarah baru. Tapi, saat aku memegang *Buku Kosong* itu, yang kini terasa lebih berat dari logam manapun, aku sadar bahwa ada seseorang yang mengawasi kami dari jauh.

Di cakrawala, di balik awan yang berputar, aku melihat bayangan seseorang yang memegang buku serupa. Seseorang yang sejak tadi tidak pernah menampakkan diri.

*"Julius,"* kataku, menunjuk ke arah cakrawala. *"Kita tidak sendirian. Ada penulis lain di dunia ini."*

Julius menatap ke arah yang kutunjuk. Matanya menyipit. *"Jika dia adalah penulis, maka dia adalah ancaman terbesar kita."*

Kami berjalan menuruni lereng gunung, namun aku merasa ada sesuatu yang tidak beres. Langkah kakiku yang menginjak tanah tidak lagi memberikan cahaya hijau seperti tadi. Kali ini, setiap kali aku melangkah, tanah berubah menjadi warna hitam pekat—seolah-olah keberadaanku sedang membusukkan tanah yang baru saja kubebaskan.

*"Apa yang terjadi?"* Julius menatap jejak kakiku dengan panik.

Aku menatap tanganku. Tinta emas yang tadi mengalir, kini berubah menjadi warna hitam yang pekat dan berdenyut.

*"Mungkin,"* kataku, suaraku tercekat, *"ini adalah harga dari keputusan untuk mengambil beban dunia."*

Tiba-tiba, dari dalam tanah yang menghitam itu, muncul tangan-tangan yang terbuat dari bayangan—tangan yang persis seperti yang dulu pernah mencoba menarikku ke dalam kegelapan di masa lalu. Mereka bukan berasal dari dunia ini, mereka berasal dari *diriku sendiri*.

*"Tampaknya,"* sebuah suara familiar terdengar dari balik pepohonan, *"kita harus mendiskusikan siapa yang berhak memiliki pena ini, Marie Vance."*

Sosok itu muncul dari balik bayangan pohon. Wajahnya tertutup kerudung, namun aura yang dipancarkannya begitu dingin, begitu familiar. Dia memegang buku yang sama persis denganku, namun bukunya sudah penuh dengan tulisan-tulisan yang terus bergerak.

Itu bukan orang lain. Itu adalah versi diriku yang lain—Marie Vance dari masa depan yang telah kehilangan segalanya karena beban ini.

*"Jangan ikuti jalan yang kupilih,"* bisiknya sambil perlahan membuka bukunya, *"atau kau akan berakhir menjadi sepertiku—seorang penulis yang tidak memiliki dunia untuk ditulis."*

Dia menjentikkan jarinya, dan dunia di sekitar kami mulai retak. Bukan retakan fisik, tapi retakan realitas. Lembah hijau itu mulai mengelupas seperti kulit kering, menampakkan kegelapan yang tak berujung di baliknya.

*"Julius, bersiaplah!"* teriakku.

Kami terperangkap di tengah-tengah dua masa depan yang bertabrakan. Dan kali ini, tidak ada jalan keluar yang mudah. Marie dari masa depan mengangkat pena miliknya, dan saat dia menuliskan satu kata di bukunya, langit di atas kami mulai runtuh menimpa kami.

*Kata itu adalah... 'Akhir'.*

1
Abe shaikha
Aku suka yang FL nya kuat begini, semangat thor nulisnya😍
Abe shaikha
Seru Thor... 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!