Apakah selembar kain jilbab cukup untuk menghapus masa lalu yang dianggap cacat?
Bagi Hana, pernikahan adalah gerbang lembaran suci. Namun, kenyataan menamparnya begitu menginjakkan kaki di kediaman suami. Sebagai wanita modern, ia dinilai miskin ilmu agama dan tidak bernasab terhormat. Sang Umi pun menganggapnya sebagai perusak masa depan putra kesayangan.
Kini, Hana harus menghadapi penolakan dingin dan upaya mertua mengembalikan kekasih lama suaminya. Ia hanya ingin bertahan demi membuktikan keikhlasan berbenah diri.
Jika gagal, Hana akan kehilangan pria tercinta sekaligus merelakan kesehatan jiwanya hancur. Di tengah jepitan konflik, sang suami dipaksa memilih antara bakti orang tua atau melindungi belahan jiwanya.
Akankah ketulusan Hana melunakkan kerasnya hati sang Umi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Selembar Jilbab Baru Dan Masa Lalu Yang Cacat
Malam pelaminan yang seharusnya bertabur untaian doa keberkahan seketika menjelma menjadi ruang pengadilan yang sunyi. Hana duduk membeku di tepi ranjang berseprai putih bersih, meremas jemarinya yang mendadak dingin hingga persendiannya memutih. Di hadapannya, sebuah cermin besar memantulkan bayangan dirinya yang tampak begitu asing dalam balutan gaun pengantin sederhana. Sepotong kain penutup kepala sewarna malam melengkapi penampilannya, menandai keputusan besar yang ia ambil dengan seluruh sisa iman yang ada.
Langkah kaki yang berat terdengar mendekat dari arah pintu luar, memecah keheningan yang sejak tadi mencekik dada. Azzam berjalan masuk dengan sisa keletihan yang amat jelas tergambar pada garis wajahnya yang tegas. Lelaki yang kini resmi menyandang status sebagai suaminya itu menghela napas panjang seraya melepas peci hitamnya. Tatapan mereka sempat beradu di udara, memancarkan gelombang kecanggungan yang begitu tebal di antara sepasang manusia yang baru saja diikat tali suci.
"Apakah kamu sudah menyelesaikan salat isya?" tanya Azzam dengan suara rendah yang terdengar ragu.
Hana mengangguk pelan tanpa berani mengangkat wajahnya terlalu tinggi. "Sudah, Mas, aku melakukannya tepat setelah acara akad selesai."
Azzam berjalan mendekati meja rias, meletakkan jam tangannya dengan gerakan yang sangat berhati hati. "Baguslah kalau begitu. Lingkungan pesantren ini memang menuntut kita untuk selalu menjaga ketepatan waktu ibadah."
Hana merasakan sekelumit sesak kembali merayap ke hulu hatinya yang paling dalam. Kalimat itu terdengar biasa saja, namun ada tekanan tak kasat mata yang mengingatkannya pada status barunya di sini. Ia hanyalah seorang wanita kota yang baru saja mengetuk pintu hidayah, mencoba meraba tata cara kehidupan yang jauh berbeda dari masa lalunya yang gemerlap. Sementara itu, suaminya adalah seorang putra tunggal dari pemuka agama terpandang yang mengasuh ratusan santri di daerah ini.
Kehadirannya di rumah ini bukanlah sesuatu yang disambut dengan bentangan karpet merah ataupun untaian senyum kehangatan. Hana masih ingat betul bagaimana sepasang mata tua milik sang ibu mertua menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki saat mereka pertama kali bertemu. Tatapan itu tidak memancarkan sinar penerimaan, melainkan sekat pemisah yang sangat tebal dan dingin. Bagi sang umi, menantu yang ideal adalah seorang wanita yang memiliki hafalan kitab suci serta garis keturunan yang mulia.
"Mengapa kamu melamun, Hana?" suara Azzam kembali memecah keheningan malam yang kian larut.
Hana tersentak kecil, lalu buru buru menyunggingkan senyum tipis untuk menutupi kegundahannya. "Tidak apa apa, Mas, aku hanya masih merasa sedikit lelah setelah perjalanan panjang dari kota kemarin."
Azzam menghentikan gerakannya, lalu berbalik memandang sang istri dengan tatapan yang sulit diartikan. "Pernikahan kita memang terjadi dengan sangat cepat. Aku berharap kamu bisa segera menyesuaikan diri dengan seluruh aturan yang ada di sini."
Harapan itu terdengar seperti sebuah tuntutan berat yang harus segera dipenuhi tanpa ada toleransi sedikit pun. Hana tahu bahwa dirinya kini berada di bawah pengawasan ketat dari seorang wanita paruh baya yang memiliki pengaruh luar biasa di lingkungan ini. Sejak awal mula perjodohan kilat ini digulirkan, sang umi sudah menunjukkan tanda penolakan yang amat kentara. Beliau bahkan sempat melontarkan kalimat pedas yang mempertanyakan keseriusan Hana dalam mengenakan penutup dada yang kini membalut tubuhnya.
Kenangan pahit beberapa minggu lalu kembali berputar di benak Hana bagai kaset rusak yang enggan berhenti. Di ruang tamu yang dipenuhi kitab tebal, sang umi pernah berucap bahwa pakaian yang longgar tidak serta merta bisa menghapus rekam jejak masa lalu yang kelam. Kata kata itu diucapkan dengan nada yang sangat tenang, namun efeknya mampu menghancurkan rasa percaya diri Hana hingga berkeping keping. Beruntung saat itu Azzam tetap teguh pada pendiriannya untuk melanjutkan pernikahan demi menunaikan sebuah janji yang pernah terucap.
"Aku akan mencoba melakukan yang terbaik untuk memantaskan diri di sini, Mas," bisik Hana dengan nada suara yang bergetar menahan gejolak emosi.
Azzam berjalan mendekat, lalu duduk di kursi kayu yang terletak beberapa jengkal dari tepi tempat tidur. "Umi adalah seorang wanita yang sangat tegas dan berpegang teguh pada prinsip agama. Beliau hanya ingin memastikan bahwa masa depan pesantren ini berada di tangan yang tepat."
Hana menarik napas dalam dalam, mencoba mengalirkan pasokan oksigen ke paru parunya yang terasa semakin menyempit. "Apakah itu berarti keberadaanku di sini dianggap sebagai sebuah ancaman bagi masa depan tempat ini?"
"Jangan berpikir terlalu jauh, Hana. Kita hanya perlu membuktikan bahwa pilihan ini tidak salah," jawab Azzam dengan nada yang mulai terdengar datar.
Jawaban yang menggantung itu sama sekali tidak memberikan rasa aman yang dibutuhkan oleh seorang pengantin baru. Hana merasa suaminya tidak benar benar pasang badan untuk melindunginya dari bayang bayang penolakan yang sudah terpampang nyata di depan mata. Malam kian larut, namun kantuk sama sekali enggan singgah ke pelupuk mata Hana yang mulai terasa panas. Ia tahu bahwa esok hari adalah awal mula dari sebuah perjuangan panjang yang akan menguras seluruh persediaan air mata dan energinya.
Dari balik jendela kamar, lamat lamat terdengar suara lantunan ayat suci yang dikumandangkan oleh beberapa santri yang sedang menjaga malam. Suara itu terdengar sangat merdu, namun di telinga Hana, itu bagaikan sebuah pengingat bahwa dirinya berada di dunia yang sepenuhnya berbeda. Ia harus melepas seluruh kebiasaan lamanya yang bebas dan tanpa batas demi bisa melebur dalam lingkungan yang serba teratur ini. Tantangan terbesar bukanlah menghafal bait hukum fikih, melainkan bagaimana cara menaklukkan hati seorang mertua yang sudah terlanjur menganggapnya sebagai noda.
"Sebaiknya kita segera beristirahat karena sebelum subuh kita sudah harus berkumpul di masjid utama," kata Azzam sambil mematikan lampu utama dan menyisakan lampu tidur yang temaram.
Hana merebahkan tubuhnya di sisi ranjang yang paling tepi, membelakangi sang suami dengan sejuta pikiran yang berkecamuk. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh satu demi satu, membasahi bantal lapis katun yang menjadi saksi isu kerapuhannya. Ia meraba dadanya yang terasa berdenyut nyeri, mempertanyakan kembali apakah keputusan untuk berhijrah lewat jalur pernikahan ini sudah benar. Kegelapan kamar seolah meresap ke dalam jiwanya, menghadirkan rasa takut yang luar biasa akan apa yang bakal terjadi esok pagi.
Kesunyian malam itu mendadak pecah ketika sebuah ketukan keras terdengar bergaung dari arah pintu jati kamar pengantin mereka. Ketukan itu tidak hanya mengejutkan Hana, melainkan juga membuat Azzam langsung terduduk tegak dengan dahi yang berkerut dalam. Jantung Hana berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya, memicu firasat buruk yang langsung menyergap akal sehatnya. Suara dehaman khas yang sangat ia kenali terdengar dari balik daun pintu, memanggil nama putra kesayangannya dengan intonasi yang sangat dingin dan penuh penekanan.