NovelToon NovelToon
Destiny

Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong
Popularitas:435
Nilai: 5
Nama Author: Typ

Niat hati ingin mengabulkan permintaan adiknya yang sedang sakit, Larasati malah terjebak dengan berondong yang banyak digilai kaum perempuan. Gadis yang biasa dipanggil Laras itu dengan keras menolak kehadiran Aditya, tapi bukan Aditya namanya jika menyerah begitu saja. Bagaimana keseruan kisah mereka? langsung baca aja guyss

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Typ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Inisiatif

Apartemen Aditya lebih hidup karena kedatangan Raihan, Rara dan Rani. Membuat pagi Laras terasa lebih berwarna. Gadis yang seharunya sudah tidak gadis lagi itu beberapa kali tersenyum karena obrolan seru Rara dan Rani, dan ternyata Raihan bisa mengimbangi keduanya.

Laras tidak banyak bicara, gadis itu lebih sering menyimak sambil menyandarkan tubuh, leyeh-leyeh untuk menyamarkan rasa perih dibeberapa bagian tubuhnya. Laras tidak akan mengeluh, tidak, saat ada orang disampingnya.

Rani dan Raihan saling bercerita bagaimana mereka mulai membangun usaha sedangkan Rara bertanya hal-hal kecil di dalamnya. Obrolan ringan terus berlanjut sampai membahas masalah pendidikan bahkan sampai politik yang semakin hari semakin memanas.

Tawa ringan yang bergema di apartemen Aditya terhenti saat terdengar suara dari intercom, beberapa kali gedoran juga menyusul.

"Biar aku saja," Rara beranjak cepat sebelum Laras sempat berdiri.

Gadis itu membuka pintu tanpa menilik siapa yang datang. Wajahnya terkejut melihat Tommy datang dengan membawa buket bunga super indah yang pernah Rara lihat.

"Hai Rara." Tommy menyapa.

"E-eh... Ayo masuk Kak." Rara memberi jalan, gadis itu membuntuti Tommy. Tiba-tiba saja gadis itu kehilangan dirinya dan merasa asing di apartemen Aditya padahal sebelumnya biasa saja. Mungkin karena Tommy lebih lama bersama dengan Aditya.

"Pagi semua, wah ramai sekali." Tommy menyapa, senyumnya ringan tidak terganggu atau sungkan, seakan sedang berada dirumahnya sendiri. Tentu saja pria itu tahu batasan.

"Wah asisten Aditya." Rani memandang kagum pada sosok Tommy.

Semua berdiri dan Tommy mulai menyalami mereka satu persatu.

"Gue ke sini karena ada titipan bunga dari Aditya." Tommy mengungkapkan maksud kedatangannya. Menekankan kata Aditya seolah sedang memberi tahu seseorang bahwa nyonya rumah sudah memiliki kekasih.

Laras mengangguk, menerima bunga itu kemudian meletakkan di tempatnya duduk.

Pandangan Tommy beralih pada Raihan. "Siapa ini?" tanyanya sambil bersalaman.

"Raihan, Say... ."

"Temanku, dia hanya sedang berkunjung bersama Rara dan Rani. Kita mengobrol biasa." Laras memotong kalimat Raihan.

Gadis itu tidak akan membiarkan Raihan berkata bahwa dirinya menjadi korban serempetan motor dan Raihan pelakunya hanya sedang melakukan kunjungan. Kondisinya saat ini, tidak harus semua orang tahu. Laras hanya tidak suka dengan tatapan kasihan dan perhatian-perhatian yang menurutnya malah membuat keributan.

"Ahh teman."

Suara Tommy seperti ada maksud lain, pandangannya beberapa kali menilai Raihan. Laras maupun Rani dapat merasakan hal itu tapi tidak berani melakukan apapun. Mungkin karena merasa Tommy lebih tua di antara mereka, auranya kuat.

"Duduk dulu kak, kita ngobrol bareng." Rara menginterupsi. "Apa sedang sibuk? Kok mau-maunya sih di suruh Aditya nganterin bunga ke kak Laras?"

Tommy tersenyum. "Kasian saja dengannya."

"Maaf, Aditya yang dimaksud itu apa penyanyi yang itu?" Raihan menatap Tommy dan yang lain dengan penasaran. Pasalnya, dirinya sedikit tahu Aditya karena kakak perempuannya mengidolakan si penyanyi yang sudah lama vacum. Raihan juga tidak asing dengan Tommy, beberapa kali muncul di sosial media bersama dengan Aditya.

"Betul sekali." Tommy mengangguk.

Raihan melongo, kagum juga heran. Ternyata orang-orang di sekelilingnya saat ini bukan orang sembarangan. Ekspresi itu bisa Tommy baca.

"Laras si istri rahasia itu." Tommy dengan enteng membuka rahasia, tidak peduli dengan tatapan tajam Laras.

"Kamu istrinya Aditya?" Raihan tidak menyangka sebab penampilan Laras yang biasa saja. Gadis itu terlihat seperti masih single, terlihat seperti gadis-gadis random pendiam yang kebetulan dijumpainya di taman, yang sedang berjalan santai atau sekedar menikmati hari libur setelah menjadi budak korporat selama seminggu.

Mau tidak mau, Laras mengangguk pelan. "Jangan ceritakan aku pada siapapun, tolong yaa." Laras meminta dengan suara lemah.

Berbagai pertanyaan muncul di benak Raihan, dan ingatannya tertuju pada berita-berita tentang Aditya. Raihan tidak pernah mencari tapi beberapa kadang muncul saat dirinya sedang scroll di sosial media. Hanya sekedar tahu saja.

"Baiklah." Raihan menyanggupi, cowok itu mendadak lebih sungkan karena tahu fakta menarik.

"Gue pergi dulu ya, masih ada urusan." Tommy menarik perhatian, mengubah suasana yang semula tegang menjadi lebih santai. Pria itu beranjak, melambaikan tangannya sebelum pergi.

Tidak ada yang bisa mencegah, tidak pula berbasa-basi. Rara yang biasanya gampang bergaul juga tutup mulut karena keadaan terasa sulit.

Raihan ikut berdiri. "Aku juga mau pulang, bentar lagi bengkel buka." cowok itu ikut pamit, seketika sadar akan posisinya di apartemen itu.

"Hati-hati Kak Tommy, Kak Raihan." Rara mengikuti, mengantar keduanya sampai di pintu.

"Apa itu tadi?" Rani menatap Laras. "Tommy datang seperti dia tahu kalau ada cowok di sini, dan berusaha mengusirnya." Tebakan Rani tepat sekali, gadis itu sadar dengan keadaan yang baru saja terjadi.

"Kok bisa?" gadis itu masih keheranan. Sedangkan Laras mengedikkan bahu, tidak tahu.

Rara datang, pandangannya salfok ke bunga yang ada di samping Laras. "Indah banget, tapi kok tumben Aditya ngirim bunga?"

Rara memasang wajah berpikir. "Sekarang bukan tanggal pernikahan kalian kak."

"Sudahlah tidak usah dipikirkan."

"Ah betull. Bagiamana kalau bunganya di simpan ke gelas berisi air? Biar awet." Rara dengan cepat mengubah topik.

"Tidak usah." Laras menolak. "Aku ingin tidur, kalian mau ikut atau pulang?" gadis itu mengungkapkan keinginannya. Tidak ada niatan untuk mengusir, Laras membebaskan adiknya dan Rani berkunjung lebih lama bahkan menginap kalau mau. Tapi keduanya menolak, Rara akan pergi dengan teman-teman setelah ini sedangkan Rani pergi ke toko.

Apartemen itu kembali sepi, Laras menuju kamarnya dan Aditya dengan pelan. Tubuhnya terutama pinggang masih terasa pegal.

Saat ini, Laras enggan memikirkan apapun. Dirinya hanya ingin istirahat. Entah mengapa dirinya sangat perlu istirahat, seakan di depan nanti akan ada masalah yang akan menguras habis tenaganya.

...----------------...

Waktu berlalu begitu cepat. Aditya dengan gerakan super tergesa dan fokus telah berhasil melewati perjalanan sulit dan penuh beban pikiran, selama kurang lebih 22 jam.

Di hari berikutnya, jam 6 malam atau pukul 6 pagi waktu Indonesia. Aditya tiba di Indonesia, tanpa istirahat, tanpa memberi tahu siapapun, cowok itu langsung menuju apartemen dengan taksi yang sudah dipesan. Sekitar pukul 8 pagi Aditya tiba di apartemen, cowok itu membuka pintu dengan finger print dan menelisik keadaan sekitarnya, suasana apartemen yang sepi dan remang-remang.

Aditya meletakkan ransel di sofa, pandangannya tertuju pada sekotak coklat di atas meja dan buket Bunga yang sudah nampak layu. Terlintas ingatan Laras yang sedang berdua dengan seekor musang di tempat ini.

"Apa bunga itu dari dia?" batinnya. Napas Aditya mulai memburu dengan detak jantung yang sudah tidak stabil. Aditya benci dengan pikirannya, tapi cemburu itu sangat nyata.

Aditya melangkah dengan pasti, meminimalisir timbulnya suara. Cowok itu membuka pintu kamarnya dan mendapati Laras yang tengah berbaring, tanpa selimut dan dengan pakaian rumah yang belum pernah Aditya lihat sebelumnya. Celana gombrong setengah paha yang tersingkap, serta kaos putih kebesaran.

Laras selalu mengenakan celana panjang selama ini, tapi gadis itu mungkin berpikir tidak ada siapapun di apartemen selain dirinya, jadi tidak ada salahnya menggunakan pakaian yang lebih simpel dan nyaman untuk tidur.

Tangan nakal Aditya ingin menyentuh kulit Laras di balik baju, tapi sebagian otaknya yang masih waras memberi instruksi untuk membersihkan diri sebab tubuhnya sudah lengket dan bau keringat.

1
TSQ
Up nya 3 bab perhari kak
typ: hamba tidak sanggup ya mulia 😭
Terlalu berat untuk manusia pemalas seperti hamba.
total 1 replies
TSQ
Up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!