"Hubungan yang berawal dari reuni kecil itu tumbuh begitu cepat, seolah waktu ingin mengejar ketertinggalan mereka selama di SMA. Arman adalah sosok kekasih yang penuh perhatian. Dia tahu kapan Kanaya sedang lelah hanya dari nada suaranya, dan dia selalu punya cara untuk membuat Kanaya merasa dihargai.
Bagi Kanaya, Arman adalah pelabuhan yang aman. Begitu pula bagi Arman, ketulusan dan kemandirian Kanaya adalah hal yang tidak bisa ia temukan pada perempuan lain."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
enam bulan yang di hapus
Beberapa saat berlalu, keheningan kembali merayap dan menguasai sudut-sudut kamar kos yang sempit itu. Isakan Kanaya perlahan mulai mereda, menyisakan napasnya yang masih naik-turun dengan berat. Seiring dengan redanya tangis, logika Kanaya yang sempat lumpuh oleh rasa sakit perlahan kembali bekerja. Emosinya mulai stabil, berganti dengan ketegasan yang dingin.
Kanaya melepaskan cengkeramannya pada jaket Arman. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mendorong pelan dada laki-laki itu, menciptakan jarak di antara mereka. Arman terpaksa mundur sedikit, namun matanya yang sembap tetap menatap Kanaya dengan tatapan memohon.
Kanaya menyeka sisa air mata di pipinya menggunakan punggung tangan. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Arman, tidak ada lagi histeria, hanya ada ketetapan hati yang mutlak.
"Jika kamu tak peduli lagi setelah kejadian ini, tolong tinggalkan aku," ucap Kanaya. Suaranya terdengar begitu datar dan tenang, namun justru ketenangan itu membuat Arman merasa semakin tercekik.
Kanaya mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya, "Hapus semua kenangan selama enam bulan hubungan ini. Anggap kita nggak pernah saling kenal, Arman. Anggap sore ini nggak pernah terjadi."
Mendengar permintaan itu, jantung Arman rasanya seperti dihantam godam. Menghapus enam bulan kebersamaan mereka berarti menghapus satu-satunya bagian dalam hidupnya di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa bayang-bayang tuntutan ayahnya.
"Nay, please..." bisik Arman, suaranya serak menahan perih. "Jangan suruh aku lupain semuanya. Aku nggak bisa."
"Kamu bisa, Arman," potong Kanaya, menatapnya tanpa kedipan. "Kamu pandai memakai topeng di depan keluargamu selama ini, kan? Jadi, menganggap aku tidak pernah ada dalam hidupmu pasti akan sangat mudah untukmu."
Mendengar ucapan Kanaya yang begitu dingin dan terarah, dada Arman terasa semakin sesak, seakan pasokan udara di dalam kamar kos itu mendadak habis. Kata-kata Kanaya bukan sekadar usiran, melainkan sebuah vonis yang menelanjangi seluruh kepalsuan hidupnya selama ini.
Topeng. Kata itu menghantam ego Arman tepat di bagian yang paling rapuh.
Arman menatap kedua tangan Kanaya yang kini terlipat di atas pangkuannya—tangan yang biasanya menyambutnya dengan kehangatan setiap kali ia datang membawa keluh kesah tentang rumahnya. Kini, tangan itu begitu jauh, sedekat apa pun jarak fisik mereka saat ini.
"Nay..." Arman berbisik, suaranya tercekat di tenggorokan, menyiratkan rasa sakit yang teramat sangat. "Jangan ngomong kayak gitu, aku mohon... Jangan buat aku kelihatan seburuk itu di depan kamu."
"Tapi kamu memang buruk, Arman," balas Kanaya lirih, nyaris tanpa emosi. Tatapannya melewati bahu Arman, menatap lurus ke arah pintu keluar yang masih terkunci. "Dan yang paling buruk adalah... aku baru menyadarinya sore ini."
Penyesalan yang kini merayap di benak Arman terasa terlambat dan sia-sia. Ia ingin sekali bersujud dan berjanji akan memperbaiki semuanya, berjanji untuk membawa Kanaya keluar dari kamar ini dan memperkenalkannya pada dunia sebagai wanitanya. Namun, Arman tahu, di mata Kanaya yang sekarang, janji-janji itu tak lebih dari sekadar bualan pengecut yang sedang ketakutan dihantui rasa bersalah.
Dada Arman terus berdenyut nyeri, menyadari bahwa benteng pertahanan yang ia bangun untuk melindungi nama baiknya di hadapan ayah nya, justru menjadi peti mati bagi hubungan enam bulan yang paling berharga dalam hidupnya.