NovelToon NovelToon
PUTRA KE EMPATKU

PUTRA KE EMPATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: ElQue ElQue

Sedih dan sakit hati di rasakan oleh Arista, hanya karena belum bisa memberikan anak perempuan pada suaminya. Pada kehamilan ke empat, Arista sengaja tidak mau USG untuk mengetahui jenis kelamin janin dalam kandungannya. Dia sudah pasrah, apa pun takdir dari Sang pencipta, dia akan menerimanya dengan ikhlas.

Hingga hari yang di tunggu pun tiba. Sore itu dengan di temani adik perempuannya, Anisa. Mereka ke klinik bersalin terdekat dari desa mereka.

Suaminya ke mana??

"Alhamdulillah, selamat ya, Bu Arista atas kelahiran putra ke empatnya"

Arista tersenyum gamang. Di depan pintu sorot mata penuh kekecewaan, seolah sedang menghakiminya.

" Mas...maaf " lirih suara Arista.

Sorot mata itu perlahan menjauh dan menghilang di telan kekecewaannya sendiri.

Arista tergugu, tak ada air mata...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElQue ElQue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30

" Ini semua gara-gara ibu. Kalau nggak punya uang , nggak usahlah mampir makan di restoran. Udah tau ini restoran mahal." Silvia tak berhenti mengeluh.

" Udah kerjakan aja , nggak usah ngomel mulu." Rahmi membentak Silvia kesal.

Sejak tadi anak itu nggak berhenti mulutnya, keringat membasahi dahi Rahmi. Tangan belepotan busa sabun, kakinya sudah pegal. Niat mau pamer makan di restoran mahal malah jadi tukang cuci piring.

" Ibu enak. Udah makan banyak, aku yang baru datang ikut kena getahnya. Mana perut keroncongan dari tadi." Silvia mulai lagi membuka mulutnya.

" Mas Pram lagi, kenapa juga hpnya nggak bisa di hubungin. Ah...sia banget hari ini." Silvia merasa kesal. Dia meletakkan piring dengan kasar. Hingga terdengar suara beradu piring satu dengan piring yang lain.

" Ehemm...kalau sampai ada piring yang pecah, sangsi di tambah berapa piring yang pecah. Satu piring satu hari . Ingat jangan sampai ada yang pecah." tegur supervisor resto tersebut sambil menatap tajam.

Rahmi menyenggol lengan Silvia sedikit kencang, niat hati ingin mengingatkan, kalau naruh piring pelan-pelan. Rahmi pun tak menyadari kalau di tangan Silvia ada beberapa piring di tangannya. Karena kondisi tangan licin dan basah, piring itu meluncur sempurna ke arah lantai.

Suara gaduh memenuhi dapur. Supervisor yang baru akan berbalik meninggalkan tempat itu, terkejut dan langsung melangkah mendekati Rahmi dan Silvia.

Matanya membelalak, pecahan piring berserakan di lantai. Sedangkan Rahmi dan Silvia berdiri pasrah , sambil melihat ke arah lantai.

Supervisor itu tampak geram.

" Hallo, pak. Ibu yang tadi beserta anaknya memecahkan piring, bagaimana menurut bapak."

" Baik. Siap di laksanakan pak bos." supervisor itu tersenyum menyeringai.

"Hari ini bos saya lagi baik hati. Bersihkan pecahan piring itu, sampai bersih."

Rahmi dan Silvia hanya mampu saling lirik. Mereka sudah nggak ada tenaga lagi untuk membantah.

Selesai membersihkan semua sisa-sisa pecahan piring, mereka duduk di kursi yang ada di sana. Peluh dan bau sabun cuci piring menguar dari tubuh mereka.

Seseorang masuk dan membawakan dua piring nasi beserta lauknya. Mata Silvia berbinar, baru kali ini dia merasa seperti orang yang tidak pernah makan.

" Selesai makan, lanjut lagi cuci piringnya. Ingat sampai jam 5 sore. Hmmm... ngomong-ngomong piring yang pecah tadi ada berapa, ya?" orang yang membawa tersenyum meledek.

" Wajah kamu udah saya ingat. Besok aku bawa anakku yang jadi pimpinan perusahaan ke sini. Bisa di pecat kamu dari sini." Rahmi kesal.

" Silahkan saja kalau berani. Pemilik resto ini yang berhak mengeluarkan karyawannya. Hmm... bagaimana kalau video ini tersebar, ya?." tanya karyawan yang berseteru dengan Rahmi.

Silvia dan Rahmi melotot. Dia tak menyangka kalau aksi cuci piringnya di rekam.

" Kalau sampai video itu tersebar, saya tuntut kamu dengan undang-undang ITE." ancam Silvia.

Tapi karyawan tersebut cuma tersenyum miring.

" Rini, apa sudah selesai?. Kalau sudah silahkan kembali ke depan."

" Sudah Pak Lutfi. Mereka sedang istirahat, makan." jawab Rini. Karyawan yang tadi siang sempat ribut dengan Rahmi karena kabur nggak mau bayar.

Supervisor yang bernama Lutfi mengangguk dan mengacungkan jempolnya.

Rini berjalan menjauhi dapur, dengan sengaja dia dadah dadah menggunakan hpnya.

Silvia mengepalkan ke dua tangganya geram, tapi tak berani berbuat apa-apa. Dia takut ancaman dari Rini. Kalau sampai video itu tersebar , habis sudah reputasinya di kampus.

Rahmi beda lagi, dia tampak lahap menyantap makanan yang ada di depannya. Dia tak peduli, karena perutnya sudah lapar sejak tadi. Padahal siangnya dia sudah makan banyak.

" Ibu. Besok aku nggak mau lagi bantuin ibu cuci piring di sini. Aku nggak mau kalau salah satu temanku tiba-tiba makan di sini dan lihat aku cuci piring gara-gara nggak bisa bayar." ancam Silvia.

Rahmi menghentikan kunyahannya. Dia menatap Silvia sebentar.

" Kalau ibu cuma 3 hari, kamu tadi mecahin piring ada berapa biji. Selanjutnya kamu yang nanggung." Rahmi menjawab enteng.

Silvia memukul meja karena kesal. Bertepatan dengan supervisor Lutfi masuk ke ruangan itu. Dia tersenyum jahil.

" Itu meja kaca. Kalau sampai retak, kalian satu bulan full harus cuci piring di sini." ancam Lutfi.

Di kolong meja, Rahmi menendang kaki Silvia. Hingga Silvia nyengir menahan sakit di kakinya.

Lutfi menyunggingkan senyum dan pergi meninggalkan mereka.

Sementara itu, Silvia mendesah kesal. Tadi ada 7 piring yang dia pecahkan.

"Tapi semua gara-gara ibu yang menyenggol tangan aku, jadi piringnya jatuh." gerutu Silvia.

Rahmi tak menanggapi ucapan Silvia, tangan dan mulutnya masih sibuk dengan makanan di piringnya.

" Ibu nyenggol tangan kamu itu , biar kamu naruh piringnya pelan-pelan, jangan ngomel terus, kamu pikir kama aja yang capek, ibu juga. Lihat tangan ibu, sampai keriput, gara-gara kelamaan di air." sambil menunjukan ke dua telapak tangannya pada Silvia.

" Terus bagaimana, Bu?" tanya Silvia sambil menekuk wajahnya.

" Bagaimana apanya? Yang penting di kasih makan, jalanin aja. Lagian kalau lapor ke kakakmu yang ada nanti videonya di viralin sama tuh..curut"

" Kuliah aku bagaimana, Bu?" keluh Silvia.

"Kamu bisa minta ijin dulu satu Minggu." Rahmi menjawab enteng.

Setelah kenyang, mereka kembali melakukan hukumannya, hingga sore hari.

Semua karyawan di resto menahan tawa, saat mereka keluar dari resto. Keadaan mereka berantakan, rambut acak-acakan, pakaian mereka basah oleh keringat bercampur air, dan aroma sabun cuci piring menguar dari tubuh mereka.

               ***********

Anjas tersenyum puas, saat melihat video yang di kirim salah satu karyawannya.

"Bagaimana kalau Pram tahu, ibunya di suruh cuci piring gara-gara mau kabur nggak mau bayar.

Sebenarnya Anjas bisa aja berdamai dengan Rahmi, tapi sikap sombong dan kata-kata Rahmi yang semena-mena, membuat dia ingin memberi sedikit pelajaran.

Yahh...restoran itu adalah milik Anjas. Tidak banyak yang tahu kalau Anjas punya bisnis kuliner. Pun dengan Arista, yang Arista tahu restoran itu punya salah satu klien Anjas.

Sebagai pemilik restoran tersebut, Anjas memberi tahukan ke semua karyawan, kalau dia berkunjung, sikapnya biasa saja layaknya ke tamu yang lain. Jangan menyapa berlebihan. Semua karyawan pun tahu itu.

":Pram...Pram... bagaimana reaksi kamu kalau video in tersebar. Tapi aku nggak seculas dan sejahat itu. Sudah banyak waktu dan kesempatan yang kamu sia-siakan, Pram."

" Cepat atau lambat Arista pasti akan menyadari kekeliruannya. Walaupun di bilang sudah sangat terlambat. Tapi itu lebih baik,dari pada semakin jauh terperosok ke dalam lumpur."

[Kalau aku mau jahat , bisa saja aku mengambil keuntungan buat diri sendiri. Memperkaya diri sendiri.]

[ Soal Anisa. Biar Baskara yang menyelesaikannya. Bukan aku nggak peduli, tapi pak Hardi sudah mempercayakan semua pada Baskara].

[ Restu. Laki-laki yang di angkat dari kubangan lumpur, sekarang menjadi seekor lintah yang tak pernah merasa kenyang]

Anjas menghela nafas panjang. Bayangan Arista menangis menari di pelupuk matanya.

Hanif. Bayi mungil dan menggemaskan, terpaksa berpisah dengan ibunya. Karena keegoisan bapaknya.

Semoga setelah besar nanti, dia tak jadi bumerang buat bapaknya yang tak mengakuinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!