Novel ini kelanjutan dari Novel. " Cinta Gadis Tangguh Dari Desa."
Luna Haifa Adhitama putri sulung dari Kavindra Adhitama dengan Freya Pratiwi Adhitama. Luna mempunyai adik kembar yang bernama Aryan Zaidan Adhitama dan Aryana Zaidah Adhitama.
Luna seorang Dokter spesialis Anak. Karena pembawaannya yang lembut dan ramah. Dia menjadi Dokter yang diidolakan sama semua pasiennya.
Pada saat dia pergi ke rumah kumuh yang sudah menjadi kebiasaannya satu bulan sekali. Membantu orang-orang yang disana untuk memberikan perobatan gratis disana.
Dia bertemu dengan anggota TNI yang juga lagi membantu menyalurkan bantuannya ke orang-orang yang ditinggal di bawah Jembatan.
Akankah Luna mengenali salah satu dari anggota TNI tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
SELAMAT MEMBACA !!!
Freya dan Vindra duduk di sofa menunggu anak-anak mereka untuk pergi ke rumah ayah Radit.
"Mom! Lihatlah aku! Apakah sudah cantik!" seru Runa ketika sudah keluar dari pintu lift dengan berlari menuju Freya yang sedang duduk di sofa ruang keluarga.
Freya dan Vindra langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Masya Allah!! Anaknya Mommy sangat cantik sekali memakai hijab!" seru kaget Freya ketika melihat penampilan Runa dan di belakangnya ada Rena juga kelihatan cantik sekali.
"Terima kasih, Mom. Aku jadi lebih senang pakai hijab, Mom!" tepuk tangan Runa menyemangati dirinya sendiri.
"Ayo, kita berangkat. Takut ditunggu Opa Radit?" ajak Vindra kepada istri dan anak-anaknya.
Mereka menganggukan kepalanya menuju ke pintu utama, Vindra sengaja meminta Arya untuk membawa mobil yang besar. Supaya muat semua keluarganya, hari ini yang absen Luna karena ada operasi ibu melahirkan yang membutuhkan tenaganya sebagai dokter anak.
Lima belas menit kemudian, mobil berjalan ke arah halaman rumah milik ayah Radit. Ternyata di teras sudah ada ayah Radit, bunda Amel dan Nathan atau William.
"Assalamualaikum ," sapa keluarganya Vindra.
"Walaikumsalam," jawab mereka bertiga dengan serempak.
Tanpa menunggu aba‑aba, mereka maju selangkah, lalu bergantian menyalami ayah Radit, Bunda Amel, dan Nathan, satu per satu dengan sopan dan ramah.
"Duh ini siapa? Dua gadis yang cantik ini?" tanya Bunda Amel yang baru pertama kali bertemu dengan Rena dan Runa.
"Ayo, Sayang! Perkenalkan diri kalian!" perintah Freya yang sekarang sudah duduk di sofa ruang keluarga.
"Nama aku Runa, Oma. Dan ini kakaknya Runa namanya Rena!" seru Runa dengan cepat tanpa merasa malu lagi.
"Pintarnya, Sayang," ucap Bunda Amel suka dengan kepribadian Runa yang sangat berani.
"Mereka anak yatim yang sangat kurang beruntung, Bun. Di umurnya yang seharusnya masih manja-manja di rumahnya sendiri, justru diusir oleh dua pamannya sendiri setelah orang tuanya meninggal. Mereka baru berumur lima tahun dan tiga tahun dan mereka hidup dijalanan dengan ketidak pastiannya selama satu tahun. Maaf baru sekarang bisa kesini, Yah, Bun. Rena sempat dibawah pengawasan psikiater, Bun. Karena dia sangat trauma sebelum dia pergi, mereka mengalami penganiayaan. Runa yang mengalami penganiayaan dan itu diperlihatkan di depan matanya Rena. Ia justru yang mengalami trauma, setiap memejamkan mata ia akan ketakutan, selalu mimpi penganiayaan itu terus Bun, Yah."
Freya menceritakan kejadian itu, walaupun sekarang Rena sedang dibicarakan oleh Mommynya.Ia sudah nggak takut karena Freya selalu menanamkan kalau keluarganya itu selalu melindungi dan nggak ada yang akan jahat kepada mereka. Makanya Rena sekarang nggak takut kalau diajak ke rumah keluarganya Freya maupun Vindra.
"KURANG AJAR!! Apa mereka nggak punya empati sama sekali ya? Anak umur dua tahun dan empat tahun diusir. Itu orang punya otak nggak sih?!" geram Bunda Amel mendengar cerita Rena dan Runa.
"Kalian jangan takut lagi, Sayang. Ada, Bang Nathan, beliau ini seorang Tentara," ucap Bunda Amel tersenyum kepada dua bocil itu. Mereka diajak makan dulu baru dilanjutkan mengobrolnya.
Rena sangat lahap makannya dengan udang krispi yang dulu menjadi menu favoritnya Nathan. Dalam hatinya berkata; "Seperti aku, ternyata udang krispi juga menjadi lauk favoritnya Rena," ucap hati Nathan sambil tersenyum senang.
Setelah makan malam, mereka pindah lagi ke ruang keluarga.
"Kamu ke sini dalam rangka apa ini, Sayang?" tanya Freya kepada keponakannya.
Nathan tersenyum bahagia dari dulu Tantenya itu nggak pernah berubah, masih lembut kalau bicara tapi kalau sudah marah menakutkan sekali.
"Aku dipindah tugaskan, Tante. Tapi ya mau bagaimana lagi, tugas nggak bisa dipilih. Aku dipindah tugaskan di Kodam Jaya... " jawab Nathan sengaja menggantung ceritanya, ia ingin lihat reaksi keluarga Tantenya.
"HAH?! Benarkah itu, Bang!" seru Arya terkejut, matanya terbelalak nggak percaya. Reaksi serupa juga pada orang-orang di sekitarnya. Semua orang seketika terdiam menunggu jawaban dari Nathan.
Di sisi lain Nathan menghela napas panjang, seakan ia pun nggak percaya karena tempat kerjanya sekarang lagi mengalami masalah dengan serius, bukan dengan orang dalam lingkungan kerjanya tapi justru dari masyarakat sekitarnya.
"Ya, Dek! Kemarin pas aku baru saja datang, Opa juga kaget dan langsung bercerita. Opa berkata bahwa atasan dari Kodam Jaya sedang terkena kasus yang serius dan dampaknya masyarakat di sekitarnya, mereka sangat kecewa sekarang sudah nggak percaya lagi dengan orang-orang berseragam." ucapnya pelan tapi tegas sesuai dengan karakter pekerjaannya.
Nathan terdiam. Di dalam hatinya ia tahu harus bicara dengan Tantenya, namun ia ragu. Akankah Tantenya bersedia membantu? Ia juga merasa sedikit malu harus melibatkan urusan keluarga dalam masalah ini. Tapi mau bagaimana lagi? Persoalan ini terlalu penting untuk dibiarkan begitu saja; tak ada jalan lain selain meminta uluran tangan.
"Ada apa, Sayang?" tanya Freya yang sangat peka, ia melihat ada keraguan dimata keponakannya itu. Apa ada masalah lagi selain yang diucapkannya tadi.
"Begini, Tante. Tadi aku sudah datang ke tempat kerjaku, terus bertanya kepada bawahanku di Kodam Jaya? Bagaimana cara mendapatkan kepercayaan kembali dari masyarakat. Salah satu usulan dari mereka adalah program jumat berkah kepada warga sekitar dan di rumah rusun di dekat jembatan atau di bawah jembatan maaf ya aku lupa tempatnya.
Lalu aku bertanya lagi dari mana dana yang akan digunakan untuk jumat berkah? Mereka menjawab mereka siap menyisihkan sedikit gajinya. Mereka rela kehilangan sedikit gajinya demi ingin mendapatkan kepercayaan lagi dari masyarakat.
Aku mau minta tolong sama Tante. Sebenarnya aku malu sekali harus melibatkan keluarga dalam urusan begini, tapi mau bagaimana lagi, jalan lain sepertinya tak ada. Apakah mungkin dana dari perusahaan bisa Tante salurkan ke Kodam Jaya untuk membantu kami menjalankan program Jumat Berkah itu, Tan? Kami tau kalau cuma mengandalkan gaji kita nggak akan bisa banyak membantu?" Nathan bercerita dengan keluarganya, sedikit nggak enak hati, terutama dengan Tantenya.
Freya tersenyum melihat keraguan keponakannya dalam penyampaian setiap katanya, ketika ingin meminta bantuan dari dirinya.
"Maksudmu dana yang setiap bulan Tante sisihkan lima persen dari keuntungan perusahaan itu, kan? Tante bisa alihkan sebagian untuk programmu, Sayang. Tak perlu terlalu dipusingkan, Tante akan bantu kamu. Mau disalurkan sepenuhnya dari perusahaan, atau dibagi bersama sumbangan dari kalian juga, yang paling penting niatnya ikhlas untuk membantu warga yang kekurangan," jawab Freya lembut, berusaha menenangkan keresahan di hati keponakannya.
"Terima kasih banyak, Tante. Maaf merepotkan Tante Freya lagi!" seru Nathan tulus sambil sedikit menundukan kepalanya.
Nathan sebagai prajurit, ia dituntut bersikap tegas, berwibawa, dan tak mudah goyah. Namun begitu berada di rumah, di hadapan keluarga, terutama dengan Tante Freyanya. Nathan berubah persis seperti anak muda lainnya, ia akan bersikap lembut, tutur katanya hangat.
"Kalau aku usul untuk yang dibawah jembatan sebaiknya, Abang juga bekerja sama dengan Rumah Sakit Adhitama untuk memberikan mengobatan gratis, Bang. Seperti yang dilakukan Kak Luna sekarang, ia setiap bulan selalu pergi ke tempat kumuh untuk memberikan pengobatan gratis!" seru Yana kepada Nathan.
Deg jantungnya berdebar kencang dan sedikit gugup saat Yana menyebutkan nama Bintang kecilnya. Tapi Nathan berhasil menguasai rasa gugupnya.
"Terus Dek Lunanya sekarang dimana? Kok nggak ikut kesini sendiri ?"