NovelToon NovelToon
Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nila KingShop Wati

HANCURLAH BERSAMA "SUAMI PARASIT DAN ADIK BENALU"
Selama dua tahun pernikahan, Violet hidup sebagai istri yang selalu mengalah. Ia tidak pernah menyangka suami yang dicintainya ternyata diam-diam berselingkuh dengan Eliana, adik tirinya sendiri.
Lebih kejam lagi, mereka hanya memanfaatkannya demi merebut perusahaan keluarga yang menjadi haknya. Saat kebenaran terungkap, Violet kehilangan segalanya—ayahnya koma karena sebuah kecelakaan yang ternyata direncanakan, hartanya dirampas, dan nyawanya dihabisi oleh orang-orang yang paling dipercayainya.
Dalam detik terakhir sebelum kematian, Violet mengutuk mereka dan memohon kesempatan untuk mengulang hidupnya.
Ketika membuka mata, ia kembali ke dua tahun lalu.
Ke hari saat Arga datang melamar.
Kali ini Violet tidak akan memilih pria yang menghancurkan hidupnya.
Sebagai gantinya, ia memilih Sherkan—paman Arga yang terkenal dingin, kejam, dan menjadi penguasa dunia bisnis.
Keputusan itu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nila KingShop Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kontrak yang menguntungkan

BAB 17 — KONTRAK YANG MENGUNTUNGKAN

Keesokan paginya, aku kembali berdiri di depan gedung Satria Internasional. Kali ini kedatanganku bukan untuk sekadar mengajukan penawaran kerja sama, melainkan untuk menyelesaikan kesepakatan yang sudah kami bicarakan sebelumnya. Di tanganku tergenggam sebuah map berwarna hitam tebal yang berisi seluruh dokumen yang telah kususun dan periksa dengan teliti semalaman, yaitu surat perjanjian pernikahan kontrak. Jika pengalaman hidup yang telah kulalui sebelumnya mengajarkanku satu hal yang paling berharga, maka itu adalah untuk tidak pernah menyerahkan nasib dan hidup sendiri tanpa perlindungan yang jelas. Kali ini aku berjanji pada diriku tidak akan mengulang kesalahan yang sama seperti di masa lalu.

Berbeda dengan kunjunganku sebelumnya, kali ini aku langsung dipersilakan masuk tanpa harus menunggu lama di ruang tunggu. Seolah ada perintah khusus bahwa kedatanganku memang sudah ditunggu. Aku diantar menuju lantai paling atas gedung, tempat di mana ruang kerja utama Sherkan berada. Begitu pintu terbuka, aku melihat pria itu sudah duduk di belakang meja kerjanya, sedang asyik membaca tumpukan dokumen di hadapannya. Ia bahkan tidak langsung mengangkat kepala saat aku melangkah masuk ke dalam ruangan.

“Duduk,” perintahnya singkat dengan nada datar, seolah ini adalah hal yang sudah biasa baginya.

Aku menuruti perintah itu dan duduk tepat di hadapannya, lalu tanpa basa-basi lagi aku mendorong map hitam yang kubawa ke tengah meja agar dapat dijangkaunya. “Saya membawa draf kontrak perjanjian yang telah kita sepakati,” ucapku dengan nada tenang namun tegas.

Baru setelah itu Sherkan mengangkat pandangannya, menatap tajam ke arah map di atas meja, lalu mengalihkan tatapannya kembali tepat ke mataku. “Kau benar-benar serius melakukannya,” ucapnya, lebih seperti pernyataan daripada pertanyaan.

“Bukankah Anda juga sama seriusnya dengan tawaran ini?” balasku santai namun tetap menjaga sikap.

Sherkan tidak menjawab langsung, namun aku melihat sedikit perubahan pada raut wajahnya, seolah ada senyum samar yang berusaha ia sembunyikan di sudut bibirnya. Selama beberapa menit berikutnya, suasana ruangan hanya diisi keheningan saat ia mulai membaca isi dokumen itu satu per satu. Ia membaca setiap halaman, memeriksa setiap klausul, serta memahami setiap syarat dan ketentuan yang tertulis dengan sangat teliti. Aku membiarkannya melakukannya tanpa mengganggu, karena aku tahu betul pria seperti Sherkan tidak akan pernah menandatangani sesuatu tanpa memahami sepenuhnya apa yang akan ia sepakati.

Setelah membaca sampai halaman terakhir, ia meletakkan pena dan menatapku kembali. “Lima tahun masa perjanjian,” ucapnya menyebutkan salah satu poin utama.

Aku hanya mengangguk singkat. “Benar.”

“Selama itu kau tidak berhak menuntut hak apa pun sebagai istri secara penuh.”

“Sesuai kesepakatan.”

“Dan kau juga tidak boleh ikut campur dalam urusan pribadi maupun bisnis yang menjadi wewenangku.”

“Tepat seperti yang tertulis di sana.”

Sherkan mengetukkan ujung jarinya secara perlahan di atas meja, lalu melanjutkan pertanyaan yang sudah kuduga akan keluar dari mulutnya. “Kalau begitu, apa keuntungan yang akan aku dapatkan dari semua ini?”

Aku sudah menyiapkan jawaban itu jauh sebelumnya. “Anda mendapatkan sosok istri yang tidak akan merepotkan, tidak banyak menuntut, dan tahu batasannya,” jawabku mantap.

Ia mengangkat sedikit alisnya, menandakan ia masih ingin mendengar lebih banyak.

“Selain itu,” lanjutku tenang, “Anda juga mendapatkan akses penuh dan jalur kerja sama yang resmi dengan Grup Wibisono, salah satu kelompok usaha terbesar di negeri ini.”

Sekali lagi aku melihat tatapannya sedikit berubah. Bukan karena ia tertarik pada nama besar keluargaku semata, melainkan karena aku menunjukkan bahwa aku mengerti benar cara berpikir dan bekerja seorang Sherkan. Baginya, segala sesuatu harus memiliki nilai timbal balik dan keuntungan yang jelas. Aku datang tidak hanya membawa permintaan, tapi juga menawarkan hal yang ia butuhkan.

“Kau cukup pintar menyusun kesepakatan ini,” ucapnya akhirnya.

Aku tersenyum tipis. “Apakah itu sebuah pujian dari Anda?”

“Itu hanya pengamatan biasa,” jawabnya datar.

Balasannya itu hampir membuatku tertawa dalam hati. Ya, ini memang gaya bicara dan sikap Sherkan yang kukenal: dingin, tegas, dan tidak suka membuang-buang kata-kata yang tidak perlu. Namun semakin lama aku berinteraksi dengannya, justru aku semakin menyadari satu hal penting: di balik sikapnya yang terasa kaku itu, ia jauh lebih jujur dan apa adanya dibandingkan orang yang pernah kucintai sebelumnya. Setidaknya Sherkan tidak pernah berpura-pura menjadi seseorang yang bukan dirinya.

Sherkan kembali membuka lembaran dokumen itu, lalu mengambil pena yang tergeletak di dekat tangannya. Tanpa ragu sedikit pun, tanpa meminta perubahan satu pasal pun, dan tanpa melakukan negosiasi tambahan apa pun, ia langsung menorehkan tanda tangannya dengan tegas di tempat yang disediakan. Aku memandanginya dalam beberapa detik, masih merasa sedikit sulit mempercayai apa yang sedang terjadi. Salah satu pria paling berpengaruh dan disegani di negeri ini baru saja menyetujui pernikahan kontrak denganku.

Setelah selesai, ia mendorong berkas itu kembali ke arahku. “Sekarang giliranmu.”

Aku mengambil pena tersebut, lalu dengan tangan yang tetap tenang meski hatiku mulai berdebar, aku menuliskan namaku: Violet Wibisono. Begitu tinta tulisan itu mengering sempurna, maka kesepakatan di antara kami pun resmi berlaku.

Suasana hening kembali menyelimuti ruangan itu sesaat. Anehnya, setelah semuanya selesai, aku justru tidak merasa lega seperti yang kubayangkan sebelumnya. Sebaliknya, rasa gugup perlahan muncul menggantikan, karena aku baru benar-benar sadar bahwa ini semua nyata dan bukan sekadar rencana di atas kertas. Aku baru saja mengubah seluruh arah jalan hidupku, dan mulai saat ini tidak ada lagi jalan untuk berbalik kembali.

Sherkan memperhatikan perubahan ekspresi di wajahku, lalu bertanya dengan nada yang tetap datar. “Apakah kau mulai menyesal sekarang?”

Aku menggeleng tegas tanpa ragu. “Tidak, saya tidak menyesal.” Jawabanku itu jujur sepenuhnya. Aku hanya sedang berusaha memahami betapa besar langkah yang baru saja kuambil dan segala konsekuensinya ke depannya.

Sherkan berdiri dari kursinya, lalu melangkah menuju jendela kaca besar yang menghadap ke arah pusat kota. “Kapan kau ingin pelaksanaan pernikahan ini diadakan?” tanyanya sambil memandang ke luar.

Aku bahkan tidak perlu berpikir lama untuk menjawabnya. “Secepat mungkin.”

Pria itu menoleh sedikit ke arahku, menunggu penjelasan lebih lanjut.

Aku menatapnya dengan pandangan yang mantap dan tanpa keraguan. “Jika memungkinkan… saya ingin semuanya berlangsung hari ini juga.”

Untuk pertama kalinya sejak aku mulai berhadapan dengannya, aku melihat perubahan yang jelas terlihat di wajah Sherkan. Ia terdiam beberapa detik seolah terkejut mendengar jawabanku, sebelum akhirnya sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum tipis. Bukan senyum yang lebar, hanya sedikit saja, namun cukup jelas terlihat bahwa ia merasa terhibur mendengar permintaanku itu.

“Mereka memang benar kata-katanya,” ucapnya pelan.

Aku mengernyitkan dahi sedikit. “Mereka? Siapa yang Anda maksud?”

“Banyak orang yang pernah berurusan dengan keluargamu mengatakan bahwa Violet Wibisono memiliki karakter yang berbeda dari kebanyakan wanita lain,” jelasnya santai. “Biasanya wanita menginginkan pesta yang megah dan waktu yang panjang untuk mempersiapkan segalanya.”

“Saya bukan wanita biasa seperti yang Anda maksudkan,” jawabku tenang.

“Biasanya mereka juga butuh waktu lama untuk berpikir dan mempertimbangkan risiko yang dihadapi.”

“Saya sudah memikirkannya jauh sebelum datang ke sini hari ini.”

“Dan kebanyakan dari mereka akan merasa takut dan ragu jika harus menikah dengan orang sepertiku.”

Aku hanya tersenyum tipis mendengar ucapannya. “Saya pernah menghadapi situasi dan orang yang jauh lebih mengerikan daripada Anda, Tuan Sherkan.”

Andai saja ia tahu apa saja yang telah kualami dan lalui selama ini, tentu ia akan mengerti mengapa aku tidak lagi mudah merasa takut atau tertekan.

Beberapa saat kemudian, Sherkan mengambil ponselnya dan segera menghubungi seseorang. “Siapkan tim hukum yang bertugas menangani dokumen resmi,” perintahnya tegas, lalu melanjutkan, “dan urus segala persyaratan untuk pencatatan pernikahan, selesaikan semuanya malam ini juga.”

Suara dari seberang sana terdengar terkejut mendengar perintah itu, bahkan sekretaris yang baru saja masuk membawa berkas pun nyaris tersedak mendengar kalimat itu. “Malam ini juga, Tuan?” tanya sekretaris itu memastikan.

“Ya, malam ini,” jawab Sherkan tanpa mengubah nada bicaranya sedikit pun, seolah ia sedang menjadwalkan rapat kerja biasa dan bukan acara pernikahannya sendiri.

Setelah mematikan sambungan telepon, ia meletakkan alat komunikasi itu kembali ke meja, lalu menatapku dengan tatapan tajam yang biasa ia gunakan kepada bawahannya. Tatapan yang membuat banyak orang merasa gugup dan tidak tenang, namun kini aku sudah mulai terbiasa menghadapinya.

“Bersiaplah mulai sekarang,” ucapnya singkat.

Aku mengangkat wajah menatapnya. “Maksud Anda?”

“Nanti malam seseorang akan datang menjemputmu ke tempat tinggalmu untuk membawanya ke tempat acara,” jelasnya dengan nada yang tetap tenang.

Jantungku mulai berdegup lebih cepat dari sebelumnya, namun bukan karena takut melainkan karena kesadaran bahwa semuanya benar-benar akan segera terjadi. Sherkan melanjutkan ucapannya, “Segala sesuatunya akan berjalan sesuai rencana yang telah kita sepakati.”

Aku menatapnya dalam beberapa detik, masih merasa sedikit tidak percaya bagaimana segalanya berjalan begitu cepat dan tanpa hambatan. Namun justru itulah yang paling aku inginkan: semakin cepat aku resmi menjadi Nyonya Sherkan, maka semakin cepat pula rencana licik Arga dan Eliana akan terhalang dan hancur.

Sherkan kembali mengambil berkas kontrak itu untuk disimpan, lalu menatapku sekali lagi dengan nada tegas. “Mulai saat ini, jangan sampai kau melakukan hal-hal yang dapat mempermalukan nama keluargaku maupun namaku sendiri.”

Aku hampir saja tertawa mendengar kalimat itu. “Saya akan berusaha semampu saya untuk memenuhi syarat itu,” jawabku santai.

Ia mengangguk singkat sebagai tanda mengerti, lalu menambahkan satu kalimat lagi yang membuatku sedikit tertegun. “Dan satu hal lagi yang harus kau ingat baik-baik.”

“Apa itu?” tanyaku dengan hati-hati.

Tatapan matanya yang gelap bertemu tepat dengan pandanganku, kali ini terasa lebih tajam dan lebih serius dari sebelumnya. “Aku tidak suka ada orang lain yang menyentuh atau mengganggu apa yang sudah menjadi milikku.”

Aku sempat membeku sesaat mendengar kalimat itu, sedangkan Sherkan segera kembali memusatkan perhatiannya pada dokumen lain di atas meja seolah tidak menyadari betapa berat dan mengancamnya makna perkataannya tadi. Namun untuk pertama kalinya, aku benar-benar memahami mengapa begitu banyak orang merasa takut dan menghormati pria ini secara bersamaan. Bahkan tanpa mengeluarkan ancaman secara terang-terangan dan tanpa meninggikan suara sedikit pun, ia mampu membuat siapa saja merasakan tekanan yang luar biasa.

Malam nanti, aku akan resmi menjadi istrinya sesuai kontrak yang telah kami tanda tangani. Sementara Arga dan Eliana yang baru saja merencanakan persekongkolan mereka, masih belum mengetahui bahwa langkah yang baru saja kuambil akan segera membuat seluruh rencana mereka runtuh seketika.

1
Miss Typo
aku suka aku suka
aku padamu Sherkan ♥️🫰

apa Sherkan juga mengulang waktu mengulang masa lalu, jadi dia tau semuanya yg disembunyikan Violet? 🤔
Maria Kibtiyah
kayakmya sherkan tau apa yg di alamin violet di masa lalu
Miss Typo
ku pikir Sherkan mau duduk di meja rias trs menarik pinggang Violet untuk memakaikan dasinya itu 🤣
ternyata aku salah dgn pikirin ku sendiri 😁
Ayudya
sherkan suami yg terbalk
Ayudya
lanjut kak
Amidah Anhar
Maaak aku belum move-on dengan nama sherkan nya Elf 🤭🤭🤭🤭
Evve Miss Plot twist: yang ini bakal bikin jauh lebih ga bisa bikin move on makkk😍🤭
total 1 replies
Maria Kibtiyah
sherkan gak ketebak kira2 apa rencana dia
Maria Kibtiyah
semangat mak semakin menarik😍
Maria Kibtiyah: 😍😍😍😍😍
total 2 replies
Silvia
lagi Thor semangat💪💪
Evve Miss Plot twist: ok mak😍
total 1 replies
Nana Colen
semangat thooooor.... lanjut up lagi dan kalau bisa tolong dong lanjutin cerita nya dalam cengkraman badai
Evve Miss Plot twist: siap makkk sudah update lagi 1 bab, tunggu review yah
total 2 replies
Nana Colen
aaah orang kaya mah pasti udah diselidiki duluan ath neng violet... dari makanan favorit hobinya apa dan sebagainya 😁😁😁😁
Nana Colen
thor aku mau tanya... apakah ayahnya violet saat ini sudah berada drumah sakit atau gimana aku kurang nggeuh
Nana Colen
aku ucapkan Terima kasih thor mau berkarya lagi di NT.... aku kangen banget dengan cara dan gaya mu dalam membuat novel selalu banyak kejutan dan takateki 😍😍😍😍😍
Miss Typo
kalian berdua ngegemesin deh 😍

semangat Mak Eva 💪🥰
wiliss
alhamdulilllah saahh? saaahhhhh🥰🙏
Nana Colen
balaslah dengan elegan violet... kamu bukan cewek lemah dan bodoh 💪💪💪💪
Nana Colen
jadi ikutan deh deg an ya... ini violet beda cerita lagi sama violet sherkan ya
Evve Miss Plot twist: beda mak, lagi malas nyari nama pemeran 🤭
total 1 replies
Nana Colen
buanglah suami benalu itu violet
Nana Colen
akhirnya netes juga karya baru nya... semangat thor aku pendukung karya karyamu
vj'z tri
ingat malam ini ....malam malam selanjutnya ya gak tahu 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!