NovelToon NovelToon
JEBAKAN SANG MANTAN : Membeli Kehancuranmu Dengan Senyuman

JEBAKAN SANG MANTAN : Membeli Kehancuranmu Dengan Senyuman

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

​"Dulu aku adalah bayangan yang kau injak, kini aku adalah cahaya yang akan membutakan matamu."

​Selama lima tahun, Aruna percaya bahwa cinta dan pengabdian adalah kunci kebahagiaan pernikahan. Namun, ia salah. Di rumah megah keluarga Adrian, Aruna tak lebih dari pelayan tak berbayar yang dihina oleh mertuanya dan dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri. Puncaknya, Adrian menceraikannya dengan fitnah keji, mengusirnya di tengah hujan badai tanpa sepeser pun uang, demi wanita lain yang dianggap lebih "berkelas".

​Aruna hancur, namun ia tidak mati.
Aruna berjanji akan bangkit, Walau tanpa Adrian sekalipun.

Bagaimana Aruna, membalas sakit hatinya pada Adrian dan Mertuanya..!!
baca novel ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Retakan di Dinding Sandiwara ​

​Senja jatuh di langit Jakarta, membawa semburat warna merah keunguan yang tampak muram di atas atap kediaman Adiwangsa. Di dalam rumah mewah itu, atmosfer yang berkembang jauh lebih mencekam daripada kegelapan yang mulai merayap di luar. Deru mesin mobil sedan hitam milik Adrian terdengar memasuki pelataran, memecah keheningan yang sejak siang tadi tertahan di udara.

​Adrian melangkah masuk melewati pintu utama dengan bahu yang merosot layaknya pria yang memikul beban bumi di pundaknya. Rambutnya sedikit acak-acakan, dasinya sudah dilonggarkan sejak berada di dalam mobil, dan pelipisnya terus berdenyut menyakitkan. Kejadian di kantor tadi bersama Valerie—permainan gairah yang awalnya ia kira bisa meredakan stres, justru meninggalkan rasa lelah psikologis yang mendalam setelah ia kembali teringat pada ancaman Komnas HAM dan misteri hilangnya kardus dokumen di gudang belakang.

​Namun, belum sempat Adrian meletakkan tas kerjanya di atas meja konsol ruang tengah, sebuah bayangan tegap sudah berdiri menunggunya di dekat pilar.

​Nyonya Widya Adiwangsa melangkah maju dengan terburu-buru. Wajah tuanya yang dilapisi bedak tebal tampak mengeras, matanya membelalak lebar penuh dengan amarah yang meledak-ledak. Tanpa memedulikan kondisi putranya yang tampak kepayahan, Widya langsung menyerang dengan rentetan kalimat yang tajam.

​"Adrian! Bagus kamu sudah pulang! Jelaskan pada Ibu sekarang juga, apa-apaan maksud dari semua ini?!" pekik Widya, suaranya melengking tinggi, menggema di langit-langit ruang tengah yang luas.

​Adrian tersentak, langkah kakinya terhenti. Ia memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. "Ada apa lagi sih, Bu? Adrian baru saja menginjakkan kaki di rumah, belum sempat minum. Tolong jangan mulai membuat keributan di depan para pelayan."

​"Keributan kamu bilang?! Ini masalah hidup dan mati keluarga kita, Adrian!" Widya mencengkeram lengan jas putranya, menariknya mendekat dengan napas yang memburu egois. "Jawab Ibu dengan jujur! Apa benar kamu berencana menyerahkan seluruh kepemilikan saham dan operasional PT Adiwangsa Logistik kepada Valerie secara mutlak sebagai mahar pernikahan resmi kalian nanti?!"

​Mendengar kata 'mahar' dan 'saham perusahaan' disebut secara gamblang oleh ibunya, Adrian seketika mematung. Wajahnya yang kelelahan langsung berubah pucat pasi. Seluruh urat di lehernya menegang. Rahasia korporasi paling sensitif yang baru saja ia sepakati di atas ranjang bersama Valerie, bagaimana mungkin bisa bocor sampai ke telinga ibunya secepat ini?

​Adrian buru-buru menepis tangan ibunya dengan gerakan panik, matanya melirik liar ke arah lorong dapur tempat para pelayan mungkin sedang mendengarkan. "Ibu bicara apa sih?! Siapa yang bilang begitu? Jangan mengada-ada!" elak Adrian dengan suara ketus yang bergetar. "Dari mana Ibu tahu urusan internal seperti ini?!"

​"Dari siapa lagi kalau bukan dari istri dekilmu itu! Si Aruna!" Widya mendesis penuh dendam, telunjuknya menunjuk lurus ke arah tangga lantai dua, tempat kamar utama berada. "Tadi siang dia memanggil Ibu ke kamar, menyuruh Ibu memijat punggungnya seperti budak karena dia memegang ponsel terkutuk itu! Dan di sela-sela itu, dengan mulut lancangnya, dia bilang kalau setelah cerai nanti, Valerie yang akan menguasai seluruh aset dan perusahaan kita karena kamu sudah menjanjikannya sebagai jaminan mahar! Jawab Ibu, Adrian! Apa itu benar?!"

​Adrian mengepalkan tinjunya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Aruna! Perempuan sialan itu! Bagaimana mungkin dia bisa tahu soal kesepakatan mahar itu?! jerit Adrian di dalam hatinya, dipenuhi paranoia yang kian memuncak. Apakah benar rumah ini sudah dipasang alat sadap oleh jaringan kakeknya atau Komnas HAM seperti yang dibilangnya kemarin?

​Melihat ibunya yang mulai histeris dan menuntut jawaban, Adrian terpaksa menggunakan kemampuan manipulasi verbalnya demi meredam gejolak di dalam rumah. Ia menarik napas panjang, lalu memegang kedua pundak ibunya, mencoba memasang wajah setenang mungkin.

​"Ibu, dengarkan Adrian dulu. Jangan mudah terpancing oleh omongan Aruna!" hasut Adrian dengan nada suara yang ditekan serendah mungkin. "Itu tidak benar! Aruna sengaja bicara begitu hanya untuk memecah belah kita, untuk membuat Ibu panik dan marah. Dia sengaja memprovokasi Ibu!"

​"Tapi wajahmu tidak bisa bohong, Adrian! Kamu menyembunyikan sesuatu dari Ibu!" tuduh Widya, matanya menyipit tidak percaya.

​"Apalagi yang harus kujelaskan, Bu?" Adrian memutar otaknya dengan cepat, mencari alasan yang paling masuk akal untuk menenangkan keserakan ibunya. "Mengenai urusan dengan Valerie... draf itu hanya taktik sesaat, Bu. Aku hanya berniat menghibur Valerie saja agar dia tetap mau membantuku mengurus jaringan investor di luar dan mau segera menikah siri di bawah tangan. Aku ini seorang pengusaha, Bu. Aku tidak akan pernah begitu mudah menyerahkan seluruh harta dan perusahaan yang sudah kubangun dengan darah dan air mata ini kepada siapa pun, termasuk kepada Valerie! Aku hanya memanfaatkannya!"

​Widya menatap mata putranya dengan dalam, mencari celah kebohongan. Setelah beberapa saat, ketegangan di bahu wanita tua itu perlahan mengendur. Keserakan di hatinya merasa terpuaskan oleh penjelasan Adrian yang terkesan licik.

​"Kamu harus pegang kata-katamu itu, Adrian," ancam Widya dengan suara rendah yang sinis. "Perusahaan itu adalah milik keluarga Adiwangsa. Ibu tidak sudi jika setelah menyingkirkan si dekil Aruna, kita malah harus menyerahkan harta kita pada wanita lain. Ingat itu!"

​"Iya, Bu. Adrian paham. Sekarang Ibu kembali ke kamar saja, biar aku yang mengurus sisanya," usir Adrian dengan halus.

​Begitu ibunya berbalik dan melangkah menuju paviliun bawah, senyuman palsu di wajah Adrian lenyap dalam sekejap. Matanya berkilat penuh amarah yang membakar. Ia membalikkan tubuhnya, menatap anak tangga menuju lantai dua dengan pandangan yang sarat akan kebencian mutlak. Aruna sudah melangkah terlalu jauh. Wanita itu tidak hanya menggunakan hukum untuk melindunginya, tetapi kini mulai mengobrak-abrik ketenangan internal keluarganya.

​Dengan langkah kaki yang berat dan menghentak, Adrian berjalan menaiki tangga. Setiap langkahnya dipenuhi oleh dendam yang tertahan, menuju kamar utama untuk menuntut perhitungan dari istrinya.

​Brak!

​Adrian membuka pintu kamar utama dengan sentakan yang cukup keras, namun ia segera menahannya agar pintu tidak terbanting, sadar bahwa tindakan kasar bisa terekam oleh sistem pengawasan fiktif di dalam rumah.

​Di dalam kamar, Aruna sedang duduk dengan tenang di sofa dekat jendela, membaca sebuah buku lama peninggalan ayahnya. Di atas meja di sampingnya, ponsel hitam dari Komnas HAM tergeletak manis. Aruna bahkan tidak mengalihkan pandangannya saat Adrian masuk dengan napas yang memburu penuh emosi.

​Adrian melangkah mendekat, berdiri tepat di depan Aruna dengan tangan yang berkacak pinggang, menatap istrinya dari ketinggian dengan tatapan yang ingin mengintimidasi.

​"Aruna! Apa-apaan maksudmu bicara soal urusan mahar dan perusahaan kepada Ibuku tadi siang?!" tuntut Adrian, suaranya bergetar menahan amarah yang meletup-letup di dada. "Bukankah kita sudah sepakat di meja makan tadi pagi bahwa kita akan bercerai secara baik-baik tanpa ada keributan?! Kenapa kamu malah menusukku dari belakang dan menghasut Ibuku dengan cerita-cerita sampah?!"

​Aruna perlahan menutup bukunya, meletakkannya di atas pangkuan. Ia mengangkat wajahnya, menatap Adrian dengan sepasang mata yang teramat jernih, tenang, namun memancarkan kekosongan melankolis yang membuat Adrian mendadak merasa tidak nyaman.

​Sebuah senyuman tipis, penuh sindiran yang halus namun mematikan, terukir di bibir pucat Aruna.

​"Perselisihan kecil di antara ibu dan anak, kenapa harus pelampiasannya kepadaku, Mas?" tanya Aruna, suaranya begitu tenang, kontras dengan emosi Adrian yang meluap. "Aku tidak menghasut siapa pun. Aku hanya menyampaikan apa yang menjadi konsekuensi dari pilihan hidupmu sendiri."

​"Konsekuensi apa?! Kamu sengaja ingin membuat rumah ini kacau, kan?!" bentak Adrian, menurunkan tubuhnya sedikit agar sejajar dengan wajah Aruna, mencoba menekan mental istrinya.

​Aruna bersandar pada sofa, melipat tangannya di dada dengan gerakan yang sangat anggun. "Mas Adrian... di dalam matamu yang penuh dengan kesombongan itu, perempuan mungkin hanya dianggap seperti anak kecil yang bodoh, bukan? Anak kecil yang sangat senang jika diberi mainan berupa kata-kata manis atau janji-janji palsu. Dan jika anak kecil itu mulai merengek atau menuntut haknya, kamu merasa bisa dengan mudah memukulnya secara fisik, memfitnahnya di depan ibumu, atau mengusirnya seenak jidatmu sendiri dari rumah ini."

​Mendengar kalimat Aruna yang menelanjangi tabiat buruknya selama lima tahun ini, ego Adrian tercoreng hebat. Wajahnya memerah padam. Tangannya mengepal, terangkat sedikit di udara, ada dorongan insting yang sangat kuat di dalam tubuhnya untuk melayangkan tamparan keras ke wajah Aruna guna membungkam mulut lancang itu.

​Namun, tepat sebelum tangannya bergerak, mata Adrian tidak sengaja melirik ke arah ponsel hitam di atas meja nakas yang lampu indikatornya berkedip hijau—tanda bahwa alat itu aktif dan siap mengirimkan sinyal darurat ke pusat komando Pak Bambang jika mendeteksi suara kekerasan.

​Adrian langsung menarik kembali tangannya dengan gemetar. Napasnya memburu frustrasi. Ia terpaksa menahan seluruh amarahnya di dalam dada, membuat jantungnya terasa seperti mau meledak. Ia harus menahan ini. Hanya tinggal menghitung hari sampai sidang perceraian digelar di pengadilan, dan setelah itu, dia bebas dari jerat hukum Komnas HAM ini.

​"Kamu egois, Aruna!" desis Adrian dengan gigi yang merapat, suaranya bergetar menahan luapan emosi. "Kamu menggunakan lembaga negara hanya untuk mengancam suamimu sendiri! Tapi ingat kata-kataku... setelah hakim mengetok palu persidangan nanti, semua perlindungan ini akan hilang! Dan saat itu terjadi, kamu tidak akan punya apa-apa lagi di dunia ini! Kamu akan keluar dari rumah ini sebagai wanita gelandangan yang mandul!"

​Aruna menatap kepanikan dan ketakutan yang bersembunyi di balik kemarahan Adrian dengan pandangan penuh rasa kasihan yang mendalam. Rasa cintanya yang dulu suci kini telah sepenuhnya menjelma menjadi kepuasan dingin melihat kehancuran pria di hadapannya.

​"Sekarang... perlahan namun pasti, kamu sedang melangkah menuju pemakamanmu sendiri yang kamu gali dengan tanganmu sendiri, Mas," ucap Aruna perlahan, setiap katanya diucapkan dengan ritme yang teratur dan penuh penekanan yang mengerikan.

​Adrian tertegun, keningnya berkerut dalam, rasa ngeri yang tidak biasa mendadak merayap di tulang belakangnya mendengarkan nada bicara Aruna yang begitu yakin. "Apa... apa maksudmu dengan pemakaman?! Jangan bicara mengada-ada dengan teka-teki gilamu itu!"

​Aruna menghela napas panjang yang melankolis. Ia berdiri dari sofanya, berjalan mendekati jendela kaca besar, menatap bayangan kegelapan malam yang kini telah sepenuhnya membungkus kota Jakarta. Di luar sana, jaringan finansial Paman Aldo sedang bekerja dalam detik demi detik untuk mengunci seluruh rekening operasional Adiwangsa Logistik.

​Tanpa membalikkan tubuhnya, Aruna berbisik lirih, "Sudahlah, Mas... Sangat sulit menjelaskan keindahan sebuah warna pada orang yang buta sejak lahir. Begitu juga denganku, sangat sulit menjelaskan arti dari sebuah kejujuran dan kesetiaan pada pria yang hatinya sudah dibutakan oleh keserakan dan nafsu seperti kamu."

​"Adrian... Kamu—!"

​Kalimat Adrian terputus, amarahnya tertahan total di tenggorokan. Wajahnya kecut, memancarkan rasa tidak suka yang luar biasa, campur aduk dengan rasa frustrasi karena dia selalu gagal memenangkan perdebatan mental dengan Aruna sejak wanita itu memegang kendali. Adrian membalikkan tubuhnya dengan kasar, lalu melangkah keluar dari kamar utama sambil membanting pintu dengan sisa kekesalannya.

​Di dalam kamar yang kembali sunyi, Aruna menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang gelap. Senyuman dingin dan penuh intrik kini terukir sempurna di wajahnya. Langkah kaki Adrian menuju kehancuran kian cepat, dan Aruna siap menyaksikan setiap detiknya dengan ketenangan mutlak seorang pemenang.

1
Katumbiri Lazuardi
berikan saran dan kritiknya ya teman-teman
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!