Bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang tidak diinginkan, di tuntut untuk selalu mengalah dalam segala hal, menyerahkan apapun yang dimiliki untuk orang lain bahkan orang yang di cintai sekalipun harus ia lepaskan? Selalu salah dan di anggap pembawa sial.
Itulah penderitaan yang di rasakan oleh seorang wanita bernama Ayla, ia tumbuh di keluarga yang serba berkecukupan, punya dua kakak laki-laki dan orang tua yang masih lengkap, namun sayang sekali, meskipun memiliki semua itu Ayla sama sekali tidak memiliki kasih sayang dan kebahagiaan.
Di mata keluarga Ayla adalah pembawa sial, sosok yang selalu salah dalam segala hal, berbanding terbalik dengan Alena yang selalu menerima kasih sayang penuh dan selalu di utamakan oleh semua orang.
Siapa Alena? Dan kenapa Ayla memiliki nasip berbeda dengan nya? Cus baca kisah mereka di sini, bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32# Pelajaran Untuk Mu
"Ayla, aku beri satu kesempatan untuk ikut dengan ku sekarang juga, jika tidak, jangan salahkan aku berbuat kasar," ucap Adnan hendak meraih tangan Ayla.
"Jangan sentuh dia," ucap Gavin kini menarik Ayla dan memindahkan posisi Ayla.
Adnan yang melihat itu seketika semakin geram, dia tidak menyangka Ayla akan sangat di lindungi oleh laki-laki tersebut.
"Kau hanya selingkuhan, beraninya kau melawan ku, aku ini tuan muda keluarga Gunawan," marah Adnan kepada Gavin.
"Siapapun kau aku tidak peduli dan tidak ada hubungan dengan ku, tapi jika kau ingin menyakiti Ayla, langkahi dulu mayat ku," ucap Gavin.
Ayla terkejut mendengar ucapan Gavin barusan, dia tidak menyangka kalau suatu saat tepat di hari ini dia akhirnya merasakan bagaimana rasanya di bela oleh seseorang, rasanya benar-benar memiliki seorang kakak laki-laki yang selalu sigap, ini adalah impian Ayla di masa lalu namun tak pernah dia dapatkan di keluarga kandung nya sendiri malah ia dapatkan di keluarga suaminya.
"Ayla, aku tidak menyangka sekarang kau benar-benar punya kekuatan untuk memelihara simpanan, padahal di rumah kau seolah-olah selalu menurut," umpat Adnan lagi.
"Sekarang aku bukan anggota dari keluarga Gunawan lagi, kenapa aku harus patuh seperti anjing yang harus selalu menjilat tulang?" ucap Ayla tak tahan dan akhirnya memberanikan diri untuk melawan.
Rasa di lindungi membuat keberanian Ayla yang selama ini terpendam muncul begitu saja.
"Sudahlah, aku sebenarnya tidak peduli dengan kehidupan luar mu sekarang akan sperti apa, tapi sebaiknya kau jangan macam-macam dengan keluarga Aditama, jika kau ketahuan selingkuh kau rasakan saja akibatnya," ucap Adnan lagi.
"Memang nya kenapa kalau aku selingkuh? Apakah kau takut dampak nya akan datang kekeluarga mu? Kau sangat takut miskin?" ucap Ayla lagi.
"Beraninya kau bicara seperti itu di hadapan ku!" ucap Adnan hendak berdiri dari kursi roda karena geram akan ucapan Ayla.
Sayang sekali Gavin tidak membiarkan dia mengerahkan tenaganya, Gavin dengan cepat mendorong Adnan hingga dia kembali terduduk di kursinya.
"Sudah seperti itu masih saja berniat memukul orang," ucap Gavin dengan tatapan tajam.
"Kalian berdua benar-benar keterlaluan! Ayla, aku ini masih kakak kandung mu, kau malah bersembunyi dan membela orang luar!" kesal Adnan yang melihat perubahan besar di diri Ayla di pertemuan mereka kali ini.
"Dia bukan orang luar, sekarang dia lah kakaku, dan kau, ah tidak, kalian semua di keluarga Gunawan bukan siapa-siapa, sebaiknya kau kembali ke rumah dan tanyakan kepada kakak tertua mu apakah dia sudah menyerahkan surat pemutusan hubungan itu kepada mama dan papamu?" tanya Ayla sekali lagi dengan tegas.
Adnan seketika terdiam, dia menatap Ayla dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Surat pemutusan hubungan? Apa maksud mu?" tanya Adnan masih tidak terlalu mengerti.
"Maksudnya, dia dan keluarga mu sudah tidak ada hubungan apapun lagi, dalam kata lain sekarang keluarga mu termasuk kau sama sekali tidak punya hak untuk mengatur hidup Ayla lagi," ucap suara yang tiba-tiba masuk ke perbincangan mereka.
Semua mata kini tertuju kepada pemilik suara tersebut, itu adalah Valen.
"T-tuan muda Valen," ucap Adnan.
"Ayla, kemarilah," ucap Valen sambil mengulurkan tangan nya kepada Ayla.
Di belakang nya Leo berdiri tegak mengamati Adnan.
Ayla menerima uluran tangan Valen dan kini berdiri di samping kursi roda sang suami.
"Kebetulan tuan muda Valen ada di sini, aku mewakili keluarga Gunawan untuk meminta maaf atas perbuatan tidak senonoh Ayla, dia masih labil jika kau marah hukum saja dia, jangan libatkan ke keluarga Gunawan," ucap Adnan kepada Valen.
"Apa maksud mu?" tanya Valen sambil memandangi Adnan dengan tatapan mengintimidasi.
"Dia, dia berselingkuh dengan laki-laki lain," ucap Adnan sambil menunjuk Ayla dan Gavin secara bergantian.
"Oh ya? Sejak kapan adiku berani melakukan itu di belakang ku?" ucap Valen sambil menatap Gavin.
"Kak, aku sangat menyesal karena wajah ku tidak mirip dengan mu, tidak juga setampan dirimu, orang mengira aku adalah gigolo," ucap Gavin manja sambil memegang pundak sang kakak.
Deg ...
Jantung Adnan seketika hampir berhenti berdetak setelah mendengar ucapan Gavin dan Valen barusan, dia tidak menyangka kalau sosok laki-laki yang dia tuduh sebagai selingkuhan Ayla ternyata adalah adik nya Valen ya itu Gavin salah satu anggota keluarga Aditama.
"Ayla! Kau sengaja ya?" ucap Adnan yang kini bingung dan juga takut.
"Sengaja? Kau sendiri yang tidak memberi kesempatan untuk menjelaskan, kau juga tidak mengajukan pertanyaan, datang-datang langsung menuduh, lagipula jika aku menjelaskan semuanya, apakah kau akan percaya? Ingat, aku ini Ayla, bukan Alena," ucap Ayla sambil menatap Adnan dengan tatapan nanar.
Adnan kembali bungkam, dia menundukkan kepalanya dengan hati dan pikiran yang semerawut.
"Ayo pergi, Gavin, urusan ini ku serahkan padamu," ucap Valen.
Ayla mengangguk dan kemudian mendorong kursi roda Valen meninggal tempat itu, sementara Leo dan Gavin masih berdiri di hadapan Adnan bersiap memberinya pelajaran.
"T-tuan muda Gavin, aku benar-benar salah paham, aku tidak tau kalau kau adalah adiknya tuan muda Valen, aku mohon maafkan aku, biarkan aku pergi, lihat lah kondisi ku yang sekarang," ucap Adnan ketakutan.
"Aku? Memaafkan? Tidak mungkin," ucap Gavin.
"Leo pegang dia," ucap Gavin menunjuk ke arah sopir yang menemani Adnan.
"Siap tuan muda," kata Leo segera menjalani tugas.
Sementara itu Gavin, apa yang dia lakukan? Tentu saja tidak diam, dia mengambil alih pegangan kursi roda Adnan dan segera mendorong nya sambil berlari.
Adnan berpegangan sekuat tenaga, kaki nya sangat sakit karena terlalu banyak bergerak, tak peduli seberapa keras dia berteriak meminta Gavin melepaskan nya namun Gavin tidak membiarkan hal itu terjadi.
Byur ...
Tubuh Adnan kini terpelanting ke dalam air mancur yang ada di tengah-tengah taman samping mall.
"Mampus, memukuli mu hanya akan mengotori tangan ku, ini adalah balasan yang setimpal, dengarkan baik-baik, sekali lagi kau menghina dan menyakiti Ayla, bukan hanya air mancur ini jadi tempat berenang mu, tapi kau akan ku buat tenggelam di dasar danau." ucap Gavin yang kemudian segera berlalu pergi setelah selesai dengan pelajaran nya untuk Adnan.
Siapa sih yang tidak tau kenakalan Gavin, ya kini Adnan pun merasakan akibat dari perbuatannya sendiri.
"Tuan kau baik-baik saja?" ucap sopir Adnan.
Setelah Leo melepaskan nya dia bergegas menghampiri Adnan.
"Baik-baik saja katamu? Kau tidak lihat!" ucap Adnan sambil memperlihatkan siku nya yang berdarah akibat duri-duri bunga mawar di sekitar kolam air mancur.
Tangan nya sakit dan juga berdarah, namun semua itu tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan rasa malunya karena di sana ia di perhatikan dan di tertawakan begitu banyak orang.
****