Dika Pratama ialah seseorang yang secara tak terduga kembali ke masa SMA ya ditahun 2010. dikarenakan ia mendapatkan sebuah kesempatan untuk menebus penyesalan terbesar nya yaitu ia tidak memanfaatkan bakatnya yaitu bermain sepakbola, lantas di kehidupan ini ia akan bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan bakatnya untuk membawa Indonesia menjadi juara piala dunia.
yuk ikuti terus bagaimana perjuangan Dika untuk menjadi seorang pesepakbola terbaik di dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naga Ruwet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Emas Digital dan Puncak Persiapan
Lokasi: Rumah keluarga Pratama, Buduran, Sidoarjo.
Waktu: Pertengahan Agustus 2011, pukul 19.00 malam. Langit malam di atas Sidoarjo terlihat gelap dan bersih, dihiasi ribuan bintang yang berkelap-kelip. Udara malam terasa sejuk, berhembus tenang membawa aroma khas tanah dan air dari tambak-tambak di sekitar rumah. Di ruang tengah rumah yang sederhana namun sangat tertata rapi—ciri khas bekas kediaman seorang tentara—suasana terasa hangat dan hening, hanya terdengar suara kipas angin dan detak jarum jam dinding.
Di meja panjang yang biasa digunakan untuk makan dan belajar, duduklah Dika. Malam ini ia hanya mengenakan kaos oblong putih lengan pendek dan celana pendek, memperlihatkan lengan dan kakinya yang berotot kering dan kokoh, hasil ribuan jam latihan fisik. Tingginya yang 179 cm membuatnya terlihat mendominasi ruangan, namun sikap duduknya sangat sopan dan tenang, punggung tegap namun santai, mata cokelat tuanya menatap tajam ke layar laptop di hadapannya.
Di sebelah kanannya, Ayah Rudi duduk bersandar di kursi kayu, tangan kanannya memegang secangkir teh manis hangat. Wajah tegas sang ayah tampak penuh perhatian, sesekali ia mengerutkan kening berusaha memahami angka-angka dan grafik yang bergerak naik turun di layar komputer itu. Di sebelah kiri Dika, Rina duduk bersila di lantai, bersandar pada kaki kakaknya, matanya berkedip-kedip penasaran namun cepat bosan melihat deretan angka itu, sesekali ia mengusap pelan betis kakaknya yang keras dan berotot. Sedangkan Ibu sibuk mondar-mandir membawa camilan, sesekali berhenti untuk melihat sebentar lalu tersenyum bahagia melihat kebersamaan anak dan suaminya.
"Dik... coba jelaskan lagi pelan-pelan sama Ayah," pinta Rudi Pratama dengan suara berat dan tenang. Ia menunjuk garis grafik yang melesat ke atas seperti anak panah. "Kemarin kamu bilang aset ini nilainya sekitar 7 miliar rupiah. Nah, sekarang... lihat angka ini... kok berubah jadi 12 miliar lebih? Ini uang apa? Dari mana datangnya? Apa ini aman?"
Dika tersenyum sabar, memutar kursi sedikit menghadap ayahnya. Wajahnya yang tampan dan tegas itu memancarkan ketenangan mutlak, seolah-olah angka miliaran itu hanyalah hitungan kecil sehari-hari. Ia menutup buku catatan bahasa Inggris yang tebal di sampingnya—buku yang setiap malam ia pelajari sampai larut, membuatnya kini sudah sangat fasih berbicara, membaca, dan menulis bahasa Inggris selevel penutur asli.
"Iya, Ayah. Ingat kan saya bilang, Bitcoin ini nilainya bergerak terus setiap detik, sama seperti harga beras atau harga bahan bakar, tapi jauh lebih cepat perubahannya. Dulu saya beli saat harganya cuma ratusan rupiah. Sekarang, semakin banyak orang di dunia yang tahu, semakin banyak perusahaan besar yang pakai, makanya harganya melonjak gila-gilaan begini. Dalam dua bulan terakhir saja, nilainya naik hampir dua kali lipat."
Dika menunjuk angka besar di layar itu, matanya berbinar cerdas.
"Jadi sekarang, Pak... harta saya yang tadinya 7 miliar, sekarang sudah jadi 12,4 Miliar Rupiah. Dan prediksi saya... akhir tahun nanti, atau awal tahun depan, harganya bakal naik lagi sampai sepuluh kali lipat dari sekarang. Bisa jadi seratus miliaran lebih."
Ayah Rudi menghela napas panjang, menggelengkan kepala tak percaya namun matanya memancarkan rasa bangga yang luar biasa. Sebagai mantan perwira, ia terbiasa mengelola anggaran negara dan logistik dalam jumlah besar, tapi melihat anak sulungnya yang baru berusia 17 tahun mampu mengelola kekayaan yang nilainya setara dengan aset perusahaan besar atau pejabat tinggi negara... hal itu benar-benar di luar nalarnya.
"Luar biasa... Luar biasa sekali, Dik," gumam Ayah pelan. "Ayah kira kemarin itu sudah puncaknya. Ternyata kamu masih punya jalan yang jauh lebih panjang. Kamu tahu apa artinya ini? Artinya, apa pun yang kamu inginkan, apa pun yang kamu butuhkan di Inggris nanti... sudah terjamin seratus persen. Kamu tidak perlu bergantung pada siapa pun, kamu tidak perlu terikat kontrak yang merugikan cuma demi uang saku. Kamu pergi ke sana sebagai tuan, bukan sebagai pengemis minta tempat."
Dika mengangguk mantap, rahang tegasnya mengeras seolah menegaskan janji itu.
"Betul, Ayah. Itu tujuan saya. Pemain sepak bola yang paling kuat itu bukan yang paling jago main bolanya saja, tapi yang paling bebas. Bebas memilih jalan, bebas menolak penawaran buruk, bebas menentukan masa depannya. Uang ini bukan tujuan saya, Pak. Uang ini adalah senjata saya, sama seperti senjata yang Ayah bawa saat bertugas dulu. Saya pakai ini untuk membuka pintu-pintu besar yang biasanya tertutup buat orang Indonesia biasa."
Rina yang dari tadi diam, mendongakkan kepalanya menatap wajah kakaknya yang tinggi besar itu dengan mata berbinar kagum.
"Jadi Kak Dika itu... orang paling kaya di Sidoarjo ya sekarang? Tapi Kakak tetap sederhana, tetap pakai baju biasa, tetap makan masakan Ibu. Keren banget deh pokoknya," kata Rina riang, membuat seisi ruangan tertawa kecil. Dika tertawa renyah, lalu mengacak-acak rambut adiknya yang hitam dan lurus itu.
"Kekayaan sejati itu bukan di dompet, Dik. Tapi di sini..." Dika menunjuk kepalanya yang cerdas, lalu menunjuk dadanya yang bidang dan kokoh. "...dan di sini. Otak yang pintar dan hati yang baik jauh lebih mahal harganya daripada semua angka di layar ini."
Malam itu bukan hanya tentang melihat angka kekayaan yang makin melonjak. Malam itu adalah saat di mana Ayah Rudi benar-benar sadar bahwa peran dan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga perlahan tapi pasti telah berpindah tangan ke pundak lebar dan kokoh anak sulungnya. Ia melihat Dika bukan lagi anak kecil yang butuh dituntun, melainkan seorang pemuda dewasa, pemimpin sejati yang siap membawa keluarganya menuju masa depan gemilang.
Obrolan berlanjut ke hal yang lebih mendesak: persiapan keberangkatan.
"Ayah sudah cek semua dokumen persyaratan sekolahmu," kata Ayah Rudi sambil mengambil berkas tebal dari meja sebelah. "Ijazah, nilai rapor, surat kelakuan baik, semuanya aman dan lengkap. Karena kamu anak saya, anak mantan tentara, urusan administrasi dan kerapian berkas tidak boleh ada yang salah sedikit pun. Ayah sudah siapkan semuanya standar militer, rapi, bersih, sah."
"Bagus sekali, Pak. Terima kasih banyak," jawab Dika hormat. "Nah, soal akademi di Inggris... saya sudah pilih tiga tempat utama tujuan saya. Semuanya akademi kelas dunia yang punya sejarah melahirkan pemain-pemain terbaik dunia. Saya sudah kirimkan rekaman video penampilan saya, data fisik lengkap—tinggi 179 cm, berat 72 kg, kelincahan, kecepatan lari, daya tahan, semuanya saya kirim rinci—dan juga hasil tes kemampuan bahasa Inggris saya."
Dika menunjuk layar laptopnya yang menampilkan laman situs akademi sepak bola bergengsi.
"Rencananya, begitu saya lulus SMA bulan Mei tahun depan, saya langsung berangkat. Saya akan tinggal di asrama akademi atau apartemen yang sudah saya sewa jauh-jauh hari. Saya sudah pelajari peta kotanya, cuacanya, budayanya, aturan mainnya. Saya siap, Pak. Fisik saya sudah puncak, otak saya sudah siap, mental saya sudah baja."
Ibu yang duduk di kursi dekat pintu, menyimak obrolan itu dengan mata berkaca-kaca namun tersenyum ikhlas. Ia bangga, tapi sebagai seorang ibu, rasa khawatir tak pernah hilang. Ia memandang tubuh tegap anaknya yang mempesona itu, melihat betapa gagahnya anaknya, betapa matangnya anaknya.
"Le... nanti di sana dingin sekali ya? Di Sidoarjo saja kalau hujan kamu sudah pakai jaket tebal, apalagi di Inggris. Kamu badannya memang besar dan kuat, tapi jangan sampai sakit ya. Jaga makan, jaga tidur, jangan sampai telat bangun, seperti Ayah ajarkan," kata Ibu lembut, suaranya bergetar menahan rindu yang belum sempat pergi.
Dika bangkit berdiri, tubuh tingginya menjulang gagah, bayangannya memenuhi ruangan. Ia berjalan menghampiri Ibunya, lalu berjongkok di samping kursi Ibunya agar posisinya sejajar, menatap wajah ibunya dengan tatapan lembut nan dalam. Tangan kekarnya yang kasar karena sering menendang bola, mengusap tangan Ibunya dengan sangat hati-hati dan penuh kasih sayang.
"Ibu... lihat badan saya ini..." Dika merentangkan lengannya yang bidang dan berotot padat. "Ini bukan badan yang gampang sakit. Ini badan yang ditempa lari di panas terik Sidoarjo, ditempa latihan hujan-hujanan, ditempa disiplin Ayah. Saya akan jaga diri baik-baik. Saya akan makan teratur, tidur cukup, pakai baju hangat. Saya janji, setiap minggu saya pasti telepon atau kirim surat. Setiap kali ada kesempatan libur panjang, saya pasti pulang ke sini. Rumah ini tetap rumah saya, Ibu tetap rumah hati saya."
Ibu mengangguk, mengusap pipi anaknya yang bersih dan tegas itu. "Ibu tahu, Le. Ibu cuma... rasanya belum rela melepasmu. Tapi Ibu tahu, kalau kamu tetap di sini, di Sidoarjo, di Jawa Timur... itu sama saja mengurung seekor elang di kandang kecil. Sayapmu terlalu besar untuk langit yang sempit ini. Terbanglah setinggi mungkin, Nak. Bawa nama kami, bawa nama kotamu."