Karang Wilis bukan sekadar desa terpencil. Di balik hamparan sawahnya yang hijau, ada ketegangan yang sudah mengakar bertahun-tahun — perebutan wilayah yang belum selesai, warga yang hidup dalam waspada, dan batas bambu yang tidak boleh didekati.
Dokter Nayla datang untuk menyembuhkan.
Letnan Raditya datang untuk melindungi.
Tapi di tempat seperti ini — siapa yang menyembuhkan si penyembuh? Dan siapa yang melindungi si pelindung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irsan Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pencarian dan letkol aldi
*Bab 28*
Sore berlalu.
Matahari di Karang Wilis mulai terbenam.
Langit berubah jingga di barat, lalu ungu, lalu gelap.
Tetapi Raditya belum kembali.
Nayla berdiri di depan tenda medis. Lampu portabel sudah dinyalakan di dalam. Dari celah kain, cahayanya menumpah ke tanah.
"Dok," panggil Sari pelan dari ambang pintu.
Nayla tidak menoleh. Lalu terlihat Sari berjalan ke arahnya. "Masuk dulu, Dok. Udaranya dingin," ajaknya.
"Sebentar, Sar."
Sari terlihat menghembuskan napasnya. Lalu ia berbalik berjalan masuk ke tenda medis. Beberapa saat kemudian terlihat ia keluar dengan jaket di tangannya lalu menyampirkannya di bahu Nayla. "Udaranya dingin, Dok. Dokter boleh khawatir, tapi jangan lupa dengan kesehatan dokter sendiri," suaranya sambil memasangkan jaket, lalu ia berdiri di samping Nayla.
"Terima kasih, Sar."
"Sama-sama, Dok," jawab Sari sambil tersenyum.
Angin malam datang dari arah bukit. Dingin.
Nayla menarik napas.
"Sebentar lagi," batinnya. "Pasti sebentar lagi."
Pukul delapan malam, Nayla masuk ke pos komando tanpa mengetuk.
Terlihat di sana Aldi sedang duduk di kursi kayu, peta di depannya, radio di tangan. Dimas berdiri di sudut dengan lengan bersedekap dan terlihat wajahnya sudah tidak sesantai tadi siang.
Keduanya menoleh saat pintu terbuka.
"Bagaimana?" tanya Nayla langsung.
Aldi meletakkan radio lalu ia menggeleng.
Nayla melangkah masuk sepenuhnya. Menutup pintu.
"Kalau begitu kirim tim pencarian sekarang pak" pintanya,
"Kita tidak bisa melakukan hal itu untuk sekarang, Dok," balas Aldi. Terlihat ia memijat pelipisnya. "Karena kalau kita kirim tim sekarang ke sana, itu bisa dibaca sebagai provokasi."
"Saya tidak peduli, Letkol!" suara Nayla mulai meninggi.
"Dok—" Aldi berdiri, suaranya tetap tenang tapi ada sesuatu di baliknya yang menunjukkan ia juga tidak setenang yang ia tampilkan. "Raditya tahu medan. Dia tahu cara jaga diri. Jadi dokter tenang dulu."
"Tenang, Bapak bilang tenang? Bagaimana bisa Bapak mengatakan hal semacam itu," suara Nayla mulai tidak terkontrol. "Dia pergi seharian, Pak. Tidak ada kabar dan sampai sekarang dia masih belum pulang. Sembilan jam tanpa sinyal, tanpa kabar, tanpa apapun. Dan Bapak mengatakan tenang?"
Hening sesaat.
"Baik, kalau Bapak tidak mau mengirim tim pencarian, saya sendiri yang akan mencarinya," putusnya. Lalu terlihat Nayla hendak keluar.
"ANDA JANGAN BODOH, DOKTER NAYLA!"
Suara Aldi menggelegar di ruang itu. "Apakah Anda pikir hanya Anda yang khawatir di sini?"
Nayla menunduk. Terlihat matanya merah. Ia sekarang sedang menahan tangis karena perasaannya sekarang campur aduk.
"Dimas," ucapnya akhirnya.
Dimas menegakkan punggung. "Siap."
"Siapkan empat orang. Pakaian sipil. Tidak ada senjata tampak." Aldi berdiri. "Saya akan patroli di batas. Kalau ada sesuatu, kita akan tahu dari sana."
"Saya ikut, Pak," cicit Nayla. Terlihat ia saat ini sedang memainkan kukunya sambil menunduk.
"Anda tetap di pos komando," perintahnya tegas. Lalu setelah mengatakan itu Aldi keluar.
"Maafkan dia, Dok," ucap Dimas merasa bersalah karena sikap Aldi.
"Iya, nggak apa-apa," balas Nayla tersenyum.
Saat ini Nayla sedang berdiri di depan pos komando.
Dimas berdiri di dekatnya menatap punggung Aldi.
Hening.
Lalu Dimas mulai angkat bicara, pelan. "Sebelum ini dia juga pernah hilang, bahkan lebih lama, Dok."
Nayla menoleh.
"Tiga tahun yang lalu. Saat kami ditugaskan di perbatasan timur. Empat belas jam. Tidak ada sinyal, sama persis seperti keadaan Karang Wilis sekarang. Tidak ada kabar saat itu. "Kami semua panik. Beberapa prajurit sudah siapkan kemungkinan yang terburuk."
Nayla diam.
"Tetapi kami salah. Dia kembali jam dua pagi," Dimas akhirnya menoleh menatap Nayla. "Dengan luka di bahu dan laporan intelijen yang mengubah jalannya operasi." Lalu Dimas tersenyum.
Nayla mengernyit. "Kenapa kamu tersenyum?" bingung Nayla.
"Dokter harus tahu, Letnan Raditya itu orangnya menarik. Setelah ia kembali, hal pertama yang ia tanyakan bukan obat atau 'saya butuh dokter'. Bukan siapa-siapa. Melainkan yang ia minta peta dan briefing."
"Kenapa?" tanya Nayla.
"Entahlah," Dimas mengangkat kedua bahunya.
"Kenapa kamu menceritakan semua itu?" tanya Nayla lagi.
Terlihat Dimas menghempaskan napasnya.
"Saya cerita karena Dokter perlu tahu — dia selalu kembali."
Saat ini Nayla sedang duduk di luar pos komando. di Bangku kayu di tepi lapangan — bangku yang sama tempat ia duduk hari pertama tiba di Karang Wilis, waktu semua masih terasa asing.
Sekarang yang asing hanya satu hal: keheningan lapangan tanpa langkah sepatu yang ia sudah hafal bunyinya.
Sari datang membawa teh — dua gelas, tanpa ditanya. Duduk di sebelah Nayla tanpa berkata apa-apa.
Mereka duduk berdampingan. Teh mengepul tipis di tangan masing-masing.
"kamu harus kembali letnan" batinnya
sambil menatap ke arai jalan.
meski ia sudah mendengar cerita Dimas tapi perasaan nya mengatakan hal lain.