NovelToon NovelToon
NEVER TRULY GONE

NEVER TRULY GONE

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Mengubah Takdir
Popularitas:133
Nilai: 5
Nama Author: Selene Mora

Bagaimana jika cinta terbesar adalah cinta yang diam-diam merantai, mengikat hati tanpa suara, dan terus hidup meski tanpa harapan?

​Brant dan Luca hanya tahu satu hal: cinta itu masih ada dan mungkin akan tetap ada selamanya. Mereka hanya pasrah, tidak lagi bertarung untuk bersama.


!!!⚠️!!!

#BL

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selene Mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23

Hari itu rumah terasa sepi. Ibu Lana sudah mulai sibuk dengan kegiatan di pekerjaan barunya, menyisakan Luca dan Lea berdua saja. Seperti biasa, perang saudara pecah di dapur.

​" Luca! Lu nyuci piring apa mau berenang, sih?! Lihat nih, lantainya becek semua!" sembur Lea, berkacak pinggang menatap area wastafel yang banjir air. Luca yang dasarnya mencuci sambil main air hanya menyengir tanpa dosa.

​Kesal karena terus-terusan diomeli adik perempuannya, Luca akhirnya mengalah dan memilih ngacir ke kamar. Awalnya ia berniat melanjutkan maraton drama kesukaannya di laptop. Namun, tangannya justru terulur mengambil ponsel. Ia melirik jam di layar. “Siapa tahu Kak Brant lagi gak sibuk,” pikirnya berharap.

​Begitu panggilan tersambung, teleponnya justru langsung ditolak dari seberang sana. Kening Luca mengkerut dan bibirnya langsung mengerucut sebal. Namun, beberapa detik kemudian, sebuah pesan masuk: ‘Gue lagi ikut rapat, nanti gue telepon lagi.’ Luca tersenyum maklum. Ia meletakkan ponselnya, lalu membuka laptop untuk lanjut menonton drama dengan tenang.

​Di seberang benua, Brant tengah duduk tegap di dalam ruang rapat mendampingi ayahnya, Tuan Lodrik. Dengan kecerdasan di atas rata-rata, Brant menyimak persentase grafik di layar proyektor. Perusahaan kosmetik dan skincare raksasa milik ayahnya itu di katakan sedang mengalami penurunan keuntungan imbas persaingan saham dan ketidakstabilan kurs mata uang asing yang menekan biaya produksi.

​Begitu rapat selesai, Brant kembali ke ruang kerjanya diikuti oleh Leo, sekretaris pribadinya yang membawa bungkusan makan siang. Saat Leo menata makanan itu di atas meja, Brant menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa cuma satu? Lu gak makan?"

​"Ada, Pak. Nanti saya makan di ruangan saya saja," jawab Leo sopan.

​"Ambil makanan lu, kita makan bareng di sini," perintah Brant mutlak seraya menatap menu makanannya. Leo sempat terkejut, namun segera mengangguk patuh dan segera keluar.

​Sembari menunggu Leo kembali, Brant teringat panggilan Luca tadi. Ia mencoba menelepon balik, namun kali ini gantian Luca yang tidak mengangkatnya setelah dicoba beberapa kali.

​Tak lama, Leo kembali dengan kotak makanannya. Mereka pun makan bersama di meja tamu. "Lu suka makan pedas, ya?" tanya Brant melihat tumpukan sambal di kotak makan Leo.

​"Iya, Pak. Kalau gak pedas, lidah Indo saya susah makannya," sahut Leo terkekeh.

​"Gue juga baru tahu kalau koki kantor di sini orang Indo."

​"Itu atas fasilitas dari Tuan Lodrik, Pak. Karena hampir enam puluh persen karyawan di cabang London ini adalah ekspatriat asal Indonesia," jelas Leo.

​Brant mengangguk-angguk paham. "Btw, Leo. Panggil nama aja, kita seumuran. Kedengaran tua banget kalau lu panggil gue ‘Pak’."

​Leo sempat canggung, namun akhirnya mengangguk hormat. "Baik, Brant."

Brant kemudian menyandarkan punggungnya ke sofa, ekspresinya berubah serius. "Leo, tolong cari tahu kenapa terjadi penurunan keuntungan yang cukup drastis selama ini. Ini sudah berlangsung beberapa bulan, tapi anehnya dibiarkan begitu saja tanpa ada tindakan. Seharusnya kurs stabil, tapi ada indikasi anggaran besar yang terus bocor tanpa laporan jelas. Selidiki itu dan kasih infonya ke gue."

​"Baik, akan segera saya selidiki," jawab Leo tegas.

Setelah selesai membereskan peralatan makan mereka, Leo segera pamit keluar. Brant termenung sendiri. Ia heran kenapa ayahnya tidak langsung menindaklanjuti kejanggalan anggaran tersebut, padahal itu masalah besar. Di tengah kebingungannya, Brant mencoba menghubungi Luca sekali lagi. Hasilnya tetap sama, nihil. Brant tersenyum tipis, memastikan kekasih manisnya itu pasti sudah terlelap di kasurnya.

Memasuki minggu tenang, perkuliahan diliburkan seminggu penuh. Luca memanfaatkan waktu ini untuk ikut mamanya ke lokasi pemotretan katalog busana butik Ibu Lana. Ia tidak khawatir karena selalu mencicil belajar setiap malam sebelum tidur. Meskipun kenyataanya, tak semua materi masuk dalam ingatanya. Karena merasa persiapan ujiannya sudah aman, Luca pun bisa dengan tenang membantu sang mama hari itu.

​Luca yang awalnya hanya datang untuk duduk bengong, kini malah ikut hanyut dalam kesibukan. Ia tampak lihai memilah-milih setelan yang cocok untuk salah seorang model cowok seumurannya. Selera fesyen Luca yang modis dan kekinian membuat para kru di lokasi kerap meminta pendapatnya, bahkan tak jarang mereka curi-curi pandang karena paras Luca yang teramat imut dan menyegarkan mata.

​"Nah, ini cocok banget buat kamu. Pas sama warna kulitmu juga," ujar Luca penuh percaya diri, memandangi penampilan model cowok di depannya yang kini mengenakan kemeja linen pilihan Luca.

​Model cowok itu berkaca sebentar lalu tersenyum lebar. "Wah, iya! Pilihan lu bagus juga, selera lu oke banget."

​"Luca, sini sebentar, Sayang," panggil ibu Lana dari sudut area studio. Luca pun segera berjalan mendekat, menghampiri mamanya yang sedang berdiri di samping Pak Aldo, sang pengarah kreatif untuk proyek pemotretan majalah tersebut.

​"Luca, Pak Aldo butuh satu orang lagi untuk sesi pemotretan siang ini," ucap ibu Lana seraya melirik Pak Aldo sesaat. "Dan beliau meminta kamu untuk jadi model pendampingnya. Gimana? Kamu mau?"

​Sebelum Luca yang terkejut sempat menjawab, Pak Aldo langsung memotong lembut untuk memberikan penjelasan. "Halo, Luca," sapa Pak Aldo ramah, mengulurkan tangannya.

​"Iya, halo Pak Aldo," jawab Luca sopan sambil menyambut jabat tangan tersebut.

​"Begini... sebenarnya konsep awal pemotretan siang ini hanya konsep tunggal. Tapi setelah dari tadi saya memperhatikanmu, visual kamu ini sangat ramah kamera (photogenic). Kalau kamu bergabung, kita bisa berbagi variasi pakaian butik mamamu tanpa perlu membuang banyak waktu untuk satu model ganti baju berulang kali. Gimana, kamu bersedia?" terang Pak Aldo memperjelas.

​"Iya, Pak! Aku maulah foto-foto kece!" seru Luca sumringah dengan mata berbinar. “Biar banyak foto keren yang bisa aku upload di sosmed,” batinnya bersorak kegirangan. "Lagian sekalian mau bantu Mama juga biar kerjaannya cepat selesai," sambung Luca manis.

​"Bagus! Anak pintar, anak baik," puji Pak Aldo puas sambil menepuk pelan punggung Luca.

​ibu Lana tersenyum bangga mendengarnya. Beliau pun dengan penuh semangat membantu mencarikan setelan terbaik untuk putra kesayangannya itu. Setelah berganti pakaian, Luca dan model cowok satunya segera digiring ke meja rias untuk dipoles tipis agar penampilan mereka semakin memukau di depan lensa.

​"Kok imut banget sih mukanya... cantik," puji salah seorang perias yang sedang merapikan rambut Luca.

​"Kak, aku ini cowok lho," protes Luca dengan kerutan polos di wajahnya, membuat seisi ruangan gemas.

​"Iya, cowok yang ngegemesin. Rasanya pengin banget saya cubit pipinya," goda sang perias terkekeh. "Nah, sudah selesai. Tinggal pemotretan."

​Luca pun mendadak bertransformasi menjadi foto model dadakan. Karena sudah terbiasa berpose untuk akun sosial medianya sendiri, Luca sama sekali tidak canggung. Ia tampil sangat percaya diri di depan kamera. Jepretan demi jepretan diambil, dan sang fotografer berulang kali melayangkan pujian karena paduan busana dan visual keduanya tampak begitu sempurna. Luca juga dipuji karena sangat cepat menyesuaikan keadaan.

​Sesi pemotretan selesai lebih cepat dari perkiraan, sehingga Luca dan mamanya bisa pulang ke rumah lebih awal. Namun karena energi yang terkuras habis ditambah perjalanan pulang yang terjebak kemacetan panjang yang melelahkan, Luca benar-benar tumbang begitu menginjakkan kaki di kamar.

​Ia langsung membaringkan diri di kasur tanpa sempat berganti pakaian. Jemarinya memegang ponsel yang layarnya masih menyala. Luca berniat menghubungi Brant untuk menceritakan keseruannya hari ini, tetapi rasa kantuk yang teramat berat telanjur menariknya ke alam mimpi. Tanpa Luca sadari, hari itu telah menjadi hari pertama di mana mereka berdua sama sekali tidak bertukar kabar.

Sementara itu di tempat lain, suasana hangat tengah menyelimuti Rose dan Jack. Malam ini, keduanya sedang asyik menikmati pizza sebagai camilan malam di salah satu food court mall yang mulai lengang. Sebelum ke sini, Jack dengan setia menemani Rose pergi ke gerai aksesori untuk membuat custom case silicone berdesain khusus dengan gambar wajah mereka berdua yang diubah menjadi karakter anime.

​"Kak, bagus kan gambarnya? Lucu banget!" ucap Rose riang, memamerkan ponselnya yang kini sudah terpasang silikon baru.

​"Mana, coba lihat." Jack menarik lembut tangan Rose yang memegang ponsel agar mendekat ke arahnya. Ia mengamati desain tersebut sejenak, lalu tersenyum simpul. "Hmm, bagus. Gue kelihatan makin tampan di gambar versi anime ini," jawab Jack penuh percaya diri, disusul gigitan pada potongan pizzanya.

​"Ih, iya dong! Aku juga kelihatan cantik dan lucu banget di sini," sahut Rose tak mau kalah, matanya berbinar senang.

​Jack terkekeh pelan. "Terus gimana persiapan minggu tenang lu buat ujian nanti? Lu belajar, kan?"

​"pastilah, Kak. Masa enggak, sih?" jawab Rose bersungut-sungut manis.

​"Nanya aja, Babe. Soalnya minggu ini hampir tiap hari kita keluar jalan terus," goda Jack. Jemari tangannya terulur lembut, membersihkan noda saus yang tertinggal di dekat sudut bibir Rose dengan sangat telaten.

​Mendapat perlakuan manis itu, Rose sempat terpaku sebelum akhirnya menjawab, "Kan kita keluarnya malam, setelah Kakak pulang kerja. Lagian, gak harus tiap menit belajar juga, Kak. Pikiran aku bisa stres. Nanti hormon kortisolnya naik, terus wajah aku jadi kusut dan kusam. Gak mau, ah! Bagi aku, tampil cantik itu tetap nomor satu," ucap Rose manja sambil mengedipkan sebelah matanya genit.

​"Oh, gitu ya prinsipnya?" Jack menatap lekat wajah Rose, matanya memancarkan binar penuh damba. "Ya sudah, habisin pizzanya, Cantik."

​Bisikan bernada godaan dari Jack sukses membuat pipi Rose seketika merona merah sehangat kepiting rebus. Hubungan pasangan ini memang terbukti semakin hari semakin lengket dan romantis. Berbeda dengan Luca dan Brant yang harus berjuang melawan jarak dan waktu, Rose dan Jack selalu punya sejuta cara untuk saling memberikan perhatian dan menghabiskan waktu bersama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!