"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa."
Dikhianati Fauzan di hari pernikahan demi wanita lain membuat Luna hancur di hadapan semua tamu. Namun, saat dunianya runtuh, sang calon ayah mertua Mahendra justru mengulurkan tangan dan mengambil alih posisi mempelai pria. Mampukah pernikahan beda usia 25 vs 50 tahun ini menyembuhkan luka Luna, atau justru menjadi awal dari konflik baru yang lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Sementara itu di sudut lain Jakarta, jarum jam telah merambat naik.
Di dalam salah satu kamar mewah di rumah utama Dirgantara, Fauzan baru saja terbangun dari tidurnya yang tidak nyenyak.
Sisa-sisa bayangan erangan pasrah Luna dari balik pintu ruang kerja ayahnya semalam masih terus menghantui pikirannya, membuat kepalanya terasa pening dan dadanya didera rasa sesak yang tak kunjung hilang.
Dengan langkah gontai dan rambut yang masih berantakan, Fauzan berjalan turun ke lantai bawah untuk mencari segelas air dingin demi membasahi tenggorokannya yang gersang.
Namun, langkah kaki Fauzan seketika melambat saat ia melewati area selasar.
Pandangannya tertuju ke arah ruang makan mewah.
Di sana, tampak Emma dan Mila sedang duduk berdampingan di meja makan.
Alih-alih menyantap makananya, kedua wanita itu justru terus menatap layar ponsel pintar masing-masing dengan gurat wajah yang dipenuhi ketegangan bercampur rasa tidak sabar yang amat sangat.
Mereka seolah sedang menunggu sebuah berita besar yang akan segera meledak.
Mila sudah memberitahukan kepada Emma tentang rencana B nya.
Fauzan mengernyitkan alisnya, berjalan mendekat dengan tatapan mata yang menyelidik.
"Ada apa? Kenapa kalian sudah berkumpul seperti sedang merencanakan sesuatu?" tanya Fauzan datar, memecah keheningan ruang makan.
Emma mendongak sekilas, mengulas senyum sinis yang sarat akan kelicikan, namun ia memilih bungkam.
Sepasang matanya berbinar penuh kelicikan yang mengerikan, dipenuhi rasa iri dan dengki yang sudah sampai ke ubun-ubun terhadap posisi madu mertuanya.
"Tunggu saja, Fauzan," ucap Mila dengan nada suara yang sengaja ditekan namun sarat akan nada kemenangan yang berapi-api.
Ia mengangkat ponselnya, menggoyang-goyangkannya di udara seolah benda itu adalah sebuah bom waktu yang siap menghancurkan hidup seseorang.
"Setelah video panas dari Bandung ini diputar dan dikirimkan ke hadapan semua orang, aku sangat yakin Papa Mahendra akan langsung menceraikan Luna dan menendang jalang kampung itu keluar dari rumah ini tanpa membawa sepeser pun harta Dirgantara!" lanjut Mila bersemangat.
Mila membayangkan dengan penuh kepuasan bahwa umpan obat perangsang yang ia selundupkan di dalam Rolls-Royce telah bekerja dengan sempurna, dan sebentar lagi ia akan menerima kiriman video kehancuran Luna yang bertingkah murahan di depan para kolega bisnis ayahnya.
Mendengar penuturan istrinya, jantung Fauzan seketika berdegup kencang.
Ada rasa tidak rela dan kecemasan yang mendadak menyeruak di dalam dadanya mendengar nama Luna kembali diusik, sama sekali belum menyadari bahwa "video" yang sedang dinantikan oleh Mila dan Emma justru akan menjadi senjata makan tuan yang akan menghancurkan mereka sendiri.
Di penthouse mewah Bandung, keheningan menyelimuti kamar utama yang temaram.
Mahendra perlahan membuka kedua kelopak matanya.
Luar biasanya, alih-alih merasa lemas pasca-serangan jantung siang tadi, kondisi fisik sang Titan Bisnis justru terasa jauh lebih segar dan bugar.
Detak jantungnya telah kembali stabil, membuktikan secara mutlak keperkasaan dan daya tahan tubuh primanya yang di luar nalar pria paruh baya pada umumnya.
Pria berusia setengah abad itu menoleh ke samping.
Di bawah kungkungan selimut sutra, Luna masih tertidur sangat pulas.
Wajah polosnya tampak begitu cantik dengan sisa rona merah yang samar, benar-benar kelelahan akibat badai "aktivitas fisik" intens yang mereka lakukan beberapa jam lalu sebagai bentuk perayaan atas lolosnya Mahendra dari maut.
Dengan gerakan yang sangat pelan agar tidak mengusik tidur istri kecilnya, Mahendra bangkit dari ranjang.
Ia menyambar jubah tidur satin hitamnya, lalu melangkah lebar menuju balkon luar yang menghadap langsung ke kerlip lampu kota Bandung.
Aura dingin, berwibawa, dan mematikan seketika kembali mendominasi sosok penguasa Dirgantara Holdings tersebut.
Mahendra merogoh saku jubahnya, mengambil ponsel khusus miliknya.
Tanpa membuang waktu, ia segera menghubungi Kepala Pengawal pribadi dan Tim IT kepercayaannya melalui jalur telepon satelit yang terenkripsi ketat agar tidak bisa disadap oleh siapapun.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Mahendra langsung tanpa basa-basi. Suara baritonnya terdengar berat dan dingin membelah angin malam.
"Sudah selesai, Tuan Besar. File draf video hasil editan digital yang Anda perintahkan sore tadi baru saja kami kirimkan ke folder rahasia Anda. Silakan diperiksa," sahut suara ketua tim IT di seberang telepon dengan nada penuh hormat.
Mahendra menggeser layar ponselnya, membuka kiriman file video berdurasi pendek tersebut. Sepasang netra tajamnya meneliti setiap detik tayangan dengan saksama.
Di dalam video hasil manipulasi digital tingkat tinggi itu, tampak potongan rekaman tarian amatir Luna yang mengenakan gaun tidur sutra hitam tipis.
Berkat kejeniusan tim IT kepercayaan Mahendra, sudut pengambilan gambar (angle) telah diubah secara radikal melalui perangkat lunak canggih.
Ditambah lagi dengan efek audio buatan dan pencahayaan yang dibuat dramatis, video itu kini menjelma menjadi bukti yang mengerikan: Luna terlihat sangat meyakinkan seolah-olah sedang tersiksa hebat di bawah pengaruh obat perangsang dosis tinggi dan bertingkah tidak senonoh di dalam sebuah kamar hotel di Bandung.
Sebuah senyuman dingin yang sarat akan kekejaman terbit di sudut bibir tegas Mahendra.
Tatapan matanya berkilat penuh kemenangan yang mematikan. Rencana Mila dan Emma untuk mempermalukan istrinya kini justru telah ia kemas ulang menjadi sebuah bom waktu digital yang jauh lebih merusak.
"Sempurna," gumam Mahendra dengan nada puas yang membuat bulu kuduk bergidik.
"Kirimkan video ini sekarang juga ke nomor Mila dan Emma menggunakan nomor tidak dikenal. Biarkan dua ular itu mengira bahwa rencana busuk mereka di Bandung telah berhasil seratus persen. Dan langsung hapus video tadi dari ponselmu. Aku tidak mau kamu melihat istriku lagi,"
"Baik, Tuan Besar. Segera dilaksanakan. Saya tidak berani melihat Nyonya besar," jawab sang anak buah sebelum sambungan telepon diputus.
Mahendra memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, lalu berbalik menatap tubuh Luna yang masih terlelap damai di atas ranjang.
Di dalam benak tuanya, ia sudah bisa membayangkan bagaimana Emma dan Mila di Jakarta akan bersorak kegirangan malam ini saat menerima video tersebut, tanpa menyadari bahwa esok hari, video yang sama akan menjadi tali gantung yang akan menjerat leher mereka sendiri di hadapan seluruh keluarga besar Dirgantara.
Di kediaman mewah Dirgantara di Jakarta, keheningan malam seketika pecah oleh suara notifikasi pesan masuk yang berbunyi serempak dari ponsel Emma dan Mila.
Kedua wanita yang sejak tadi didera rasa penasaran itu langsung menyambar ponsel mereka dengan gerakan kilat.
Begitu layar menyala, sepasang mata mereka membelalak sempurna.
Sebuah file video dari nomor tidak dikenal terpampang di sana.
Mila dengan tangan gemetar penuh gairah kemenangan langsung menekan tombol play.
Di layar ponsel, video hasil manipulasi tim IT Mahendra berputar dengan sangat meyakinkan. Mereka melihat Luna yang mengenakan gaun tidur sutra hitam tipis tengah meliuk-liuk dengan ekspresi wajah yang tampak tersiksa, seolah benar-benar sedang berada di bawah pengaruh obat perangsang dosis tinggi di dalam sebuah kamar hotel di Bandung.
"Berhasil, Tante! Rencana kita berhasil total!" pekik Mila histeris, wajah cantiknya kini dipenuhi seringai iblis yang sangat puas.
"Jalang kecil itu benar-benar mempermalukan dirinya sendiri! Kurang ajar, berani sekali dia bertingkah murahan di Bandung!" Emma ikut menimpali dengan tawa kemenangan yang melengking tinggi.
Tanpa membuang waktu lagi, dengan hati yang diselimuti rasa dongkol sekaligus ambisi untuk menendang Luna, Emma dan Mila langsung meneruskan (forward) video tersebut ke nomor pribadi Mahendra.
Tidak hanya mengirimkan video, Mila dengan jemari yang bergerak cepat mengetik untaian kalimat provokasi, meminta dengan sangat agar sang Titan Bisnis segera menceraikan istri kecilnya malam ini juga.
“Papa, tolong lihat ini! Di saat Papa sedang sibuk fokus untuk turnamen golf bersama klien penting di Bandung, istri baru Papa malah menggoda dan bertingkah tidak senonoh seperti wanita jalang di kamar! Wanita kampung seperti dia tidak pantas menjadi Nyonya Dirgantara, Papa harus menceraikannya sekarang juga!”
Sementara itu, di balkon penthouse mewah Bandung yang berangin, ponsel di tangan Mahendra bergetar pelan.
Sepasang netra tajam sang Titan Bisnis membaca pesan panjang dari menantu tirinya tersebut.
Bukannya marah, Mahendra justru tertawa kecil. Sebuah tawa bariton yang terdengar sangat renyah, seksi, namun sarat akan penghinaan yang teramat dalam untuk kebodohan Emma dan Mila di Jakarta.
Dua wanita itu benar-benar telah masuk ke dalam lubang buaya yang ia gali sendiri.
"Ular-ular bodoh," gumam Mahendra dingin.
Ia mematikan layar ponselnya, lalu melangkah lebar kembali masuk ke dalam kamar utama yang hangat.
Pandangannya langsung tertuju pada tubuh ranum Luna yang masih meringkuk nyaman di balik selimun tebal.
Rasa gemas dan gairah buas yang belum sepenuhnya padam kembali meletup di dalam dada pria berusia setengah abad itu.
Mahendra merangkak naik ke atas ranjang, menyusupkan tubuh tegapnya di balik selimut lalu memeluk pinggang ramping Luna dari belakang.
Ia mendaratkan kecupan-kecupan basah di tengkuk mulus istrinya, membuat Luna menggeliat kecil karena merasa terusik.
"Sayang... bangun," bisik Mahendra dengan suara bariton yang mendadak berubah serak dan berat di dekat telinga Luna.
"Aku ingin lagi..."
Luna yang jiwanya belum terkumpul sepenuhnya perlahan membuka sepasang mata beningnya yang masih sembap.
Merasakan sentuhan intens dan napas memburu suaminya yang kembali menempel ketat di tubuhnya, Luna mendesah pasrah sekaligus panik.
"Astaga, Mas. Aku masih mengantuk sekali," cicit Luna dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Ia mencoba berbalik, menatap wajah matang suaminya dengan pandangan memohon yang teramat menggemaskan.
"Badanku masih pegal semua, Mas Mahendra..."
Mahendra justru semakin mempererat kungkungannya, mengunci tubuh Luna di bawah dada bidangnya yang hangat tanpa memberikan celah sedikit pun untuk menghindar.
Sebuah seringai nakal yang dipenuhi pesona matang terukir di bibir tegasnya.
"Sebentar saja, ya, Sayang? Anggap saja ini masih karena sisa efek obat yang tadi siang," goda Mahendra.
Luna hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah dengan pipi yang merona merah padam, tidak kuasa melawan kekuatan fisik prima suaminya yang malam ini tampaknya benar-benar ingin menghabiskan seluruh tenaganya di atas ranjang gantung penthouse Bandung.
terimakasih thor dah double up 🙏❤️
bener" y si Kunti mil", beuh gertakkan doang ga kena, liat aja ntar klo Mahendra sehat ....abis kau.
kan sudah buang Azura anda faizan
biar duo Kunti, satu kuyang tdk meremehkan mu lagi