Setelah sang ayah—ketua mafia legendaris—tewas misterius, Livana ikut terlempar ke dunia novel dan menjadi Bellamy, si antagonis manja yang ditakdirkan mati tragis.
Kejutan besar menantinya! Jiwa sang Papa ternyata ikut bertransmigrasi menjadi ayah Bellamy. Namun, sang Papa terikat Sistem Novel yang akan mengurangi umurnya jika ia berani mengubah alur cerita.
Untungnya, jiwa barbar Livana adalah sebuah glitch yang kebal dari hukuman Sistem!
Menggunakan celah ini, duet maut ayah-anak mafia ini kompak bekerja sama mengacak-acak plot, menendang parasit manipulatif, dan memikat Dallas—si penguasa bayangan yang dingin.
Dua jiwa mafia vs satu Sistem Novel. Siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Intelijen Mafia dan Rahasia di Balik Selimut
Di dalam kamar suite hotel yang masih berantakan, aroma sisa pergulatan semalam begitu pekat mengudara. Damian Lorakalyn duduk di tepi ranjang, mengancingkan kemejanya satu per satu dengan gerakan lambat. Matanya menatap lekat ke arah Lucianna yang masih berbaring di balik selimut sutra, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.
"Kau menyesal, Luci?" tanya Damian, suaranya terdengar serak, ada nada kecemasan yang terselip di sana.
Lucianna tidak langsung menjawab. Ia menarik selimutnya lebih tinggi, menyembunyikan tanda kemerahan di lehernya. "Bagaimana kalau Javier tahu, Damian? Dia sahabatmu. Dan dia sudah berjanji akan menikahiku minggu depan."
Damian terkekeh sinis, berbalik lalu merangkak naik kembali ke atas ranjang, menangkup wajah Lucianna dengan kedua tangannya secara posesif. "Javier tidak akan pernah tahu jika kau tidak mengatakannya. Lagipula, bukankah kau sendiri yang billing bahwa permainan semalam jauh lebih memuaskan daripada bersamanya?"
"Damian, ini salah..." bisik Lucianna, meskipun jemarinya justru merayap naik ke dada bidang Damian.
"Aku tidak peduli ini salah atau benar, Luci," Damian menatap lurus ke dalam manik mata Lucianna dengan kilat obsesi yang amat dalam. "Aku mencintaimu. Aku sudah lama menginginkanmu, jauh sebelum Javier menyentuhmu. Jika aku harus menjadi selingkuhanmu yang bergerak di balik bayangan, aku rela. Aku akan selalu ada setiap kali kau membutuhkan kepuasan yang tidak bisa diberikan oleh si bodoh Javier itu."
Lucianna tersenyum tipis, merasa egonya kembali melambung tinggi. Diabaikan oleh Javier semalam sempat membuat harga dirinya hancur, namun melihat bagaimana Damian bertekuk lutut di bawah kakinya murni karena nafsu dan cinta, membuat Lucianna merasa memegang kendali penuh.
"Kau harus berjanji untuk tetap diam, Damian," ucap Lucianna, melingkarkan lengannya di leher pria itu, membiarkan tubuh mereka kembali menyatu dalam kehangatan yang terlarang di pagi hari itu. "Hingga aku resmi menjadi nyonya Enrique, kau adalah rahasiaku yang paling indah."
Mendengar bisikan itu, Damian yang dasarnya hyper dan tergila-gila pada Lucianna tidak mampu lagi menahan diri. Dorongan posesif dan gairah yang kembali tersulut membuatnya langsung merenggut tubuh Lucianna masuk ke dalam pelukannya. Selimut yang menutupi dada gadis itu tersingkap kasar saat Damian menunduk, menyerang bibir Lucianna dengan sebuah ciuman yang jauh lebih panas, liar, dan menuntut dari sebelumnya.
"Mmph..." Lucianna melenguh dalam kepungan bibir Damian yang melumatnya tanpa jeda.
Damian menciumnya dengan begitu intens, memuja setiap jengkal paras Lucianna seolah gadis itu adalah dewi yang paling berharga di hidupnya. Lidahnya bergerak agresif, menyapu rongga mulut Lucianna, menghisap, dan memberikan sensasi terbakar yang langsung membuat seluruh tubuh Lucianna melemas dan meremang hebat. Damian benar-benar hiperaktif dalam menyalurkan obsesinya, tangannya bergerak liar mencengkeram pinggang Lucianna, menekan tubuh gadis itu agar semakin rapat menempel pada dada bidangnya yang setengah terbuka.
Ciuman panas itu turun dengan rakus ke rahang, lalu beralih menjilati dan menghisap ceruk leher Lucianna hingga meninggalkan tanda kepemilikan baru yang lebih pekat. Damian mendesah berat di sela-sela pagutannya, berbisik dengan napas memburu yang mengintimidasi, "Kau milikku, Luci... Di atas ranjang ini, kau hanya memikirkan aku, bukan Javier."
Lucianna mencengkeram rambut Damian, mendongak pasrah saat gairah brutal pria itu kembali menjeratnya masuk ke dalam pusaran pergulatan pagi yang tak terhindarkan.
...****************...
Sementara itu, di kediaman Guinevere, James duduk dengan tenang di balik meja kerjanya. Di hadapannya, layar hologram biru milik Sistem Novel berkedip-kedip dengan teks yang statis.
[ Pemantauan Skenario Utama: Karakter James Guinevere diwajibkan melakukan pengawasan protektif terhadap Calon Anak Angkat (Lucianna Francesca) menjelang Pesta Gala. ]
[ Sanksi Pelanggaran: Pengurangan afeksi karakter utama. ]
James—atau sang bos mafia Sylvester—tersenyum sinis membaca perintah dari sistem bodoh tersebut. Di dalam alur novel asli, James memang digambarkan sebagai sosok ayah angkat yang terlalu protektif dan naif, yang selalu mengirimkan pengawal untuk menjaga Lucianna dari jauh karena mengira gadis itu adalah malaikat suci yang rapuh.
Namun, Sylvester memanfaatkan celah skenario itu dengan sangat cerdas. Sistem menyuruhnya memantau Lucianna? Tentu, ia akan memantaunya. Bukan sebagai ayah yang baik demi melindungi Lucianna, melainkan sebagai ayah kandung yang kejam yang sedang mengumpulkan peluru hitam untuk melindungi Bellamy, putri kesayangannya.
Tok. Tok.
"Masuk," ucap James dengan suara baritonnya yang berwibawa.
Seorang pria bermata elang dengan setelan jas hitam rapi—kepala tim intelijen bayangan bentukan James sendiri—melangkah masuk dengan kepala tertunduk hormat. Ia meletakkan sebuah diska lepas (flashdisk) hitam di atas meja kerja James.
"Laporan mengenai Nona Lucianna, Tuan," ucap agen tersebut dengan suara rendah. "Sesuai perintah Anda untuk melakukan pengawasan dua pukul empat jam penuh di area hotel."
James mengambil benda kecil itu, memutarnya di antara jemarinya. "Apa yang kaudapatkan?"
"Nona Lucianna tidak bermalam sendirian setelah bertengkar dengan Tuan Muda Javier semalam," agen itu menjeda kalimatnya sejenak, memastikan situasi aman. "Dia menyelinap masuk ke kamar suite pribadi Tuan Muda Damian Lorakalyn. Mereka menghabiskan malam bersama di sana, Tuan. Dan aktivitas mereka... sangat brutal hingga subuh tadi."
James menaikkan sebelah alisnya, seringai khas seorang bos mafia Minerva perlahan terukir di wajah tampannya yang matang. "Damian Lorakalyn? Sahabat karib Javier sendiri?"
"Benar, Tuan. Tim kami berhasil meretas kamera pengawas tersembunyi yang terpasang di dalam kamar tersebut melalui jalur sekunder. Seluruh rekaman audio dan visual mereka di atas ranjang sudah dipindahkan ke dalam diska lepas itu tanpa ada yang tersisa."
"Kerja bagus," James menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, matanya berkilat penuh kemenangan yang dingin. "Kau boleh keluar."
Setelah agen tersebut meninggalkan ruangan, James memasukkan diska lepas itu ke dalam laptopnya. Detik berikutnya, layar menampilkan video beresolusi tinggi yang memperlihatkan dengan sangat jelas adegan panas dan erangan menjijikkan antara Lucianna dan Damian.
Layar Sistem Novel di sudut ruangan mendadak berkedip hijau, mendeteksi bahwa misi memantau Lucianna telah terpenuhi dengan sukses besar.
[ Misi Pemantauan Selesai. Afeksi dan Stabilitas Karakter James Guinevere Berada dalam Kondisi Optimal. ]
James tertawa rendah, sebuah tawa mengejek yang menggema di dalam ruangan kerja yang sunyi. "Sistem sialan... kau benar-benar bodoh. Kau memberiku alat pelindung, tapi aku merubahnya menjadi senjata pemusnah massal."
James menatap wajah Lucianna di layar laptopnya dengan pandangan penuh rasa jijik. Di dalam novel asli, jalang kecil inilah yang membuat hidup James hancur, membuatnya menggelandangan, dan membunuh Bellamy dengan cara yang sangat tragis di akhir cerita.
"Kau ingin menggunakan rahimmu untuk mengikat Javier dan merampas harta Guinevere, hm?" James mengetuk meja dengan ritme yang lambat namun mematikan. "Kita lihat saja nanti di pesta gala, Lucianna. Satu langkah saja kau mencoba mengusik ketenangan Bellamy-ku... aku akan memastikan rekaman menjijikkan ini berputar di layar besar aula pesta depan seluruh konglomerat kota ini. Aku akan merobek topeng sucimu hingga kau merangkak di bawah kakiku sebelum takdir kematianku sempat kau sentuh."
keren nih othor...
jadi alasan Sylvester masuk ke dunia novel untuk menyelamatkan ponakannya kali yaa... tapi belum tentu pasti plot twist lagi ah nanti... 🤣
ah di othor nih... bikin penasaran aja.. dibuat nama-namanya huruf depannya D semua lagi🤣
lagi tegang gini malah ngelawak Bellamy sama Dallas mah..🤣🤣