NovelToon NovelToon
Noda ( Pewaris Yang Dibuang )

Noda ( Pewaris Yang Dibuang )

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Anak Haram Sang Istri
Popularitas:11.7k
Nilai: 5
Nama Author: riena

Di rumah megah keluarga Pramoedya, Nadia bukanlah siapa-siapa. Statusnya mengambang. Bukan sekadar pembantu, tapi juga tak sepenuhnya dianggap sebagai anak angkat. Demi bisa bertahan hidup dan membiayai kuliahnya, Nadia rela memeras keringat dari pagi buta hingga larut malam, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Hingga malam jahanam itu tiba...Saat jam dinding menunjukkan tengah malam, Nadia yang baru sempat membersihkan kamar mandi akibat jadwal kuliahnya yang padat, dikejutkan oleh kepulangan Axel, putra tunggal sang majikan. Axel pulang dalam keadaan mabuk berat, kehilangan akal sehat, dan menyimpan amarah terpendam.
Dalam kegelapan malam dan di bawah pengaruh alkohol, Axel melompati batas yang tak seharusnya. Dia memaksa Nadia, menodai kesucian gadis itu dalam sebuah malam penuh tangis yang tak akan pernah bisa dimaafkan. Dan satu malam itu mengubah segalanya. Nadia hamil. Bukannya mendapatkan pertanggungjawaban, dia justru di campakkan dan diusir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 30. Sentuhan ujung sendok.

Sekarang pukul dua dini hari, gerimis di luar juga sudah reda, hanya menyisakan udara malam yang semakin menggigit. Di dalam kamarnya, Nadia terbangun dengan perut yang terasa kosong dan melilit. Bawaan bayi di dalam rahimnya benar-benar tidak bisa kompromi. Jika rasa lapar itu datang tengah malam, rasanya seluruh tubuh Nadia mendadak lemas.

Nadia mencoba memejamkan mata lagi, tetapi perutnya justru berbunyi semakin nyaring. Akhirnya, dengan langkah pelan dan berhati-hati agar tidak menimbulkan suara, Nadia keluar dari dalam kamar. Ia melangkah menuju dapur.

Nadia membuka kulkas, menemukan sebakul kecil nasi sisa kemarin siang. Tangannya bergerak lincah mengupas dua siung bawang merah, satu siung bawang putih, dan sebutir telur ayam. Karena tidak ingin membuat kegaduhan dengan ulekan, ia hanya mencincang halus bumbu-bumbu itu di atas talenan kayu.

Sreeessshhh...

Minyak di atas wajan cekung mulai panas. Begitu cincangan bawang merah dan bawang putih menyentuh permukaan wajan, aroma harum gurih khas tumisan bawang langsung menguar hebat, memenuhi area dapur yang sunyi dan perlahan merembet naik ke sela-sela ventilasi rumah tua.

Aroma harum masakan tengah malam yang begitu pekat itu rupanya tidak butuh waktu lama untuk menembus kamar Ubay di lantai atas.

Ubay yang dasarnya memiliki insting tajam sebagai anak jalanan langsung mengerjap terbangun. Hidungnya mengendus udara kamar. “Bau bawang goreng?” batinnya heran. Ubay melirik jam dinding tua di kamarnya yang menunjukkan pukul dua lewat lima belas menit.

Ubay menyibak selimutnya, berjalan turun tangga tanpa alas kaki. Langkahnya yang seringan kucing itu membawanya sampai ke ambang pintu dapur. Di sana, di bawah temaram lampu kuning 15 watt, ia melihat Nadia sedang sibuk mengaduk nasi di atas wajan dengan daster batik longgarnya. Rambut panjang Nadia yang biasanya diikat rapi kini digelung asal-asalan ke atas dengan jepitan badai, menyisakan beberapa anak rambut yang menjuntai di tengkuk dan pelipisnya.

Ubay bersandar di kusen pintu kayu, melipat tangan di dada. "Ngapain, Nad?" tanya Ubay, suaranya terdengar serak khas orang baru bangun tidur.

Nadia seketika tersentak kaget sampai spatula di tangannya hampir terlepas. Ia menoleh cepat ke arah pintu dan mendapati Ubay berdiri di sana dengan kaos hitam polos dan celana pendek, rambut gondrongnya agak berantakan karena bantal.

"E-Eh... Mas Ubay," ucap Nadia gelagapan, wajahnya langsung merona canggung. "Maaf, Mas... saya laper banget dari tadi gak bisa tidur. Harum masakan saya mengganggu tidur Mas Ubay, ya? Maaf ya, Mas..."

Ubay berjalan mendekat ke arah kompor, membuat jarak di antara mereka mengikis. "Gak mengganggu. Bau bawang lu sampai ke atas, bikin perut gue ikut bunyi," sahut Ubay lempeng, matanya melirik ke dalam wajan. "Lu masak apa?"

"Nasi goreng biasa, Mas. Cuma pakai bawang sama telur aja," jawab Nadia, tangannya kembali mengaduk nasi agar tidak gosong. "Mas Ubay... mau? Boleh kalau Mas Ubay mau sekalian, ini nasinya lumayan banyak kok."

Ubay menatap wajan sejenak, lalu beralih menatap wajah Nadia dari samping. "Ya sudah, buat dua porsi sekalian. Biar gue yang ambil piringnya."

"Eh, nggak usah, Mas. Pakai mangkok anyaman bambu yang dialas kertas minyak aja, biar gak banyak cucian piring malam-malam," usul Nadia polos.

"Ya udah, terserah lu aja." sahut Ubay.

Beberapa menit kemudian, nasi goreng sederhana yang mengepulkan asap tipis itu sudah tersaji di atas meja makan kayu di sudut dapur. Ubay duduk di kursi kayu, sementara Nadia duduk di hadapannya. Di tengah-tengah mereka, hanya ada satu wadah nasi goreng berukuran sedang dan dua buah sendok.

"Ayo makan, Mas," ajak Nadia, langsung menyendok suapan pertamanya dengan lahap karena sudah tidak tahan menahan lapar.

"Ya." Ubay ikut menyendok nasi goreng itu. Begitu suapan pertama masuk ke mulutnya, Ubay mengangguk-angguk kecil. "Enak. Bumbu lu pas, gak kebanyakan garem."

Nadia tersenyum manis, matanya menyipit membentuk bulan sabit. "Alhamdulillah kalau Mas Ubay suka."

Di sela-sela kegiatan makan dini hari itu, keheningan kembali menyelimuti dapur. Namun, keheningan kali ini terasa begitu hangat dan intim. Ubay yang awalnya fokus pada makanannya, perlahan-lahan mulai kehilangan konsentrasi.

Sambil mengunyah pelan, mata elang Ubay mulai mencuri-curi pandang ke arah Nadia yang duduk di depannya.

Malam ini, di bawah siraman lampu dapur yang kekuningan, Nadia kelihatan... berbeda di mata Ubay. Sangat berbeda. Kulit wajah Nadia terlihat begitu bersih, halus, dan merona merah muda alami tanpa polesan bedak sedikit pun. Ada kilau segar yang memancar dari wajahnya, sebuah fenomena magis yang sering disebut orang sebagai ‘pregnancy glow’ atau aura kecantikan wanita hamil yang keluar secara alami.

Leher jenjang Nadia yang terekspos karena rambutnya digelung ke atas tampak begitu putih. Saat Nadia mengunyah, jakun kecilnya bergerak turun-naik dengan anggun. Belum lagi bibir tipis Nadia yang sedikit kemerahan dan berminyak karena efek nasi goreng.

Deg... deg... deg...

Ubay tiba-tiba merasa dadanya sesak bergemuruh. Saraf-saraf di kepalanya mendadak pusing sendiri, bukan karena sakit fisik, melainkan karena getaran asmara yang begitu hebat mendadak menyerang pertahanannya. Jantung berandalannya berdegup kencang secara ugal-ugalan di dalam dada.

“Gila... kenapa dia jadi secantik ini?” batin Ubay menjerit frustasi. Sebagai pria dewasa normal, melihat keindahan istrinya sendiri yang sedekat ini membuat naluri kelakian Ubay bergejolak hebat. Namun lagi-lagi, Ubay harus memegangi rem batinnya kuat-kuat agar tidak melompati batas kesopanan yang sudah mereka sepakati.

Nadia yang sedang asyik makan mendadak merasakan pandangan Ubay yang begitu intens menusuk ke arahnya. Ia mendongak, menyendok nasi lalu menatap Ubay dengan dahi berkerut halus.

"Mas Ubay... kenapa? Kok nggak dimakan lagi? Apa ada yang aneh di muka saya?" tanya Nadia polos, jemari kirinya refleks meraba pipinya sendiri, takut ada butiran nasi yang menempel.

Ubay tersentak, buru-buru membuang muka dan menyendok nasi gorengnya dengan gerakan kikuk. "N-Ndak ada. Muka lu bersih."

"Terus kenapa Mas Ubay ngeliatin saya terus dari tadi?" desak Nadia lirih, ada nada genit yang tidak sengaja lolos karena hatinya pun sebenarnya ikut berdegup kencang melihat ketampanan Ubay yang berambut acak-acakan malam ini.

Ubay berdehem keras, mencoba menguasai kembali suaranya yang mendadak serak. "Gue cuma mikir... lu makin gendut sekarang. Pipi lu makin tembem kayak bakpao pasar."

Mendengar ledekan itu, wajah Nadia seketika mengerucut sebal. Ia mendengus kecil, lalu memukul pelan punggung tangan Ubay yang ada di atas meja menggunakan ujung sendoknya. "Ih, Mas Ubay jahat bener! Ini namanya bawaan bayi, Mas, bukan gendut karena rakus!" cetus Nadia manja.

Deg.

Sentuhan ujung sendok dan nada manja Nadia malam itu rasanya seperti menyiramkan minyak ke dalam bara api di hati Ubay. Bukannya marah karena dipukul, Ubay justru menahan senyumnya setengah mati agar tidak pecah. Dada mereka berdua sama-sama berdesir hebat, dipenuhi oleh rasa manis yang begitu pekat di antara kehangatan sepiring nasi goreng berdua.

Malam semakin larut, namun di dapur rumah tua itu, dua hati yang awalnya asing kini semakin tenggelam dalam penolakan rasa yang sia-sia, sadar bahwa cinta telah mengunci takdir mereka di bawah atap yang sama.

***

1
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
tati st🌼🌼
imdahnya jatuh cinta saat halal,...cuman sayang masih ada jarak,di antara mereka,belum pada terus terang😁
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💪
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Safitri Agus
TRIms kak Riena 🙏😍
Safitri Agus
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
S.R ciplux
🤭 pandangan yg mendebarkan
Susma Wati
menunggu axel dan keluarga nya mendapatkan karma
Anna Annawaliana
benaran ini mah Ubay sama Nadia sudah saling jatuh cinta .

untuk Axel aku tunggu karna untuk keluargamu
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!