NovelToon NovelToon
Overtime With My Enemy

Overtime With My Enemy

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:448
Nilai: 5
Nama Author: Satisuci Ituaku

Aku membenci Damar Wijaya sejak hari pertama bekerja. Bagiku, dia adalah atasan paling menyebalkan yang pernah ada—dingin, arogan, dan selalu mengkritik setiap pekerjaanku.
Sayangnya, sebuah proyek besar memaksa kami lembur bersama setiap malam.
Semakin sering kami bertemu, semakin sulit bagiku mempertahankan kebencian itu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, ada sisi Damar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Namun saat aku mulai membuka hati, sebuah rahasia besar terungkap dan mengubah segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling kubenci justru menjadi orang yang paling kucintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 : Insiden Parkiran

Hari-hari setelah kejadian di ruang arsip berjalan lebih tenang.

Setidaknya di permukaan.

Namun di balik ketenangan itu, gosip mengenai Nara, Damar, dan Clarissa masih terus beredar di berbagai sudut kantor.

Nara berusaha mengabaikannya.

Ia sudah terlalu sibuk untuk memikirkan komentar orang lain.

Target baru menunggu.

Proyek baru menunggu.

Dan tentu saja, Damar tetap menjadi Damar.

Perfeksionis.

Menyebalkan.

Tapi entah kenapa sekarang tidak terlalu menyebalkan seperti dulu.

---

Pagi itu, seluruh tim sedang mengikuti rapat proyek baru.

Damar berdiri di depan layar presentasi.

Menjelaskan strategi kerja selama beberapa minggu ke depan.

"Deadline utama tiga minggu."

ucapnya.

"Tidak ada keterlambatan."

Beberapa anggota tim langsung menghela napas.

Termasuk Siska.

"Tiga minggu?"

bisiknya.

"Aku bahkan belum sembuh dari proyek sebelumnya."

Raka yang duduk di sebelahnya tertawa.

"Kalau begitu cepat sembuh."

"Mas Raka tidak membantu."

"Aku memang tampan, bukan membantu."

Siska langsung memukul lengannya.

Suasana rapat yang tegang sedikit mencair.

Bahkan Damar terlihat menahan senyum.

---

Setelah rapat selesai, Nara mendapat tugas menemui vendor untuk mengecek beberapa kebutuhan acara.

Biasanya pekerjaan seperti itu dilakukan berdua.

Namun karena sebagian besar anggota tim sedang sibuk, Nara harus pergi sendiri.

"Aku bisa."

katanya saat Siska menawarkan bantuan.

"Tentu kamu bisa."

jawab Siska.

"Kamu bahkan bisa mengalahkan sebagian besar pria di kantor."

Nara hanya tertawa.

Ucapan itu memang tidak sepenuhnya salah.

Sejak SMP, ia sudah mengikuti berbagai latihan bela diri.

Awalnya untuk membela diri.

Namun lama-kelamaan menjadi kebiasaan.

---

Pertemuan dengan vendor berjalan lancar.

Saat semuanya selesai, hari sudah menjelang malam.

Langit mulai gelap.

Lampu-lampu kota menyala satu per satu.

Nara keluar dari gedung vendor sambil memeriksa beberapa dokumen di ponselnya.

Parkiran terlihat cukup sepi.

Karena sebagian besar orang sudah pulang.

Dan itulah saat masalah muncul.

---

Dua pria berdiri di dekat motornya.

Awalnya Nara tidak terlalu memperhatikan.

Namun ketika ia mendekat, keduanya justru menghalangi jalan.

"Mbak."

ucap salah satu dari mereka.

Nara menghentikan langkah.

"Iya?"

"Boleh kenalan?"

Nada suaranya membuat Nara langsung tidak nyaman.

"Tidak."

jawabnya singkat.

Ia mencoba berjalan melewati mereka.

Namun pria lain kembali menghalangi.

"Ayo santai."

"Kami cuma ngajak ngobrol."

Nara mulai kehilangan kesabaran.

"Saya tidak tertarik."

Namun mereka tetap tidak bergerak.

---

"Galak juga."

Pria pertama tertawa.

"Justru menarik."

Nara menatap keduanya.

Dari cara bicara dan bau alkohol yang tercium samar, ia tahu mereka bukan orang yang ingin diajak berdebat.

Biasanya ia akan pergi.

Namun kali ini jalan keluar justru ditutup.

"Geser."

ucap Nara.

"Kalau tidak?"

tanya salah satu pria sambil menyeringai.

Kesalahan besar.

Sangat besar.

---

Saat pria itu mencoba menyentuh lengannya—

Gerakan Nara lebih cepat.

Dalam satu tarikan, ia menangkap pergelangan tangan pria tersebut.

Memutar tubuh.

Lalu mengunci sendinya.

"AARGH!"

Teriakan langsung terdengar.

Pria itu membungkuk kesakitan.

Temannya membelalak.

Tidak menyangka wanita di depannya akan bereaksi seperti itu.

"Geser."

ulang Nara dingin.

Namun pria kedua justru maju.

Mungkin karena gengsi.

Atau mungkin karena terlalu bodoh untuk mundur.

Nara menghela napas.

---

Beberapa detik kemudian.

Pria kedua sudah terduduk di aspal sambil memegangi bahunya.

Sementara temannya masih mengaduh kesakitan.

Nara bahkan belum mengeluarkan setengah kemampuannya.

"Cukup?"

tanya Nara.

Keduanya langsung mengangguk cepat.

Tanpa banyak bicara lagi, mereka pergi terburu-buru.

Meninggalkan parkiran dengan wajah pucat.

Nara menggeleng pelan.

Kadang-kadang dunia memang penuh orang aneh.

---

"Impresif."

Suara seseorang terdengar dari belakang.

Nara langsung menoleh.

Dan membeku.

Damar.

Pria itu berdiri beberapa meter darinya.

Masih mengenakan jas kerja.

Ekspresinya sulit dibaca.

Namun jelas sekali.

Ia melihat semuanya.

---

"Sejak kapan kamu di situ?"

tanya Nara.

"Sejak pria pertama mencoba menyentuhmu."

jawab Damar.

Nara langsung memejamkan mata.

Bagus.

Sangat bagus.

Sekarang atasannya melihat seluruh kejadian.

"Tadi aku bisa bantu."

ucap Damar.

"Aku tahu."

"Lalu kenapa tidak meminta bantuan?"

Nara mengangkat bahu.

"Karena aku bisa mengatasinya."

Keheningan muncul.

Lalu sesuatu yang jarang terjadi akhirnya terjadi.

Damar tertawa.

Benar-benar tertawa.

Bukan senyum tipis.

Bukan ekspresi samar.

Melainkan tawa sungguhan.

Dan itu membuat Nara melongo.

---

"Apa?"

tanya Nara.

"Tidak ada."

jawab Damar sambil menggeleng.

"Kamu benar-benar berbeda."

"Berbeda bagaimana?"

"Kebanyakan orang panik."

Nara memasukkan ponselnya ke tas.

"Aku bukan kebanyakan orang."

Damar menatapnya beberapa detik.

Kemudian mengangguk.

"Benar."

Ada sesuatu dalam cara pria itu mengucapkan kata tersebut.

Sesuatu yang membuat jantung Nara berdetak lebih cepat.

---

Perjalanan pulang berlangsung cukup tenang.

Karena Damar bersikeras mengantarnya.

Dan kali ini Nara tidak menolak.

Mereka sempat berhenti di lampu merah.

Saat itulah Damar tiba-tiba bertanya.

"Siapa yang mengajarimu bela diri?"

"Ayah."

jawab Nara pelan.

Damar menoleh.

"Ayahmu?"

Nara mengangguk.

"Sebelum meninggal."

Suasana langsung berubah.

Lebih sunyi.

Lebih dalam.

Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara.

---

"Ayahku polisi."

lanjut Nara.

"Dulu beliau selalu bilang satu hal."

"Apa?"

"Kalau dunia tidak selalu baik."

Nara tersenyum kecil.

"Karena itu aku harus bisa melindungi diriku sendiri."

Damar mendengarkan tanpa memotong.

Dan untuk pertama kalinya, ia mulai memahami mengapa Nara begitu kuat.

Bukan karena keras kepala.

Bukan karena ingin terlihat hebat.

Melainkan karena hidup mengajarinya untuk berdiri sendiri.

---

Malam semakin larut.

Saat mobil berhenti di depan rumah Nara, keduanya terdiam sesaat.

"Aku masuk dulu."

ucap Nara.

Namun sebelum ia membuka pintu—

"Nara."

Ia menoleh.

"Hm?"

Damar menatapnya.

Lama.

Sangat lama.

Sampai akhirnya berkata,

"Aku bangga padamu hari ini."

Jantung Nara berhenti sesaat.

Apa?

Selama ini Damar jarang memuji siapa pun.

Bahkan hampir tidak pernah.

Dan sekarang...

Pria itu mengatakan hal tersebut secara langsung.

Nara tidak tahu harus menjawab apa.

Karena untuk pertama kalinya...

Pujian sederhana dari Damar terasa jauh lebih berbahaya dibanding tatapan, perhatian, atau senyum apa pun.

Sementara di kejauhan, dari dalam mobil yang terparkir di seberang jalan, seseorang melihat semuanya.

Bianca.

Tangannya mengepal kuat.

Karena malam itu akhirnya ia menyadari satu hal yang selama ini berusaha ia sangkal.

Damar tidak lagi memandang Nara sebagai bawahan biasa.

Dan itu berarti...

Bianca harus mulai bertindak lebih jauh jika tidak ingin kehilangan pria yang selama ini ia incar.

Bersambung...

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Satisuci Ituaku: mksih kk sudah mampir🙏🙏🙏
total 1 replies
Tys Azka
kok selalu hujan sih
Satisuci Ituaku: iy kak biar romantis ala2
mksih kk udh mampir 🙏🙏
total 1 replies
anggita
like👍iklan☝, Nara.. Damar.
Satisuci Ituaku: Terima kasih sudah mampir kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!