NovelToon NovelToon
Gadis Pemulung Ibu Dari Anakku

Gadis Pemulung Ibu Dari Anakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: yas23

Rayan Elvaro Wirajaya adalah pewaris tunggal sebuah perusahaan besar di Semarang. Dengan wajah tampan, kekayaan melimpah, dan masa depan yang telah tertata sempurna, hidupnya tampak nyaris tanpa cela. Namun, sebuah malam yang tak pernah ia ingat sepenuhnya menjadi awal dari perubahan besar yang mengguncang kehidupannya.
Di sisi lain, Alya hanyalah seorang gadis pemulung yang berjuang seorang diri menghadapi kerasnya kehidupan. Setiap hari ia bertahan di tengah himpitan kemiskinan, ditemani kenangan pahit yang terus menghantuinya. Dunia seolah tak pernah memberinya kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi.
Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kejadian yang tak terduga. Sebuah malam kelam di jalanan sepi mengikat hidup mereka dalam hubungan yang rumit. Rayan tak menyadari apa yang telah terjadi malam itu, tetapi Alya mengingat setiap detiknya bersama air mata, ketakutan, dan luka yang membekas di hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Di tengah ramainya kota yang terus bergerak tanpa henti, seorang gadis muda berjalan menyusuri trotoar dengan sebuah karung besar menggantung di bahunya. Pakaiannya tampak sederhana dan usang, sementara rambut yang diikat seadanya terlihat berantakan akibat terpaan angin dan aktivitas seharian. Beberapa helai rambut jatuh menutupi sebagian wajahnya yang sebenarnya manis, meski kini tampak letih karena kerasnya kehidupan dan debu yang menempel di kulitnya.

Kedua tangannya yang kasar menjadi bukti perjuangan yang ia jalani setiap hari. Noda hitam dan bekas pekerjaan berat menghiasi jemarinya, namun tak sedikit pun mengurangi keteguhan dalam langkahnya. Dengan tatapan yang penuh tekad, ia terus berjalan maju, seakan telah terbiasa menghadapi segala kesulitan yang menghadang. Meski hidup tidak pernah mudah, semangatnya tetap menyala, menolak tunduk pada keadaan yang berusaha menjatuhkannya.

Alya berhenti di setiap sudut yang menurutnya menyimpan barang-barang bernilai jual. Dengan telaten, ia mengumpulkan botol plastik, kaleng bekas, dan kardus yang terbuang, lalu memasukkannya ke dalam karung yang semakin lama semakin berat. Pakaiannya yang telah usang terlihat robek di beberapa bagian, sementara rok panjang yang dikenakannya sudah memudar karena terlalu sering dicuci dan terpapar matahari. Sandal jepit tipis yang menempel di kakinya nyaris tak mampu melindunginya dari panasnya jalanan yang menyengat.

Meski demikian, tak ada raut mengeluh yang terlihat di wajahnya. Ia menjalani semua itu dengan ketabahan yang jarang dimiliki orang lain. Di balik penampilannya yang sederhana dan serba kekurangan, tersimpan hati yang kuat serta tekad yang tak mudah dipatahkan oleh kerasnya kehidupan. Setiap langkah yang ia ambil seolah menjadi bukti bahwa ia tidak akan menyerah, seberat apa pun cobaan yang harus dihadapinya.

Setelah menghabiskan waktu berjam-jam menyusuri jalanan di bawah sengatan matahari, Alya akhirnya menghentikan langkahnya sejenak. Ia duduk di pinggir trotoar yang teduh, lalu meraih sebuah botol air mineral yang sudah hampir kosong dari dalam tasnya. Dengan gerakan pelan, ia meneguk air itu sedikit demi sedikit, menikmati setiap tetesnya yang mampu mengusir dahaga.

Bagi Alya, air sederhana itu terasa begitu berharga setelah seharian berkeliling mengumpulkan barang-barang bekas. Ia membiarkan tubuhnya beristirahat beberapa saat, mengumpulkan kembali tenaga yang mulai terkuras. Namun waktu tidak memberinya kemewahan untuk berlama-lama bersantai.

Tak lama kemudian, ia bangkit berdiri. Karung di pundaknya masih belum terisi penuh, yang berarti pekerjaannya belum selesai. Dengan semangat yang tetap terjaga meski tubuhnya lelah, ia kembali melangkah menyusuri jalanan. Kali ini, langkahnya mengarah ke tempat penampungan barang bekas yang sudah sering ia datangi, tempat di mana hasil jerih payahnya akan ditukar dengan uang untuk menyambung hidup.

Seorang pria bertubuh tambun yang menjaga tempat penampungan barang bekas itu menoleh saat melihat Alya datang. Senyum tipis terukir di wajahnya ketika gadis itu menghampiri.

Alya meletakkan karung yang dibawanya sejak pagi di hadapan pria tersebut, lalu mengusap peluh di dahinya sebelum berkata pelan, "Pak, saya mau setor hasil yang saya kumpulkan hari ini."

"Eh, Alya! Sepertinya hasilmu cukup banyak hari ini." ujar pria itu sambil menarik karung ke atas timbangan.

"Alhamdulillah, Pak. Rezekinya memang sedikit lebih baik hari ini." jawab Alya sambil menampilkan senyum tipis.

Namanya Alya Safiqa Putri, seorang gadis berusia dua puluh satu tahun yang harus berjuang menghadapi kerasnya kehidupan sejak usia muda. Parasnya sebenarnya menawan, tetapi debu jalanan dan pekerjaan berat yang dijalaninya setiap hari membuat penampilannya tampak kusam dan tak terurus.

Meski kelelahan sering tergambar jelas di wajahnya, ada sesuatu yang tetap bertahan dalam dirinya. Sorot matanya masih memancarkan keteguhan dan harapan, seolah menjadi bukti bahwa ia belum mau tunduk pada keadaan. Di balik segala kesulitan yang menghimpit, Alya masih menyimpan keyakinan bahwa suatu hari hidupnya bisa berubah menjadi lebih baik.

"Hasil timbangannya tiga puluh enam ribu, Alya." kata pria itu seraya menyerahkan uang hasil penjualan barang bekas. Alya tampak ragu sesaat.

"Pak, apa harganya bisa dinaikkan sedikit? Barang yang saya bawa hari ini lebih banyak daripada kemarin."

"Memang segitu harganya, Al. Kalau mau, silakan. Kalau tidak, ya tidak apa-apa." jawab pria itu tenang. Alya terdiam sesaat.

"Kalau memang begitu hitungannya, tidak apa-apa, Pak." kata Alya sambil tersenyum tipis.

Ia lalu mengambil uang tersebut dan menyimpannya dengan hati-hati. Meski nominalnya tak seberapa, Alya tetap merasa bersyukur. Setidaknya hari ini ia masih bisa membawa pulang hasil dari jerih payahnya sendiri.

"Terima kasih banyak, Pak." ucap Alya pelan sambil mengulas senyum kecil yang tulus.

Setelah itu, ia berpamitan dan melangkah meninggalkan tempat penampungan barang bekas tersebut. Kakinya menyusuri gang-gang sempit yang mulai ramai menjelang sore. Terdengar suara tawa anak-anak yang bermain di pinggir jalan, bercampur dengan aroma masakan yang keluar dari rumah-rumah warga. Di beberapa sudut, para tetangga tampak asyik berbincang, menciptakan suasana hangat yang menemani perjalanan Alya pulang.

Setibanya di ujung gang, langkah Alya terhenti di depan sebuah gubuk sederhana yang telah termakan usia. Pintu kayunya tampak rapuh, cat di dindingnya sudah lama memudar, sementara beberapa bagian atap menunjukkan bekas kebocoran yang belum sempat diperbaiki. Bagi orang lain, bangunan itu mungkin terlihat tak layak huni, tetapi bagi Alya, itulah tempat yang selalu ia sebut rumah.

Dengan perlahan, ia membuka pintu dan masuk ke dalam. Ruangan kecil itu menyambutnya dengan kesunyian yang menenangkan. Alya meletakkan barang-barangnya, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas alas tipis yang sudah kusam karena pemakaian bertahun-tahun.

Rasa lelah yang sejak tadi menumpuk di pundaknya perlahan menghilang. Meski sederhana, tempat itu memberinya ketenangan yang tidak bisa ia temukan di mana pun. Ia menutup mata, membiarkan tubuhnya beristirahat dan pikirannya hanyut dalam pelukan tidur yang datang perlahan.

Malam itu, seperti biasanya, Alya menumpang mandi di rumah seorang nenek yang selama ini sering membantunya. Setelah membersihkan diri, ia mencuci pakaian yang dikenakannya sejak pagi dengan harapan pakaian itu sudah kering saat matahari terbit. Ia tidak memiliki banyak pilihan, hanya tiga stel pakaian yang digunakan secara bergantian setiap hari.

Selesai mandi, Alya mengenakan kaus lama yang warnanya mulai memudar dan rok sederhana yang sudah terlihat usang karena sering dipakai. Meski begitu, ia tetap merapikannya sebaik mungkin.

Sesampainya di gubuk kecilnya, Alya tidak langsung beristirahat. Ia terlebih dahulu membereskan setiap sudut ruangan. Lantai disapunya hingga bersih, sementara barang-barang bekas yang masih memiliki nilai jual disusun rapi di sudut ruangan. Baginya, meski tempat tinggalnya sederhana, kebersihan tetap menjadi hal yang penting.

Baru setelah semuanya selesai, ia menghela napas panjang dan memandangi ruangan kecil yang kini tampak lebih rapi. Ada rasa puas yang sederhana di hatinya, seolah tempat itu kembali menjadi pelabuhan nyaman setelah hari yang panjang dan melelahkan.

Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Dari dalam perutnya terdengar bunyi pelan yang menandakan rasa lapar mulai datang. Sejak siang ia belum mengisi perut dengan makanan yang cukup, dan kini tubuhnya mulai menuntut energi yang telah terkuras sepanjang hari.

Alya kemudian meraih dompet kecil yang sudah tampak tua dan lusuh karena sering digunakan. Dengan hati-hati, ia membukanya dan memeriksa isinya. Di dalam dompet itu tersimpan beberapa lembar uang kertas yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil kerja keras selama beberapa hari terakhir. Jumlahnya memang tidak banyak, tetapi bagi Alya, uang tersebut sangat berarti dan harus digunakan sehemat mungkin.

Setelah berpikir cukup lama, Alya akhirnya memutuskan menggunakan sebagian uangnya untuk membeli persediaan makanan. Pilihannya jatuh pada mi instan karena harganya terjangkau dan bisa menjadi pengganjal perut untuk beberapa hari ke depan.

Ia pun berjalan menuju sebuah minimarket kecil yang berada tidak jauh dari tempat tinggalnya. Malam mulai turun dan jalanan tampak lebih lengang dari biasanya. Dengan langkah tenang, Alya menyusuri trotoar hingga tiba di tujuan.

Begitu masuk ke dalam toko, ia langsung menuju deretan rak makanan. Matanya menyapu berbagai produk yang tersusun rapi, lalu dengan cermat membandingkan harga satu per satu. Ia memilih makanan yang menurutnya paling ekonomis, namun cukup untuk mengisi perut dan menghemat pengeluaran.

Setelah menentukan pilihannya, Alya menuju kasir dan membayar belanjaannya. Tak lama kemudian, ia melangkah keluar dari minimarket dengan sebuah kantong plastik sederhana di genggamannya. Meski isinya tidak banyak, setidaknya ia tidak perlu memikirkan makan malam dan beberapa hari ke depan.

Namun, saat Alya kembali memeriksa dompetnya, senyum tipis di wajahnya perlahan memudar. Setelah menghitung uang yang tersisa, ia menyadari bahwa kini hanya ada tiga puluh ribu rupiah yang tersimpan di dalamnya. Jumlah yang tidak seberapa untuk menghadapi hari-hari berikutnya.

Perasaan cemas mulai merayapi hatinya. Langkah yang semula ringan berubah lebih pelan, seakan beban yang dipikulnya bertambah berat. Di sepanjang perjalanan pulang yang sunyi, pikirannya dipenuhi berbagai kekhawatiran yang tak kunjung menemukan jawaban.

Lampu-lampu jalan yang redup menemani langkahnya, sementara pertanyaan yang sama terus berputar di benaknya. Berapa lama lagi ia mampu menjalani hidup seperti ini? Sampai kapan ia harus berjuang seorang diri hanya untuk memastikan esok hari masih bisa makan? Meski berusaha tetap tegar, untuk sesaat Alya merasa lelah menghadapi kenyataan yang tak kunjung berubah.

*****

Di sudut lain kota yang masih terjaga oleh gemerlap malam, cahaya neon dari deretan tempat hiburan memancar terang, memantul di permukaan jalan yang lembap setelah hujan ringan. Suasana yang sebelumnya ramai perlahan mulai lengang seiring larutnya waktu.

Dari salah satu pintu keluar sebuah klub malam, seorang pria tampak melangkah keluar. Gerakannya sedikit tidak stabil, seolah berusaha menjaga keseimbangan. Wajah tampannya terlihat kemerahan, sementara sorot matanya tampak berat dan lelah. Aroma alkohol masih begitu kuat menguar darinya, menandakan bahwa malam itu ia telah menikmati terlalu banyak minuman.

Dengan satu tangan dimasukkan ke saku celana dan tangan lainnya sesekali menyentuh kening, pria itu berjalan perlahan menuju area parkir. Angin malam yang berembus sejuk tak banyak membantu menghilangkan pusing yang menguasai kepalanya. Yang ia inginkan saat itu hanyalah segera pulang dan mengakhiri malam yang panjang.

Saat pria itu hendak melangkah menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sana, seseorang tiba-tiba menghampirinya. Pria tersebut adalah sahabat dekatnya yang sejak tadi memperhatikan keadaannya dengan rasa khawatir.

"Kau yakin bisa pulang sendiri? Biar aku yang mengantarmu." tawarnya sambil menatap wajah sahabatnya yang tampak kelelahan.

Pria itu hanya mengibaskan tangan dengan santai, seolah ingin menepis kekhawatiran sahabatnya.

"Sudahlah, tidak usah repot. Aku masih sanggup pulang sendiri. " ujarnya ringan.

"Jangan keras kepala. Kondisimu sedang tidak fit, dan menyetir dalam keadaan seperti itu bisa berbahaya." kata temannya sambil berusaha menghentikannya.

Namun, sebelum sahabatnya sempat menyelesaikan ucapannya, pria itu sudah lebih dulu membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Dengan gerakan yang sedikit tergesa, ia duduk di kursi pengemudi lalu menyalakan mesin kendaraan.

Tak lama kemudian, mobil itu mulai bergerak meninggalkan area parkir. Lampu belakangnya perlahan menjauh, sementara temannya hanya bisa memandang dengan perasaan cemas yang semakin besar. Ia tahu kondisi pria itu tidak sepenuhnya baik, tetapi tidak berhasil menghentikannya.

Di bawah temaram lampu jalan, kendaraan tersebut melaju menyusuri jalanan kota yang mulai sepi. Malam yang sunyi seakan menemani perjalanannya, sementara deretan bangunan dan pepohonan berlalu cepat di balik jendela mobil.

Deretan lampu jalan tampak melintas silih berganti di balik kaca depan, menciptakan garis-garis cahaya yang memanjang dalam kegelapan malam. Suasana di sekelilingnya begitu tenang, hanya suara mesin kendaraan yang menemani perjalanan.

Namun, tak berselang lama, ia mulai merasakan sesuatu yang tidak biasa. Ada sensasi hangat yang perlahan menyebar ke seluruh tubuhnya. Mula-mula hanya terasa samar di bagian dada, tetapi lambat laun semakin kuat, menjalar hingga ke lengan dan ujung jemarinya. Rasa panas itu datang tanpa peringatan, membuatnya mengernyit dan berusaha memahami apa yang sedang terjadi.

Ia menarik napas panjang, berharap perasaan aneh tersebut segera menghilang. Sayangnya, sensasi itu justru semakin nyata, seolah ada gelombang panas yang bergerak perlahan di bawah permukaan kulitnya, membuat tubuhnya terasa tidak nyaman.

Ia mencengkeram kemudi dengan lebih kuat, berusaha mempertahankan fokus yang perlahan mulai memudar. Napasnya terasa lebih berat dari biasanya, sementara butiran keringat dingin mulai muncul di pelipis dan mengalir di sepanjang wajahnya.

Tubuhnya sesekali bergetar, membuatnya mengernyit kebingungan. Ada sesuatu yang terasa tidak beres. Bukan rasa takut atau gugup yang menghampirinya, melainkan sensasi asing yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Perasaan itu terus mengusik, semakin kuat dari detik ke detik, seolah ada tekanan tak terlihat yang mendesak dari dalam dirinya dan menuntut untuk dilepaskan.

Perasaan itu semakin sulit diabaikan. Ada dorongan aneh yang muncul dari dalam dirinya, bukan rasa sakit ataupun kelelahan, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam dan sulit dijelaskan. Seakan ada bagian dari dirinya yang selama ini terkunci rapat kini berusaha mencari jalan keluar.

Ia menelan ludah dengan susah payah. Kedua matanya membesar, sementara napasnya terasa semakin pendek. Dadanya dipenuhi tekanan yang membuatnya sulit merasa tenang. Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasakan kegelisahan yang tak memiliki alasan yang jelas.

Jemarinya semakin erat menggenggam kemudi. Instingnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Entah apa yang akan terjadi berikutnya, tetapi satu hal yang ia yakini malam ini tidak akan berlalu seperti malam-malam biasa.

Mobil itu akhirnya menepi di sebuah ruas jalan yang lengang. Malam terasa begitu sunyi, hanya diterangi beberapa lampu jalan yang redup. Tidak ada kendaraan yang melintas, dan satu-satunya suara yang terdengar hanyalah dengungan mesin yang perlahan melemah sebelum akhirnya nyaris menghilang.

Pria itu memejamkan mata sejenak sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi. Napasnya terdengar berat dan tidak beraturan. Ada rasa tidak nyaman yang terus menguasai dirinya, membuat seluruh tubuhnya terasa tegang. Keringat membasahi pelipis dan tengkuknya meski udara malam cukup sejuk.

Dengan gerakan pelan, ia melonggarkan kerah bajunya yang terasa menyesakkan. Jemarinya yang sedikit bergetar berusaha meredakan ketidaknyamanan yang semakin sulit diabaikan. Namun, apa pun yang ia lakukan, perasaan aneh itu tetap bertahan, membuat kegelisahan di dalam dirinya semakin kuat dari waktu ke waktu.

Angin malam berembus pelan melalui jendela yang sedikit terbuka, menyentuh kulitnya yang lembap oleh keringat. Meski terasa sejuk, hembusan udara itu belum mampu menghilangkan gejolak yang masih memenuhi tubuhnya. Ia menarik napas panjang berulang kali, berusaha mendapatkan kembali ketenangan yang perlahan menghilang.

Di tengah kesunyian jalan, lampu sein mobil berkedip secara teratur, memancarkan cahaya jingga yang berdenyut lembut. Kilatan cahaya itu memantul pada kaca dan permukaan dasbor, menciptakan bayangan samar yang bergerak mengikuti iramanya.

Pria itu tetap terdiam di balik kemudi. Wajahnya tampak letih setelah malam yang panjang, namun di balik kelelahan itu terselip ekspresi yang sulit diartikan. Ada ketegangan yang belum sepenuhnya lenyap, tetapi bersamaan dengan itu muncul pula perasaan lega yang perlahan merambat di dalam dirinya, seolah beban yang sejak tadi menghimpit dadanya mulai berkurang sedikit demi sedikit.

Di luar kendaraan, malam membentang dalam keheningan yang pekat. Jalanan tampak lengang tanpa banyak tanda kehidupan. Deretan pepohonan di tepi jalan bergoyang perlahan diterpa angin, menciptakan bayangan yang bergerak samar di bawah cahaya lampu jalan yang redup. Suasana terasa asing, seolah dunia di sekelilingnya ikut terdiam.

Sementara itu, di dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan, pria itu masih tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ada sesuatu yang perlahan berubah dalam dirinya, sebuah perasaan yang belum pernah ia kenali sebelumnya. Sulit dijelaskan, namun cukup kuat untuk membuatnya sadar bahwa malam ini berbeda dari malam-malam yang pernah ia lalui.

Ia menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong, mencoba memahami gejolak yang memenuhi benaknya. Entah mengapa, ada firasat aneh yang terus mengusiknya, seakan takdir sedang bergerak diam-diam, membawa sesuatu yang akan mengubah jalan hidupnya tanpa bisa ia hindari.

*****

Malam kian larut ketika Alya berjalan menyusuri jalan kecil yang mulai sepi dari lalu lalang manusia. Langit di atas tampak gelap membentang, sementara lampu-lampu jalan yang redup memancarkan cahaya samar di sepanjang trotoar. Penerangan yang minim membuat suasana terasa tenang sekaligus sedikit sendu.

Di sepanjang perjalanan, hampir tak ada seorang pun yang terlihat. Lingkungan sekitar begitu hening, seolah seluruh kota telah terlelap dalam istirahatnya. Hanya suara langkah Alya yang terdengar berirama di atas permukaan jalan, berpadu dengan gemerisik kantong plastik yang ia genggam erat di tangannya.

Meski tubuhnya lelah setelah menjalani hari yang panjang, ia tetap melangkah dengan tenang. Angin malam berembus lembut menyentuh wajahnya, menemani perjalanan pulang menuju tempat sederhana yang selalu menunggunya di ujung gang.

Dari kejauhan, pandangan Alya tertuju pada cahaya jingga yang berkedip berulang kali di tepi jalan. Sebuah mobil tampak terparkir dalam keadaan lampu sein masih menyala, menjadi satu-satunya sumber cahaya yang mencolok di tengah suasana malam yang lengang.

Tanpa sadar, langkah Alya melambat. Ada rasa waswas yang membuat dadanya berdebar sedikit lebih cepat. Ia berhenti beberapa saat, memandangi kendaraan itu dari kejauhan sambil mempertimbangkan apakah sebaiknya ia berbalik arah atau tetap melanjutkan perjalanan.

Namun, kehidupan yang keras telah mengajarinya untuk tidak mudah gentar menghadapi hal-hal yang tidak terduga. Rasa ingin tahu yang muncul di benaknya perlahan mengalahkan keraguannya. Setelah menarik napas dalam-dalam, Alya kembali melangkah, mendekati lokasi mobil itu dengan hati-hati sambil tetap waspada terhadap apa pun yang mungkin menantinya di depan.

Semakin dekat Alya melangkah, semakin jelas cahaya lampu sein yang berkedip itu menerangi sekeliling. Kilatan cahaya jingga sesekali jatuh ke wajahnya yang tampak lelah setelah seharian beraktivitas, menciptakan bayangan samar di sepanjang jalan yang sunyi.

Tiba-tiba, pintu mobil itu terbuka perlahan, memecah keheningan malam. Dari dalam keluar seorang pria dengan gerakan yang tampak tidak sepenuhnya stabil. Meski langkahnya sedikit oleng, ada kesan bahwa ia sedang berusaha mempertahankan kendali atas dirinya sendiri.

Pemandangan itu membuat Alya terkejut. Tubuhnya refleks menegang dan langkahnya terhenti seketika. Untuk beberapa detik, ia hanya bisa berdiri diam sambil menatap sosok asing tersebut, berusaha memahami situasi yang sedang terjadi di hadapannya.

Mata Alya membesar karena terkejut. Jantungnya berdetak semakin cepat, sementara napasnya terasa tertahan di tenggorokan. Berbagai pertanyaan langsung memenuhi pikirannya. Siapa pria itu? Mengapa ia menghampirinya? Dan yang paling membuatnya gelisah, apakah orang asing itu berniat buruk?

Belum sempat Alya menemukan jawaban atas kegelisahannya, pria tersebut sudah bergerak mendekat. Langkahnya cepat dan tergesa, seolah didorong oleh sesuatu yang mendesak. Dalam hitungan detik, jarak di antara mereka lenyap. Tangan pria itu terulur dan mencengkeram pergelangan tangan Alya, membuat gadis itu semakin terkejut dan refleks menahan napas.

Alya tersentak kaget saat merasakan cengkeraman itu. Rasa takut langsung menyergap, membuatnya refleks berusaha menarik tangannya sekuat tenaga.

"Jangan sentuh aku! Lepaskan!" teriaknya dengan suara gemetar, berusaha melepaskan diri dari genggaman pria tersebut.

Namun, pria itu tidak menunjukkan sikap yang mengancam seperti yang Alya bayangkan. Wajahnya tampak pucat, napasnya tidak teratur, dan tubuhnya bergetar seolah sedang menahan sesuatu yang berat.

Dengan sorot mata yang terlihat lelah, pria itu menatap Alya sesaat. Bibirnya bergerak pelan sebelum akhirnya mengucapkan kata-kata yang hampir tak terdengar.

"Tolong... bantu aku..." suaranya terdengar parau dan lemah.

Rasa takut yang menguasai dirinya membuat Alya spontan berteriak sekuat tenaga. Ia berusaha menarik perhatian siapa pun yang mungkin berada di sekitar tempat itu.

"Tolong! Ada yang bisa bantu saya? Tolong!" serunya dengan suara bergetar.

Jalanan tetap lengang tanpa satu pun kendaraan yang melintas. Tak terdengar suara manusia, apalagi seseorang yang datang menanggapi teriakan Alya. Kesunyian malam seolah menelan setiap suara yang ada di sekitarnya.

Kini hanya mereka berdua yang berada di tempat itu, berdiri di bawah temaram lampu jalan yang redup. Bayangan mereka memanjang di atas aspal yang dingin, sementara udara malam terasa semakin berat. Di tengah keheningan yang ganjil itu, terselip firasat bahwa sesuatu yang tak terduga sedang menanti untuk terungkap, sesuatu yang kelak akan mengubah arah hidup mereka berdua.

Pegangan pria itu tidak juga terlepas. Sebaliknya, jemarinya semakin erat mencengkeram pergelangan tangan Alya. Sebelum gadis itu sempat menjauh, pria tersebut sudah menariknya ke arah mobil dengan gerakan tergesa.

Alya berusaha menahan langkahnya. Ia mencoba bertumpu dan mempertahankan keseimbangan, tetapi tenaganya tidak sebanding dengan sosok di hadapannya. Tubuh pria itu jauh lebih besar, membuat usahanya untuk melepaskan diri terasa semakin sulit.

Rasa panik kembali memenuhi dadanya saat ia terseret beberapa langkah. Di tengah jalan yang sunyi, Alya hanya bisa berjuang sekuat tenaga, berharap menemukan cara untuk membebaskan diri dari situasi yang tidak diinginkannya.

"Jangan pegang aku! Lepaskan sekarang!" teriaknya dengan suara bergetar.

Dalam kepanikan, kantong belanja yang dibawanya terlepas dari genggaman. Isinya berhamburan ke jalan, beberapa bungkus mi instan berguling menjauh, bahkan ada yang terseret hingga ke tepi selokan. Namun Alya sama sekali tidak memperhatikan semua itu.

Saat itu, tidak ada yang lebih penting selain membebaskan diri. Rasa takut menguasai pikirannya, mendorongnya untuk melawan sekuat tenaga. Ia terus meronta, berusaha melepaskan cengkeraman yang menahannya. Tangannya ditarik ke belakang, kakinya bergerak mencari pijakan, dan seluruh tenaganya dikerahkan untuk menjauh dari pria tersebut.

Meski tubuhnya lelah setelah seharian bekerja, Alya tidak menyerah. Insting untuk melindungi diri membuatnya terus berjuang, berharap ada kesempatan untuk lolos dari situasi yang membuatnya ketakutan itu.

Namun, tubuh Alya yang sudah kehabisan tenaga setelah seharian bekerja membuat perlawanannya tidak sekuat yang ia harapkan. Setiap kali mencoba melepaskan diri, cengkeraman itu tetap bertahan, membuat rasa paniknya semakin menjadi-jadi.

Air mata mulai menggenang di sudut matanya saat ia kembali berteriak dengan suara yang lebih keras.

"Tolong... biarkan aku pergi!" serunya putus asa.

Namun, jalanan itu tetap membisu. Tak ada langkah kaki yang mendekat, tak ada suara yang menjawab. Kesunyian malam terasa semakin pekat, seolah seluruh dunia mengabaikan kepanikan yang sedang dialami Alya.

Dalam situasi yang serba cepat itu, pria tersebut membuka pintu mobil di sisi penumpang. Alya berusaha bertahan, tetapi keseimbangannya goyah. Tubuhnya terdorong hingga ia hampir terjatuh ke dalam kendaraan.

Refleks, ia segera mencoba bangkit dan menjauh dari mobil. Namun, usahanya terhalang. Pria itu tetap berdiri di dekat pintu, membuat Alya kesulitan mencari jalan untuk meloloskan diri. Jantungnya berdegup kencang sementara rasa takut terus memenuhi pikirannya.

1
Ratu Anjani
lah kelanjutan ny mana min
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!