Demi menyelamatkan ayahnya dari lilitan utang, Arunika Maheswari terpaksa menggantikan kakaknya menikah dengan Arsen Valentino, seorang CEO sekaligus Raja Mafia paling berkuasa. Pernikahan yang berawal dari keterpaksaan itu membawa Arunika masuk ke dunia penuh rahasia, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan yang mengancam nyawanya setiap saat.
Di tengah bahaya yang terus mengintai, hubungan mereka perlahan berubah menjadi cinta yang tak terduga. Namun, mampukah Arunika bertahan sebagai istri sang Raja Mafia, atau justru menjadi kelemahan terbesar yang akan menghancurkan Arsen?
Disclaimer : Novel ini dibuat semata-mata untuk hiburan. Seluruh isi cerita merupakan imajinasi penulis dan tidak untuk ditiru atau dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala bentuk penyalahgunaan isi novel di luar tujuan sebagai bacaan hiburan.
Terima kasih dan selamat menikmati cerita. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahrul Mulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: - Perangkap Sang Singa
### BAB 2 #########
_____________________________
Rasa sakit yang menghujam pergelangan tangannya membuat Arunika refleks meringis. Cengkeraman pria itu begitu kuat, seolah-olah tulang-tulang jarinya siap remuk dalam sekali remas. Namun, yang lebih mengerikan daripada rasa sakit fisik itu adalah sepasang mata elang di hadapannya. Sepasang mata yang tadinya sedingin es, kini berkilat oleh amarah yang begitu pekat dan mematikan.
"Kau... kau pikir kau bisa membodohiku, jalang kecil?" desis pria itu lagi, suaranya merendah, mengirimkan gelombang getaran mengerikan langsung ke dasar tulang belakang Arunika.
Arunika menggeleng dengan panik, air matanya kembali merebak tanpa bisa ditahan. "A-apa maksudmu? Aku tidak membodohi siapa pun! Lepaskan... ini sakit!"
"Tuan Valentino! Tolong, demi Tuhan, lepaskan anak saya!" Baskoro tiba-kira merangkak maju dari sudut kamar, mencoba meraih kaki pria berjas hitam itu dengan tubuh yang gemetar hebat. "Dia tidak tahu apa-apa! Dia anak yang baik, dia tidak bersalah!"
"Diam, tua bangka!" bentak salah satu anak buah yang berdiri di ambang pintu, langsung menodongkan moncong pistol hitamnya tepat ke dahi Baskoro. Langkah Baskoro terhenti seketika. Pria paruh baya itu mengangkat kedua tangan ke udara, wajahnya pucat pasi seperti mayat, menelan kembali semua kata-kata pembelaan yang ingin dia ucapkan.
Tuan Valentino—atau yang belakangan akan dikenal Arunika sebagai sosok yang jauh lebih ditakuti—sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari Arunika. Dia menarik tubuh Arunika mendekat dengan satu sentakan kasar, memaksa jarak di antara mereka terkikis habis hingga Arunika bisa mencium aroma parfum kayu cedar yang mahal bercampur dengan bau samar mesiu dari tubuh pria itu.
"Anak buahku baru saja memeriksa manifes penerbangan internasional," ucap Valentino, setiap katanya diucapkan dengan penekanan yang lambat namun menghujam. "Kakakmu, Valeria, tidak sekadar kabur ke kota sebelah. Dia terbang ke Paris tiga jam yang lalu dengan tiket yang dibeli atas nama perusahaan sainganku. Dan kau..." Valentino mendekatkan wajahnya, embusan napasnya yang hangat terasa di pipi Arunika yang dingin, "...kau dikorbankan di sini untuk mengulur waktu agar dia bisa lolos. Benar begitu?"
Arunika terbelalak. Paris? Perusahaan saingan? Kepalanya berputar hebat. Dia benar-benar tidak tahu apa-apa tentang konspirasi atau pelarian kakaknya yang sejauh itu. Yang dia tahu hanyalah pesan singkat singkat yang menyuruhnya menjaga ayah mereka.
"Aku tidak tahu... demi ibuku yang sudah meninggal, aku tidak tahu!" tangis Arunika pecah. "Aku baru tahu Kak Valeria kabur beberapa jam yang lalu! Ayah yang menyuruhku menggantikannya! Aku tidak punya niat membodohimu!"
Valentino menatap lurus ke dalam manik mata Arunika, mencari kebohongan di sana. Untuk beberapa detik yang terasa seperti keabadian, keheningan mencekam menyelimuti kamar sempit itu, hanya diiringi suara deru hujan yang semakin menggila di luar jendela.
Perlahan, cengkeraman tangan Valentino di pergelangan tangan Arunika mengendur, lalu terlepas sepenuhnya. Namun, sebelum Arunika sempat bernapas lega, pria itu mengeluarkan selembar saputangan sutra dari saku jasnya, mengusap tangannya sendiri dengan perlahan seolah-olah dia baru saja menyentuh sesuatu yang kotor.
"Baskoro," panggil Valentino tanpa menoleh pada pria tua yang masih berlutut di lantai.
"Y-ya, Tuan? Ya?" sahut Baskoro dengan suara mencicit.
"Utangmu dua puluh miliar," ucap Valentino datar. "Perjanjian awal kita adalah Valeria. Dia memiliki sesuatu yang aku butuhkan dari perusahaan sainganku. Tapi sekarang, dia pergi membawa informasi itu. Dan dia meninggalkan adik perempuannya yang... tidak berguna ini."
Kata 'tidak berguna' itu diucapkan dengan begitu santai, namun berhasil menggores harga diri Arunika. Gadis itu mengepalkan tinjunya di sisi tubuh, menahan amarah yang tiba-tiba bangkit di tengah rasa takutnya.
"Maafkan saya, Tuan... tolong beri saya waktu seminggu... tidak, tiga hari! Saya akan mencari Valeria!" Baskoro memohon, air matanya menetes ke ubin.
"Tidak perlu," potong Valentino dingin. Dia membuang saputangannya ke lantai, tepat di depan wajah Baskoro. "Aku tidak suka membuang waktu. Karena kakakmu sudah mengambil sesuatu dariku, maka aku akan mengambil sesuatu sebagai gantinya. Malam ini juga, anak ini akan ikut denganku."
Valentino kembali menatap Arunika, tatapannya kini berubah menjadi datar, seolah-olah Arunika hanyalah sebuah properti atau barang sitaan yang berpindah tangan. "Kau akan tetap menjadi pengantin pengganti. Tapi jangan harap kau akan memakai gaun putih dan berjalan di altar. Kau adalah jaminanku. Jika dalam waktu yang ditentukan kakakmu tidak kembali menyerahkan apa yang dia curi, utang dua puluh miliar itu... akan dibayar dengan setiap tetes darahmu."
Arunika membeku. Kata-kata itu terdengar begitu mutlak. Dia memandang ayahnya, berharap pria yang telah membesarkannya itu akan berdiri, mengamuk, atau setidaknya memeluknya dan menolak membiarkannya dibawa oleh monster ini. Namun, apa yang dia lihat justru menghancurkan hatinya berkeping-keping.
Baskoro justru mengembuskan napas lega. Pria tua itu menundukkan kepalanya dalam-dalam ke lantai. "Terima kasih, Tuan Valentino... terima kasih karena telah membiarkan saya hidup. Bawa dia... bawa Aruni. Dia milik Anda sekarang."
Luka itu terasa lebih menyakitkan daripada cengkeraman tangan Valentino tadi. Ditumbalkan oleh darah dagingnya sendiri demi seonggok nyawa yang sudah rusak oleh judi. Arunika memejamkan mata, membiarkan air mata terakhirnya jatuh, sebelum dia mengeraskan hatinya. Dia tidak akan memohon lagi. Pada siapa pun.
"Bawa dia," perintah Valentino pada anak buahnya, lalu dia berbalik dan melangkah keluar dari kamar tanpa memandang ke belakang lagi.
Dua pria berbadan besar langsung maju, mencengkeram lengan Arunika dengan kasar, memaksanya berjalan mengikuti langkah sang raja mafia. Arunika tidak berontak. Dia berjalan melewati ayahnya yang bahkan tidak berani menatap matanya.
Mereka keluar dari rumah tua itu, menembus derasnya air hujan malam yang dingin. Sebuah mobil limosin hitam legam sudah menunggu di depan pagar. Pintu mobil dibuka, dan Arunika didorong masuk ke dalam kursi belakang yang luas dan mewah. Di sana, Valentino sudah duduk dengan kaki menyilang, memegang segelas minuman berwarna amber yang berkilau di bawah lampu kabin yang temaram.
Pintu mobil tertutup dengan dentuman berat, seketika meredam seluruh suara badai di luar. Di dalam mobil itu, suasananya begitu sunyi, begitu dingin, dan begitu mengintimidasi. Mobil mulai bergerak membelah jalanan kota yang sepi.
Arunika duduk menyudut di dekat pintu, memeluk tubuhnya sendiri yang basah kuyup karena hujan. Dia melirik ke arah pria di sampingnya dari sudut mata. Pria itu tampak begitu tenang, menyesap minumannya seolah-olah dia tidak baru saja menculik seorang gadis dan menghancurkan sebuah keluarga.
"Siapa... siapa kau sebenarnya?" suara Arunika terdengar serak, memecah keheningan di antara mereka.
Valentino menurunkan gelasnya perlahan. Dia tidak menoleh pada Arunika, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang misterius. "Kau sudah menjadi jaminanku, tapi kau bahkan tidak tahu siapa pemilikmu sekarang?"
Pria itu memutar gelasnya, membuat es batu di dalamnya berdenting pelan. "Orang-orang di luar sana memanggilku Valentino. Tapi di dunia tempat kau akan tinggal mulai malam ini, namaku adalah Arsen. Arsen Valentino."
Arsen. Nama itu terdengar seperti racun di telinga Arunika.
"Dan satu hal yang harus kau ingat, Arunika," Arsen perlahan menoleh, menatap langsung ke dalam manik mata gadis itu dengan pandangan yang membuat atmosfer di dalam mobil terasa membeku. "Di rumahku, tidak ada tempat untuk air mata. Jika kau ingin bertahan hidup, kubur semua kelemahanmu malam ini juga. Karena mulai besok, kau bukan lagi seorang gadis biasa. Kau adalah tawanan sang raja."
Mobil terus melaju menembus kegelapan, mendaki sebuah perbukitan pinggir kota yang sunyi, menuju sebuah mansion megah yang berdiri terisolasi di puncak bukit. Kompleks bangunan itu dikelilingi oleh pagar besi tinggi dengan penjagaan ketat pria-pria bersenjata di setiap sudutnya. Itulah kediaman keluarga Valentino. Sebuah istana megah yang bagi Arunika, tidak lebih dari sebuah penjara berlapis emas.
Ketika mobil berhenti di depan lobi utama yang luas, seorang pelayan pria paruh baya dengan pakaian formal membuka pintu mobil. Arsen melangkah keluar terlebih dahulu tanpa memedulikan Arunika.
"Bawa dia ke kamar di sayap barat. Kunci pintunya dari luar," perintah Arsen pada pelayan itu sebelum melangkah masuk ke dalam mansion dengan langkah tegap.
Arunika digiring oleh pelayan itu melewati koridor-koridor panjang yang sunyi, dihiasi oleh lukisan-lukisan tua yang tampak suram dan patung-patung marmer yang dingin. Suasana rumah ini benar-benar mencerminkan pemiliknya: sunyi, megah, namun menyembunyikan bahaya di setiap sudutnya.
Pintu sebuah kamar besar di ujung koridor sayap barat dibuka. Arunika didorong masuk ke dalam. Kamar itu sangat luas, dengan tempat tidur berukuran *king size* kelambu hitam, sebuah perapian yang menyala, dan jendela besar yang langsung menghadap ke arah tebing curam di belakang mansion.
*Klek.*
Suara pintu yang dikunci dari luar terdengar jelas. Arunika berjalan mendekati jendela, menempelkan telapak tangannya pada kaca yang dingin. Di luar sana, di bawah guyuran hujan, dia bisa melihat jurang yang dalam dan ombak laut yang menghantam tebing dengan ganas. Tidak ada jalan keluar. Tempat ini benar-benar terisolasi.
Gadis itu berjalan lemas menuju tempat tidur, menjatuhkan tubuhnya yang lelah di atas kasur yang empuk namun terasa asing. Dia menatap langit-langit kamar yang tinggi, mencoba mencerna semua takdir gila yang menimpanya dalam satu malam. Menjadi pengantin pengganti untuk seorang raja mafia.
Malam semakin larut, namun Arunika tidak bisa memejamkan matanya. Setiap kali dia mencoba tidur, bayangan wajah dingin Arsen dan todongan pistol ke dahi ayahnya selalu membayangi.
Hingga menjelang dini hari, ketika badai di luar mulai mereda menjadi gerimis tipis, Arunika sayup-sayup mendengar suara langkah kaki di luar pintunya. Langkah kaki itu pelan, namun berirama konstan.
Arunika langsung terduduk tegak di atas kasur, menahan napasnya.
*Klek.*
Suara kunci pintu yang diputar dari luar terdengar di keheningan malam. Jantung Arunika berdegup kencang. Bukankah Arsen tadi memerintahkan untuk mengunci pintunya dari luar hingga pagi? Siapa yang berani membuka pintu ini di jam seperti ini?
Pintu kayu ek yang berat itu perlahan terbuka, membiarkan seberkas cahaya dari koridor masuk ke dalam kamar yang remang-remang. Sosok yang berdiri di ambang pintu bukanlah Arsen, juga bukan pelayan paruh baya yang menggiringnya tadi.
Sosok itu mengenakan pakaian serba hitam, lengkap dengan topeng yang menutupi seluruh wajahnya kecuali sepasang mata yang menatap Arunika dengan pandangan penuh hasrat membunuh. Di tangan kanan sosok misterius itu, sebilah pisau komando yang panjang berkilau tajam di bawah cahaya lampu koridor.
Arunika ingin berteriak, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Sosok bertopeng itu menutup pintu kembali dengan pelan, menguncinya dari dalam, lalu melangkah mendekati tempat tidur tempat Arunika berada dengan pisau yang terangkat tinggi, siap dihujamkan.
Kilatan perak Pisau itu memantulkan cahaya temaram, mengarah tepat ke dada Arunika yang berdegup kencang. Apakah hidupnya akan berakhir malam ini, bahkan sebelum dia resmi menjadi pengantin sang raja mafia?
**Bersambung ke Bab 3...**
*Siapakah sosok bertopeng yang menyelinap ke kamar Arunika? Apakah ini akhir dari takdir tragis Arunika, ataukah ada rahasia berdarah lain yang baru saja dimulai di mansion terkutuk ini? Tunggu kelanjutannya di bab berikutnya!*