Gerald—mantan tentara pasukan elit dari dunia modern—mengakhiri hidupnya setelah kehilangan tujuan hidup.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun di tubuh seorang prajurit rendahan di tengah medan perang dunia asing yang dipenuhi pedang, darah, dan kerajaan yang saling membunuh.
Tanpa sihir.
Tanpa kekuatan dewa.
Hanya perang.
Di saat umat manusia sibuk saling menghancurkan, bencana muncul dari bawah tanah.
Orc.
Ribuan monster brutal menyerbu benua dan memaksa seluruh kerajaan manusia bersatu demi bertahan hidup.
Di tengah kekacauan itu, Gerald mulai membangun pasukannya sendiri.
Bukan ksatria.
Bukan bangsawan.
Melainkan orang-orang buangan: pengemis, bandit, budak, pecandu alkohol, dan tentara gagal.
Pasukan sampah yang kemudian dikenal sebagai—
The 10th Battalion
Pasukan paling kacau.
Paling brutal.
Dan paling ditakuti di medan perang.
Dari unit buangan menjadi legenda perang umat manusia, Gerald akan membuktikan bahwa monster terb
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BAGERAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tebing Mati
“Napas gue habis…”
“DIAM DAN LARI!”
Elias hampir menarik Boris pakai tombak.
Mereka semua berlari menembus hutan gelap sementara suara langkah para orc terus mengejar dari belakang.
DUUM! DUUM! DUUM!
Tanah bahkan ikut bergetar.
Gerald berada paling belakang sambil sesekali menoleh.
Jumlah mereka makin banyak.
Puluhan.
Mungkin lebih.
Dan itu baru kelompok pemburu kecil.
“Gerald!” teriak Varn.
“Tebingnya di depan!”
Di antara pepohonan gelap, mulai terlihat dinding batu tinggi menjulang.
Jalur menuju sana sempit.
Hanya cukup dilewati tiga sampai empat orang sekaligus.
Perfect choke point.
Gerald langsung menunjuk.
“Masuk ke sana!”
“Kalau mereka ngepung gimana?!” tanya Elias panik.
“Mereka gak bisa.”
“Hah?”
“Orc terlalu besar buat bergerak bebas di jalur sempit.”
Mereka akhirnya sampai di area tebing.
Benar saja.
Jalan masuknya kecil dan berbatu.
Di kanan kiri hanya dinding batu curam.
Kalau bertahan di sini—
Jumlah musuh tidak akan terlalu berarti.
Gerald langsung berbalik.
“Bentuk garis!”
Semua refleks bergerak.
Tombak di depan. Pedang di belakang.
Dan Boris…
“Makan lagi?!”
“Aku lapar pas panik.”
“KAU BABI ATAU MANUSIA?!”
GRRRAAAHHH!!
Orc pertama akhirnya muncul dari hutan.
Lalu kedua.
Ketiga.
Dan semakin banyak.
Mata merah mereka memenuhi kegelapan.
Salah satu tentara mulai gemetar hebat.
“Kita gak akan selamat…”
Gerald menatapnya dingin.
“Kalau mau mati, mati setelah bertarung.”
“….”
Kalimat itu membuat pria itu langsung diam.
Gerald mengangkat pedangnya perlahan.
“Dengar baik-baik.”
Semua menatapnya.
“Di sini jumlah mereka gak penting.”
Ia menunjuk jalur sempit di depan.
“Mereka cuma bisa masuk sedikit demi sedikit.”
Matanya berubah tajam.
“Artinya…”
Senyum tipis muncul di wajah Gerald.
“…kita bisa membunuh mereka satu-satu.”
Raungan orc menggema.
Lalu mereka menyerbu.
“DATANGGG!!”
DUARR!!
Orc pertama langsung menabrak barisan depan.
Namun jalurnya terlalu sempit.
Tubuh monster besar itu justru menghalangi orc lain.
“Tusuk sekarang!”
CRASSHH!!
Tombak para tentara langsung menghujam tubuh orc.
Monster itu meraung brutal.
Namun Gerald langsung maju.
Satu tebasan.
Leher putus.
Tubuh orc roboh dan menyumbat jalur.
“Bagus!” teriak Gerald.
“Biarkan mayatnya di sana!”
Elias langsung sadar.
Mayat orc itu jadi penghalang tambahan.
“Gila…” gumamnya.
Orc kedua mencoba memanjat tubuh temannya.
Namun Boris langsung menghantam mukanya pakai perisai.
BRAKK!!
“Turun sana, jelek!”
“Kenapa hinaannya kayak anak kecil?!” teriak Elias.
“Aku gugup!”
Pertarungan makin brutal.
Darah hitam mengalir di jalur batu sempit.
Namun perlahan…
Para tentara mulai sadar sesuatu.
Mereka bisa menang.
Untuk pertama kalinya sejak invasi orc dimulai…
Mereka benar-benar bisa bertahan hidup.
“HAHA! MASUK LAGI WOI!” Boris tertawa sambil memukul orc lain.
Bahkan tentara lain mulai ikut berteriak.
“Dorong mereka!”
“Jangan mundur!”
“Kita bisa tahan!”
Gerald memperhatikan semuanya sambil terus bertarung.
Bagus.
Mental mereka mulai berubah.
Manusia yang putus asa lemah.
Namun manusia yang merasa punya harapan—
Bisa jadi monster.
Namun tiba-tiba—
DUUMMM…
Suara langkah berat terdengar dari dalam hutan.
Semua langsung diam sesaat.
Gerald menyipitkan mata.
Suara itu berbeda.
Lebih berat.
Lebih besar.
Dan beberapa detik kemudian…
Pepohonan di depan hancur.
BRAKKK!!
Seekor orc raksasa keluar dari hutan sambil membawa palu batu sebesar tubuh manusia.
Tingginya hampir empat meter.
Tubuhnya dipenuhi bekas luka.
Dan mata merahnya langsung tertuju pada mereka.
Wajah Elias langsung pucat total.
“Gerald…”
Boris perlahan menelan roti di mulutnya.
“…Yang itu kayaknya gak bisa dipukul biasa.”
Orc raksasa itu mengangkat palunya perlahan.
Lalu meraung ke arah langit.
“GROOOOOOAAAAHHHH!!”
Dan semua orc lain langsung ikut meraung bersamaan.
Malam itu…
Mereka akhirnya bertemu monster pertama yang benar-benar mengerikan.