Di tengah dinginnya kota New York, pernikahan megah Adiba Abbey dan Raynazh Leon Osborn hancur berantakan dalam waktu semalam.
Di dalam kamar griya tawang keluarga Osborn yang remang dan mabuk oleh atmosfer perayaan, sebuah kesalahan fatal terjadi.
Adiba menyerahkan segalanya kepada pria yang dia kira adalah sang suami yang baru saja mengikat janji suci bersamanya di altar.
Namun, tepat di detik-detik pelepasan yang intim, sebuah suara asing yang bergetar hebat meloloskan nama Adiba.
Kesadaran menghantamnya bak badai es; pria yang baru saja menidurinya bukanlah Raynazh, melainkan sang adik ipar, Louis Enver Osborn.
Pengkhianatan tak sengaja yang dipicu oleh kegelapan dan alkohol ini meruntuhkan dinding pernikahan mereka, menyeret Louis dan Adiba ke dalam jurang penyesalan, dendam, dan rahasia kelam yang mengancam kehancuran total dinasti Osborn.
_🌷_
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#17
Sore hari di Manhattan ditutup oleh langit yang berubah warna menjadi kelabu pekat, sewarna dengan hamparan salju yang mulai mengotor di tepian jalan.
Griya tawang megah milik keluarga Osborn yang biasanya sunyi kini terasa seperti ruang hampa yang siap meledak kapan saja.
Pintu lift privat berdenting halus. Adiba Abbey melangkah keluar dengan kepala tegak, mengenakan mantel bulu hitam panjangnya yang membungkus rapat gaun sutra hijau zamrud yang sudah koyak di beberapa bagian dalam.
Wajahnya tampak lelah setelah perjalanan dari Brooklyn, namun sepasang manik mata hitamnya memancarkan ketenangan yang teramat dingin, seolah dia baru saja pulang dari medan kemenangan.
Di ruang tamu yang megah, Raynazh Leon Osborn sudah berdiri menantinya. Pria itu tampak berantakan; dasinya sudah terlepas, kemeja kerjanya kusut, dan sebotol wiski yang tinggal seperempat tergeletak di atas meja kaca.
Begitu melihat Adiba melangkah masuk, Raynazh langsung berdiri dengan sepasang mata yang memerah karena amarah yang tertahan sepanjang hari.
"Dari mana saja kau, Adiba?!" suara Raynazh menggelegar, memecah kesunyian rumah. "Kau pergi ke Brooklyn dari siang dan baru kembali jam segini?! Kau pikir kau masih punya harga diri sebagai istriku, hah?!"
Adiba bahkan tidak menoleh. Dia berjalan santai menuju sofa, melepaskan mantel bulu hitamnya dengan gerakan yang anggun, lalu menjatuhkannya begitu saja. Namun, gerakan itu seketika mengekspos bagian atas tubuhnya.
Gaun sutra hijaunya yang sedikit melorot dan robek di bagian dada menampilkan pemandangan yang membuat jantung Raynazh seolah berhenti berdetak.
Di atas kulit putih pucat Adiba, bertebaran tanda kemerahan yang teramat pekat—Kisssmark yang tercetak jelas dari pangkal leher, tulang selangka, hingga ke batas dadanya. Tanda-tanda kepemilikan yang segar, yang dibuat dengan gila dan penuh gairah yang belum lama berlalu.
Raynazh membeku. Matanya terbelalak menatap deretan noda merah itu. Ego dan harga dirinya sebagai seorang pria dewasa, seorang pewaris utama Osborn yang selalu mengagungkan kesempurnaan, seketika hancur lebur melihat bukti nyata perselingkuhan istrinya terpampang di depan mata.
Raynazh melangkah maju dengan cepat, mencengkeram kedua lengan Adiba dengan kasar hingga wanita itu menghadapnya.
"Kau... apa-apaan ini?!" teriak Raynazh, suaranya bergetar hebat antara murka dan rasa tidak percaya. "Kau membiarkan orang lain menyentuhmu?! Pria brengsek mana yang menyentuhmu, ADIBA?!"
Adiba menatap suaminya tanpa ada kedipan ketakutan sedikit pun. Malahan, sebuah senyuman tipis yang teramat sinis terukir di sudut bibirnya. Dia menghempaskan cengkeraman tangan Raynazh dengan mudah.
"Dia bukan orang lain," ucap Adiba, nadanya begitu tenang, lambat, namun setajam mata pisau. "Dia ayahnya anakku."
Deg.
Hantaman kalimat itu membuat Raynazh mundur selangkah. Dadanya kembang kempis berantakan, pasokan oksigen di dalam otaknya seolah menguap.
Mengetahui istrinya hamil saja sudah membuatnya gila, dan sekarang wanita ini dengan terang-terangan pulang dengan tubuh penuh tanda setelah menyerahkan dirinya lagi.
"Kau... kau membiarkan bajingan itu menyentuhmu lagi, hah?!" raung Raynazh, wajahnya memerah padam hingga urat-urat di lehernya menegang ekstrem.
"Dia bukan bajingan, dia ayah dari anakku, brengsek!!!" Adiba membalas dengan bentakan yang tak kalah tajam, sepasang matanya berkilat penuh kilat berbahaya yang membekukan. "Dan dia adikmu. Kau lupa, Raynazh?"
"Oh, shit!!!" Raynazh memaki, menjambak rambutnya sendiri dengan kedua tangan karena frustrasi yang teramat masif.
Dia menatap Adiba seperti melihat monster paling mengerikan di dunia. "Jadi kau sama sekali tidak trauma?! Di malam pertama kau berpura-pura menjadi korban yang hancur, kau mengancamku dengan laporan polisi, tapi sekarang kau justru kembali ke ranjangnya dengan sukarela?! Kau tidak trauma sama sekali, Adiba?!"
Adiba terdiam. Dia tidak membantah, tidak juga membenarkan. Rahasia tentang bagaimana dia telah memuja Louis dari kegelapan selama sepuluh tahun bukanlah sesuatu yang sudi dia bagikan kepada pria menjijikkan di hadapannya ini.
Dia hanya melukiskan sebuah senyuman misterius yang teramat manis—sebuah senyuman gila yang membuat Raynazh merasa sedang dipermainkan di dalam permainan catur yang tidak akan pernah bisa dia menangkan.
Adiba berjalan mendekati meja rias kecil di sudut ruangan, mengambil selembar tisu untuk mengusap lehernya yang terasa hangat.
"Pastikan surat perceraian itu selesai dalam bulan ini, Raynazh. Jangan tunggu sampai enam bulan seperti kesepakatan awal kita. Aku sudah muak melihat wajah pengecutmu di rumah ini."
"Jangan harap!" kata Raynazh dengan geraman jahanam.
Pikirannya telah sepenuhnya dikuasai oleh kegilaan akibat ego yang diinjak-injak hingga ke titik nadir. Kehilangan Clara di kantor, tekanan dari ayahnya, dan sekarang perselingkuhan terang-terangan istrinya dengan adiknya sendiri membuat sisa-sisa rasionalitas Raynazh runtuh.
Dengan gerakan liar, Raynazh maju dan mendorong tubuh Adiba hingga wanita itu tersungkur ke atas sofa besar.
Raynazh langsung mengungkung tubuh Adiba, tangannya yang gemetar bergerak kasar mencoba menarik dan merobek sisa gaun sutra hijau yang dikenakan Adiba. Dia membutuhkan pembuktian. Jika Louis bisa menguasai wanita ini, maka dia sebagai suami sah juga harus bisa menundukkannya.
"Kau istriku! Kau menikah denganku! Jika Louis bisa menidurimu berkali-kali, maka malam ini kau juga harus melayaniku!" raung Raynazh dengan mata gelap, mencoba mencium leher Adiba dengan paksa.
Namun, Adiba tidak tinggal diam. Dengan sekuat tenaga, dia menggunakan kedua sikutnya untuk menghantam dada Raynazh, mendorong pria itu mundur dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh rasa jijik yang teramat pekat.
Adiba bangkit, merapikan gaunnya yang kembali melorot dengan tangan yang stabil, sama sekali tidak menunjukkan kepanikan seorang korban.
"Apa kau pikir aku sudi kau tiduri, Raynazh?" Adiba berkata, suaranya begitu dingin dan menusuk, penuh dengan penghinaan yang teramat dalam. "Jangankan menyentuh rahimku... seujung jarimu pun tidak akan pernah kuizinkan menempel di kulitku. Kau hanya akan membawa penyakit untuk tubuhku yang suci!"
Plak!
Sebuah tamparan keras yang sarat akan seluruh kekuatan dan kemurkaan Raynazh melayang di udara, menghantam pipi kiri Adiba dengan telak.
Sentakan itu begitu kuat hingga membuat kepala Adiba terlempar ke samping, dan tubuhnya sedikit terhuyung menabrak lengan sofa.
Keheningan seketika merayap di dalam ruangan.
Perlahan, Adiba menegakkan kembali kepalanya. Rambut hitam panjangnya yang semalam dikeringkan oleh Louis dengan begitu lembut kini berantakan menutupi sebagian wajahnya.
Di sudut bibirnya yang tipis, sebuah robekan kecil terbentuk, mengalirkan setitik darah segar berwarna merah pekat yang kontras dengan kulit wajahnya yang pucat.
Adiba tidak menangis. Dia tidak berteriak. Dia hanya mengulurkan ibu jarinya, mengusap noda darah di sudut bibirnya, lalu menatap cairan merah di jarinya itu dengan pandangan mata yang menggelap oleh kegilaan yang kian matang.
Raynazh berdiri di depannya dengan napas yang memburu berantakan, tangannya yang baru saja menampar Adiba masih gemetar hebat di udara. Rasa puas karena berhasil meluapkan amarahnya seketika bercampur dengan rasa ngeri melihat reaksi istrinya yang sama sekali tidak normal.
"Suci katamu?!" Raynazh berteriak, suaranya parau oleh tawa histeris yang getir. "Kau sudah ditiduri oleh adikku berkali-kali di Brooklyn, dan kau masih menganggap tubuhmu suci, Adiba?! Kau sudah menjadi barang bekas dari berandal jalanan itu! Kau tidak lebih dari seorang jalang yang mengotori nama baik keluargaku!"
Adiba tidak membalas makian itu dengan kemarahan. Dia justru menurunkan tangannya, menatap Raynazh dengan sepasang mata hitam yang kini tidak lagi memancarkan emosi manusia—hanya ada kekosongan yang teramat pekat, sebuah tanda bahwa pria di hadapannya telah resmi menandatangani surat kematian bagi masa depannya sendiri.
"Kau baru saja membuat kesalahan terbesar dalam hidupmu, Raynazh Leon Osborn," bisik Adiba, suaranya begitu pelan namun menggema seperti kutukan di dalam griya tawang yang dingin.
"Tamparan ini... darah ini... akan menjadi harga paling mahal yang harus kau bayar saat aku menyeretmu dan seluruh dinasti Osborn masuk ke dalam neraka."
Adiba berbalik, melangkah anggun menaiki tangga menuju lantai dua tanpa menoleh lagi, meninggalkan Raynazh yang berdiri gemetar sendirian di tengah kegelapan ruang tamu, perlahan menyadari bahwa badai yang dia sulut malam ini tidak akan pernah menyisakan apa pun dari hidupnya yang sempurna.