Aurora sudah terlihat cantik dengan riasan wajah natural flowles dan glowing. ia mengenakan gaun pengantin impiannya rancangan sahabatnya sendiri Vera.
Di sudut ruangan rias Maxime yang tak lain sahabat Aurora berdiri mengamati kecantikannya dengan takjub.
Tiba-tiba sebuah kabar buruk datang jika pengantin pria yaitu Andre tidak datang melainkan pergi tanpa kabar sejak semalam. kepanikan seketika melanda terutama Aurora sampa jatuh pingsan dan harus di tenangkan oleh teman dan keluarganya. hingga waktu yang di tentukan Andre tak juga datang. demi menyelamatkan nama keluarga besar akhirnya Maxime bersedia menikahi Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nur danovar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 21 Catherine
Max mengantar Rora ke kantornya lebih dulu ia sempat bertemu papa Antoro di lobi dan bicara sebentar.
"Pagi Max" sapa Antoro.
"Selamat pagi pa, apa kabar?" Max menjabat tangan papa Antoro seraya melepas kaca mata hitamnya.
"I'm fine and you?"
"Sama baiknya pa"
Rora merapikan dasi Maxime keduanya nampak mesra pagi ini tidak seperti biasanya yang sedikit dingin. Antoro tersenyum senang melihat Aurora dan Maxime layaknya suami istri bisa romantis.
"Sepertinya hubungan kalian baik-baik saja ya syukurlah kalau begitu" kata Antoro.
"Max duluan ya, pa Rora duluan ya ada meeting nanti Vera bisa marah kalau Rora telat"
"Oke, aku mau bicara sebentar sama papa" kata Max.
Aurora mengangguk lalu melangkah pergi ke ruang kerjanya.
"Ada apa Max?" Antoro mengamati wajah gelisah Maxime.
"Andre telah kembali pa dan kemarin sempat menemui Rora, apa papa tahu?"
"Oh jadi begitu, tapi papa tidak tahu kalau Andre kembali. untuk apa lagi dia menemui Aurora?"
"Saya rasa dia mau menghasut Rora untuk kembali padanya pa bahkan Andre mengatakan pada Rora jika saya yang menjebaknya"
"Menjebak untuk apa?" tanya papa heran.
"Untuk mendapat cinta Aurora dan merebut Aurora dari tangan Andre"
"Papa percaya kau tidak mungkin melakukan itu Max, nanti papa akan nasehati Aurora"
"No..no, tidak perlu pa Rora sudah memutuskan untuk bersama saya dia tidak akan kembali pada Andre"
"Good, kalau begitu kau harus berhati-hati kedepannya. pasti Andre punya rencana karena kau telah memutus kerja sama dengan perusahaannya hingga perusahaan itu kolaps"
"Baik pa, kalau begitu saya pergi dulu" kata Max sambil melihat jam tangannya.
"Oke Max, see you"
Maxime pergi mengendarai mobilnya menuju perusahaan utamanya yang bergerak di bidang otomotif. di lampu merah Max menghentikan laju mobilnya ia memandang sekeliling sambil menunggu lampu berubah warna hijau. pandangan Max terhenti pada anak sekolah menengah yang berboncengan motor. ia mengenal betul gadis yang membonceng motor itu.
"Catherine?" Max membuka kaca mobilnya tapi lampu sudah hijau. Max segera melajukan mobilnya nanti saja ia akan bertanya pada Catherine kenapa ke sekolah naik motor.
Setibanya di perusahaan Max berjalan dengan langkah cepat menuju ruang CEO. di perusahaan otomotif miliknya semua lebih ketat dan tertata. sistem kerja berbeda dengan perusahaannya yang bergerak di bidang makanan dan minuman.
Semua karyawan berdiri menyapa ketika melihat CEO mereka datang.
"Selamat pagi pak!" sapa semua pekerja serentak.
"Pagi semua, selamat bekerja" kata Max sembari mengangguk dan tetap berjalan menuju ruang kerjanya.
Wisnu bergegas menuju ruang kerja bosnya ia membawa setumpuk dokumen untuk di pelajari Maxime.
"Bos, mood anda sepertinya sedang baik?" tanya Wisnu basa basi sembari meletakan tumpukan dokumen di atas meja kerja Maxime.
Maxime melirik tajam asistennya yang sok tahu dan sok akrab itu.
"Maaf bos maksud saya, selamat pagi dan ini ada dokumen yang harus anda pelajari"
"Dokumen apa ini?"
"Kerja sama dengan perusahaan Hendri bos"
Maxime sengaja menyetujui kerja sama dengan perusahaan Hendri karena ia ingin tahu apa yang sedang Hendri dan Andre rencanakan untuk menghancurkan perusahaannya.
"Wisnu pesankan saya Americano"
"Sudah bos" Wisnu menunjuk segelas Americano di atas meja Maxime.
"Kalau itu dingin saya tidak mau meminumnya!" kata Max kesal.
"Masih panas bos"
Max meraih gelas kopi berlogo nama cafe terkenal. ia menyesap kopi itu perlahan dan menikmati rasa pahitnya yang menjalar di lidah.
"Oh ya siang ini kau pergi ke sekolah .."
"Ke sekolah bos? tapi saya sudah lulus sekolah bos, bahkan saya sarjana"
Maxime menghela napas samar ia menahan emosinya untuk tidak menyiram Wisnu dengan segelas kopi yang ia pegang.
"Pergi ke Global School jemput Catherine antar dia pulang"
"Oh jemput mba Catherine, siap bos"
***
Wisnu pergi ke Global School menjemput Catherine sesuai perintah Maxime. ia menunggu di depan gerbang sekolah saat jam pelajaran telah usai.
"Mbak Catherine!" Wisnu dengan senyum sumringah melambaikan tangan pada Catherine.
Catherine segera berlari ke arah Wisnu yang menunggunya.
"Mas Wisnu kog disini sih?"
"Bos Maxime yang suruh jemput mbak"
"Kak Maxime?"
"Iya, ayo pulang"
Catherine menatap seseorang yang sedang menunggunya juga di parkiran sekolah menaiki motor Ducati hitam menatap ke arahnya.
"Ayo mbak! saya harus segera kembali ke kantor ada meeting dengan bos Maxime"
Catherine menurut meski ia kesal pada Maxime karena tiba-tiba menyuruh Wisnu untuk menjemputnya.
"Mas Wisnu kan sibuk lain kali jangan mau kalau disuruh jemput saya"
"Loh jangan mau bagaimana mbak? nanti bos bisa pecat saya dong kalau saya menolak perintahnya" kata Wisnu sambil mengemudi.
Catherine hanya diam ia sibuk dengan ponselnya tidak tertarik mengobrol dengan Wisnu.