Dikejar tenggat waktu menikah oleh sang nenek, Sari Maheswara CEO kaya raya yang dingin dan perfeksionis. Mobilnya mogok di dekat pasar subuh. Namun, kesialan itu membawanya bertemu dengan Arka, seorang duda tampan penjual kue basah yang karismatik. Hanya dengan sebutir kue klepon buatan Arka, lidah dan hati Sari langsung meleleh.
Terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, Sari dengan angkuh menyodorkan Black Card-nya untuk membeli seluruh dagangan, gerobak, sekaligus sang penjual! Bukannya tergiur, Arka yang berprinsip justru menolak mentah-mentah keangkuhan sang CEO.
Penolakan itu malah menyulut jiwa kompetitif Sari. Demi menaklukkan hati sang duda, Sari rela menanggalkan gengsinya: bangun jam 4 subuh, menerjang beceknya pasar dengan high heels, hingga berebut kue dengan emak-emak berdaster. Meski Arka berulang kali memintanya mundur karena perbedaan kasta dan status dudanya, Sari justru makin tertantang untuk membuktikan bahwa cinta sejatinya tidak bisa dibeli melainkan diperjuangkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Pesawat jet pribadi yang membawa Sari Maheswara mendarat di Bandara Soekarno-Hatta tepat tengah malam.
Begitu roda pesawat menyentuh aspal, Sari langsung bergerak cepat.
Ia memotong paksa sisa jadwal pertemuannya di Singapura demi satu ambisi yang mendesak di dadanya.
Tanpa berniat pulang ke rumah untuk berganti pakaian, apalagi mampir ke kantor Maheswara Group, Sari melangkah keluar dari area bandara dengan setelan jas formal yang masih melekat sempurna.
Sepatu high heels mahal berlogo desainer ternama berbunyi ketukan ritmis di atas lantai marmer, menegaskan aura kepemimpinannya yang tak tergoyahkan.
Malam itu, atmosfer Jakarta begitu sunyi dan tenang. Namun, kesunyian ibu kota berbanding terbalik dengan gemuruh di dalam dada Sari.
Sepanjang perjalanan di dalam mobil jemputan, jemarinya meremas tas Hermes erat-erat.
Jiwa perfeksionisnya tidak siap, dan tidak akan pernah siap, untuk menerima penolakan ketiga kalinya dari seorang pria—terutama dari seorang
penjual kue basah.
Pukul tiga lebih ia menunggu di Kegelapan Pasar
Sari sengaja datang jauh lebih awal.
Saat mobilnya berhenti di tepi jalan raya, suasana Pasar Subuh masih sangat sepi, gelap, dan diselimuti kabut tipis sisa hujan semalam. Lapak kayu milik Arka yang berada di sudut pasar tampak kosong melompong, menyisakan ruang hampa di bawah temaram lampu jalan.
Dengan langkah ragu namun dipaksakan, Sari turun dari mobil.
Sepatu hak tingginya langsung disambut oleh permukaan tanah pasar yang becek, licin, dan digenangi air kotor.
Bau tajam khas bumbu dapur, sayuran membusuk, dan aroma amis dari los ikan langsung menusuk indra penciumannya yang biasa dimanjakan oleh wewangian aromaterapi mewah.
Sari berdiri sendirian di sudut lapak itu, melipat tangan di dada untuk menghalau angin malam yang menusuk tulang.
Kehadirannya yang mencolok—seorang wanita glamor berpakaian kantoran kelas atas di tengah pasar kumuh—jelas mengundang perhatian. Beberapa kuli angkut yang mulai berdatangan memandangnya dengan tatapan heran dan berbisik-bisik.
Namun, Sari mengabaikan semuanya. Baginya, bertahan di tempat kumuh ini adalah harga mati yang harus ia bayar demi memenangkan "pertempuran" melawan prinsip keras kepala sang penjual kue.
Tepat pukul empat subuh, suara deru mesin sepeda motor bebek yang khas memecah keheningan.
Sari menoleh tajam. Dari kegelapan, muncul Arka yang mengendarai motornya dengan perlahan.
Di bagian jok belakang, tampak bronjong besi dan beberapa kotak besar yang penuh sesak dengan berbagai macam kue basah dagangannya.
Arka memarkirkan motornya dengan cekatan. Namun, gerakan tangan Arka mendadak terhenti saat matanya menangkap sosok wanita yang berdiri tegak di samping lapak kayunya.
Bukannya merasa tersanjung atau menyambut kehadiran sang CEO dengan ramah, rahang Arka justru seketika mengencang.
Trauma masa lalu tentang Niken dan Baron kembali berputar di benaknya.
Di mata Arka, kehadiran Sari dengan pakaian mahalnya tak ubahnya seperti jenis wanita kaya yang hobi mengatur, memamerkan kedudukan, dan merasa bisa membeli harga diri orang lain dengan uang.
Tatapan mata Arka yang biasanya teduh langsung berubah menjadi sedingin es.
Tanpa memedulikan Sari, Arka mulai menurunkan kotak-kotak kuenya dan menatanya di atas tampah satu per satu. Gerakannya tenang namun tegas.
Sari yang merasa diabaikan baru saja hendak membuka suara untuk mencairkan suasana.
Namun, belum sempat satu kata pun keluar dari bibirnya, Arka sudah berbalik badan.
Dengan suara bariton yang tajam, dalam, dan mengintimidasi, sang duda langsung mengusir Sari tanpa basa-basi:
"Tempat ini bukan untuk Anda. Pulanglah, Mbak. Saya tidak menerima pembeli yang ingin pamer kekuasaan."
Alih-alih mundur karena diusir secara kasar di depan umum, jiwa kompetitif Sari justru meledak.
Kata "mundur" tidak pernah ada dalam kamus hidup seorang Sari Maheswara.
Alih-alih merasa terhina, penolakan dingin dari Arka justru menjadi bahan bakar yang membakar habis sisa-sisa rasa gengsinya.
Sari mengambil langkah maju yang berani. Ia memangkas jarak di antara mereka hingga tidak ada ruang lagi untuk menghindar.
Di bawah temaram lampu gantung lapak yang bergoyang ditiup angin subuh, jarak mereka begitu dekat hingga aroma parfum mahalnya yang elegan beradu sengit dengan wangi pandan murni yang menguar dari kotak kue milik Arka.
Dengan dagu terangkat dan mata yang berkilat penuh tekad, Sari membalas tatapan tajam Arka dengan tegas tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Aku tidak akan pergi!" seru Sari, suaranya lantang, menantang wibawa sang duda.
"Aku datang ke sini sebagai pembeli yang sah, dan aku berhak memborong semua kue kamu dengan caraku! Kamu tidak bisa melarang orang yang mau menghabiskan daganganmu, Arka!"
Arka hanya menatapnya datar, tidak terkesan dengan gertakan sang CEO.
"Saya sudah bilang kemarin, Mbak. Saya tidak menerima—"
Belum sempat Arka menyelesaikan kalimatnya, seorang ibu-ibu paruh baya dengan daster batik dan dompet kain di tangan melangkah mendekati lapak.
Matanya berbinar melihat kue mangkok dan klepon yang baru saja ditata setengah jalan oleh Arka.
"Mas Arka, untung belum kesiangan! Saya mau beli kleponnya dua puluh biji, ya, buat acara arisan RT pagi ini," ujar ibu tersebut dengan ceria, langsung merogoh dompetnya.
Sebelum tangan Arka sempat bergerak mengambil penjepit makanan, Sari sudah lebih dulu menggeser tubuhnya, menghalangi pandangan sang pembeli.
Dengan senyum profesional yang dipaksakan namun tampak sangat meyakinkan, Sari memotong pembicaraan.
"Maaf, Bu. Kue di lapak ini sudah habis. Semuanya sudah laku terjual," ucap Sari dengan nada tenang namun mutlak.
Ibu berdaster itu mengerutkan kening, menatap bergantian ke arah Sari yang berpakaian terlalu formal untuk ukuran pasar subuh, lalu ke arah Arka yang masih memegang tampah kue.
"Lho? Tapi itu kuenya masih penuh di dalam kotak, Mbak? Kok dibilang habis?"
"Sudah saya borong semuanya tanpa sisa, Bu. Jadi, silakan Ibu cari di lapak lain saja," jawab Sari cepat, merapatkan posisinya di depan gerobak seolah-olah ia adalah pemilik sah dari seluruh makanan manis di sana pagi itu.
Arka baru saja hendak memprotes tindakan sewenang-wenang Sari ketika rombongan pembeli lain mulai berdatangan.
Dua orang ibu-ibu yang tampaknya merupakan pelanggan setia Arka ikut mendekat dengan tergesa-gesa, takut kehabisan kue legendaris tersebut.
"Mas Arka! Saya kue cucurnya sepuluh, sama nagasari sepuluh ya!" seru salah satu dari mereka dari balik punggung Sari.
Sari kembali membalikkan badannya dengan sigap. Kali ini, ia memasang wajah tegas layaknya seorang bos yang sedang mengamankan aset perusahaannya.
"Tidak bisa, Bu. Seperti yang saya katakan tadi, lapak ini sudah tutup karena semua kuenya sudah laku. Saya sudah membeli seluruh isi gerobak ini," tegas Sari, melipat tangannya di dada demi memperkuat argumennya.
"Eh, Mbak ini siapa, sih? Kok hobi banget menyerobot antrean orang? Kami ini langganan di sini tiap subuh!" protes pembeli itu, mulai kesal karena jalannya dihalangi oleh wanita ber-akun high heels yang tampak salah tempat tersebut.
"Saya pembeli pertama hari ini, dan saya punya hak penuh atas apa yang sudah saya bayar," balas Sari tidak mau kalah.
Matanya melirik tajam ke arah Arka, menantang pria itu untuk membuka suara dan membelanya.
Suasana di depan lapak Arka mendadak berubah menjadi tegang dan bising oleh riuh rendah protes para emak-emak yang merasa hak sarapan mereka dirampas secara sepihak oleh sang CEO kaya raya.
klo mas duda menolak cinta sih 1000 : 1...
di dunia kita laki2 tu ibarat kucing garong...ikan asin bejejer j di cuntan makinya awewe bungas ✌️✌️✌️🤎