NovelToon NovelToon
Mekanik Rongsokan Menaklukkan Galaksi

Mekanik Rongsokan Menaklukkan Galaksi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Ketika langit malam berkedip dan suara mekanis yang dingin bergema di benak miliaran manusia, Bumi tidak lagi sama. Kiamat tidak datang membawa api dari neraka atau wabah mematikan, melainkan sebuah layar biru transparan yang melayang di udara.
​Era damai telah dihancurkan oleh "Sistem". Manusia secara paksa ditarik ke dalam arena kelangsungan hidup semesta, di mana monster bermunculan dari bayang-bayang dan hukum rimba menjadi satu-satunya aturan. Beradaptasi, berevolusi, atau mati.
​Yudha, seorang mekanik penyendiri yang lebih nyaman berbicara dengan mesin daripada manusia, secara tidak sengaja meretas anomali sesaat sebelum kiamat dimulai. Berkat sebuah kubus hitam misterius yang ia temukan di pasar loak, Sistem salah mengidentifikasinya dan memberikannya kelas yang belum pernah tercatat dalam sejarah integrasi: Mekanik Kosmik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Peluru Magma dan Keangkuhan yang Runtuh

​BOOOOM!

​Suara letusan dari laras Meriam Genggam Penghancur Formasi tidak terdengar seperti tembakan senjata api, melainkan seperti gunung berapi yang meledak tepat di samping telinga. Gelombang tolak balik dari tembakan itu begitu kuat hingga membuat pijakan logam di bawah kaki Yudha penyok ke dalam, namun pemuda itu tidak bergeser satu sentimeter pun.

​Dari laras heksagonal yang membara, sebuah bola energi merah pekat seukuran kepala manusia melesat keluar. Kecepatannya jauh melampaui peluru senapan runduk, membelah udara pagi dan menciptakan jejak hampa udara yang terbakar di belakangnya.

​Di batas radius satu kilometer, Dirgantara yang sedang melayang dengan angkuhnya tiba-tiba merasakan hawa kematian yang luar biasa pekat mencengkeram jantungnya. Insting bertahan hidupnya yang membawanya ke Peringkat Pertama Papan Wilayah menjerit keras.

​"Perisai Badai!" raung Dirgantara, kepanikan sekejap merusak wibawanya.

​Ia menyatukan kedua tangannya. Pusaran angin di sekelilingnya seketika memadat, membentuk dinding puting beliung setebal dua meter di depannya. Puluhan petarung elit Serikat Langit Putih di belakangnya yang belum menyadari bahaya hanya bisa menatap bingung.

​Detik berikutnya, peluru magma itu menghantam Perisai Badai Dirgantara.

​BZZZZ-TRANG!

​Dinding angin itu berhasil menahan laju peluru magma selama sepersekian detik. Dirgantara menyeringai, mengira ia telah menahan serangan terkuat lawannya. Namun, ia tidak tahu bahwa kemampuan aktif meriam buatan Yudha bukan hanya menembus, melainkan meledak.

​Peluru magma itu kehilangan stabilitas saat berbenturan dengan angin, dan langsung memicu efek destruktifnya.

​DUAAAAARRRR!

​Ledakan radius sepuluh meter tercipta di udara. Suhu ribuan derajat Celcius tumpah ruah. Perisai badai Dirgantara hancur berkeping-keping. Pria itu terhempas ke belakang layaknya layang-layang putus, memuntahkan darah segar dari mulutnya.

​Namun, yang paling mengerikan adalah nasib barisan depan pasukannya.

​Lebih dari empat puluh elit Serikat Langit Putih—manusia-manusia Tingkat 3 dan 4 yang menjadi kebanggaan fraksi—menguap seketika di pusat ledakan. Zirah pelindung, senjata, hingga tulang belulang mereka meleleh tanpa sisa. Gelombang kejut panasnya melempar puluhan orang lainnya ke aspal dalam kondisi luka bakar parah yang mengerikan. Tandu baja dan monster banteng penariknya hangus menjadi arang.

​Keheningan yang mencekam langsung menyelimuti jalan raya itu. Teriakan keangkuhan berubah menjadi erangan kesakitan yang memilukan. Satu tembakan. Hanya satu tembakan, dan seperlima pasukan terkuat di kota itu musnah.

​Di atas tembok Tatanan Besi Hitam, Lin Tian, Lin Chen, dan Bara menelan ludah. Keringat dingin menetes di dahi mereka melihat daya hancur senjata di tangan ketua mereka.

​Yudha menurunkan laras meriamnya yang kini mengeluarkan asap putih mendesis. Sisa dua tembakan, namun ia tidak berniat menggunakannya sekarang.

​Di kejauhan, Dirgantara bangkit dengan susah payah dari aspal yang retak. Pakaian putihnya kini hangus sebagian, wajahnya dipenuhi jelaga dan darah. Sorot matanya yang sebelumnya dipenuhi arogansi kini digantikan oleh kemarahan binatang yang terluka.

​"YUDHAAA!" raung Dirgantara, suaranya pecah. "KAU MEMBANTAI PASUKANKU DENGAN SENJATA PENGECUT! SEMUANYA, MAJU! SENJATA SEPERTI ITU PASTI MEMBUTUHKAN WAKTU PENGISIAN ULANG! SERBU BENTENGNYA, CINCANG DIA JADI RATUSAN BAGIAN!"

​Kehilangan akal sehat karena amarah dan rasa malu, Dirgantara memimpin sisa pasukannya yang berjumlah sekitar seratus lima puluh orang untuk menyerbu masuk ke dalam radius satu kilometer.

​Melihat musuh terpancing masuk ke zona kematiannya, Yudha tersenyum miring.

​"Benar, meriam ini butuh jeda," gumam Yudha pelan. Ia menoleh ke arah ketiga muridnya. "Tapi siapa bilang meriam ini adalah pertahanan utama kita?"

​Begitu ratusan pasukan Langit Putih melintasi perbatasan satu kilometer, kaki mereka tiba-tiba terasa berat. Napas mereka tersengal, dan tenaga di tubuh mereka seolah tersedot paksa.

​"Tubuhku... kenapa tiba-tiba berat sekali?!" jerit salah satu komandan Langit Putih.

​"Perangkap! Wilayah ini menguras energi kita!"

​Efek pasif Benteng Penekan aktif sepenuhnya, memotong 20% atribut fisik seluruh pasukan musuh.

​"Menara Lontar, aktifkan mode penekanan area," perintah Yudha dingin.

​TRANG-TRANG-TRANG-TRANG!

​Badai paku baja kembali meledak dari atas tembok, menyapu barisan musuh yang kini bergerak lebih lambat dari sebelumnya. Puluhan anggota Langit Putih bertumbangan di tengah jalan raya, tertembus paku seukuran lengan.

​Namun Dirgantara tidak peduli pada kematian anak buahnya. Ia menggunakan sisa pasukannya sebagai tameng daging. Mengandalkan energi angin yang melilit kakinya, ia melesat menghindari hujan peluru baja, bergerak dengan kecepatan gila langsung menuju tembok benteng setinggi sepuluh meter itu. Matanya terkunci pada Yudha.

​"Ketua, dia datang!" peringat Lin Tian, memutar tombaknya.

​Yudha melempar rantai meriam beratnya ke lantai tembok, lalu memutar lehernya hingga berderak. Atribut Kekuatan dan Agilitasnya yang baru saja dinaikkan seolah meronta ingin diuji coba.

​"Matikan Menara Lontar," titah Yudha. Suara desingan paku baja berhenti. "Lin Tian, Lin Chen, Bara. Turun ke bawah. Habisi sisa anjing-anjing cacat di jalanan itu."

​"Siap, Ketua!"

​Ketiga petarung Tatanan Besi Hitam itu melompat turun dari tembok, langsung menyergap ke tengah sisa pasukan musuh dengan kebrutalan sekte bela diri.

​Yudha melangkah ke tepi tembok. Pendaran merah pada Lengan Baja Peleburnya kembali menyala. Ia menatap lurus ke arah Dirgantara yang kini melompat tinggi menggunakan pijakan angin, mencoba menembus pertahanan udara benteng.

​"Mari kita lihat, apa peringkat pertama regional ini pantas berada di atas namaku," seringai Yudha.

​Ia memusatkan energinya ke kaki, menolak logam dinding, dan melesat menyongsong Dirgantara di udara.

1
REY ASMODEUS
lanjut thor
Aisyah Suyuti
good
REY ASMODEUS
karya ini menarik untuk dinanti kelanjutannya. petualangan di dunia apocalipse sungguh membawa aroma baru untuk kalian yang haus ketegangan dan pertempuran epik. 10 Jempol untuk karya terbarumu othor badhot
REY ASMODEUS: othornya salh 🤣🤣🤣. othor bhodat
total 1 replies
REY ASMODEUS
i like it
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!