NovelToon NovelToon
Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Showbiz / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: daehwi25

Cikar Bobrok Berjalan Juga, Kerasnya batu jika selalu diteteskan air akan Berlubang juga, Waiting Tresno Jalaran Soko
Kulino.

Itulah landasan Seorang Nadya Marlynda Sismoko Tetap menancapkan cintanya kepada si kapten tentara tampan nan gagah Rexsaka Pramuja anak dari sopir pribadi keluarganya, Meski Tidak Mendapatkan Balasan yang sama. Ditengah penolakan dan sikap profesionalnya Rexsaka yang menganggap Nadya hanya sebagai nona majikannya, berbagai sarkas yang di lontarkan Rexsaka seolah merendahkan Nadya, membuat Nadya menjauh namun tak kunjung membuat Nadya jenuh untuk menaklukkan dinginnya puncak Everest itu.

" Lo memang cegil sejati Nad, Lo tau betapa dinginnya rexsaka itu, kenapa Lo gak menyerah juga jadi bucinnya sih"

"Asal Lo tau Ris, Cegil Nama tengah gue dan bucin nama belakang gue, gue gak akan menyerah"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daehwi25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Mobil Rexsaka berhenti tepat di depan gerbang kediaman megah keluarga Sismoko. Begitu turun dari kendaraannya, pria itu melangkah perlahan mendekati jeruji besi gerbang, melayangkan pandangan tajamnya ke arah area parkir dalam rumah milik pengusaha nomor satu tersebut demi memastikan sesuatu, bahwa Range Rover Velar putih mutiara milik Nadya telah terparkir dengan aman di sana.

​"Kenapa, Ka?" sapa Pak Supri, satpam kediaman Sismoko yang tengah berjaga. Ia tampak heran melihat putra dari rekan kerjanya itu berdiri sendirian di luar gerbang sambil mengamati situasi di dalam.

​Rexsaka menarik kembali tatapannya, lalu mengangguk sopan dengan wajah datar andalannya. "Enggak pa-pa, Pak. Kalau begitu, Saka pamit dulu."

​"Nyari Tuan Besar? Semua orang masih di rumah kok, Non Nadya juga baru aja masuk," jelas Pak Supri ramah, mengira pemuda itu sedang ada keperluan dengan majikannya.

​"Nggak jadi, Pak, nanti saja. Ya sudah, Saka pamit dulu," ulang Rexsaka sekali lagi.

​Ia membalikkan badan, melangkah kembali ke mobilnya, lalu melajukan kuda besi itu membelah jalanan. Pak Supri hanya bisa menatap kepergian mobil Rexsaka dengan kening berkerut heran.

​"Pemuda yang aneh," gumam satpam paruh baya itu menggeleng-gelengkan kepala, sebelum akhirnya kembali menyeruput kopi hitamnya yang masih mengepul hangat.

Sementara itu, di sebuah bangunan yang berdiri di sudut sepi, yang lebih cocok disebut sarang kriminal ketimbang tempat tinggal, suasana tampak begitu pekat dan intimidatif. Belasan pemuda berpenampilan sangar tampak berjaga di setiap sudut. Beberapa di antaranya mondar-mandir dengan tatapan waspada, sementara yang lain berkerumun di tengah ruangan, dikelilingi botol-botol minuman keras yang berserakan.

​Keheningan tempat itu mendadak pecah oleh raungan amarah yang menggelegar.

"TOLOL!"

​Suara berat itu menghempas dinding ruangan, disusul makian penuh penghinaan. "Percuma Lo gue bayar mahal, kalau menangkap satu wanita saja Lo tidak becus!"

​"Maaf, Bos. Saya hampir berhasil membawa gadis itu," kilah pria yang kini tertunduk dengan tubuh gemetar, mencoba membela diri di bawah tatapan mengintimidasi sang atasan. "Tapi tiba-tiba, ada seseorang yang menghadang dan memojokkan mobil saya"

​"Seseorang?" Pria yang dipanggil 'Bos' itu menyipitkan mata, nada suaranya mendadak turun, berubah menjadi bisikan yang jauh lebih berbahaya. "Siapa?"

"Saya tidak tahu pasti, Bos. Tapi dia pria berpostur tinggi tegap, pembawaannya sangat tegas seperti seorang polisi atau tentara. Dan... wajahnya juga cukup tampan," jawab anak buahnya terbata-bata, mencoba mengingat siluet pria yang menggagalkan rencana mereka.

​Mendengar penuturan itu, Arnold bergeming. Alih-alih meledak marah, seringai sinis justru perlahan terbit di sudut bibirnya. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, memutar-mutar gelas berisi cairan pekat di tangannya hingga es batu di dalamnya berdenting pelan. Sorot matanya yang semula sebuas elang kini berubah tenang, namun menyimpan kilat kelicikan yang jauh lebih mematikan.

​"Polisi? Tentara?" Arnold terkekeh rendah, suara tawa yang sanggup membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya meremang. "Menarik. Ternyata anjing penjaga keluarga Sismoko sudah mulai menggonggong."

Hanya dengan mendengar kata 'tentara', sebuah nama langsung terlintas di kepala Arnold. Nama yang teramat ia benci setengah mati.

​"Rexsaka..." desis Arnold, menyebut nama itu dengan nada yang sarat akan dendam yang mendidih. "Dulu dan kemaren lo boleh menang. Tapi kali ini, gue pastikan lo bakal hancur berkeping-keping di tangan gue."

​Dendam kesumat itu telah bersarang layaknya benalu di dada Arnold selama tiga tahun lamanya. Gara-gara Rexsaka, ia harus mendekam di balik jeruji besi pada usia yang masih sangat muda. Dan meski ayahnya, Budi Mahesa, pada akhirnya berhasil menyeretnya keluar dari penjara, kebebasan itu harus dibayar mahal. Siksaan dan didikan kejam yang diberikan Budi Mahesa kepadanya setelah kejadian itu justru jauh lebih jahanam ketimbang dinginnya lantai penjara, sebuah luka batin yang terus menganga dan menuntut pembalasan yang setimpal.

Arnold menoleh ke arah anak buahnya yang masih berlutut gemetar di atas lantai beton yang dingin. "Bawa masuk," perintahnya dingin kepada penjaga yang berdiri di ambang pintu.

​Dua pria bertubuh kekar segera melangkah masuk. Salah satu dari mereka menenteng sebuah botol kaca tanpa label, sebuah benda misterius yang isinya sudah dipahami luar biasa oleh semua orang di ruangan itu sebagai racun yang mematikan.

​"Cekoki dia, lalu buang," titah Arnold kejam tanpa berkedip.

​"Bos... Bos! Ampun, Bos! Beri saya satu kesempatan lagi, Bos!" ratap pria itu histeris. Ia merangkak pasrah mendekati Arnold, mencoba berlutut dan meraih ujung celana sang bos demi menyambung nyawanya.

​"Kesempatan?" Arnold mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap pria itu dengan pandangan sarat penghinaan. "Asal lo tahu, nggak ada kata kesempatan kedua di dalam kamus gue."

​Tanpa belas kasihan, Arnold menyentak kakinya, menendang dada pria itu hingga terjungkal ke belakang.

​Setelah melepaskan tendangan itu, Arnold bangkit berdiri dengan santai. Ia merapikan kerah jaketnya yang sedikit bergeser, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan tanpa menoleh lagi. Di belakangnya, jeritan histeris pria itu langsung teredam saat kedua algojo menekan tubuhnya ke lantai, mencekokinya paksa dengan cairan dari botol kaca tersebut.

​Tak butuh waktu lama bagi racun itu untuk bekerja. Tubuh pria itu mendadak kejang-kejang hebat, menggelepar di atas lantai bak ikan yang kehabisan oksigen di daratan. Busa putih mulai keluar dari sela-sela bibirnya yang membiru. Setelah beberapa detik yang menyiksa, tubuhnya perlahan melemas, menyisakan keheningan mencekam bersama hilangnya kesadaran, atau mungkin, hembusan napas terakhirnya.

Berbeda jauh dari atmosfer berdarah dan mencekam di sarang kriminal milik Arnold, suasana di sudut lain kota justru memancarkan ketenangan yang sarat akan wibawa. Didalam sebuah ruangan luas ditata dengan presisi militer yang kaku, bendera Merah Putih berdiri tegak di sudut ruangan, bersanding dengan deretan piagam penghargaan dan lambang bintang emas yang berkilat di balik lemari kaca, menegaskan kuasa dan wibawa mutlak sang pemilik meja.

​Sementara di atas meja kerja berbahan kayu jati tua, sebuah papan nama kuningan terukir gagah, menampilkan nama sang pemilik takhta dengan tinta emas tebal, Jenderal Bagus Santoso, lengkap dengan deretan gelar mentereng yang disandangnya.

"Tidak bisa, Ndy. Ini instansi negara, bukan perusahaan keamanan swasta yang personelnya bisa kamu minta dan sewa sembarangan. Kami bekerja untuk negara, terikat oleh sumpah dan aturan," tolak Bagus tegas, menyilangkan tangan di dada.

​"Tapi, Gus... Ayolah, bantu aku sebagai teman. Ini masalah hidup dan mati. Anakku dalam bahaya besar sekarang," pinta Andy dengan nada memelas, guratan kecemasan tercetak jelas di wajah paruh bayanya.

​Bagus mengembuskan napas berat, menatap sahabat lamanya itu dengan pandangan menyindir. "Tapi apa kau tidak punya urat malu? Dulu saja kau sama sekali tidak menghargainya, padahal dia sudah dan hampir mempertaruhkan karirnya dulu untuk menolong anakmu."

​"Aku memang malu, Gus. Tapi aku harus bagaimana lagi?" Andy menunduk, meremas kedua tangannya yang gemetar. "Hanya dia satu-satunya orang yang bisa menjamin keselamatan anakku. Aku sudah mengerahkan seluruh bodyguard terbaik dan terpercaya untuk menjaga Nadya, tapi musuh tetap bisa melukainya. Aku yakin, Rexsaka adalah benteng terakhir agar anakku tetap aman."

Bagus mengembuskan napas berat. Sebagai seorang sahabat, nuraninya terusik oleh rasa iba melihat keterpurukan Andy, jika posisi mereka dibalik, ia tahu ia pun akan menghalalkan segala cara demi melindungi darah dagingnya sendiri. Namun, sebagai seorang perwira tinggi dan abdi negara, ia tidak bisa serta-merta melangkahi hukum demi kepentingan pribadi. Ada sumpah jabatan dan beban tanggung jawab besar yang harus ia pertanggungjawabkan di pundaknya.

"Maaf Ndy aku tidak bisa membantumu kali ini" ucap Bagus, menatap langsung ke manik mata sahabatnya dengan sorot bersalah yang tertahan. "kalau kau mau, minta lah bantuan padanya secara pribadi untuk menjaga putrimu tapi bukan sebagai pengawal pribadi"

Hal itu terasa mustahil bagi Andy. Egonya terlampau tinggi untuk merendahkan diri dan mengemis pada pemuda itu. Baru kemarin Rexsaka menolak mentah-mentah tawarannya untuk menjadi pengawal pribadi Nadya, dan kini ia harus menjilat ludah sendiri demi mengulang permintaan yang sama? Rasanya seperti menelan duri bagi seorang Andy Sismoko.

​"Ya sudah, aku pamit dulu, Gus. Maaf sudah mengganggumu," ucap Andy, bangkit dari kursinya.

​Bagus ikut berdiri, menepuk pundak sahabatnya itu dengan hangat. "Tidak ada kata mengganggu untuk seorang sahabat, Ndy."

​Setelah berpamitan, Andy melangkah keluar dari ruangan sang jenderal. Ia berjalan menyusuri koridor markas yang bernuansa militer kaku. Meski kepalanya dipenuhi kecemasan tentang sang putri, Andy tetaplah seorang pengusaha nomor satu yang disegani, sorot matanya tetap tajam, memancarkan aura wibawa dan karisma mengintimidasi yang tak bisa disembunyikan.

​Langkah kakinya mendadak terhenti saat sosok pemuda tegap yang baru saja dibicarakannya muncul di ujung lorong, berjalan ke arahnya.

​"Saka," panggil Andy. Suaranya terdengar berat, dingin, dan penuh penekanan, memecah kesunyian koridor saat manik matanya beradu lurus dengan tatapan sedingin es milik Rexsaka, menciptakan benturan ketegangan tak kasat mata di antara dua pria berkarakter kuat tersebut.

1
falea sezi
uda g lanjut kah thor😕
falea sezi
ada rahasia apa
falea sezi
saka 😒 g tau diri lu ya 😒 coba ayah lu g di tolongin bisa metong dia 😒
falea sezi
bodoh bilang ke orang tua lo bego😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!