Wang Chan hanyalah pemuda biasa dari Desa Hitam. Berkali-kali ditolak oleh sekte karena bakat rendah dan kekuatan lemah.
Namun saat desa mereka dihancurkan oleh monster iblis, ia tak punya pilihan selain melarikan diri sambil membawa seorang teman wanitanya.
Di tengah dunia kultivasi yang kejam, Wang Chan harus bertahan hidup dengan kekuatan yang nyaris tak berarti. Dari pelarian putus asa itulah, takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Gairah Liu Chiyang
Handuk Liu Chiyang jatuh.
Kain putih tipis itu meluncur dari tubuhnya seperti air terjun kecil, jatuh ke lantai dengan suara lembut yang nyaris tak terdengar.
Tubuhnya yang mulus terekspos sepenuhnya di hadapan Wang Chan.
Kulit Liu Chiyang putih bersih, hampir berpendar di bawah cahaya matahari sore yang masuk lewat jendela. Tidak ada satu pun cela di sana.
Dari lehernya yang jenjang, hingga tulang selangkanya yang indah, puncak kembarnya yang montok dengan dua puting merah muda yang sudah tegang karena dingin atau mungkin karena sesuatu yang lain.
Perutnya rata, pinggangnya ramping, dan di bawah sana, dua paha panjang yang mulus merapat sempurna.
Wang Chan tidak bisa berpaling. Matanya seperti terpaku pada pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat.
Liu Chiyang kemudian turun dari kursi. Tubuhnya jatuh dengan ringan ke lantai, seperti daun yang gugur dari pohon.
Ia menggeliat kepanasan di atas anyaman bambu yang dingin, tubuhnya berguling-guling perlahan, tanpa malu, tanpa sadar akan ketelanjangannya.
Rambut hitam panjangnya bertebaran di lantai seperti tinta tumpah.
Liu Chiyang sepenuhnya telanjang, tapi masih merasa kepanasan.
Wajahnya merah, napasnya pendek dan panas, dan dari sekujur tubuhnya keluar uap tipis seperti air yang mendidih.
Wang Chan perlahan berpikir apa yang terjadi. Dengan tangan gemetar, ia meraih botol pil yang sebelumnya.
Botol kayu kecil itu masih terasa hangat di tangannya. Ia membuka tutupnya, menuangkan isinya ke telapak tangan.
Pil yang tersisa di dalam botol itu berbeda. Warnanya hijau pucat, seperti Pil Penyempurnaan Jiwa yang ia kenali.
Bukan pil yang ia berikan pada Liu Chiyang.
"Tunggu... ini Pil Penyempurnaan Jiwa. Lalu yang Kak Liu makan pil apa!?"
Wang Chan mengerjap. Kenangan tentang pedagang di pasar kembali.
Pria itu memasukkan pil lain ke dalam botol, katanya sebagai bonus. Wang Chan tidak bertanya apa-apa. Ia pikir itu mungkin pil tambahan yang sama, atau mungkin pil kesehatan biasa.
Sekarang ia menyesal. Sangat menyesal.
"A-aku salah menyerahkan pil?"
Ia menggaruk-garuk kepalanya penuh masalah. Rambutnya kusut ditarik-tarik frustrasi. Kesalahan bodoh.
Kesalahan yang bisa berakibat fatal. Atau setidaknya, sangat memalukan.
Liu Chiyang yang masih menggeliat di lantai, perlahan mulai merangkak dengan tubuh lemahnya mendekati Wang Chan.
Tangan dan lututnya menapak lantai, tubuhnya bergoyang setiap kali ia bergerak maju. Puncak kembarnya yang kenyal itu bergoyang-goyang lembut, seperti dua buah yang siap dipetik.
Wang Chan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat itu. Sangat indah. Sangat menggoda. Tapi sulit untuk menahan nafsu yang mulai memuncak di dadanya.
Ia adalah laki-laki normal, dan wanita di depannya adalah wanita cantik dengan tubuh sempurna yang telanjang bulat.
"Tunggu, Kak Liu. Jangan ke sini!"
Liu Chiyang tidak mendengarkannya. Matanya sayu, pupilnya buram, dan senyum kecil mengembang di bibirnya yang merah.
Senyum yang tidak biasa, senyum yang penuh hasrat. Wajah wanita itu sudah sedikit memerah di pipi, merah merona dari balik kulit putihnya.
Ketika sudah cukup dekat, ia langsung menerkam Wang Chan. Gerakannya tiba-tiba, tidak terduga, seperti harimau betina yang melompat pada mangsanya.
Wang Chan tidak sempat menghindar. Ia terjatuh ke belakang, punggungnya menghantam lantai bambu dengan bunyi yang cukup keras.
Tubuh Liu Chiyang mendarat tepat di atas Wang Chan. Hangat. Lembut.
Wang Chan bisa merasakan setiap lekuk tubuh wanita itu menempel padanya, dari dadanya yang montok menekan dada Wang Chan, hingga perutnya yang rata bersentuhan dengan perut Wang Chan, dan pantatnya yang lembut menekan perut bagian bawah Wang Chan.
"Tidak bisa bergerak..." gumam Wang Chan, setengah kepada dirinya sendiri.
Kedua tangan Liu Chiyang menahan leher Wang Chan, tidak terlalu keras, tapi cukup untuk mencegahnya melarikan diri.
Wang Chan bisa merasakan detak jantung wanita itu melalui telapak tangannya, cepat, tidak teratur.
Wang Chan juga bisa merasakan kelembutan tubuh Liu Chiyang yang menindihinya.
Setiap kali wanita itu bergerak sedikit, sensasi lembut dan hangat itu bergesekan dengan tubuhnya, mengirimkan gelombang panas ke seluruh saraf Wang Chan.
"Tetaplah sadar, diriku..." bisik Wang Chan pada dirinya sendiri. Matanya terpejam kuat-kuat, berusaha fokus pada apa pun selain tubuh wanita di atasnya. "Ini hanya efek pil. Bukan keinginannya."
Wajah Liu Chiyang mendekat. Wang Chan bisa merasakan hembusan napas panas wanita itu di pipinya, bercampur dengan wangi alami kulitnya yang harum.
Wang Chan hanya bisa mengalihkan pandangannya.
Ia menatap langit-langit, menatap dinding, menatap apa pun selain mata Liu Chiyang yang sayu penuh hasrat itu.
Tapi Liu Chiyang tidak menyerah. Wanita itu perlahan menjilati pipi Wang Chan.
Lidahnya yang basah dan lembut bergerak dari dagu ke tulang pipi, meninggalkan jejak basah yang dingin di kulit Wang Chan. Sensasinya aneh, tidak nyaman tapi juga tidak buruk.
Wang Chan menutup matanya. Tangannya mengepal di samping tubuhnya, mencoba mengendalikan diri.
Namun tangan Liu Chiyang turun dari leher Wang Chan, lalu menangkap wajahnya.
Dengan lembut tapi tegas, ia membenarkan posisi Wang Chan, memaksanya untuk menatap dirinya.
Mereka saling bertatapan. Mata bertemu mata. Hidung nyaris bersentuhan.
"Ka-kau serius?" tanya Wang Chan, suaranya serak, tercekat di tenggorokan. "Aku belum siap untuk ini..."
Namun Liu Chiyang sudah menciumnya.
Bibir wanita itu menempel di bibir Wang Chan. Lembut. Hangat.
Wang Chan bisa merasakan getaran kecil di bibir Liu Chiyang, seperti ada arus listrik yang mengalir di antara mereka.
Kemudian lidah Liu Chiyang masuk. Lidah wanita itu benar-benar mendominasi, bergerak dengan lincah di dalam mulut Wang Chan, menjelajahi setiap sudut, membelit lidah Wang Chan yang kaku karena terkejut.
Wang Chan tidak membalas. Ia hanya diam, membiarkan Liu Chiyang melakukan apa yang ia mau. Tapi tubuhnya, di luar kendali pikirannya, mulai merespons.
Tangannya yang tadi mengepal di samping, perlahan naik, hampir menyentuh pinggang Liu Chiyang, sebelum akhirnya ditahan kembali.
Ciuman itu berlangsung sekitar satu menit. Mungkin lebih. Wang Chan tidak bisa menghitung.
Yang ia rasakan hanyalah kehangatan, kelembutan, dan rasa manis dari bibir dan lidah Liu Chiyang.
Sampai akhirnya Liu Chiyang melepaskan ciuman. Jarak mereka hanya sejauh satu jari.
Bibir mereka masih terhubung oleh benang saliva tipis yang menggantung di antara mereka, berkilau di bawah cahaya matahari.
Wang Chan terengah-engah. Dadanya naik turun dengan cepat, jantungnya berdegup seperti genderang perang.
Enak. Rasanya tidak buruk. Bibir dan lidah Liu Chiyang terasa manis dan lembut, seperti madu yang baru diambil dari sarangnya.
Tapi tetap saja, Wang Chan sedikit takut. Bukan takut pada Liu Chiyang. Bukan takut pada apa yang akan terjadi selanjutnya.
Ia takut Qing Yi akan melihat ini.
Jika Qing Yi pulang sekarang dan melihat apa yang terjadi di ruang tamu ini, mungkin Wang Chan akan dihajar habis-habisan.
Atau lebih buruk lagi, Qing Yi akan pergi dan tidak pernah kembali. Itu yang paling menakutkan.
"Xiao Chanchan... panas..." bisik Liu Chiyang, suaranya serak dan penuh desahan.
Wang Chan menghela napas.
Napas panjang, napas pasrah, napas yang menandakan bahwa ia sudah tidak punya energi untuk melawan lagi.
"Aku menyerah."
Tangannya, yang tadinya masih terkepal erat di samping tubuh, kini bergerak. Perlahan, ragu-ragu, tapi pasti.
Ia langsung menyentuh puncak kembar Liu Chiyang yang bergoyang lembut di atasnya. Kulitnya halus, lembut, seperti sutra basah.
Wang Chan menggenggamnya, merasakan berat dan kehangatannya di telapak tangannya. Kemudian, dengan gerakan yang masih canggung, ia mulai meremas-remas pelan.
"Eumhh...!"
Liu Chiyang tidak bisa menahan desahannya. Suara itu keluar dari tenggorokannya, tertahan, pelan, tapi jelas.
Wang Chan juga merasa tubuhnya tidak mengikuti kata otaknya lagi. Tangannya seolah bergerak sendiri, terus meremas-remas payudara Liu Chiyang dengan irama yang semakin mantap.
Jari-jarinya menemukan puting yang sudah tegang, lalu memainkannya dengan lembut, memutarnya pelan di antara ibu jari dan telunjuk.
Ia menarik puncak kembar itu, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.
Bibirnya menutup di sekitar areola, dan lidahnya mulai bergerak melingkar.
Kemudian ia menggigit pelan. Tidak keras, hanya tekanan lembut dari giginya, cukup untuk membuat Liu Chiyang menarik napas tajam.
"Nggghhh—!"
Wang Chan mengunci puncaknya dengan gigi, lalu menariknya pelan dengan tekanan yang konstan.
Liu Chiyang menggeliat di atasnya, tubuhnya bergetar, dan dari mulutnya keluar desahan-desahan kecil yang tidak bisa lagi ia tahan.
Di luar jendela, matahari sore mulai condong ke barat. Langit berubah jingga. Dan di dalam rumah yang sederhana itu, dua tubuh masih saling berpelukan di lantai.