NovelToon NovelToon
Di Balik Tirai Luka

Di Balik Tirai Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: wyzy

Bagi Alya, pernikahan adalah sebuah janji suci. Namun, di usianya yang ke-22, janji itu berubah menjadi transaksi gelap. Demi menyelamatkan ayahnya dari jeratan hukum akibat kebangkrutan besar dan serangan jantung ibunya, Alya terpaksa menerima pinangan Arka Dirgantara, seorang pengusaha muda nan dingin yang memiliki kekuasaan mutlak.
Alya mengira dia hanya akan menjalani pernikahan tanpa cinta. Namun, kenyataan jauh lebih pahit: Arka tidak menginginkan hatinya, ia menginginkan kehancurannya.
Arka menyimpan dendam masa lalu yang membara. Ia meyakini bahwa ayah Alya adalah penyebab kematian tragis ibunya bertahun-tahun silam. Baginya, menikahi Alya adalah cara paling elegan untuk menyiksa musuhnya melalui tangan orang yang paling dicintai sang musuh. Di mansion megah yang lebih menyerupai penjara emas, Alya harus bertahan menghadapi dinginnya sikap Arka, intimidasi ibu mertua yang kejam, hingga kehadiran masa lalu Arka yang terus memojokkannya.
Namun, di tengah badai air mata dan perlak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wyzy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 16. Sisil

Keheningan di gudang bawah tanah mansion Dirgantara terasa jauh lebih mencekam daripada malam-malam sebelumnya. Jika dulu tempat ini adalah penjara bagi Alya, kini Arka telah mengubahnya menjadi ruang interogasi yang dingin. Cahaya lampu bohlam yang temaram berayun pelan, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di dinding beton yang lembap.

Sisil duduk bersimpuh di lantai, tangannya gemetar hebat. Ia tidak lagi tampak seperti wanita sosialita yang anggun. Gaun sutranya kotor terkena debu, dan riasan wajahnya luntur oleh keringat dingin. Di depannya, Arka berdiri seperti malaikat maut, menatapnya dengan tatapan yang bisa membekukan darah siapa pun.

"Arka, tolong... apa-apaan ini? Kenapa kau membawaku ke sini?" suara Sisil melengking, mencoba menutupi ketakutannya dengan kemarahan palsu.

Arka tidak menjawab. Ia melemparkan sebuah map cokelat ke hadapan Sisil. Berkas-berkas di dalamnya berhamburan—catatan digital perbankan, rekaman log aktivitas komputer perusahaan, dan sebuah laporan dari ahli IT independen yang disewa Arka beberapa jam lalu.

"Lima ratus juta rupiah," ucap Arka, suaranya rendah namun bergetar oleh amarah yang tertahan. "Ditransfer melalui IP address yang terdaftar di apartemen pribadimu, Sisil. Menggunakan kode akses yang seharusnya hanya kau miliki karena aku sempat memberimu kepercayaan untuk membantu urusan administrasi bulan lalu."

Wajah Sisil memucat. Ia mencoba meraih berkas itu, namun tangannya terlalu lemas. "Itu... itu pasti jebakan, Arka! Seseorang meretas akunku! Alya yang melakukannya, dia pasti mencuri kodeku!"

"Cukup!" bentak Arka. Suaranya menggelegar di ruang bawah tanah itu, membuat Sisil tersentak hingga jatuh terjengkang. "Alya tidak punya akses ke internet di rumah ini. Dia tidak punya ponsel. Dia bahkan tidak punya tenaga untuk berdiri setelah aku menyiksanya habis-habisan karena fitnahmu!"

Arka melangkah maju, mencengkeram rahang Sisil dengan satu tangan, memaksanya menatap mata Arka yang kini merah karena penyesalan dan benci.

"Kau memberikan racun itu padanya di dermaga, bukan? Kau menyuruh orang untuk memastikan dia tidak akan pernah kembali. Katakan padaku, DI MANA DIA SEKARANG?!"

"Aku tidak tahu! Dia dibawa oleh seseorang!" jerit Sisil ketakutan. "Aku hanya ingin dia pergi, Arka! Aku melakukan ini untuk kita! Dia hanya penghalang, dia putri seorang pencuri yang kau benci! Aku mencintaimu, Arka!"

Arka melepaskan cengkeramannya dengan sentakan jijik. "Cinta tidak menghancurkan nyawa orang lain, Sisil. Kau tidak mencintaiku. Kau mencintai kekuasaanku, hartaku, dan kau bersedia membunuh untuk itu."

Arka berbalik, menatap Bayu yang berdiri di bayang-bayang pintu. "Bawa dia ke polisi. Berikan semua bukti ini. Pastikan dia tidak pernah melihat cahaya matahari sebagai wanita bebas lagi."

"Arka! Tidak! Kau tidak bisa melakukan ini padaku!" teriak Sisil saat Bayu menariknya keluar. Suara teriakannya perlahan memudar, meninggalkan Arka sendirian di tengah ruangan yang penuh dengan kenangan tentang Alya.

Arka jatuh terduduk di atas peti kayu milik ibunya. Ia membenamkan wajah di telapak tangannya. Setiap sudut ruangan ini seolah berteriak, mengingatkannya pada betapa kejamnya ia pada istrinya sendiri. Ia teringat tamparannya, ia teringat tuduhannya yang membabi buta, dan ia teringat bagaimana Alya tetap mencoba menjelaskan kebenaran meski tubuhnya sudah hancur.

"Alya... maafkan aku..." bisiknya parau. Suara Arka pecah menjadi isak tangis yang menyesakkan. Pria yang selama ini menganggap air mata adalah kelemahan, kini hancur berkeping-keping oleh dosanya sendiri.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari tim investigasi yang ia sebar ke seluruh rumah sakit swasta di kota itu.

> "Tuan, kami menemukan catatan pasien anonim dengan ciri-ciri Nyonya Alya di Rumah Sakit Medika Pratama. Namun, catatan itu baru saja dihapus secara paksa oleh pihak keamanan rumah sakit. Pasien tersebut dilaporkan telah keluar sepuluh menit yang lalu."

>

Jantung Arka berdegup kencang. "Sepuluh menit yang lalu? Dia masih di sana!"

Tanpa membuang waktu, Arka berlari keluar dari gudang bawah tanah. Ia memacu mobilnya seperti orang kesetanan menuju Rumah Sakit Medika Pratama. Pikirannya hanya satu: ia harus sampai sebelum Alya menghilang selamanya.

Di bandara pribadi tak jauh dari rumah sakit, sebuah jet kecil sedang bersiap untuk lepas landas. Hujan masih turun rintik-rintik, membasahi landasan pacu yang berkilauan di bawah lampu malam.

Reno mendorong kursi roda Alya menuju tangga pesawat. Alya tampak sangat rapuh, terbungkus jaket tebal dan syal yang menutupi lehernya. Wajahnya masih pucat, namun matanya menatap ke arah langit dengan pandangan kosong.

"Sudah siap, Al?" tanya Reno lembut.

Alya menoleh ke arah kota yang kini perlahan ia tinggalkan. Kota yang memberikan banyak kenangan manis masa kecil, namun juga memberikan luka paling dalam di masa dewasanya.

"Reno... apa Ibuku sudah aman di dalam pesawat?" tanya Alya pelan.

"Sudah. Tim medis sudah menempatkan ibumu di ruang khusus di dalam jet. Kita akan langsung menuju Singapura. Dokter bedah di sana sudah menunggu," jawab Reno meyakinkan.

Alya mengangguk. Saat ia hendak berdiri dari kursi roda untuk menaiki tangga pesawat, sebuah suara rem mobil yang berdecit kencang terdengar dari arah gerbang landasan.

Sebuah mobil sport hitam berhenti dengan kasar. Arka keluar dari mobil itu, berlari menembus hujan, mencoba melewati barisan penjaga keamanan Reno yang langsung menghadangnya.

"ALYA! JANGAN PERGI!" teriak Arka. Suaranya parau, tenggelam di antara suara mesin pesawat yang mulai menderu.

Alya membeku di anak tangga pertama. Ia menoleh perlahan. Dari kejauhan, di bawah siraman hujan, ia melihat suaminya—pria yang paling ia cintai sekaligus pria yang paling ingin ia lupakan. Arka sedang bergelut dengan para penjaga, wajahnya dipenuhi air mata dan air hujan, berteriak memanggil namanya dengan nada putus asa yang belum pernah ia dengar sebelumnya.

"Alya! Aku sudah tahu semuanya! Sisil sudah mengaku! Tolong, jangan pergi! Aku mohon!" Arka berlutut di atas aspal saat para penjaga memaksanya menjauh. "Beri aku satu kesempatan untuk menebus semuanya, Alya!"

Reno menatap Arka dengan tatapan benci, lalu beralih menatap Alya. "Kau mau bicara dengannya, Al? Jika kau ingin tinggal, aku tidak akan melarangmu. Tapi aku tidak bisa menjamin dia tidak akan menyakitimu lagi."

Alya menatap Arka cukup lama. Ia melihat pria itu—pria perkasa yang kini berlutut di atas tanah yang becek, mengemis pengampunannya. Selama sedetik, hatinya yang mati rasa seolah berdenyut kembali. Namun, kemudian ia teringat rasa panas di pipinya saat ditampar, ia teringat tuduhan "pencuri" yang dilontarkan Arka, dan ia teringat bagaimana Arka hampir membiarkan ibunya mati.

Luka itu terlalu dalam. Maaf saja tidak akan bisa menutup lubang besar di jiwanya.

"Jalan, Reno," ucap Alya datar, tanpa sedikit pun emosi di wajahnya.

"Kau yakin?" tanya Reno.

"Kehidupan Alya yang dulu sudah mati di rumahnya, Ren. Aku ingin hidup sebagai orang baru."

Alya berbalik dan menaiki anak tangga pesawat tanpa menoleh lagi. Pintu jet tertutup rapat, memutuskan kontak mata terakhir di antara mereka.

Di bawah sana, Arka berteriak histeris saat melihat pesawat itu mulai bergerak. Ia mencoba mengejar, namun tubuhnya dipaksa tiarap oleh penjaga keamanan hingga wajahnya menyentuh aspal yang dingin.

"ALYA! JANGAN TINGGALKAN AKU! AKU MENCINTAIMU!"

Raungan Arka tenggelam oleh suara mesin jet yang kini melesat cepat ke angkasa, membawa pergi wanita yang baru ia sadari adalah seluruh dunianya. Arka memukul-mukul aspal dengan tangan kosong hingga berdarah, menangisi kepergian istrinya di bawah langit malam yang kelam.

Alya telah pergi. Dan Arka tertinggal di belakang, terkunci di dalam penjara penyesalan yang ia bangun dengan tangannya sendiri. Perjalanan penebusan yang sesungguhnya baru saja dimulai, namun sang pemilik hati sudah terbang jauh melintasi samudera, meninggalkan luka yang tak akan pernah kering.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!