NovelToon NovelToon
PAK USTADZ JANGAN GODAIN SAYA

PAK USTADZ JANGAN GODAIN SAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: wanudya dahayu

Zahra dijodohin sama Rayan karena wasiat almarhum Ayah Zahra yang sahabatan sama Abah Rayan. Zahra _ngamuk_ karena ngerasa nggak pantes jadi istri ustadz. Rayan juga _shock_ karena harus nikah sama cewek bertato yang nggak bisa baca Al-Fatihah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: ALIF, 'AIN, DAN TUMPAHAN KOPI DI MUKENA

Subuh hari ke-9 di Ndalem. Status Zahra Almira: Grogi Level Mau Ujian Nasional.

Penyebab: Janji ngaji bareng Rayan di teras. Materi: Al-Fatihah. Target: Nggak salah baca. Realita: Iqro 1 aja belum khatam.

Jam 04.30, aku udah duduk di teras Ndalem. Pake mukena baru warna cream hadiah Bunda Aisyah. Wangi, lembut, tapi rasanya kayak jas almamater pas mau sidang skripsi. Menegangkan.

Rayan keluar dari kamar. Peci hitam, sarung, koko putih. Di tangan ada mushaf kecil + cangkir kopi. Dua cangkir.

“Mau ngopi dulu biar melek?” tanyaku. Suara masih serak bangun tidur.

Rayan geleng. Naruh cangkir di meja kayu. “Ngaji dulu. Kopinya hadiah kalau bacaannya bener.”

Ya Allah. Sistem reward and punishment khas guru BP.

Dia duduk. Jaga jarak satu sajadah. Nggak deket-deket. Adabnya itu lho. Bikin salting sendiri.

“Bismillah. Kita mulai dari Alif,” kata Rayan. Suaranya pelan tapi jelas. Kayak guru privat paling sabar se-dunia. “Alif itu keluarnya dari tenggorokan. Coba.”

Aku mangap. “Aaaa.”

Rayan ngangguk. “Bagus. Sekarang ‘Ain. Ini dari tenggorokan bagian tengah. Agak ditekan. Kayak orang mau muntah tapi ditahan.”

Aku coba. “A’... A’... Nggok!” Malah keselek ludah sendiri.

Rayan reflek nyodorin air zamzam. Nggak ketawa. Tapi sudut bibirnya naik 2mm. Nahan tawa.

“Pelan-pelan. Nggak usah buru-buru,” katanya. “Dulu saya belajar ‘Ain juga sebulan baru bener.”

Sebulan? Ustadz 30 juz aja sebulan. Aku targetnya berapa tahun?

Lanjut Ba, Ta, Tsa. Lidahku keseleo. Rayan sabar benerin. Setiap aku bener, dia bilang “Alhamdulillah”. Setiap aku salah, dia bilang “Ulangi, nggak apa-apa”.

Nggak ada “Astagfirullah, gini aja nggak bisa”. Nggak ada “Malu-maluin Bu Nyai”. Cuma “Ulangi, nggak apa-apa”.

Dadaku anget.

Pas giliran baca Al-Fatihah ayat pertama, “Bismillahirrahmanirrahim”, tanganku gemeteran.

“Bismillah... hirroh... manir... rohim...” Eh, malah kebagi tiga.

Rayan nutup mushaf pelan. “Zahra.”

Aku nunduk. Malu. “Iya, Tadz. Aku bodoh ya?”

“Nggak ada orang bodoh di depan Allah,” jawabnya. “Adanya orang yang belum tau, dan orang yang nggak mau tau. Kamu udah mau tau. Itu udah lebih dari cukup.”

Terus dia ngelanjutin, “Coba pegang tangan saya.”

Aku kaget. “Hah?”

“Pegang. Biar tau cara makhroj huruf itu getarannya kerasa di mana.”

Dengan ragu, aku nyentuh punggung tangannya. Baru ujung jari. Anjay. Dingin. Tapi kok langsung nyetrum ke jantung.

“Ucapin ‘Bismillah’,” kata Rayan.

“Bismillah,” kataku. Pelan.

“Rasain. Ada getar di sini,” dia nunjuk lehernya sendiri. “Huruf Ba itu bibir. Huruf Sin itu ujung lidah. Mim itu bibir ketemu.”

Aku fokus. Beneran kerasa. Bukan karena pelajaran tajwidnya. Tapi karena tangannya. Ya Allah. Fokus Zahra.

“Coba lagi. Tanpa liat mushaf. Pejamkan mata.”

Aku merem. Tarik napas. “Bismillahirrahmanirrahim.”

Lancar. Nggak kebagi-bagi. Nggak belepotan.

“Alhamdulillah,” suara Rayan. Ada senyum di suaranya. “Tuh kan bisa.”

Aku buka mata. Seneng banget. Kayak abis wisuda. Refleks nyambar cangkir kopi di meja mau selebrasi.

Dan... BYUR.

Siku nyenggol. Kopi hitam tumpah semua. Ke mukena cream. Ke sajadah. Ke mushaf kecil di tangan Rayan.

Dunia mendadak silent.

Mukena cream ada pulau hitam melebar. Mushaf ada tetes kopi di surat Al-Fatihah.

Aku beku. “Tadz... A-aku... Astagfirullah... Aku nggak sengaja...”

Mau nangis. Ini kualat tingkat dewa. Numpahin kopi ke Qur’an pas subuh pertama belajar ngaji.

Rayan liat mukena aku. Liat mushaf dia. Terus... dia ngambil tisu di meja.

Ngelap mushaf pelan-pelan. Nggak marah. Nggak istighfar sambil ngelirik sinis. Cuma ngelap.

“Udah,” katanya. “Tintanya nggak luntur. Masih bisa dibaca.”

Terus dia liat mukenaku. Noda kopi segede piring.

“Kamu ganti baju dulu. Nanti dingin.”

Aku masih shock. “Tapi... itu... mushaf... suci...”

Rayan nutup mushaf yang udah dilap. “Zahra. Yang suci itu Allah. Mushaf itu kertas. Kertas bisa dibersihin. Yang penting hati kamu jangan kotor karena ngerasa bersalah terus. Allah Maha Pemaaf. Saya juga.”

Terus dia nambahin, sambil senyum 8mm. Rekor baru lagi.

“Lagian, sekarang mushaf saya jadi ada tandanya. Tanda Zahra pertama kali baca Bismillah dengan bener. Jadi kenang-kenangan.”

Aku melongo. “Tadz... itu kan... kopi... najis nggak...”

“Kopi bukan najis, Zahra. Kopi itu halal. Yang najis itu putus asa.”

Ya Allah. Pak Ustadz ini mulutnya kayak pabrik quotes. Bikin adem.

Dari pintu Ndalem, Bunda Aisyah nongol bawa serbet. “Astagfirullah, tumpah ya, Nak? Sini Bunda bantu.”

Bunda ngeliat mukena aku, ngeliat mushaf Rayan, ngeliat muka kami yang merah padam. Terus Bunda senyum lebar.

“Bagus. Tumpahan pertama. Tandanya belajarnya serius. Dulu Abahnya Rayan juga pas ngajarin Bunda ngaji, tintanya tumpah ke mukena Bunda. Eh, jodoh.”

Aku sama Rayan: SALTING BERJAMAAH.

Bunda ketawa. “Udah, Zahra ganti baju. Rayan, kopi bikin lagi sana. Kali ini pake gula yang banyak biar Bu Nyai nggak syok.”

Rayan berdiri. Ngambil cangkir kosong. Pas lewat di sampingku, dia bisik pelan banget:

“Kopinya tumpah nggak apa-apa. Tapi semangat kamu jangan tumpah, Zahra.”

Aku masuk kamar, ganti mukena. Jantung masih dugem.

Di meja, ada secarik kertas. Tulisan tangan Rayan:

“Alhamdulillah hari ini Zahra baca Bismillah dengan lancar. 1-0. Besok kita lanjut Alhamdulillah.”

Di bawahnya ada gambar kecil: cangkir kopi ketumpahan.

Aku ketawa. Sambil nangis dikit.

Rukun Islam ke-6 hari ini: Nggak apa-apa salah, asal bareng-bareng benerin.

Dan Pak Ustadz, senyum 8mm-nya udah cukup buat ngebersihin noda kopi di hati aku.

1
hasatsk
setelah di baca terus menerus ternyata ceritanya seru.....💪💪
wanudya dahayu: makasi kak 🙏. lagi nyari ide lagi, biar bisa menuhi syarat kontrak. doain ya kak. 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Di Dia
tokoh aryanya cpt"di singkirin ...
Titik Sofiah
awal yang menarik ya Thor moga konfliknya nggak trllau berat 😍😍😍
wanudya dahayu: iya kak, semoga suka, mohon dukungannya 😍🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!