NovelToon NovelToon
Legenda Arka Yudistira

Legenda Arka Yudistira

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Turnamen Peringkat Langit baru saja dimulai. Di hadapan para penguasa Alam Tiran, Arka Yudhistira melangkah ke arena bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai naga yang tengah terjaga.
​Di antara bayang-bayang Ratna, Citra, dan kesetiaan Larasati, Arka siap mengguncang tatanan dunia. Panggung telah siap, pedang telah terhunus, dan sejarah baru akan segera ditulis.
​Inilah awal dari...
​LEGENDA ARKA YUDHISTIRA
​Biarkan dunia bersujud pada sang naga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Arka menegakkan tubuhnya. Kaki kanannya menekuk ke depan, matanya terpejam rapat, sementara kedua tangannya membentuk posisi menggenggam pedang yang kokoh. Setelah terdiam dalam posisi itu cukup lama, ia mendadak membuka mata. Sebuah geraman rendah lolos dari tenggorokannya sesaat sebelum ia mengayunkan kedua lengannya dengan gerakan membelah yang tajam.

​Namun, rangkaian gerakan itu tampak biasa saja, tanpa aura keagungan sedikit pun.

​"Apa yang sedang kau lakukan?" Melati akhirnya tidak tahan untuk tidak bertanya, rasa penasarannya memuncak.

​Arka menarik kembali kedua tangannya, menghela napas lega, lalu berkata, "Melati, menurutmu berapa besar peluangku untuk menang besok?"

​"Jika orang lain yang berada di posisimu, dengan tingkat tenaga dalam dan teknik bela diri yang persis sama, peluang mengalahkan Ratna adalah nol besar! Bahkan jika orang itu mengerahkan seluruh nyawanya, jangan harap bisa bertahan lebih dari sepuluh jurus. Tapi kau..." Melati menjawab santai, "Ada sedikit celah. Karena saat kau terdesak, kau akan berubah menjadi orang gila yang tidak rela menerima kekalahan!"

​"Hehe, terima kasih pujiannya." Arka tersenyum, tampak cukup puas dengan dirinya sendiri.

​"Pujian? Itu sindiran!" Melati mengoreksi dengan nada sangat serius. "Aku bisa merasakan kau sendiri tidak begitu yakin bisa mengalahkan Ratna, tapi kau juga sangat mengharamkan dirimu kalah. Jadi, aku bahkan tidak bisa menebak tindakan gila apa yang akan kau ambil nanti. Tapi ingat, jangan berani-berani mencoba membuka gerbang ketiga Dewa Angkara secara paksa. Saat di ujian Naga Langit, kau hampir mati karena membuka gerbang kedua. Keberuntungan surgawi tidak akan datang dua kali!"

​"Aku bukannya tidak bisa menerima kekalahan. Jika lawannya adalah Yoga atau bahkan Yogi, aku tidak akan ambil pusing jika kalah. Tapi hanya Ratna... aku mutlak tidak boleh kalah! Ini bukan soal menang atau kalah, ini soal harga diri seorang laki-laki!"

​"Harga diri laki-laki?"

​"Ini urusan orang dewasa, anak kecil sepertimu tidak akan paham," jawab Arka sambil menyeringai.

​"Anak kecil? Hmph! Pengetahuanku melampaui ilmumu sepuluh juta kali lipat!" Melati mendengus kesal. "Kau belum menjawab pertanyaanku. Gerakan apa yang kau latih tadi?"

​"Bukan apa-apa. Aku hanya mencoba meraba jurus kedua Pedang Serigala Langit berdasarkan dasar-dasar kitab Serigala Langit Neraka, tapi sepertinya aku terlalu muluk-muluk," ucap Arka gusar. Ia telah mencoba berkali-kali, namun hasilnya nihil.

​"Melati, apa kau benar-benar tidak ingat sedikit pun tentang jurus kedua itu?" Arka mendadak bertanya. Saat ini, jurus pamungkasnya adalah Tebasan Serigala Langit. Itu baru jurus pertama namun kekuatannya sudah mengerikan; jurus-jurus berikutnya pasti jauh lebih dahsyat.

​"Waktu itu aku hanya membolak-balik kitab itu saat kakakku berlatih, jadi aku hanya ingat dasarnya dan jurus pertama saja..." Melati terdiam sejenak, seolah teringat sesuatu. Tiba-tiba, serangkaian bayangan muncul di benak Arka. Dalam bayangan itu, seorang pemuda tampan sedang mengayunkan pedang berat yang ukurannya bahkan lebih besar dari tubuhnya sendiri. Setiap ayunannya membuat awan bergulung dan bumi bergetar...

​"Ini... adalah..."

​"Ini cuplikan saat kakakku berlatih. Sebagian besar jurus pedang beratnya berasal dari kitab itu, tapi ini hanya bayangan gerakannya saja, tanpa mantra tenaga dalamnya. Aku tidak menjamin bayangan ini akurat. Apakah kau bisa memahaminya atau tidak, itu tergantung padamu," ujar Melati acuh tak acuh.

​Arka tidak membalas lagi. Setelah menenangkan hatinya, ia mulai mengamati siluet sosok yang mengayunkan pedang berat itu di dalam benaknya, berulang-ulang tanpa henti...

......................

​Keesokan harinya, di Arena Adu Pedang Perguruan Pedang Langit.

​Matahari bahkan belum menampakkan diri, namun arena sudah penuh sesak. Hari ini adalah babak final Turnamen Peringkat Langit, dan dua pendekar yang akan bertanding di partai puncak adalah sepasang pemuda dan pemudi yang baru berusia tujuh belas tahun. Sebuah kejadian yang belum pernah terjadi sebelumnya.

​Di satu sisi ada Arka, peserta dengan tingkat tenaga dalam terendah, namun secara ajaib mampu menumbangkan lawan-lawan yang jauh lebih kuat darinya hingga mencapai final. Setiap pertarungannya selalu menyisakan kesan legendaris. Ia adalah murid pertama di Alam Sejati yang pernah mencapai babak final turnamen ini!

​Di sisi lain ada Ratna, yang kemarin telah menunjukkan kekuatan aslinya, mengalahkan Yoga, dan membuat semua orang terpana. Setelah pertarungan kemarin, ia dinobatkan sebagai jenius nomor satu di Kerajaan Surya Kencana, menggeser posisi Yoga. Di masa depan, namanya diprediksi akan menggetarkan seluruh benua sebagai ahli tingkat tinggi.

​Perguruan Pedang Langit, yang biasanya selalu menjadi bintang utama di babak final, kali ini hanya menjadi penonton. Luhur Pangestu datang sangat awal, namun ia hanya duduk membisu. Yoga, yang kalah kemarin, juga tampak berada di samping ayahnya. Ia tetap diam dengan ekspresi tenang; setidaknya di permukaan, ia tampak sudah menerima kekalahannya dengan lapang dada.

Tentu saja, itu bukan karena dia lemah, melainkan karena lawannya terlalu tangguh hingga melampaui batas nalar.

​"Babak final Turnamen Peringkat: Arka Yudistira dari Keluarga Kerajaan, melawan Ratna dari Padepokan Awan Beku. Kedua peserta, harap naik ke arena!"

Wayan mengumumkan dengan suara lantang dari tengah arena.

​"Adik Arka, semangat!"

​"Kakak Ipar, ayo menang!"

​Arka berdiri, lalu tiba-tiba berbisik ke arah pemuda di sampingnya, "Banu, kau berharap aku yang menang, atau kakakmu?"

​"Eh..." Banu kebingungan. Ia menggaruk kepalanya. "Kalau Kakak Ipar menang aku pasti senang, kalau Kakakku menang aku juga pasti senang." Banu terdiam sejenak, matanya berbinar. "Wah! Dulu Turnamen Peringkat Langit hanya ada dalam mimpiku, tapi sekarang Kakak dan Kakak Ipar berebut posisi pertama; rasanya seperti mimpi. Tapi kalau harus memilih... aku tetap ingin Kakak Ipar yang menang."

​"Oh? Kenapa?" Arka tersenyum tipis.

​"Itu... karena Kakak kan perempuan, dan juga istri Kakak Ipar. Jadi kalau kalah dari Kakak Ipar, rasanya lebih masuk akal saja," jawab Banu polos.

​"Hahahaha!" Arka tertawa lepas. Ia menepuk bahu Banu. "Banu, kata-katamu benar. Sebagai laki-laki, tidak masalah jika aku kalah dari orang lain, tapi aku mutlak tidak boleh kalah dari istriku sendiri! Tidak peduli dia harimau atau bidadari, aku harus tetap... menaklukkannya!"

​Banu hanya bisa mengangguk bengong. Meski belum sepenuhnya paham, ia merasa ucapan Arka mengandung kebenaran yang mendalam.

​Logika bengkok Arka membuat Larasati tersenyum kecut, namun ia tidak membantah. Kata-kata yang penuh kesombongan laki-laki itu seharusnya terdengar menyebalkan bagi perempuan, tapi entah kenapa, saat keluar dari mulut Arka, itu terasa sebagai bagian dari pesona dan wataknya yang berani.

1
Jojo Shua
👍👍
Jojo Shua
👍
Jojo Shua
🔥
Jojo Shua
🥛
Jojo Shua
🔥🔥🔥
Jojo Shua
🔥🔥
Jojo Shua
👍
Jojo Shua
🫰
Jojo Shua
🔥🔥🔥
Jojo Shua
✅️✅️
Jojo Shua
👍
Jojo Shua
🫰
Jojo Shua
🥛
Jojo Shua
🔥🔥
Jojo Shua
👍
Jojo Shua
☕️
Jojo Shua
🫰✅️
Jojo Shua
🫰☕️
Jojo Shua
☕️
Jojo Shua
✅️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!