Dipaksa pamannya menikah setelah lulus SMA, kehidupan Andara yang sudah yatim piatu tidak menjadi lebih baik.
Setelah difitnah sudah tidak perawan, dituduh berzinah saat hamil setelah 3 bulan menikah, Andara menjadi janda di usia sembilanbelas tahun.
Penderitaan tidak berhenti di situ, rumah peninggalan orangtua Andara diambil paksa oleh keluarga Irfan, mantan suaminya dengan alasan melunasi hutang-hutang orangtua dan paman Andara.
Dikucilkan karena dianggap aib dan pembawa sial membuat Andara memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta dalam keadaan hamil.
Bagaimana kehidupan Andara selanjutnya ?
Apakah nasib Andara bisa berubah setelah bertemu dengan bayi Lily yang kehilangan ibunya saat ia dilahirkan ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
“Nggak mau ! Mbak pergi sana ! Mbak jahat ! Mbak nakal !”
Teriakan Daisy di pagi hari disertai suara lemparan barang membuat Andara cepat-cepat melepaskan ikatan gendongan Lily.
“Saya titip Lily, Bik.”
Sumi mengangguk sambil mengambil alih Lily ke dalam pelukannya..
Pengasuh Daisy memang baru karena Imah, pengasuh sebelumnya, harus pulang kampung untuk merawat ibunya yang sedang sakit dan entah kapan bisa kembali.
“Ada…. Auugghhhtt.” Satu lemparan entah apa mengenai lengan Andara lalu jatuh ke lantai.
Ternyata kotak musik kesayangan Daisy. Andara memungutnya juga boneka gadis balerina yang bisa berputar terlepas.
Melihat Daisy buru-buru lari ke samping lemari baju, Andara memberi isyarat pada Lastri untuk keluar.
“Daisy, kak Ara boleh ke situ ?”
Bukan jawaban atau teriakan seperti sebelumnya, Andara malah mendengar isak tangis. Mula-mula pelan lalu semakin keras.
Dengan langkah pelan Andara mendekat. Dilihatnya Daisy sedang meringkus, kepalanya menelungkup di antara kedua kakinya yang ditekuk ke atas.
Hati Andara langsung iba. Meski tahu kemungkinan Daisy akan menolaknya, Andara malah ikut duduk bersila namun tidak terlalu dekat.
“Boleh kak Ara perbaiki kotak musiknya Sisi ? Kasihan balerinanya nggak bisa putar-putar lagi.”
Tidak ada jawaban namun isak tangis Daisy mereda meski kedua bahunya masih berguncang pelan.
“Kak Ara suka banget dengar musiknya. Bikin kak Ara pingin menari. Sisi suka menari atau pernah belajar balet ?”
Senyum Andara mengembang saat kepala Daisy terangkat namun nafasnya masih tersendat-sendat. Andara mengambil tisu yang ada di nakas dan memberikan 3 lembar pada Daisy.
Rasanya lega saat Daisy menerimanya bahkan langsung menghapus wajahnya yang berlinangan air mata dan membuang ingus yang menyumbat hidungnya.
“Kenapa kak Ara baik sama Sisi ?”
Andara mengerutkan dahi, agak bingung mendengar pertanyaan Daisy tapi ia malah tersenyum.
“Hhhhmmmm….. Kenapa ya ? Harus banget ya kak Ara punya alasan khusus kenapa baik sama Sisi ?”
“Iya.”
Andara mengerutkan dahi sambil mengetuk-ketuk dagu dengan jari telunjuk, gaya orang sedang berpikir.
“Karena kak Ara melihat Sisi anak yang baik, cantik dan me….”
“Bohong !” protes Daisy dengan suara lantang membuat mata Andara membola.
“Kak Ara tidak bohong,” tukas Andara dengan wajah serius.
“Semua orang bilang Sisi nakal makanya papa nggak pernah sayang sama Sisi kayak papanya teman-teman.”
“Papa pernah bilang begitu sama Sisi ?”
Daisy menggeleng. “Mama yang bilang waktu Sisi tanya kenapa papa nggak suka di rumah dan pulang nggak pernah ajak Sisi ngomong apalagi bermain.”
“Hhhhmmmmm.” Kepala Andara mengangguk-angguk kembali.
“Kak Ara boleh tanya sesuatu ?”
Daisy terdiam sejenak tapi akhirnya ia mengangguk.
“Apa dedek nakal juga makanya Sisi nggak mau dekat-dekat ?”
“Bukan nakal tapi Sisi kesal dan benci karena Lily sudah membuat mama pergi. Sekarang nggak ada lagi yang sayang sama Sisi.”
“Kalau kak Ara bilang sayang sama Sisi, apa Sisi percaya ?”
Andara menyipitkan mata tapi Daisy malah membuang muka. Tiba-tiba pergelangan tangan Andara terasa perih.
“Hhuuufffttt…” Andara meringis, baru sadar kalau ternyata pergelangannya terluka dan barusan tidak sengaja bergesekan dengan celana panjangnya.
Tidak disangka Daisy buru-buru bangun dan mengambil sesuatu dari meja belajarnya lalu meghampiri Andara.
Tanpa bicara, Daisy menutupi luka Andara dengan beberapa plester bergambar princess.
“Masih sakit ?”
Sekarang malah Andara yang berkaca-kaca.
“Maaf,” gumam Daisy sambil menundukkan kepala dengan wajah bersalah.
Andara tidak dapat menahan diri lagi. Direngkuhnya Daisy ke dalam pelukannya.
“Kak Ara sayang sama Sisi. Sayang banget. Buat kak Ara Sisi bukan anak nakal.”
Tubuh gadis kecil yang sempat menegang mendadak lemas lagi.
“Lalu Lily bagaimana ?”
Andara melerai pelukannya dan menangkup wajah Daisy.
“Jangan marah atau membenci Lily karena mama pergi untuk selamanya bukan karena Lily tapi Tuhan yang memanggil mama pulang. Justru sekarang Sisi harus menjaga dedek karena cuma Sisi yang Lily punya selain papa.”
Airmata kembali mengalir di wajah gembul yang bersemu kemerahan.
“Oma Mira bilang mama pergi karena melahirkan Lily.”
Andars tersenyum, mengambil tisu untuk menghapus air mata Daisy yang mengalir.
“Itu betul tapi bukan Lily yang membuat mama meninggal. Lily malah sedih karena dia tidak bisa melihat wajah mama, nggak pernah merasakan pelukan mama. Tapi Lily juga senang karena dia tidak sendirian, ada kakak Sisi yang akan menemaninya.”
Wajah polos dan lugu itu masih dibasahi air mata, tatapannya memancarkan kesedihan yang begitu dalam.
“Kak Ara bukan hanya sayang sama Lily tapi juga sama Sisi. Kak Ara sedih melihat Sisi suka marah-marah dan nggak mau dekat sama Lily.”
Tangis Daisy kembali pecah dan Andara langsung memeluk tubuh mungil itu sambil mengusap-usap punggungnya.
“Boleh kak Ara sayang Sisi ?”
Dalam pelukannya, kepala Daisy mengangguk-angguk membuat senyum Andara semakin lebar.
*****
Dengan wajah sumringah Deswita masuk ke ruang makan, lalu duduk di dekat Herman yang sedang membaca koran.
“Ada berita baik apa ?” tanya Herman yang sempat menngernyit melihat istrinya lalu kembali fokus membaca berita.
“Firasatku soal Andara benar-benar tepat !”
“Soal apa ?”
“Andara akan menjadi pionku untuk menyingkirkan Savira. Aku sangat yakin dia sanggup. Kemarin aku dengar dia berani membuat Baskara tidak berkutik di depan Savira.”
Herman menoleh, menautkan kedua alisnya.
“Kok bisa ?”
“Mereka tidak sengaja bertemu di rumah sakit. Llly baru saja vaksin dan Baskara sok baik mengurus ayahnya Savira yang kena serangan jantung.”
Herman menghela nafas lalu melepas kacamata bacanya.
“Kamu yakin akan memilih Andara ?”
“Maksud papa ?”
“Kalau Andara berhasil menyingkirkan Savira berarti kemungkinan besar dia akan menjadi pengganti Savira dalam kehidupan Baskara.”
“Itu urusan belakangan, yang penting Savira bisa disingkirkan dulu.”
“Mama nggak kasihan sama Andara ? Umurnya masih duapuluh tahun, baru saja kehilangan anaknya dan sekarang mama memanfaatkannya tanpa peduli resikonya.”
“Tapi Pa….”
“Papa tahu mama sudah membayar Andara sangat mahal tapi jangan lupakan kalau dalam hidup ini ada hukum tabur tuai. Jangan sampai keputusan mama malah membuat Baskara tidak akan bahagia seumur hidup karena hanya bisa mencintai tapi tidak bisa memiliki.”
Sekarang giliran Deswita yang menghela nafas lalu menatap suaminya lekat-lekat.
“Papa sendiri apakah setuju kalau sampai Andara jadi menantu ?”
“Mama mau menjodohkan Baskara dengannya ?”
“Tadi papa sendiri yang bilang soal kemungkinan Andara bisa saja menggantikan posisi Savira kalau dia berhasil membuat perempuan itu pergi dari kehidupan Baskara.”
“Iya, kemungkinan itu bisa saja terjadi.”
“Kita lihat saja nanti Pa.” Senyuman Deswira membuat Herman mengerutkan dahi.
“Jangan mengatur dan selalu ikut campur dalam kehidupan Baskara, Ma. Kasihan anakmu itu apalagi umurnya sudah tidak muda lagi.”
Deswita hanya tersenyum penuh misteri membuat Herman hanya bisa geleng-geleng kepala.