Di balik apron Cafe Nuansa, Alan hanyalah mahasiswa biasa berpesona luar biasa. Ia berjuang menopang keluarga, tanpa menyadari cinta tulus Rahmi, sang pewaris properti yang selalu menjadi pelindungnya. Namun, saat takdir mempertemukan Alan kembali dengan Bunga, primadona masa SMA, persahabatan dan cinta pun mulai diuji. Di antara pengorbanan tersembunyi, patah hati yang bisu, dan garis takdir yang membingungkan, kepada siapakah hati Alan akan berlabuh? Rahasia besar menanti untuk segera terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Bayang-Bayang yang Mengusik
Cahaya pucat dari layar ponsel pintar yang kacanya sedikit retak di bagian ujung itu menjadi satu-satunya penerang di dalam kamar kos berukuran tiga kali empat meter. Di luar, suara jangkrik dan deru samar kendaraan dari jalan raya seolah menjadi melodi pengantar tidur bagi penghuni kota Bandung. Namun bagi Alan, malam ini terasa lebih panjang dari biasanya. Matanya masih terjaga, menatap lekat pada ruang obrolan di aplikasi WhatsApp.
Jemari Alan yang kapalan—jejak nyata dari kerasnya pekerjaannya sebagai pelayan kafe dan pekerja serabutan—bergerak perlahan mengetikkan balasan untuk gadis yang sejak siang tadi menguasai seluruh ruang di kepalanya. Bunga.
“Iya, Nga. Nanti pagi-pagi aku telpon, ya. Mimpi indah,” ketik Alan. Ia membaca ulang pesan itu dua kali untuk memastikan tidak ada salah ketik yang bisa membuatnya terlihat memalukan, lalu menekan tombol kirim.
Hanya butuh beberapa detik hingga status pesan itu berubah menjadi centang biru berganda. Dan tak lama, balasan dari Bunga pun masuk, membuat senyum kecil terukir di bibir pemuda itu.
“Otteh, aku tidur duluan ya. Kamu juga jangan begadang. See you tomorrow, Alan! 🌸”
Alan menghela napas panjang, sebuah embusan lega sekaligus bahagia yang terasa hangat di dadanya. Ia meletakkan ponselnya di samping bantal yang sarungnya sudah mulai pudar warnanya. Matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar kos yang dihiasi beberapa noda rembesan air hujan. Senyum itu masih bertahan di wajahnya. Hari esok adalah hari yang sangat ia tunggu. Kesempatan untuk berjalan berdampingan dengan primadona Fakultas Manajemen, sesuatu yang rasanya seperti keajaiban bagi pemuda kelas bawah seperti dirinya.
Namun, seiring dengan keheningan malam yang kian pekat merayap masuk ke celah-celah ventilasi kamarnya, euforia itu perlahan mulai memudar. Otak Alan yang seharusnya bersiap untuk beristirahat justru menolak untuk diajak bekerja sama.
Tiba-tiba saja, seperti sebuah kaset rusak yang diputar paksa, memori tentang kejadian beberapa jam yang lalu di taman kota berputar kembali di kepalanya. Bukan memori tentang Bunga, melainkan memori tentang seorang gadis tomboi berjaket jeans pudar.
Alan menelan ludah. Sesuatu terasa mengganjal di dadanya, sebuah perasaan tidak nyaman yang sulit ia definisikan. Sesuatu yang ganjil.
'Kenapa... kenapa tiba-tiba gue jadi kepikiran Rahmi, ya?' tanya Alan dalam batinnya sendiri. Dahinya berkerut dalam, mencoba mengusir bayangan wajah sahabatnya itu, namun gagal. Bayangan itu justru semakin nyata tergambar di kelopak matanya yang terpejam.
Alan mengingat kembali momen di bangku taman itu. Saat ia dengan bodohnya menempelkan tangan gadis itu di dadanya sendiri. Dan yang paling mengusik pikirannya adalah saat ia menyadari ada yang tidak beres dengan mata Rahmi sebelum gadis itu pulang.
'Kenapa tadi waktu di taman kota, wajahnya seperti sedih banget?' batin Alan terus bergejolak. Ia mengubah posisi tidurnya menjadi miring, memeluk gulingnya yang kempes, mencari kenyamanan. 'Matanya sembab, merah... dan dia bilang itu gara-gara kelilipan. Tapi... emang iya gitu? Kelilipan debu jalanan bisa bikin mata se-merah dan se-sembab itu? Gue yang sering kelilipan pas naik motor aja gak sampai segitunya.'
Rasa bersalah yang tidak beralasan tiba-tiba menyusup ke relung hatinya. Alan mengingat kembali nada suara Rahmi yang terdengar bergetar, meskipun gadis itu berusaha menutupinya dengan makian dan gaya bicara ketus andalannya. Ia juga teringat akan keheningan yang menyiksa di antara mereka setelah ia membahas tentang Bunga dan rencananya esok hari.
'Heran gue...' desah Alan, memijat pangkal hidungnya dengan frustrasi. Kepalanya terasa pening. 'Emang dia lagi ada masalah apa sih? Apa ada urusan keluarga? Atau jangan-jangan... dia lagi berantem sama cowok yang naksir dia? Kok dia gak cerita apa-apa sama gue? Biasanya dia selalu ngomong kalau ada yang bikin dia kesel.'
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar seperti gasing di dalam kepalanya. Ada dorongan kuat di dalam hatinya untuk mengambil ponselnya kembali, mencari nama Rahmi di kontak, dan menanyakan kabarnya malam ini juga. Tapi ego dan gengsinya menahan pergerakan tangannya. Ia takut Rahmi akan mengejeknya karena terlalu berlebihan, atau menganggapnya kepo urusan pribadi. Lagi pula, Alan masih terjebak dalam keyakinan absolutnya bahwa hubungan mereka murni hanya sebatas "sahabat rasa saudara" yang saling peduli, tanpa ada tendensi perasaan apa pun.
Ketidakpekaan Alan adalah sebuah tragedi yang tak disadarinya. Ia terus mencari ribuan alasan logis untuk menjustifikasi kesedihan Rahmi, menolak untuk melihat satu-satunya kebenaran yang paling jelas: bahwa air mata itu jatuh karenanya.
"Udah ah!" gerutu Alan pada akhirnya. Ia membalikkan badannya membelakangi dinding, menarik selimut tipisnya hingga menutupi separuh wajahnya. Ia memejamkan mata dengan kuat, memaksa otaknya untuk mematikan seluruh fungsi berpikirnya. "Takut gue kesiangan jalan sama Bunga besok. Bisa hancur reputasi gue kalau telat di kencan pertama. Mending gue tidur."
Dengan usaha ekstra untuk mengosongkan pikirannya dari bayang-bayang mata sembab Rahmi, rasa lelah akibat bekerja seharian perlahan mengambil alih. Tarikan napas Alan mulai teratur. Kesadarannya memudar, membawanya masuk ke alam bawah sadar yang gelap.
Namun, pelarian itu ternyata hanyalah sebuah ilusi. Di alam mimpinya, Alan tidak menemukan Bunga, gadis yang sangat ingin ia temui. Justru, kabut tebal menyelimuti penglihatannya. Suasananya terasa begitu dingin dan sunyi.
Lalu, dari balik kabut putih yang menyayat hati itu, sebuah suara memanggilnya. Suara yang sangat familiar. Suara yang biasanya selalu diwarnai dengan tawa jahil atau umpatan kasar, kini terdengar begitu rapuh, hancur, dan penuh dengan keputusasaan.
"Lan..."
Alan mencoba menoleh ke arah suara itu di dalam mimpinya, namun tubuhnya terasa kaku, terpaku pada tanah pijakannya.
"Alan..."
Suara itu terdengar lagi, kali ini terasa lebih dekat, seolah diucapkan tepat di belakang telinganya. Suara itu membawa getaran kepedihan yang sangat nyata, seolah sang pemilik suara sedang menahan ribuan jarum yang menusuk tenggorokannya.
"Alan Prawija!"
Panggilan terakhir itu pecah, diiringi oleh isakan tertahan yang membuat dada Alan di alam nyata terasa sesak bukan main.
TIT! TIT! TIT! TIT!
Suara lengkingan alarm dari ponsel pintarnya membelah kesunyian kamar kos, menghancurkan kabut mimpi itu berkeping-keping.
Alan tersentak hebat. Matanya terbuka lebar, membelalak menatap langit-langit kamar yang perlahan mulai terlihat jelas akibat cahaya keabuan fajar yang mengintip dari ventilasi. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat seolah ia baru saja berlari maraton sejauh belasan kilometer. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi kening dan pelipisnya.
Dengan napas yang masih tersengal, Alan memosisikan dirinya untuk duduk di atas kasur. Ia menundukkan kepalanya, mengusap wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya secara kasar. Jantungnya masih berdegup dengan ritme yang tidak wajar akibat sisa kepanikan dari mimpinya barusan.
Ia menoleh ke arah meja kecil tempat ponselnya berada. Layar ponsel itu menyala terang, menampilkan angka digital yang sangat jelas: 05:00 WIB.
Alan menatap nanar angka tersebut. Kepalanya terasa sangat berat. Suara panggilan di dalam mimpinya tadi terasa begitu nyata, begitu menusuk, hingga ia merasa seolah Rahmi benar-benar ada di dalam kamarnya beberapa detik yang lalu, menangis memanggil namanya.
"Untuk ke sekian kalinya..." gumam Alan dengan suara parau khas orang yang baru bangun tidur. Tenggorokannya terasa kering kerontang. Ia mengusap rambutnya yang berantakan dengan frustrasi. "...untuk ke sekian kalinya gue mimpiin Rahmi. Gila, ini udah kesekian kalinya. Tapi kali ini... di mimpi ini dia cuma manggil nama gue doang. Suaranya... suaranya kayak orang yang lagi kesakitan banget."
Alan mencengkeram lututnya, menatap kosong ke arah pintu kamarnya. Perasaan ganjil yang semalam ia rasakan kini berubah menjadi kebingungan yang teramat sangat.
"Ada apa ini sebenarnya?!" desis Alan, setengah merutuki dirinya sendiri. Mengapa di saat ia seharusnya fokus pada hari bahagianya bersama Bunga, otaknya justru terus menerus menyeretnya kembali pada eksistensi Rahmi? Apakah ini sebuah firasat? Atau sekadar proyeksi dari rasa bersalahnya karena belakangan ini ia lebih banyak mengabaikan gadis itu demi mengejar sang bidadari manajemen?
Pemuda bermata elang itu menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan kewarasannya yang berserakan. Ia tidak boleh membiarkan pikiran-pikiran ganjil ini menghancurkan mood-nya hari ini. Hari ini adalah harinya bersama Bunga. Titik.
Alan mengumpulkan niatnya, lalu bangkit berdiri. Ia meraih handuk kumalnya yang tergantung di balik pintu, meletakkan sabun batangan dan sampo saset ke dalam gayung plastik kecil, lalu berjalan gontai membuka pintu kamarnya.
Udara pagi Kota Bandung menyambutnya dengan sapaan dingin yang langsung menusuk hingga ke tulang sumsum. Suasana kos-kosan masih sepi. Alan berjalan perlahan menuju area kamar mandi umum yang terletak di bagian luar, dekat dengan area jemuran pakaian. Saat ia melintas, matanya refleks melirik ke arah kamar bernomor 3, kamar yang dihuni oleh dua sahabat 'beban' tercintanya: Randi dan Ardi.
Pintu kamar itu masih tertutup rapat, seolah menyegel penghuninya di dalam dunia mimpi. Alan hanya menggelengkan kepalanya pelan, bersyukur karena setidaknya pagi ini ia tidak harus menghadapi kegilaan mereka berdua saat pikirannya sedang kacau balau begini.
Dengan air dingin yang seakan baru saja dicairkan dari balok es, Alan mandi dengan cepat. Guyuran air itu sedikit banyak membantu membilas habis sisa-sisa bayangan mimpi buruk tentang Rahmi yang sedari tadi terus menggerogoti kewarasannya.
Setelah selesai membersihkan diri, Alan kembali ke kamarnya dan mulai bersiap-siap. Ini bukan hari biasa. Ini adalah kencan pertamanya. Ia membuka lemari plastiknya, mencari pakaian terbaik yang ia miliki di antara tumpukan kaus oblong pudar dan seragam pelayan kafenya.
Pilihannya jatuh pada sebuah kemeja lengan pendek berwarna biru navy polos berbahan katun yang tidak terlalu mahal, dipadukan dengan celana jeans hitam yang sedikit memudar di bagian lututnya. Sebagai sentuhan akhir, ia mengenakan jaket kanvas berwarna khaki yang sudah menemani kesehariannya selama dua tahun terakhir.
Meskipun semua pakaian yang ia kenakan harganya jauh dari kata mahal, namun ketika dikenakan oleh seorang Alan Prawija, pakaian-pakaian sederhana itu seolah kehilangan status "murah"-nya. Postur tubuh Alan yang proporsional akibat sering melakukan pekerjaan fisik, bahunya yang tegap, serta fitur wajahnya yang tegas dengan rahang keras dan sorot mata tajam, membuat penampilannya terlihat sangat berkharisma. Ada pesona maskulin alami yang memancar darinya, sebuah kelebihan yang seringkali tidak disadari oleh Alan sendiri karena ia terlalu sibuk meratapi isi dompetnya.
Ia menyisir rambutnya ke belakang, menggunakan sedikit pomade sisa yang ia beli bulan lalu, lalu menyemprotkan parfum isi ulang beraroma musk di pergelangan tangan dan lehernya.
Alan menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang tertempel di pintu lemari. Ia menarik napas panjang, mencoba memompa rasa percaya dirinya.
"Oke, Lan. Hari ini harus sempurna. Lupakan soal mimpi, lupakan soal semuanya. Fokus ke Bunga," bisiknya menyemangati diri sendiri.
Alan membuka pintu kamarnya, bersiap untuk pergi. Namun, baru saja ia melangkahkan kakinya keluar, telinganya langsung disambut oleh keributan maha dahsyat yang sudah menjadi makanan sehari-harinya di kosan ini.
Di depan pintu kamar mandi, dua sosok pemuda dengan rambut acak-acakan khas bangun tidur dan mata yang masih setengah tertutup sedang saling dorong dengan brutal. Randi dan Ardi.
"Minggir lu, curut! Ini bagian gue, kampret!" teriak Ardi sambil berusaha menarik kerah kaus Randi dari belakang. Tangan kirinya memegang gayung berisi peralatan mandi dengan erat. "Kan elu udah kemarin yang pertama masuk! Sekarang jatah gue duluan! Gue ada kelas pagi, Dosen Botak bisa ngamuk kalau gue telat!"
"Bodo amat! Siapa cepat dia dapat!" balas Randi tidak mau kalah. Ia memosisikan tubuhnya yang sedikit lebih besar menutupi pintu kamar mandi, mempertahankan wilayah kekuasaannya seperti seorang prajurit Sparta. Ia lalu tertawa jahat, sebuah tawa licik yang menggema di lorong kosan. "Hahaha! Salah lu sendiri bangun telat, Di! Nikmatin aja sisa air bekas gue nanti!"
Melihat kelakuan dua sahabat idiotnya yang sudah membuat keributan di jam enam pagi, Alan merotasikan bola matanya dengan malas. Kepalanya yang baru saja tenang kembali berdenyut.
"Berisik!" bentak Alan dengan suara beratnya, memotong keributan mereka. Ia berjalan mendekati keduanya dengan tatapan tajam. "Bikin ribut aja lu pada pagi-pagi buta! Kalau ibu kos dengar, bisa diusir kita semua dari sini. Gak bisa antre yang benar apa?!"
Mendengar suara sang pemimpin geng, Ardi menghentikan acara tarik-menarik kerahnya dengan Randi. Ia menoleh ke arah Alan. Namun, alih-alih merasa bersalah, mata Ardi justru membelalak lebar melihat penampilan Alan dari atas sampai bawah. Kantuk di matanya lenyap seketika.
Ardi bersiul panjang, sebuah siulan menggoda yang sangat menyebalkan.
"Wuih... gila! Gaya lu, Bos!" seru Ardi dengan nada takjub yang dilebih-lebihkan. Ia menunjuk-nunjuk Alan dengan jari telunjuknya yang kotor. "Klimis bener! Wanginya sampai ke ujung gang kecium ini mah! Gaya lu bener-bener kayak orang yang mau kencan eksklusif. Siap tempur banget lu hari ini buat ngerebut hati si Bidadari Manajemen?"
Ardi lalu menyeringai jahil, mengedipkan sebelah matanya. "Jangan lupa, ya... kompensasi buat kita berdua sebagai sahabat yang selalu ngedoain elu dari belakang. Kalau lu sukses hari ini, lu harus traktir kita!"
Mendengar kata 'traktir', Randi yang sudah berhasil masuk setengah badan ke dalam kamar mandi seketika menghentikan aktivitasnya. Ia membuka pintu kamar mandi sedikit, menyembulkan kepalanya dengan mata berbinar-binar penuh harapan.
"Iya, Lan!" sahut Randi dengan semangat empat lima dari balik pintu kamar mandi. Sabun cuci mukanya masih menempel di sebelah pipinya. "Jangan lupa ya, porsi jumbo! Ingat, p-o-r-s-i j-u-m-b-o! Mie dok-dok pake telur dua, kerupuknya dibanyakin! Kalau lu sukses jadian sama Bunga, itu udah harga mati buat kita berdua!"
Melihat Randi yang tiba-tiba melunak hanya karena urusan perut, Ardi merasa mendapat kesempatan emas. Dengan gerakan secepat kilat, Ardi meraih gagang pintu kamar mandi dan berusaha membukanya dengan paksa untuk menerobos masuk.
Namun Randi yang memiliki refleks bertahan hidup yang tinggi, dengan cepat menarik kembali pintunya dan menutupnya rapat-rapat dengan bunyi BAM! yang keras, tepat beberapa sentimeter sebelum wajah Ardi terhantam kayu pintu. Terdengar suara kunci diputar dari dalam.
"Sialan lu, Randi!" umpat Ardi sambil menendang pintu kamar mandi dengan kesal. "Giliran makanan aja lu respon banget, kampret! Pikiran lu isinya usus semua!"
Dari dalam kamar mandi, suara gemercik air mulai terdengar, disusul oleh suara Randi yang membalas makian Ardi dengan santai. "Iya, lah! Masalah perut itu jangan pernah ditinggalin, Di! Apalagi traktiran dari si Bos Alan yang bentar lagi bakal jadi pacar anak konglomerat. Masa depan gizi kita terjamin, bro!" Randi kembali tertawa jahat dari dalam sana, mengalahkan suara guyuran air.
Alan yang berdiri bersandar di tembok hanya bisa memijat pelipisnya. Melihat kelakuan teman-temannya yang tidak tahu malu itu, rasa gugupnya perlahan mulai memuncak.
Traktiran? Jadian? Jangankan memikirkan soal jadian, sekadar berhadapan dengan Bunga dan keluarganya saja sudah membuat lutut Alan terasa lemas. Kenyataan bahwa Bunga berasal dari kasta sosial yang jauh berbeda dengannya selalu menjadi hantu yang menakutkan bagi Alan.
Alan menundukkan kepalanya, menatap sepatu sneakers bututnya yang solnya sudah mulai menipis. Rasa rendah diri yang selalu menjadi musuh terbesarnya kembali merayap naik, mencoba menguasai pikirannya.
"Lu aja yang WhatsApp si Bunga!," gumam Alan dengan suara pelan dan nada yang sangat pesimis. Ia menyembunyikan kedua tangannya di dalam saku jaketnya, mengalihkan pandangannya ke arah jemuran. "Gue... gue gak berani."
Mendengar keputusasaan dari mulut sahabatnya, Ardi yang sedang berdiri di depan pintu kamar mandi menghentikan gerutuannya. Ia menatap Alan, menyadari bahwa insecurity tingkat dewa pemuda itu sedang kumat. Ardi tersenyum jahil, sebuah senyum penuh tipu muslihat yang selalu ia gunakan untuk memancing emosi Alan agar kembali bersemangat.
"Oke, kalau lu emang gak berani, ya udah gak apa-apa, Lan," ucap Ardi dengan nada santai sambil mengangkat kedua bahunya. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding, bersedekap dada menatap Alan. "Kalau gitu... gue aja yang maju. Gue bakal minta nomor si Bunga ke si Dewi anak Akuntansi yang kebetulan kenal sama temennya Bunga aja." Ardi menjeda kalimatnya secara dramatis, lalu tertawa keras. "Hahaha! Siapa tahu si Bunga lebih demen sama cowok masa depan cerah kayak gue dibanding cowok pesimis kayak elu, kan? Lumayan, naik kasta gue!"
Mendengar ancaman konyol dan ledekan dari Ardi, darah Alan yang tadi terasa membeku seketika mendidih. Ego lelakinya tersentil keras. Ia menatap tajam ke arah Ardi, mendengus kasar.
"Dasar beban lu hidup," maki Alan dengan nada ketus, yang sukses memancing tawa Ardi semakin keras.
Makian itu menandakan bahwa semangat bertarung Alan telah kembali. Ardi tahu betul cara memencet tombol restart di otak Alan. Daripada terus meladeni dua makhluk merepotkan itu, Alan memutuskan untuk segera pergi sebelum keberaniannya kembali menguap. Ia melambaikan tangannya mengusir Ardi, lalu melangkah mantap menuju tangga.
Alan turun ke lantai satu, menuju area parkir kosan tempat harta karun paling berharganya berada. Sebuah motor sport 250cc yang bodinya sudah tidak mengkilap lagi, hasil dari tabungannya yang ia kumpulkan mati-matian selama bertahun-tahun serta sedikit uang warisan terakhir dari mendiang ayahnya. Motor itu adalah satu-satunya barang mewah yang ia miliki, satu-satunya penyamar status sosialnya saat ia berada di luar.
Ia memanaskan mesin motornya sebentar, mendengarkan deru knalpot yang bertenaga itu, lalu memasang helm full face-nya. Dengan sekali tarikan gas, Alan melesat meninggalkan lingkungan kos-kosan kumuh itu, membelah jalanan Kota Bandung yang masih diselimuti kabut tipis di pagi hari.
Angin dingin menampar wajahnya melalui celah kaca helm, membawa pergi sisa-sisa kegelisahannya. Jantungnya kini berdegup kencang, bukan karena mimpi buruk, melainkan karena antisipasi yang luar biasa hebat.
Hanya butuh beberapa belas menit bagi Alan untuk menembus jalanan yang masih lengang. Roda motornya berhenti tepat di tepian sebuah taman rindang yang terletak tidak jauh dari area kampus mereka. Ini adalah titik kumpul sementara yang mereka sepakati semalam karena Alan terlalu malu untuk langsung datang ke rumah Bunga.
Alan mematikan mesin motornya, membuka kaca helm, lalu mengambil ponsel dari saku jaketnya. Jari-jarinya sedikit gemetar saat ia membuka ruang obrolan dengan Bunga.
“Aku udah di taman deket kampus, Nga,” ketik Alan, jantungnya berdebar menunggu balasan.
Tidak sampai satu menit, sebuah notifikasi balasan muncul, disertai dengan sebuah tautan lokasi langsung (shareloc).
“Ini aku shareloc rumah aku, Lan. Gak jauh kok dari kampus. Kamu langsung ke sini aja ya, aku udah siap dari tadi hihihi”
Alan menelan ludah. Ia membuka tautan lokasi tersebut. Titik kordinat yang ditunjukkan berada di sebuah kawasan perumahan elite yang terkenal di Bandung, perumahan yang diisi oleh barisan rumah gedongan dengan penjagaan keamanan dua puluh empat jam. Jaraknya memang tidak jauh, namun jarak status sosialnya terasa sejauh bumi dan pluto.
Setelah menghapal rutenya, Alan kembali menyalakan motornya dan melaju perlahan mengikuti petunjuk arah. Memasuki kawasan perumahan tersebut, rasa percaya diri Alan langsung anjlok berkali-kali lipat. Jalanan perumahan itu diaspal mulus tanpa ada lubang sedikit pun. Trotoarnya bersih, ditumbuhi pohon-pohon palem yang tertata rapi. Mobil-mobil mewah keluaran Eropa tampak terparkir dengan angkuh di beberapa garasi rumah yang gerbangnya terbuka.
Akhirnya, Alan tiba di titik lokasi. Ia menghentikan motornya di seberang jalan, tepat di samping sebuah gerbang besi menjulang tinggi berwarna hitam elegan yang dihiasi ornamen emas. Rumah di balik gerbang itu tampak megah luar biasa, bergaya arsitektur klasik modern dengan pilar-pilar kokoh dan taman depan yang luasnya mungkin setara dengan lapangan futsal.
Nyali Alan ciut seketika. Ia mematikan mesin motornya dan dengan tergesa-gesa memundurkan motornya sedikit, bersembunyi di balik bayangan pohon besar yang ada di samping tembok pembatas rumah tersebut. Ia menatap lurus ke arah pos penjagaan kecil yang menyatu dengan pagar. Di dalam sana, terlihat seorang satpam berseragam safari gelap sedang duduk sambil menyeruput kopi paginya.
'Gila... rumahnya segede istana,' batin Alan meronta, tangannya mencengkeram setir motor dengan kuat. 'Gue ini ibarat kerak nasi yang maksa masuk ke prasmanan hotel bintang lima. Malu banget gue kalau harus ngetok gerbang itu dan ngomong ke satpamnya kalau gue mau ngajak anak majikannya jalan. Bisa diketawain gue.'
Dihantui oleh rasa malu dan insecurity yang sudah mencapai ubun-ubun, Alan memilih jalan aman. Ia mengetikkan pesan dengan cepat.
“Aku udah di bawah, Nga.”
Sementara itu, di dalam rumah megah yang menjadi sumber ketakutan Alan, suasana hangat khas keluarga kecil tengah tercipta di ruang makan.
Bunga baru saja turun dari lantai dua. Penampilannya pagi itu... luar biasa menawan. Gadis itu mengenakan gaun selutut berwarna peach pastel yang sangat pas di tubuh rampingnya, dipadukan dengan cardigan rajut tipis berwarna putih tulang. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai natural dengan sedikit jepitan pita kecil di sisi kanan kepalanya. Riasan wajahnya sangat flawless, natural, mempertegas kecantikan alaminya tanpa terlihat berlebihan. Bibirnya dipoles lip tint berwarna merah muda segar yang membuatnya terlihat semakin manis. Ada aura elegan dan murni yang memancar darinya, aura seorang putri yang dilahirkan untuk dicintai.
Bunga berjalan tergesa-gesa dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. Ia meraih tas selempang kecilnya bermerk mahal dari atas sofa, lalu menoleh ke arah meja makan panjang berbahan marmer di mana kakak laki-lakinya sedang duduk santai sambil membaca berita dari tabletnya.
"Kak Indra!" teriak Bunga dengan nada ceria yang menggema di seluruh ruangan luas itu. Ia melambai ke arah kakaknya. "Aku main dulu, ya! Temenku udah nunggu di depan!"
Indra, pemuda tampan dengan kemeja casual yang sedang menyesap kopi espresso-nya, menoleh. Matanya menyipit melihat penampilan adiknya yang tidak biasa. Indra tersenyum penuh arti, sebuah senyum menggoda yang sangat khas dari seorang kakak laki-laki yang protektif namun menyayangi adiknya.
Indra meletakkan tabletnya di atas meja, mengendus udara di sekitarnya dengan dramatis.
"Wuih... wangi bener lu hari ini, Dek," goda Indra dengan kekehan pelan, menatap Bunga dari atas sampai bawah. "Gaya udah kayak princess mau ke pesta dansa. Wangi parfum lu sampai nembus ke hidung gue. Mau kencan, ya, sama cowok yang sering lu ceritain itu? Siapa tuh namanya... Alin? Alun?"
"Alan, Kak, ih! Sembarangan aja ganti nama anak orang!" sahut Bunga dengan pipi yang sedikit merona merah. Ia cemberut lucu. "Udah ah, aku berangkat! Nanti dia kelamaan nunggu di luar."
"Yaudah, hati-hati di jalan, ya. Jangan pulang kemalaman. Kalau ada apa-apa, langsung telepon Kakak," pesan Indra dengan nada yang kembali serius, aura seorang pemimpin perusahaan muda menguar dari cara bicaranya.
"Iya, Kak, siap laksanakan!" balas Bunga sambil memberi hormat ala tentara dengan jenaka.
Bunga berlari kecil menuju pintu utama rumahnya yang terbuat dari kayu jati berukir mewah. Sepatu flat shoes-nya menimbulkan bunyi tap tap tap yang riang di atas lantai marmer. Ia membuka pintu berat itu dengan semangat, udara segar pagi hari langsung menyapu wajah cantiknya.
Dengan langkah setengah melompat, Bunga berjalan menyusuri halaman tamannya yang luas menuju gerbang utama. Kedatangannya langsung disambut oleh satpam paruh baya yang berjaga di pos, Pak Yanto.
Melihat majikan mudanya tampil cantik luar biasa dan tersenyum cerah, Pak Yanto bergegas keluar dari posnya untuk membukakan pintu gerbang besi yang berat itu.
"Wah, kencan nih kayaknya Si Non hari ini," sapa Pak Yanto ramah, tangannya sibuk memutar kunci gerbang. "Cantik bener, Non. Pasti cowoknya beruntung banget."
Bunga terkikih pelan mendengar godaan satpam yang sudah bekerja di keluarganya sejak ia masih SD itu. Ia menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang telinganya.
"Iya dong, Pak," balas Bunga dengan nada bercanda yang renyah dan tidak sombong sama sekali. "Mumpung masih laku, Pak Yanto. Kalau di rumah terus nanti lumutan akunya."
Pak Yanto tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban jujur dan polos dari majikannya itu. Ia menarik daun pintu gerbang hingga terbuka cukup lebar agar Bunga bisa lewat.
"Ya sudah, hati-hati di jalan ya, Non. Semoga kencannya lancar, jangan lupa makan siang," ucap Pak Yanto tulus.
Bunga melangkah keluar melewati batas gerbang. Sebelum melangkah lebih jauh, ia menoleh kembali ke arah Pak Yanto dan tersenyum manis.
"Iya, Pak, makasih doanya," ucap Bunga. Ia lalu teringat sesuatu. "Oh iya, Pak Yanto! Bapak ambil rokok sama kopi di Bi Minah aja ya di belakang, tadi aku udah pesenin buat Bapak biar Bapak gak ngantuk jaganya."
Mata Pak Yanto langsung berbinar cerah. Mendapat jatah rokok dan kopi gratis dari Bi Minah—kepala asisten rumah tangga keluarga itu—adalah sebuah kemewahan baginya. "Siap, Non! Wah, makasih banyak ya, Non Bunga! Semoga dilancarkan rezekinya!"
Bunga hanya melambaikan tangannya sambil tersenyum, lalu memutar tubuhnya menghadap ke arah jalanan.
Begitu ia berada di luar gerbang, Bunga langsung menoleh ke arah kiri dan ke kanan, mengedarkan pandangannya mencari sosok yang mengiriminya pesan beberapa menit yang lalu. Matanya menelusuri deretan mobil yang terparkir dan bayangan pepohonan.
Dan di sanalah ia.
Di bawah bayangan pohon besar, agak tersembunyi dari pandangan pos satpam, seorang pemuda berjaket khaki sedang duduk bersandar di atas motor sport hitamnya. Pemuda itu terlihat sedang menatap layar ponsel, namun seketika mengangkat kepalanya saat mendengar suara langkah kaki.
Mata mereka bertemu.
Bunga tersenyum, sebuah senyuman paling tulus dan paling memabukkan yang pernah ia berikan kepada siapa pun. Ia melambaikan tangannya dengan semangat. "Alan!" panggilnya dengan suara lembut yang langsung menghantam telinga Alan.
Bunga melangkah pelan menghampiri pemuda itu. Angin pagi meniup lembut rambut panjang dan ujung gaun peach Bunga, membuat langkahnya terlihat seolah ia sedang mengambang di atas tanah, diiringi oleh semburat cahaya matahari pagi yang baru saja mengintip dari ufuk timur, memberikan efek halo di sekitar tubuhnya.
Di titik inilah waktu terasa berhenti berputar bagi Alan Prawija.
Alan, yang sedari tadi sedang memutar otak untuk merangkai kalimat sapaan pertama yang keren, mendadak lumpuh total. Otaknya berhenti bekerja, tersapu bersih oleh pemandangan luar biasa yang tersaji di depan matanya. Ponsel di tangannya nyaris terjatuh.
Alan hanya bisa mematung. Matanya menatap tanpa berkedip ke arah gadis yang sedang berjalan ke arahnya. Ia benar-benar terpesona, terhipnotis, dan kehilangan seluruh kemampuan kognitifnya.
Bunga terlihat begitu sempurna. Kecantikannya seolah menembus relung jiwa Alan, menghancurkan seluruh dinding insecurity yang sedari tadi ia bangun, namun di saat yang sama, kecantikan itu juga mempertegas jurang pemisah di antara mereka. Alan merasa dirinya hanyalah seekor pungguk merana yang sedang menatap bulan yang bersinar terang, sangat dekat, namun tak akan pernah bisa ia sentuh kemurniannya.
"Maaf ya, Alan, nunggu lama nggak?" tanya Bunga saat ia akhirnya berdiri tepat di hadapan motor Alan. Jarak mereka kini kurang dari satu meter. Aroma parfum Bunga yang manis dan menyegarkan langsung memenuhi indra penciuman Alan, mengalahkan aroma knalpot motornya.
Alan tidak merespons. Mulutnya sedikit terbuka, namun tak ada satu pun silabel yang keluar. Matanya menelusuri detail wajah Bunga, dari sepasang matanya yang berbinar jernih, hidungnya yang bangir, hingga bibirnya yang tersenyum manis menatapnya.
Pesona sang bidadari manajemen benar-benar telah melumpuhkan sang kuli kafe. Di hadapan Bunga, Alan Prawija yang biasanya ketus, sinis, dan pandai memaki bersama sahabat-sahabatnya, berubah menjadi sebuah patung batu yang tak bisa berkata-kata, terjebak dalam debaran jantung yang memabukkan namun juga, diam-diam, menyimpan ketakutan yang mendalam akan sebuah patah hati di masa depan.