Saat membuka mata kembali, Aruna mendapati dirinya hidup kembali, terbangun di masa lalu, tepat sebelum segala kehancuran dalam hidupnya dimulai.
Dengan ingatan yang masih utuh akan luka dan kematiannya, dia berjanji akan membuat Rafael dan semua orang yang menyakitinya merasakan penderitaan yang sama, bahkan berkali lipat lebih berat.
Di tengah rencananya yang penuh dendam itu, Aruna mencari kembali Zeffrano - pria dingin, misterius, dan berkuasa yang di kehidupan sebelumnya pernah dia tolak lamarannya.
"Kali ini bukan lagi aku yang ada di bawah kakimu. Kali ini, akulah yang akan berdiri di puncak tertinggi bersama orang paling berkuasa di kota ini." ~ Aruna Kirana Dirgantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
Pintu ruang kerja Zeffrano terbuka perlahan, dan Alvin melangkah masuk dengan langkah yang tegas namun wajahnya terlihat penuh keraguan dan kewaspadaan. Dia menutup pintu rapat-rapat, memastikan tidak ada telinga yang tidak berwenang mendengar, lalu mendekat ke meja kerja tempat Zeffrano sedang duduk.
"Alvin. Ada apa?" tanyanya singkat, dia meletakkan pena dan berhenti membaca dokumen di hadapannya, mengangkat wajahnya.
Alvin mengangguk, lalu meletakkan selembar berkas laporan resmi di atas meja.
"Tuan, informasi baru dari kepolisian. Rafael sudah dibebaskan sejak tadi malam. Semua tuduhan yang awalnya ditujukan kepadanya, secara tiba-tiba dipindahkan seluruhnya ke atas nama Tuan Hendrawan."
Zeffrano menyipitkan mata, rahangnya mengeras perlahan.
"Dipindahkan? Bagaimana bisa? Bukankah bukti keterlibatan mereka berdua sama kuatnya? Semua transaksi, percakapan, dan perjanjian itu jelas melibatkan mereka berdua secara setara."
"Itulah yang membuatnya aneh, Tuan," jawab Alvin sambil menggeleng. "Menurut laporan resmi, dinyatakan bahwa bukti yang mengaitkan Rafael dianggap tidak cukup sah secara prosedur. Sebaliknya, semua tanggung jawab seolah dipusatkan hanya pada Tuan Hendrawan. Bahkan hakimnya sendiri sempat kebingungan, namun keputusannya sudah turun dan tidak bisa dibatalkan dalam waktu dekat."
Zeffrano berdiri dan berjalan menuju jendela, memandang ke luar dengan pikiran yang bekerja cepat. Sebuah pola mulai terbentuk di benaknya.
"Jadi mereka mengorbankan Tuan Hendrawan untuk membebaskan Rafael," gumamnya pelan. "Mengambil satu korban agar yang lain bisa kembali bebas. Strategi yang sangat terencana dan kejam."
Dia berbalik menghadap Alvin, sorot matanya kini penuh rasa ingin tahu sekaligus kewaspadaan.
"Ini tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Ada seseorang yang memiliki kekuasaan, uang, dan jaringan pengaruh yang sangat besar di balik semua ini. Orang yang mampu memutarbalikkan keputusan pengadilan, mengatur ulang bukti, dan menentukan siapa yang harus dipenjara dan siapa yang dibebaskan sesuka hati."
Alvin mengangguk setuju.
"Saya sudah memeriksa latar belakang semua pihak yang terlibat dalam kasus ini, baik yang dikenal maupun yang tidak. Tidak ada nama besar yang tercatat secara resmi mendukung Rafael. Semuanya terlihat seperti kebetulan, tapi jelas sekali itu bukan kebetulan."
Zeffrano kembali duduk, lalu menatap laporan itu dengan pandangan yang tajam dan menyelidik.
"Siapa dia?" tanyanya, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Siapa orang kuat yang diam-diam menggerakkan semua ini? Apa hubungannya dengan Rafael? Dan yang paling penting… apa tujuannya sebenarnya? Jika dia hanya ingin membebaskan Rafael, kenapa harus melalui cara yang beresiko seperti ini? Apa yang dia harapkan sebagai imbalan?"
"Saya belum menemukan jawabannya, Tuan," jawab Alvin jujur. "Rafael sekarang juga menghilang tanpa jejak. Tidak ada alamat baru, tidak ada kontak yang aktif, seolah dia lenyap dari peta. Sepertinya dia langsung masuk ke perlindungan pribadi orang itu segera setelah keluar dari tahanan."
Zeffrano terdiam sejenak, jemarinya mengetuk-ngetuk meja kerja dengan irama yang terasa berat, tanda pikirannya sedang berpacu mempertimbangkan segala kemungkinan.
"Kalau begitu jangan buang waktu lagi," perintahnya singkat namun tegas. "Segera hubungi Ardi dan sampaikan padanya untuk meningkatkan kewaspadaan ke tingkat paling tinggi di rumah Aruna. Jangan sampai Aruna kenapa-kenapa."
"Siap, Tuan."
"Beritahu dia untuk memperketat pemeriksaan setiap orang yang keluar masuk gerbang," jelas Zeffrano, matanya menyempit memikirkan segala celah yang bisa dimanfaatkan. "Tidak ada tamu yang boleh masuk tanpa konfirmasi langsung dariku atau dari Aruna sendiri, bahkan jika mereka mengaku kenal, membawa surat pengantar, atau datang atas nama siapapun. Semua identitas harus diperiksa ulang, dicocokkan, dan dicatat secara lengkap."
Dia menjeda sebentar, lalu menambahkan dengan nada yang lebih berat.
"Perintahkan juga agar semua sistem pengawasan dipastikan berfungsi sempurna - kamera, pagar pengaman, dan sistem peringatan darurat. Gandakan jumlah penjaga yang berjaga, baik di dalam pekarangan maupun di sekeliling lingkungan luar. Tidak boleh ada satu titik pun yang luput dari pengawasan mereka, terutama saat pagi hari sebelum Aruna berangkat dan sore hari saat dia kembali."
Alvin mengangguk cepat, "Baik, Tuan. Apa ada hal lain lagi?"
"Dan yang paling penting," lanjut Zeffrano, suaranya sedikit menurun namun terasa lebih menekan, "Beritahu Ardi untuk melaporkan setiap gerakan yang terasa janggal, sekecil apapun itu."
"Dimengerti sepenuhnya, Tuan," jawab Alvin tegas, "Saya akan menghubungi Ardi sekarang juga."
Zeffrano mengangguk perlahan, namun rahangnya tetap tegang. Ia berdiri kembali dan melangkah lagi ke jendela, memandang ke arah jalan raya yang terlihat jauh di bawah gedungnya.
"Lakukan secepatnya, Alvin. Dan kabari aku segera jika ada laporan apapun, baik itu hal kecil maupun besar."
"Baik, Tuan."
Alvin membungkuk sopan, lalu berjalan cepat keluar dari ruangan untuk segera melaksanakan perintah itu. Begitu pintu tertutup kembali, Zeffrano menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, mencoba menenangkan rasa gelisah yang mulai merayap di hatinya.
-
-
-
Matahari mulai merunduk ke barat, menyebarkan cahaya oranye redup di atas halaman rumah yang rindang dan sepi. Di teras depan, Rafael dan Tania duduk bersantai, perasaan lega masih terasa setelah mereka tahu ke mana arah permainan ini, meski rasa waspada tetap tidak pernah hilang sepenuhnya.
Belum lama mereka duduk, suara deru mesin kendaraan besar terdengar mendekat dari jalan setapak. Suaranya halus namun berat, semakin jelas seiring waktu, hingga akhirnya sebuah mobil hitam besar berhenti tepat di halaman rumah tersebut sesaat setelah para penjaga membukakan gerbang.
Pintu sisi pengemudi terbuka lebih dulu. Keluarlah pria bertubuh kekar, berwajah datar tanpa ekspresi, pria yang kemarin menjemput mereka di gerbang penjara dan mengantar ke tempat ini. Dia berdiri tegak di samping pintu belakang, matanya mengamati sekeliling dengan waspada, siap melindungi setiap saat.
Sesaat kemudian, pintu belakang terbuka perlahan. Seorang pria melangkah turun dengan langkah yang terukur, tenang, namun memancarkan tekanan yang terasa sampai ke dada.
Rafael melangkah maju sedikit, pandangannya penuh tanya dan rasa ingin tahu yang tidak bisa disembunyikan. Sementara Tania masih diam memperhatikan, mengenali wajah itu sebagai wajah pria misterius yang dia temui malam itu.
"Maaf, Tuan… apakah Tuan yang mengatur agar aku bisa keluar dari penjara? Yang memindahkan semua tuduhan hanya ke atas nama Tuan Hendrawan?" tanya Rafael.
Pria itu berhenti tepat di hadapan mereka. Ia menatap Rafael sekilas, lalu mengalihkan pandangannya ke Tania sejenak.
"Namaku Theo Adiputra. Ya, aku yang mengurusnya sampai selesai. Dan sekarang aku punya tugas pertama untuk kalian berdua."
-
-
-
Bersambung...
semoga zeff segera tau dalang dibalik semuanya....
bukan indah kalau hidup Damai tanpa dendam 🤭