NovelToon NovelToon
TIDUR DOANG TIBA-TIBA JADI MILIARDER

TIDUR DOANG TIBA-TIBA JADI MILIARDER

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

Kalian pasti pernah kan, seenggaknya sekali seumur hidup, rebahan di kamar sambil menatap langit-langit terus ngehayal: "Coba aja tidur doang bisa dapet duit, pasti gue udah jadi orang terkaya di dunia." Nah, hayalan konyol yang sering kita impikan pas lagi capek-capeknya hidup itu, mendadak jadi kenyataan buat Abdul. Pemuda miskin korban PHK ini doanya dikabulkan secara ajaib. Sekali merem, saldo banknya bertambah 10 juta. Makin nyenyak dia ngorok, makin triliunan uang yang masuk ke rekeningnya secara legal! Tapi ternyata, dapet duit cuma modal tidur itu gak sesantai kedengarannya. Karena gak pernah keluar rumah tapi mendadak kaya raya, Abdul langsung dicurigai satu kampung pelihara babi ngepet, digerebek warga pas lagi enak tidur, dikejar-kejar orang pajak, sampai didatangi mantan pacar yang dulu ninggalin pas lagi sayang-sayangnya, Ups!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 KEJADIAN TAK TERDUGA I

Aktivitas di Panti Asuhan Harapan Bunda berubah total sejak kedatangan truk sembako misterius beberapa hari lalu. Dari seberang jalan, di balik rindangnya pohon peneduh, Abdul berdiri tegak dengan kedua tangan tenggelam di saku celana. Ia sengaja memakai topi hitam yang ditarik agak rendah untuk menyamarkan pandangannya.

Di halaman panti, anak-anak yatim yang kemarin terlihat lesu kini tampak berlarian kecil dengan wajah ceria. Beberapa di antaranya terlihat memegang kotak susu berukuran kecil sambil tertawa gembira, sebuah pemandangan yang membuat sudut bibir Abdul perlahan terangkat.

Ibu Aminah juga tidak lagi duduk termenung dengan gurat keputusasaan di teras. Wanita paruh baya itu sibuk menjemur pakaian anak-anak sambil sesekali melempar senyum tulus kepada anak-anak pantinya. Stok makanan yang melimpah di dalam gudang panti setidaknya telah mengangkat satu beban raksasa yang selama ini menghimpit pundaknya.

Namun, senyum Abdul tidak bertahan lama. Pandangannya bergeser ke atas, menatap garis atap bangunan panti yang melorot tajam. Angin sore yang berembus agak kencang membuat terpal plastik biru di sisi kiri bangunan berkibar-kibar mengeluarkan suara bising. Tali rafia yang mengikatnya tampak menegang, menahan beban terpal agar tidak terbang.

"Sembako cuma bisa ngisi perut mereka buat beberapa bulan ke depan," batin Abdul dengan pandangan menyipit. "Tapi kalau hujan badai datang malam-malam, terpal itu gak bakal sanggup melindungi mereka. Bangunan ini udah terlalu lapuk."

Abdul mengembuskan napas panjang. Ia sadar, bantuan logistik hanyalah obat penenang sementara. Panti asuhan itu membutuhkan perbaikan total, sebuah tempat bernaung yang kokoh dan layak di mana anak-anak tidak perlu terbangun tengah malam karena kasur mereka basah tertembus air hujan. Abdul membalikkan badan, melangkah kembali menuju Gang Seng dengan benak yang mulai menyusun rencana baru.

Langkah kaki Abdul membawa dirinya kembali ke atmosfer Gang Seng yang padat. Begitu mendekati pagar rumahnya sendiri, telinganya langsung disambut oleh deru dari 2 mesin jahit yang bekerja bersamaan. Teras rumahnya yang berukuran tiga kali empat meter itu kini benar-benar telah berubah menjadi sebuah pabrik konveksi mini yang super padat.

Tumpukan gulungan kain berbagai warna tampak berjejal di setiap sudut teras, menyisakan ruang gerak yang sangat minim bagi para pekerjanya. Rian sedang fokus memotong pola kain di atas meja kayu panjang, sementara Jaka duduk di balik mesin jahit dengan dahi yang dibanjiri keringat, berkejaran dengan target pesanan seragam yang kian menumpuk.

"Gila, bener-bener gak ada celah buat napas ini, Dul," keluh Jaka tanpa mengalihkan pandangannya dari jarum mesin jahit yang bergerak naik turun dengan cepat. "Geser pantat dikit aja udah langsung mentok sama karung benang."

Abdul berjalan mendekat, melompati salah satu gulungan kain besar yang menghalangi jalan. "Sabar, Jak. Pesanan lagi bagus-bagusnya. Kita kejar tayang dulu minggu ini."

"Aku bukannya gak bersyukur, Dul," timpal Rian sambil meletakkan gunting kainnya sejenak untuk mengusap lehernya yang gerah. "Tapi tempat kita ini bener-bener udah gak muat. Ibu kamu tadi mau keluar jemput air aja harus jalannya miring-miring kayak kepiting gara-gara ketutupan meja potong aku."

Abdul terdiam, memandangi sekeliling terasnya dengan saksama. Apa yang dikatakan Rian memang benar adanya. Usaha jahit mereka berkembang jauh lebih cepat dari yang ia perkirakan, namun keterbatasan fasilitas fisik rumah lamanya kini mulai menjadi batu sandungan yang nyata. Ruang kerja mereka terlalu sempit, pengap, dan tidak efisien.

Tiba-tiba, Ibu Abdul keluar dari dalam rumah sambil membawa sebuah baskom plastik besar berisi tumpukan kain yang baru selesai dicuci. Langkah wanita paruh baya itu langsung tertahan di ambang pintu, menatap bingung ke arah lantai teras yang dipenuhi potongan sisa kain dan gulungan material baru yang belum sempat dirapikan.

"Ya Allah, Abdul... ini kain-kainnya dipojokin dikit bisa gak, nak? Ibu bingung mau lewatnya gimana ini, takut keinjek terus kotor," ucap Ibu Abdul dengan nada lelah namun tetap berusaha lembut.

"Eh, iya, Bu. Sini Abdul bantuin bawain baskomnya," sahut Abdul buru-buru mengambil alih baskom dari tangan ibunya.

"Bukan apa-apa, Dul. Rumah kita jadi kelihatan penuh banget semenjak pesanan konveksi kamu rame. Ibu seneng usaha kamu maju, tapi kalau semua ruangan dipake nyimpen kain begini, rumah kita berasa makin sempit," tutur sang ibu pelan sambil mengembuskan napas panjang, lalu berjalan masuk kembali ke dalam rumah untuk mengambil sapu.

Abdul menaruh baskom tersebut di tempat yang aman, lalu menatap Jaka dan Rian dengan ekspresi serius. "Kayaknya kita emang beneran butuh tempat baru yang lebih luas."

"Nah, itu dia yang dari kemarin mau aku omongin, Dul," sahut Jaka, tangannya kembali bergerak lincah mengarahkan kain ke bawah sepatu mesin jahit. "Kalau ada modal lebih, mending kamu cari kontrakan ruko atau tanah kosong di sekitaran gang ini buat dijadiin tempat khusus. Biar rumah kamu bisa balik tenang lagi buat tempat tinggal Ibu."

Sebelum Abdul sempat membalas ucapan Jaka, sebuah suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar mendekat dari arah pagar luar. Sosok wanita paruh baya dengan daster bermotif bunga-bunga dan wajah yang tampak ketat langsung muncul di teras. Wanita itu adalah Ibu RT, salah satu pelanggan yang memesan satu lusin seragam majelis taklim premium dari bahan kain sutra halus.

"Permisi! Abdul, gimana pesanan seragam majelis taklim saya? Sudah beres belum? Sore ini mau dicoba sama ibu-ibu yang lain," tanya Ibu RT dengan suara lantang yang langsung mendominasi suasana teras.

Jaka yang dikejutkan oleh kedatangan Ibu RT yang tiba-tiba, refleks memutar tubuhnya ke kanan untuk mengambil hasil jahitan di samping meja mesin. Namun, karena ruang gerak di teras tersebut terlalu sempit dan dipenuhi barang, sikut Jaka tanpa sengaja menyenggol sebuah gelas plastik berisi kopi hitam pekat yang diletakkan di sudut meja jahit.

Plak!

Gelas itu terguling dan isinya langsung tumpah membanjiri lantai teras. Sialnya, aliran kopi hitam yang pekat itu mengalir dengan cepat ke arah bawah meja jahit, tepat di mana tumpukan kain sutra putih pesanan milik Ibu RT yang baru saja selesai dipotong berada. Kain sutra yang semula bersih tanpa noda itu seketika meresap cairan kopi, berubah warna menjadi cokelat tua yang kotor dan berbau menyengat.

1
Ahmadi 241215
udah tau nama nya rizki.masih nanya dasar tolol,di cari di kampus nama rizki.kan udah tau wajahnya.klo bikin cerita pakai otak,kalo gak punya otak,ke rumah sakit jiwa aja anjing
irawan muhdi
lanjut Thor
Farhat Syahada
mantapp up truss
BaekTae Byun
buset gw kira ini tentang sistem santai atau sesuai dengan judul ternyata ngga
Arrofy: ini baru awal perjalanan, ikutin terus perjalanan Abdul, akan banyak kejutan di bab2 selanjutnya😍
total 1 replies
Gege
bilang begene biar argo rumah sakit jalan terus.. kalo cepet sembuh rumah sakit kehilangan ATM berjalannya...🤣
Arrofy: hehehe🤣🤣🤣
total 1 replies
Pur Yono
bagus Dull sudah punya uang tetapp baik hati sama teman yang kesulitan👍
Pur Yono
cerdas kamu thor lanjut kembangkan kreatifitasmu
Pur Yono
upterus👍
Pur Yono
author pintar menyesuaikan cerita dengan situasi dan kondisi jaman sekarang upterus💪
Pur Yono
alur ceritanya santai mudah diikuti lanjut👍
Junior Ian
insprative novel 👍👍
Arrofy: terimakasih ya😍
total 1 replies
irawan muhdi
lanjut Thor
Arrofy: di tunggu ya/Chuckle/
total 1 replies
Gege
naaaah novel tema system yang ringan, enak dibaca modelan begene yang bikin hiburan lengkap... Yoo gass thor 10k kata tiap update..💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!