NovelToon NovelToon
Terjerat Pesona Berondong

Terjerat Pesona Berondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Obsesi / Enemy to Lovers
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

JANGAN DIBACA NANTI KETAGIHAN! 😝😘

Bagi Haura Widjaja, hidup adalah angka, target, dan ruko jastip yang harus berjalan sempurna. Di usianya yang ke-38, ia tidak butuh pria—apalagi bocah tengil yang hobi menebar pesona.
Namun, Marco Permana hadir membawa kekacauan. Mahasiswa DKV berusia 20 tahun itu bukan hanya sekadar asisten magang yang nekat; dia adalah bratt yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Haura.
Satu adalah "Beauty" yang kaku dan perfeksionis.
Satu adalah "Brat" yang liar dan tak kenal takut.
Dua dunia yang seharusnya tidak pernah beririsan kini terjebak di tengah tumpukan kardus dan aroma lakban. Ketika si bocah tengil memutuskan untuk memburu hati sang Ratu Jastip, bisakah Haura tetap dingin, atau justru ia yang akan bertekuk lutut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Kepergian Marco dan Arlo menyisakan atmosfer yang benar-benar canggung di area lobi ruko. Arjuna masih berdiri dengan rahang mengeras, sementara Emilia hanya bisa menatap pintu pembatas belakang dengan pandangan prihatin. Haura tahu, jika ia membiarkan Arjuna tetap di sini, fokusnya hari ini akan hancur berantakan. Pikiran wanita itu sudah sepenuhnya tersedot oleh ucapan lancang Marco sebelum masuk ke dalam tadi.

Haura menghela napas panjang, mencoba mengulas senyum terbaiknya meski hatinya sedang gemetar hebat. "Jun... maaf banget ya atas kelakuan anak magang tadi. Dia emang agak kurang tahu aturan."

Arjuna menatap Haura, mencoba membaca ekspresi wajah sahabat lamanya. "Dia keterlaluan, Ra. Cowok kayak gitu nggak pantas kerja di tempat kamu. Mau aku bantu cari penggantinya?"

"Nggak usah, Jun. Biar aku yang urus dia sendiri," potong Haura cepat, ada nada protektif yang samar dalam suaranya. "Jun, ngobrolnya dilanjut nanti di chat nggak apa-apa kan, ya? Aku harus ngurusin mereka berdua dulu di belakang. Takutnya mereka malah salah packing barang jastip orang kalau lagi emosi begitu."

Arjuna terdiam sejenak, lalu mengembuskan napas pasrah. Ia meraih ponsel dan kunci mobilnya di atas meja. "Iya, Ra. Nggak apa-apa, bisnis kamu emang nomor satu dari dulu. See you."

"See you, Jun. Sekali lagi maaf ya," sahut Haura sembari mengantar Arjuna dengan pandangan mata sampai pria itu benar-benar keluar dari pintu kaca ruko.

Begitu mobil Arjuna menjauh, Haura langsung berbalik dengan cepat. Langkah heels-nya berketuk nyaring di atas lantai marmer ruko saat ia melangkah masuk ke dalam area operasional. Ia mendapati Emilia sedang berdiri di dekat meja admin dengan berkas di tangannya.

"Marco mana, Mil?" tanya Haura langsung, suaranya naik satu oktav karena panik dan kesal yang bercampur jadi satu.

Emilia tidak langsung menjawab. Perempuan itu menaikkan jempolnya, menunjuk ke arah ruang penyimpanan logistik di lantai dua yang dibatasi oleh sekat kaca buram. "Tuh, di atas. Mukanya udah kayak mau ngajak orang perang pas naik tangga tadi. Arlo aja sampai milih kabur ke toilet lantai bawah karena nggak berani satu ruangan sama dia."

Haura mengepalkan tangannya. "Anak itu bener-bener minta digetok!"

"Gue saranin lo hati-hati, Ra. Aura cemburunya si Marco tadi... jujur, serem banget buat ukuran anak umur dua puluh tahun," bisik Emilia memperingatkan.

Haura tidak memedulikan peringatan sahabatnya. Ia langsung melangkah lebar menaiki anak tangga kayu ruko menuju lantai dua. Begitu sampai di atas, ia mendorong pintu kaca ruang penyimpanan barang jastip khusus barang-barang bermerek yang sepi.

Di dalam ruangan yang dikelilingi rak-rak besi itu, Marco sedang berdiri membelakanginya. Cowok itu sedang melempar sebuah kardus kosong ke lantai dengan sentakan kasar, napasnya naik-turun memburu di balik kaos hitam polosnya. Jaket bomber-nya sudah dilempar sembarangan ke atas meja kerja.

BRAK!

Haura menutup pintu kaca di belakangnya dengan keras, mengunci ruangan itu dari dalam agar tidak ada karyawan lain yang bisa mengintip.

"Marco Permana! Maksud kamu apa tadi di depan, hah?!" bentak Haura, melangkah maju menghampiri punggung tegap pemuda itu. "Kamu lancang banget ya! Siapa yang ngajarin kamu bicara sekurang ajar itu sama tamu saya?!"

Marco membalikkan tubuhnya dengan sentakan cepat. Sepasang mata cokelat gelapnya kini tampak memerah, berkilat penuh amarah dan rasa posesif yang liar. Ia melangkah maju, memotong jarak di antara mereka hingga Haura terpaksa mundur dua langkah sampai punggungnya membentur sekat kaca tebal di belakangnya.

"Tamu lo?" desis Marco, suaranya terdengar sangat serak, rendah, dan bergetar menahan cemburu. Kedua tangannya langsung mengurung tubuh Haura, bertumpu pada sekat kaca di kanan dan kiri kepala wanita itu. "Cowok necis itu lo sebut tamu, Haura? Setelah dia duduk sedekat itu sama lo? Setelah dia bikin lo ketawa manja kayak gitu di depan orang-orang?!"

"Dia teman SMA aku, Marco! Cuma teman lama!" balas Haura, mencoba menentang dominasi mata Marco meskipun jantungnya sudah berdegup menggila di dalam dada. "Kamu nggak punya hak buat ngatur siapa yang boleh datang ke ruko ini! Kamu itu cuma—"

"Cuma apa, Tan?! Cuma anak magang?! Cuma bocah tengil?!" potong Marco dengan gertakan rendah yang sarat akan frustrasi. "Semalam lo meluk kerah baju gue di teras, Haura. Lo nikmatin ciuman gue sampai merem-melek, lo belain gue habis-habisan di depan mak tiri gue! Dan sekarang lo mau bilang kalau gue nggak punya hak?!"

"Marco, kamu—"

Belum sempat Haura menyelesaikan kalimatnya, Marco sudah menundukkan kepalanya dengan kilat. Bibirnya kembali menyambar belah bibir Haura dengan tingkat keganasan yang jauh lebih parah dibandingkan semalam.

"Mmph!" Haura memekik tertahan di dalam pagutan panas itu.

Ciuman Marco kali ini bener-bener didorong oleh rasa cemburu buta yang membakar dada. Tidak ada ruang untuk negosiasi. Tangan kanan Marco bergerak cepat dari sekat kaca, naik mencengkeram tengkuk Haura dengan kokoh, memaksa kepala wanita itu untuk tetap menumpu pada pagutannya yang brutal. Sementara tangan kirinya merangsek ke pinggang Haura, meremasnya dengan posesif, mengangkat tubuh ramping itu hingga tumit heels Haura tidak lagi menyentuh lantai dengan sempurna.

"Sshh... Mar--co..." Haura melenguh pasrah di sela-sela lumatan panas yang menghajar bibirnya.

Marco menghisap belah bibir bawah Haura dengan rakus, mengulumnya berulang kali dengan ritme yang memburu dan menuntut. Suara kecapan basah yang samar mulai memenuhi ruangan logistik yang kedap suara itu. Lidah Marco dengan nekat menerobos masuk begitu Haura mendesah kehabisan napas, mengabsen setiap jengkal rongga mulut Haura, memaksakan dominasi mutlaknya agar wanita itu tahu siapa pemilik tubuhnya sekarang.

Haura mencoba bertahan, tangannya sempat memukul bahu tegap Marco beberapa kali, namun setiap pukulan itu justru dibalas dengan remasan yang makin erat di pinggangnya. Sentuhan panas dan gairah menggebu dari berondong berumur dua puluh tahun itu bener-bener melumpuhkan sisa-sisa pertahanan diri Haura. Perlahan, pukulan tangan Haura melemah, berubah menjadi cengkeraman erat pada kaos hitam Marco di bagian dada, meremas kain itu hingga kusut demi mencari topangan.

Haura terbuai lagi. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan kepalanya sedikit terkulai ke belakang mengikuti arah gerakan bibir Marco yang terus melumatnya tanpa ampun. Setiap kali Haura mencoba menarik napas, Marco justru memperdalam pagutannya, menghisap cairannya dengan sisa-sisa emosi cemburu yang perlahan mencair menjadi gairah yang membakar kulit.

Geraman rendah yang terdengar begitu seksi lolos dari tenggorokan Marco saat merasakan balasan yang mulai menuntut dari Haura. Marco sedikit menggeser posisinya, menekan tubuh Haura lebih rapat ke sekat kaca di belakang mereka, hingga Haura bisa merasakan detak jantung gila pemuda itu yang berhantam selaras dengan detak jantungnya sendiri. Ciuman mereka berubah menjadi perang lidah yang panas, basah, dan penuh dengan gairah muda yang meletup-letup.

Setelah beberapa menit yang bener-bener menguras seluruh pasokan oksigen di paruh mereka, Marco perlahan menarik bibirnya menjauh. Ia memberikan kecupan-kecupan kecil di sudut bibir Haura yang kini sudah bengkak berantakan dan basah karena ulahnya.

Napas keduanya berkejaran, terdengar memburu di dalam kesunyian ruangan. Marco menempelkan hidungnya pada hidung Haura, mata cokelat gelapnya yang semula penuh amarah kini meredup, dipenuhi oleh kabut gairah dan kepemilikan yang mutlak. Tangannya yang besar masih mengusap pinggang Haura di balik kemeja satinnya.

"Jangan pernah... ketawa kayak gitu lagi di depan cowok lain, Haura," bisik Marco, suaranya sangat serak dan berat, bergetar langsung di depan bibir Haura yang merekah. "Gue bisa gila kalau harus liat lo senyum manis buat orang selain gue. Lo cuma boleh ketawa lepas kayak tadi kalau lagi berdua sama gue. Paham?"

Haura hanya bisa menatap wajah tampan di depannya dengan pandangan sayu dan napas yang masih terputus-putus. Keangkuhannya sebagai Boss Lady benar-benar runtuh di bawah ciuman brutal sang asisten magang. Sambil meremas dada kaos Marco, Haura berbisik lirih, "Kamu... bener-bener berandalan egois, Marco..."

"Gue emang egois kalau itu urusannya soal lo," sahut Marco dengan senyum miring andalannya, kembali mengecup singkat hidung bangir Haura dengan gemas.

***

Dedek Marco cemburunya gragas bgt 🌚

1
apiii
yg sabar ya mar🥹
apiii
ditunggu bucinya tante haura🤣
apiii
manis bngt sihh berondongnya mau satu kaya marco bolehhh🤣
apiii
jangan pindah lapak🥲 thor soalnya cuma cerita dari novel author yg paling aku tunggu🥹
Penulis GenZ: nggak pindah lapak kak cuma aku nulis juga cerita disana hehe. yang disini tetep aku tamatin kok tenang aja ya😍
total 1 replies
apiii
kenapa sih itu mbah" ga bisa berkaca dari kejadian si cegill
Penulis GenZ: mbah² bgt nih kak🤣
total 1 replies
apiii
akhirnya up lagi❤️
apiii
semangat cogill🤣
apiii
emng bener berondong lebih menarik buktinya si haura sampai nggak berkutik🤣
apiii
sangat bagus alur ceritanya tidak membosankan dan membuat pembaca jadi penasaran
Indra P.
lannjutttt thorrr...
semangattt
apiii
semangat ya thor aku suka bangt semua novel yg author tulis
Penulis GenZ: jadi terharu mau nangis 🥺
total 1 replies
apiii
ngga kak asik bngt loh alur ceritanya aja bagus dan ya emg sekarang lagi musim kakak" pacaran sama berondong🤣
apiii
emng berondong itu bikin mabok kepayang🤣
apiii
berondong kesayangan🥲
apiii
mulai terpikat pesona berondong🤣
apiii
kayanya lucu klo mereka tbtb nikah🤭
apiii
jodohin haura sama si berondong tengil itu🤣
apiii
semangat up nya thor❤️
apiii
thor kenapa haura ketemu tua bangt🥲
Penulis GenZ: apanya yang tua🤣🤣
total 1 replies
English Lesson
menarik💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!