Di Alam Fana yang kejam, bakat adalah segalanya. Lin Ye, seorang pemuda dengan meridian cacat, ditakdirkan menjadi pelayan seumur hidupnya. Namun, nasibnya berubah ketika darahnya tak sengaja membangkitkan sebuah relik berkarat: Kuali Penelan Bintang.
Kuali kuno ini bukan sekadar alat pelebur pil, melainkan artefak primordial yang mampu melahap esensi langit dan bumi, bahkan menelan energi bintang-bintang. Dalam perjalanan kultivasi yang lambat, penuh perhitungan, dan berdarah, Lin Ye perlahan mengubah fisik fananya, menembus kemustahilan, dan melangkah ke jalan keabadian.
Ini bukan kisah pahlawan instan, melainkan seorang pemuda biasa yang merangkak dari debu, menentang takdir surga, dan pada akhirnya, melahap seluruh kosmos untuk melindungi apa yang ia hargai. Langit kesembilan pun akan gemetar di bawah kualinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starlope, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menelan Jagat Raya
Suasana di atas pulau batu giok putih itu terasa seperti terhenti dalam satu tarikan napas alam semesta. Sisa Kehendak Dewa Pedang Kuno, yang pernah menggetarkan seluruh Benua Awan Merah di masa kejayaannya, kini memancarkan kepanikan yang belum pernah ia rasakan bahkan saat menghadapi kematian ribuan tahun lalu.
Eksistensi pemuda di hadapannya menyalahi segala bentuk hukum surga.
"Kau tidak bisa melakukan ini! Jika kau menelan Inti Bintang itu, seluruh dimensi makam ini akan runtuh! Jutaan jiwa pedang dan ruang ini akan terhapus dari sejarah!" raung Sisa Kehendak itu. Cahaya perak di mata kerangka berjubah emas tersebut menyala menyilaukan, melepaskan sisa-sisa terakhir dari harga dirinya sebagai seorang dewa.
"Dao Pemutus Langit: Tebasan Penghapus Bintang!"
Kerangka itu tidak mengangkat senjata. Sebaliknya, seluruh pulau batu giok putih itu bergetar dan hancur, menyatu dengan kehendak sang Dewa Pedang untuk membentuk sebilah pedang cahaya perak raksasa yang panjangnya mencapai ribuan tombak. Pedang cahaya itu membelah lautan bintang di angkasa buatan tersebut, memampatkan ruang dan waktu, dan menebas lurus ke arah kepala Lin Ye.
Ini adalah serangan tingkat Dewa yang sesungguhnya. Meskipun hanya berasal dari seutas ingatan sisa, serangannya cukup untuk meratakan seluruh Sekte Pedang Awan Mengalir menjadi debu dalam satu kedipan mata.
Di belakang Lin Ye, Su Yue bahkan tidak bisa bernapas. Tubuhnya lumpuh total oleh tekanan mutlak dari tebasan tersebut. Matanya terbelalak, pasrah menyambut kematian yang begitu indah dan mengerikan.
Namun, target dari tebasan pemusnah itu, Lin Ye, bahkan tidak mundur satu langkah pun.
"Tebasan yang indah," puji Lin Ye dengan nada dingin yang kosong tanpa emosi. "Namun di hadapan Kualiku, semua yang memiliki energi adalah makanan."
Lin Ye tidak menggunakan teknik pedang, tidak juga menghindar. Ia hanya mengangkat telapak tangan kanannya yang kini sepenuhnya diselimuti oleh bayangan pusaran hitam raksasa dari Sutra Kekosongan Penelan Bintang. Pusaran bintang itu memancarkan aura Primordial yang maha buas, sebuah kegelapan mutlak yang menyedot bahkan cahaya itu sendiri.
WUUUSSS—SLLLURRP!
Pemandangan yang menghancurkan akal sehat pun terjadi. Tebasan perak raksasa yang mampu membelah dunia itu menghantam telapak tangan Lin Ye, namun tidak ada suara ledakan yang terdengar. Alih-alih menghancurkan Lin Ye, pedang cahaya itu terpelintir, melengkung, dan tersedot masuk ke dalam pusaran hitam di telapak tangan Lin Ye layaknya aliran air bercahaya yang dihisap oleh raksasa rakus.
"M-mustahil... Hukum Ruang dan Waktuku... dimakan?!" Sisa Kehendak Dewa Pedang itu mengeluarkan rintihan putus asa terakhirnya.
Lin Ye tidak memedulikan rintihan itu. Setelah menelan serangan terkuat sang dewa, tangannya terus bergerak maju, meraih Pecahan Inti Bintang Primordial berbentuk segi delapan yang melayang di udara.
Begitu jari-jari Lin Ye menyentuh pecahan batu purba tersebut, Kuali Penelan Bintang di Dantian-nya meledak dalam kegembiraan buas yang nyaris menghancurkan kesadaran Lin Ye. Benda itu langsung tersedot masuk menembus kulit tangannya, melesat langsung ke dalam perut Lin Ye.
Seketika, kerangka berjubah emas sang Dewa Pedang kehilangan sumber energinya. Cahaya perak di rongga matanya padam total. Tanpa suara, tulang belulang tingkat dewa itu lapuk dan hancur menjadi tumpukan abu putih yang tersapu oleh angin hampa. Dewa Pedang Awan Jatuh kini benar-benar mati, terhapus dari eksistensi tanpa menyisakan jejak karma apa pun.
Namun, Lin Ye tidak punya waktu untuk merayakan kemenangannya.
BOOOOMMM!
Sebuah ledakan energi yang besarnya tidak bisa diukur dengan akal sehat fana meletus di dalam Dantian Lin Ye. Pecahan Inti Bintang Primordial bukanlah benda fana. Itu adalah sisa-sisa inti dari sebuah gugusan bintang yang telah mati. Energinya terlalu kuno, terlalu murni, dan terlalu masif.
Kulit perunggu Lin Ye seketika retak-retak di ribuan titik, memancarkan cahaya keemasan yang sangat terang dari balik dagingnya. Darah merahnya sepenuhnya menguap, digantikan oleh darah emas murni yang mendidih layaknya lahar purba. Matanya berubah menjadi putih bercahaya tanpa pupil. Rasa sakit yang ia alami kini sejuta kali lipat lebih mengerikan daripada saat ia memakan Pil Limbah di ruang tungku.
"Kuali Bintang! Giling untukku!" raung Lin Ye di dalam hati, memaksakan kemauannya yang tak tergoyahkan untuk menahan energi bintang tersebut.
Kuali Bintang berputar dengan kecepatan tak terhingga. Alih-alih membuka meridian Lin Ye yang tersumbat, Kuali itu memaksa energi bintang purba itu menyatu dengan urat nadi, daging, tulang, dan organ Lin Ye.
Ini adalah momen transisi yang paling dihindari sekaligus didambakan. Lin Ye sedang menembus Puncak Tingkat Kesembilan Alam Bina Tubuh, memadatkannya, dan memampatkannya hingga melampaui batas fana.
Ia tidak membentuk "Fondasi Dantian" seperti kultivator Qi biasa di Alam Pembentukan Fondasi. Tubuhnya sendirilah yang berevolusi menjadi fondasi itu sendiri. Ia sedang menciptakan Fondasi Tubuh Primordial!
Sementara Lin Ye sedang mengalami perubahan wujud yang menentang langit, dunia di sekitarnya mulai runtuh.
Kehilangan Inti Bintang sebagai penopang dimensi, ruang hampa lautan bintang di dalam Makam Pedang itu mulai retak seperti kaca yang dipukul palu godam. Langit buatan hancur berkeping-keping, memperlihatkan kekosongan hitam pekat yang sesungguhnya. Jembatan kristal hancur berjatuhan, hukum langit dan bumi menjadi kacau balau, dan angin badai ruang—yang mampu merobek tubuh kultivator Inti Emas sekalipun—mulai menyapu segalanya.
"Senior!" jerit Su Yue, suaranya nyaris tenggelam oleh suara gemuruh dunia yang runtuh.
Pulau giok putih tempat mereka berpijak mulai terbelah. Su Yue tergelincir, jatuh ke arah retakan ruang yang menganga gelap di bawahnya. Qi es-nya sama sekali tidak berguna menghadapi badai ruang pemusnah ini.
Tepat saat tubuh Su Yue hendak tertelan oleh kekosongan hitam, sebuah tangan yang terasa sekeras intan dan memancarkan hawa panas yang menenangkan mencengkeram pinggangnya dengan kuat.