Anya Clarissa, seorang Arsitek Lanskap yang terbiasa menata keteraturan dari kekacauan tanaman, menemukan hidupnya sendiri berantakan. Ibunya, Mama Clarissa, terjerat hutang miliaran setelah ditipu oleh rekan bisnis butiknya. Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran datang dari Keluarga Arkatama, penguasa industri logistik laut yang legendaris.Devan Arkatama, CEO muda yang dingin, angkuh, dan efisien, sedang dalam posisi terhimpit. Sang ayah, Papa Arkatama, mengancam akan mencopot jabatannya dan mengalihkan warisan kepada sepupunya jika Devan tidak segera menikah dan memperbaiki citranya yang dikenal sebagai "Playboy Tak Berperasaan."Pertemuan pertama mereka di sebuah acara peresmian taman kota berakhir dengan bencana. Anya menganggap Devan adalah pria sombong yang tidak menghargai seni, sementara Devan menganggap Anya adalah wanita kelas menengah yang mencoba mencari perhatian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 26 : JEJAK YANG TERSAMAR DAN MATA-MATA AMATIR
Malam di kediaman Arkatama terasa lebih dingin dari biasanya, meskipun penghangat ruangan sudah disetel di suhu optimal. Anya Clarissa duduk di tepi tempat tidur, menatap layar ponselnya yang masih menampilkan foto kiriman Valerie. Foto itu buram, diambil dari sudut yang sulit, namun wajah Mama Clarissa di masa muda tidak mungkin salah. Pria di depannya—pria yang menjabat tangannya dengan begitu akrab—memiliki garis rahang yang sangat mirip dengan Anya.
"Siapa dia sebenarnya, Pa?" bisik Anya pada kekosongan, memanggil ayahnya yang telah tiada dalam ingatan, namun kini sosok itu terasa seperti orang asing.
Anya menyadari bahwa ia tidak bisa menanyakan hal ini langsung kepada Mamanya sekarang. Kondisi kesehatan Mama Clarissa baru saja stabil, dan tekanan dari kasus limbah kemarin masih menyisakan trauma. Jika Anya bertanya tanpa bukti yang kuat, ia hanya akan mendapatkan tangisan atau penolakan. Ia harus bergerak sendiri. Ia adalah seorang arsitek; ia terbiasa membedah struktur dari akarnya. Kali ini, ia akan membedah struktur keluarganya sendiri.
...****************...
Pagi berikutnya, setelah Devan berangkat ke kantor dengan ciuman di kening yang terasa sedikit menyakitkan bagi Anya karena rahasia ini, Anya memulai misinya. Ia tidak pergi ke studio. Ia mengenakan pakaian yang sangat biasa—jaket hoodie besar, celana jins, dan topi bisbol—agar tidak dikenali sebagai "Nyonya Arkatama" yang wajahnya baru saja menghiasi televisi.
Tujuan pertamanya adalah gudang penyimpanan arsip tua milik almarhum Papa Pramudya di pinggiran kota. Gudang itu kecil, berdebu, dan penuh dengan tumpukan dokumen proyek konstruksi yang sudah berumur puluhan tahun. Anya mencari satu hal: buku harian atau catatan keuangan pribadi tahun 1998, tahun di mana ia dilahirkan.
Selama berjam-jam, Anya bergelut dengan debu yang membuat hidungnya gatal. Ia membedah map demi map. Pekerjaannya sebagai arsitek lanskap membantunya memiliki ketelitian luar biasa. Ia memperhatikan detail kecil—stempel bank, alamat pengirim surat, hingga catatan margin yang ditulis tangan.
Hingga akhirnya, di dasar sebuah peti kayu tua, ia menemukan sebuah kotak beludru hitam yang berisi beberapa lembar surat saham atas nama sebuah perusahaan bernama "Prama-Darma Nusantara". Prama adalah nama ayahnya, tapi siapa Darma? Anya teringat pria dalam foto Valerie. Mungkinkah itu "Darma"?
Di tengah investigasinya, Anya merasa perlu mendatangi sebuah alamat lama yang ia temukan di surat-surat tersebut—sebuah rumah tua di kawasan Jatinegara. Namun, karena Anya bertingkah mencurigakan—berjalan mondar-mandir di depan rumah itu sambil memotret dan memakai masker—warga sekitar mulai curiga.
"Eh, Mbak! Sedang apa ya? Mau maling ya?" teriak seorang ibu penjual jamu gendong.
Anya panik. "Bukan, Bu! Saya... saya cuma mau lihat pohonnya! Pohon mangganya bagus buat desain taman saya!"
"Halah, maling mah alasannya macem-macem! Woi, ada maling!" teriak ibu itu lagi.
Anya terpaksa lari kencang, masuk ke dalam mobilnya yang diparkir agak jauh. Namun, sialnya, ia tidak sadar bahwa sejak tadi sebuah mobil sedan hitam milik tim keamanan Devan mengikutinya. Devan, yang merasa ada yang aneh dengan sikap Anya sejak semalam, telah memerintahkan ajudannya untuk memantau keselamatan Anya.
Satu jam kemudian, Devan menelepon Anya dengan suara yang terdengar sangat... aneh.
"Anya, kamu di mana?" tanya Devan.
"Aku... aku di studio, Devan. Banyak kerjaan," bohong Anya, suaranya sedikit terengah-engah karena habis lari.
"Oh, studio sekarang pindah ke depan tukang jamu di Jatinegara ya?" sindir Devan.
Anya terdiam. Sial. "Kamu membuntutiku?"
"Aku melindungimu, Anya! Tapi ajudanku bilang kamu dikejar massa karena dikira maling mangga! Apa yang sebenarnya kamu lakukan?!" Suara Devan terdengar antara marah dan ingin tertawa.
...****************...
Saat malam hari. Devan pulang dan menemukan Anya sedang mencoba membersihkan luka lecet di lututnya (akibat jatuh saat lari dari tukang jamu). Devan datang membawa kotak P3K dengan wajah yang sangat serius namun matanya berkilat jahil.
"Sini, biar aku obati 'Maling Mangga Arkatama' ini," goda Devan.
"Berhenti mengejekku, Devan! Aku sedang mencari sesuatu yang penting!" Anya bersungut-sungut.
"Sesuatu yang penting sampai harus memakai wig hitam pendek yang miring itu?" Devan menunjuk wig yang tergeletak di meja. "Anya, kalau kamu mau jadi detektif, setidaknya belajarlah pada Mama Sarah. Penyamaranmu itu sangat buruk."
Devan mengobati luka Anya dengan sangat lembut. Di sela-sela rasa sakit, Anya merasakan kehangatan yang luar biasa. Ia ingin bercerita, namun ia takut jika Devan tahu bahwa ia mungkin bukan "darah murni" Arkatama, Devan atau Papanya akan kecewa.
Setelah Devan tertidur karena kelelahan, Anya kembali membuka laptopnya. Ia memasukkan nama "Darma Nusantara" ke mesin pencari internasional. Hasilnya nihil, sampai ia mencoba mencari di arsip koran lama Prancis.
Ternyata, "Darma" adalah Darmawan Arkatama.
Mata Anya membelalak. Arkatama? Apakah itu berarti ayahnya memiliki hubungan darah dengan keluarga suaminya sendiri? Apakah ini alasan mengapa Papa Arkatama begitu ngotot ingin Devan menikahi Anya? Bukan hanya karena hutang Mama Clarissa, tapi karena ada sesuatu yang harus ditebus dari masa lalu?
Anya gemetar. Jika benar ia adalah seorang Arkatama, maka pernikahannya dengan Devan adalah hal yang jauh lebih rumit dari sekadar kontrak bisnis. Ini adalah penyatuan kembali dua cabang keluarga yang mungkin telah lama terpisah atau bertikai.
...****************...
Keesokan paginya, Anya mencoba mencari informasi tambahan dari Mama Sarah. Ia tahu Mama Sarah adalah kamus berjalan tentang sejarah keluarga besar.
"Ma, Anya mau tanya... Papa dulu punya saudara namanya Darma?" tanya Anya sambil pura-pura membantu Mama Sarah memotong sayuran.
Mama Sarah seketika berhenti memotong. Wajahnya yang biasanya ceria mendadak menjadi sangat serius, hampir setajam pisau di tangannya. Namun, sedetik kemudian, ia kembali tersenyum lebar yang dibuat-buat.
"Darma? Wah, kalau nama Darma sih banyak, Anya! Ada Darma si tukang bakso, ada Darmawan tetangga sebelah... Kamu nanya Darma yang mana?"
Anya tahu Mama Sarah sedang berbohong. "Darmawan Arkatama, Ma."
PRANG!
Gelas yang dipegang Mama Sarah jatuh dan pecah. Mama Sarah langsung panik dan mulai bertingkah lucu untuk menutupi kegugupannya. "Aduh! Ini gelasnya licin banget kayak belut! Pasti karena sabun cuci piringnya kebanyakan! Anya, kamu jangan nanya yang aneh-aneh ah, bikin Mama Sarah jadi grogi!"
Mama Sarah mulai membersihkan pecahan gelas dengan gerakan yang sangat heboh, sampai-sampai ia hampir terpeleset sendiri. "Ayo Anya, kita bikin kue saja! Jangan bahas orang-orang yang sudah... eh, maksud Mama jangan bahas sejarah lama!"
Anya semakin yakin. Ada rahasia besar yang disembunyikan keluarga Arkatama. Dan Valerie, dengan segala kelicikannya, telah menemukan lubang itu untuk menghancurkan mereka.
Pekerjaan Anya sebagai arsitek kini benar-benar ia gunakan untuk membangun "peta masa lalu". Ia mencatat setiap reaksi Mama Sarah, setiap dokumen di gudang, dan setiap foto yang dikirim Valerie. Ia menyadari bahwa hidupnya bukan lagi tentang tanaman dan gedung, tapi tentang benang merah yang mengikatnya pada pria yang kini tidur di sampingnya setiap malam.
Di sisi lain, Devan yang mulai curiga, diam-diam memerintahkan tim IT-nya untuk membobol ponsel Valerie. "Jika dia punya sesuatu untuk mengancam istriku, aku akan memastikan dia tidak punya apa-apa lagi untuk bernapas besok pagi," desis Devan di kantornya.
Babak baru penyelidikan dimulai. Antara cinta yang tulus dan darah yang misterius.