NovelToon NovelToon
12 Tahun Yang Terulang

12 Tahun Yang Terulang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Penyesalan Suami
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

Aku mencintainya selama 12 tahun.
Menikah dengannya selama 5 tahun.
Dan mati… karena cintanya.
Jika waktu bisa diulang, aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalnya.
Tapi kenapa…
saat aku benar-benar diberi kesempatan itu—dia malah mulai mencintaiku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Mobil sedan hitam milik Ayah Ridwan melaju tenang membelah kemacetan sore Kota Bandung. Di dalam kabin yang sejuk, Zivara Arthea menyandarkan kepalanya pada kaca jendela. Matanya menatap kosong deretan pohon mahoni yang tampak seperti bayangan buram. Ia merasa seperti seorang penonton dalam film yang sudah pernah ia tonton seribu kali, namun kali ini, ia dipaksa masuk kembali ke dalam layar sebagai pemeran utama.

“Vara? Kamu kenapa, Nak? Dari tadi Ayah perhatikan kamu diam saja,” suara hangat Ridwan memecah keheningan. Ia melirik putri tunggalnya dengan tatapan cemas khas seorang ayah yang sering meninggalkan anaknya demi tugas diplomatik.

Zivara sedikit tersentak. Ia menoleh, menatap wajah ayahnya yang tampak sepuluh tahun lebih muda—tanpa gurat kelelahan hebat yang ia ingat di masa depan.

“Enggak ada apa-apa, Yah. Cuma... sedikit pusing karena hari pertama kuliah,” jawabnya, mencoba memberikan senyum paling natural yang ia bisa. Namun, hatinya berdegup kencang karena ia tahu apa yang akan dikatakan ayahnya selanjutnya.

“Ah, mungkin karena kamu butuh suasana baru,” Ridwan mengangguk setuju.

“Ayah mau kasih kejutan. Hari ini kita akan pindah ke rumah baru yang sudah lama Ayah siapkan. Semuanya sudah beres, staf Ayah sudah memindahkan barang-barang besar tadi pagi.”

Zivara kembali memalingkan wajah ke jendela. Napasnya tertahan. “Pindah hari ini, Yah?” tanyanya lirih, meski ia sudah tahu jawabannya. “Iya. Lusa Ayah harus berangkat ke luar negeri untuk waktu yang cukup lama. Ayah nggak tenang kalau harus ninggalin kamu sendirian di rumah lama yang lingkungannya kurang terjaga. Di rumah baru nanti, keamanannya jauh lebih ketat. Kamu nggak perlu khawatir soal apa pun.”

Takdir memang tidak pernah bertanya. Zivara hanya bisa menghela napas. Di kehidupan sebelumnya, kepindahan inilah yang menjadi pintu masuk neraka yang ia sebut pernikahan. Karena di sana, di balik tembok rumah baru itu, ia akan menjadi tetangga Kaizar Ravindra. Garis hidup mereka akan saling bertumpuk, memaksa Zivara untuk terus melihat sosok yang menjadi alasan kehancurannya.

**

Proses perpindahan itu berlangsung cepat. Setelah makan malam singkat dirumah lama yang kini terasa asing, Zivara mulai memasukkan sisa barang pribadinya ke dalam koper. Ia memilah buku-buku sketsa DKV-nya dengan gerakan mekanis. Tidak ada antusiasme, hanya kepatuhan pada alur waktu yang menolak untuk dibelokkan.

Sepanjang perjalanan menuju perumahan elite di Bandung Utara, Zivara hanya membisu. Lampu-lampu kota yang berpendar keemasan berlalu di luar jendela mobil, menciptakan efek déjà vu yang menyesakkan. Setiap tikungan, setiap tanjakan menuju daerah Dago yang sejuk, seolah-olah terekam permanen dalam memorinya.

Hingga akhirnya, gerbang besi besar dengan ukiran elegan itu terbuka. Mobil berhenti di depan sebuah hunian modern minimalis dengan pencahayaan hangat.

“Gimana? Suka?” tanya Ridwan saat mereka turun dari mobil.

Zivara turun perlahan. Udara Bandung Utara yang tajam langsung menusuk

pori-porinya. Matanya menyapu halaman rumah yang luas, lalu tanpa sadar—seperti ada magnet yang menarik pandangannya—ia menoleh ke arah bangunan megah di sebelah kanan. Rumah keluarga Ravindra.

Lampu di lantai dua rumah itu menyala. Tirai jendelanya tertutup rapat, tapi Zivara bisa merasakan aura dingin yang terpancar dari sana. Jantungnya berdetak liar.

“Kenapa aku masih takut?” batinnya kesal pada dirinya sendiri. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya.

“Bagus, Yah. Vara suka,” bohongnya demi menyenangkan hati sang ayah.

* *

Malam semakin larut. Ridwan sudah terlelap di kamarnya setelah memastikan semua instalasi keamanan berfungsi. Zivara berdiri sendirian di balkon kamarnya, membiarkan angin malam menyentuh wajahnya yang letih. Ia butuh oksigen untuk menjernihkan pikirannya yang semrawut.

Matanya kembali menatap rumah di samping. Kamarnya kali ini berhadapan langsung dengan balkon kamar Kaizar—posisi yang dulu ia anggap sebagai keberuntungan luar biasa, tempat ia sering mencuri pandang di balik kelambu. Namun sekarang, posisi ini terasa seperti sel penjara.

Tiba-tiba, lampu balkon di rumah sebelah menyala. Pintu kaca digeser perlahan. Zivara membeku. Sesosok bayangan jangkung muncul, berdiri bersandar pada pagar balkon dengan gaya yang sangat ia kenal. Kaizar.

Zivara refleks mundur setengah langkah ke dalam kegelapan kamarnya. Ia tidak ingin terlihat. Tetapi, Kaizar seolah memiliki insting binatang buas. Pria itu menoleh tepat ke arah balkon Zivara. Untuk sesaat, di bawah sinar rembulan yang pucat, mata mereka bertemu. Jarak itu cukup jauh, namun bagi Zivara, tatapan Kaizar terasa begitu tajam, menembus lapisan pelindung yang coba ia bangun.

Zivara langsung memalingkan wajah dan masuk ke dalam kamar, menutup tirai dengan gerakan cepat dan tangan gemetar. Ia bersandar di balik pintu, mengatur napasnya yang memburu.

“Kenapa ini berbeda?” pikirnya panik. Dalam ingatannya dulu, Kaizar tidak pernah memperhatikannya di malam pertama mereka pindah. Kaizar bahkan tidak tahu ia punya tetangga baru sampai sebulan kemudian. Tapi barusan... tatapan itu... Kaizar seolah-olah sedang menunggunya.

* *

Di balkon sebelah, Kaizar Ravindra masih mematung. Tangannya yang memegang ponsel terasa dingin. Ia baru saja bermimpi—mimpi yang sangat aneh. Ia melihat seorang wanita yang wajahnya mirip dengan mahasiswi DKV tadi sore, menangis tersedu-sedu di sebuah ruangan gelap sambil memohon agar ia tidak pergi. Rasa sakit di dada akibat mimpi itu masih tertinggal, nyata dan menyesakkan.

Dan barusan, ia melihat siluet wanita itu lagi di balkon sebelah. Gadis yang sama yang menolaknya dengan begitu dingin di kampus. Kenapa dia ada di sini? Apa ini semua rencana? pikir Kaizar dengan alis bertaut. Namun, alih-alih merasa kesal karena merasa diikuti, ada desiran aneh yang mengalir di nadinya. Rasa penasaran yang belum pernah ia rasakan, bahkan pada Luna sekalipun.

* *

Sisa embun pagi masih memeluk pucuk-pohon cemara di kompleks perumahan elite itu. Bandung Utara di pagi hari selalu memiliki aroma yang khas; campuran tanah basah dan aroma pinus yang menenangkan. Namun, di dalam kediaman keluarga Ravindra, ada ketenangan yang terusik oleh rasa penasaran yang tidak pada tempatnya.

Aroma mentega cair dan kayu manis menyeruak dari dapur. Bunda Dila berdiri di sana, tangannya cekatan menata kue-kue tradisional ke dalam kotak porselen yang elegan. Ia adalah tipe wanita yang menjunjung tinggi tata krama bertetangga.

Sebuah langkah kaki yang berat dan ritmis terdengar menuruni anak tangga. Kaizar muncul dengan penampilan yang jauh dari kesan "Pewaris Ravindra" yang biasanya kaku. Kaos hitam polos membalut tubuh atletisnya, rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya masih menyisakan sisa-sisa kantuk—atau mungkin sisa dari mimpi buruk yang belakangan ini menghantuinya.

Ia menuju kulkas, meneguk air dingin langsung dari botolnya. Matanya yang tajam melirik kotak di meja.

"Apa itu, Bun?" suaranya serak khas orang baru bangun tidur.

"Hantaran balik untuk Pak Ridwan dan putrinya. Semalam mereka mengirimkan sup hangat, Bunda ingin membalasnya," sahut Dila tanpa menoleh. "Katanya Pak Ridwan itu diplomat hebat. Dan anaknya... siapa namanya? Zivara kalau tidak salah. Bunda sempat melihatnya sekilas semalam. Cantik sekali, lembut."

Kaizar terdiam. Botol air di tangannya menggantung. Nama itu lagi. Zivara.

"Anaknya... yang perempuan itu?" Kaizar bertanya, suaranya diusahakan sedatar mungkin.

"Iya. Kamu kenapa? Tumben tanya-tanya soal tetangga." Bunda Dila menoleh, menatap putranya dengan alis terangkat.

Kaizar meletakkan botol air ke meja dengan denting pelan. "Aku yang antar."

Hening sejenak. Bunda Dila menghentikan aktivitasnya, matanya memicing meneliti wajah Kaizar. Anak laki-lakinya ini biasanya lebih memilih dikurung di ruang kerja daripada harus berbasa-basi dengan tetangga.

"Tumben?"

Kaizar menyandarkan punggungnya ke meja, melipat tangan di dada dengan gaya santai yang dipaksakan.

"Mumpung belum berangkat ke kampus. Daripada Bunda jalan sendiri."

Bunda Dila tersenyum misterius. "Ya sudah. Kalau begitu, sekalian sampaikan undangan makan malam. Ayah dan Bunda ingin mengajak mereka makan bersama nanti malam sebagai perkenalan resmi."

"Oke."

"Cuci muka dulu. Jangan temui gadis cantik dengan wajah kusut begitu," goda Bunda Dila.

Kaizar hanya mendengus, namun ia benar-benar kembali ke atas. Di depan cermin kamar mandi, ia menatap pantulannya sendiri. Ia menyiram wajahnya dengan air dingin berkali-kali, berusaha menghapus bayangan mimpi tentang Zivara yang jatuh dari ketinggian.

Kenapa aku harus peduli? tanyanya pada diri sendiri. Namun, tangannya justru meraih botol parfum dan menyemprotkannya tipis di pergelangan tangan.

* *

Zivara sedang merapikan beberapa buku sketsa di ruang tamu ketika bel rumahnya berbunyi. Ia menghela napas. Sebagai anak diplomat, ia sudah terbiasa dengan tamu, namun entah kenapa jantungnya mendadak berulah.

Ia membuka pintu, dan pemandangan di depannya membuat napasnya seolah dicuri.

Kaizar Ravindra berdiri di sana. Bukan Kaizar yang memakai setelan jas kaku seperti di masa depan, melainkan Kaizar yang tampak lebih... manusiawi. Kemeja linen tipis yang tidak dikancingkan sepenuhnya, rambut yang tertata acak, dan aroma parfum maskulin yang sangat ia kenali.

"Aku tetangga sebelah," ujar Kaizar. Kalimat itu pendek, namun auranya sangat mendominasi. Ia menyodorkan kotak kue di tangannya. "Bunda kirim ini."

Zivara menatap kotak itu, lalu perlahan mengangkat matanya untuk bertemu dengan manik gelap Kaizar. Di masa lalu, momen ini akan membuatnya gemetar kegirangan. Tapi sekarang, ia hanya melihat pria yang pernah mengabaikan eksistensinya selama lima tahun.

"Terima kasih," jawab Zivara. Ia menerima kotak itu dengan gerakan anggun dan lembut. Tidak ada rona merah di pipi dan kegugupan yang ada hanya ketenangan yang dingin.

Kaizar sedikit tertegun. Ia terbiasa dengan wanita yang akan langsung tersenyum lebar atau setidaknya bersikap manis di depannya. Tapi Zivara? Gadis ini menatapnya seolah ia hanyalah kurir pengantar barang.

"Sekalian," lanjut Kaizar, suaranya sedikit lebih rendah, "orang tuaku mengundang kamu dan Pak Ridwan untuk makan malam nanti."

Zivara mengangguk kecil. "Akan saya sampaikan pada Ayah. Terima kasih atas undangannya."

Zivara bersiap menutup pintu, namun Kaizar menahan pinggiran pintu dengan telapak tangannya. Matanya menyipit, mencoba menembus pertahanan Zivara.

"Kamu..." Kaizar menggantung kalimatnya. "Kenapa aku merasa kita sudah pernah bertemu jauh sebelum kemarin?"

Zivara menatap tangan Kaizar di pintunya, lalu kembali menatap pria itu. Senyum tipis yang penuh rahasia muncul di bibirnya.

"Mungkin dalam mimpimu, Kak. Tapi dalam kenyataannya? Kita baru saja menjadi tetangga kemarin."

"Zivara," panggil Kaizar, kali ini nadanya lebih menuntut.

"Terima kasih kuenya, Kak. Sampai jumpa nanti malam."

Blam.

Pintu tertutup tepat di depan wajah Kaizar.

Kaizar berdiri mematung. Tangannya masih menggantung di udara. Ia belum pernah ditolak seperti ini. Penolakan Zivara bukan seperti penolakan gadis-gadis yang ingin dikejar, melainkan sebuah penolakan murni—seperti seseorang yang sudah benar-benar selesai dengan urusannya.

"Sengaja, ya?" gumam Kaizar pada pintu yang membisu. Ada rasa panas yang menjalar di dadanya. Bukan marah, tapi sesuatu yang lebih berbahaya: tantangan.

Di dalam rumah, Zivara bersandar pada pintu. Dadanya naik turun, tangannya yang memegang kotak kue sedikit gemetar. Sial, umpatnya dalam hati. Mengabaikan Kaizar ternyata butuh tenaga lebih besar daripada mencintainya.

Ia berjalan ke dapur, meletakkan kotak itu di meja makan. Ayahnya, Ridwan, masuk dengan setelan santai.

"Dari siapa, Vara?"

"Tetangga sebelah, Yah. Mereka mengundang kita makan malam nanti."

Ridwan mengangguk-angguk. "Oh, Pak Kevin ya? Tadi Ayah sempat bertemu beliau saat lari pagi. Orang yang hebat. Kamu tidak keberatan kan, Sayang?"

Zivara memaksakan senyum. "Tentu tidak, Yah. Lagipula kita harus menjaga hubungan baik dengan tetangga."

Menjaga hubungan baik, pikir Zivara sinis. Atau menjaga jarak agar tidak kembali jatuh ke lubang yang sama.

* * *

1
Zhang Wuyang (张五阳)
tak bisa berkata kata sih gw 🗿
nur
,jngn jd lemah vara
nur
hemm,, smkin menarik
Lusy Purnaningtyas
yg judul satunya gmn thor?
Lusy Purnaningtyas
penulisannya bagus. aku suka..
Lusy Purnaningtyas
semangat💪💪
MamDeyh
Blm up lagi nih kak/CoolGuy/
Dian Fitriana
update
YuWie
ternyata dari dulu si luna maya mmg jahara
YuWie
Luar biasa
YuWie
apakah luna sdh diperawani sama adrian
YuWie
lho lho kan cmn mimpi..tapi kenapa spt ikut mengalami kehidupan ke 2 dirimu kai.. dan pak dosen juga ya..kenapa kenal si kai..masih bingung meraba2 aku sbg pembaca
YuWie
malah rumit Zi..mimpi Kai malah membawanya terus mendekat ke kamu tuh..
YuWie
kok memujamu spt dulu..kau buka kartu kehiidupanmi tu Zi
YuWie
lha kok malah kai yg obses kie
YuWie
kehidupan 17th ke depan malah jadi mimpi buruk mu ya kai..kasiham2
YuWie
mau menjaih malah bikin penasaran kamu ziv
YuWie
mulai baca..semoga sampai yamat ya kak thor
Lusy Purnaningtyas
sama-sama genre reinkarnasi kayak zian yaa
aku
jd.....mereka bakal balik lg kah? 🙄🙄 kok gk adil buat ziva rasanya klo balik ma kai 😔😔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!