Dua saudari terjatuh ke sumur tua—terbangun di hutan belantara, menjadi buruan para pemburu; berusaha bertahan hidup ditengah intrik istana dan konflik asmara.
(Jika berkenan, follow Author di ig&tiktok untuk dapat melihat ilustrasi karakter dan berbagai cerita Author yang lain)
ig = @refinawriters
tiktok = @refinawriters
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. Seftia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penglihatan Li Hua: Pakaian Merah!
Saat Shu Hua sedang jalan-jalan bersama dengan Xiao Yan, Li Hua ditinggal sendirian di kediaman Xiao Yan. Tetapi, Li Hua merasa aman disana, terlebih mengingat di tempat itu dijaga ketat, bahkan banyak pelayan di segala sudut tempat itu.
Sesuai dengan apa yang Li Hua katakan tadi malam, hari ini dia ingin berusaha untuk bisa mengendalikan kemampuannya agar bisa membantu keberlangsungan hidupnya dan juga Shu Hua.
Dan hal pertama yang Shu Hua lakukan adalah dendan keluar dari kamar. Li Hua tidak bisa fokus di dalam kamar itu, di sana terlalu penggap dan Li Hua tidak bisa fokus. Dan karena itulah dia memutuskan untuk keluar, ingin mencari tempat yang tenang.
Namun, saat itu seseorang menghentikan Li Hua.
"Maaf, Nona. Nona ingin pergi ke mana? Biar saya bantu." Seorang pelayan dengan energi yang hangat. Dia peduli kepada Li Hua karena ia buta, dan bahkan pelayan itupun juga menawarkan diri untuk membantu Li Hua jika diizinkan.
"Jika kamu ingin membantu, apakah kamu bisa membawaku ke tempat yang sepi, sunyi dan penuh dengan udara yang segar? Kurasa untuk saat ini aku benar-benar memerlukan hal itu," ucap Li Hua kepada pelayan tersebut. Dan tentu saja pelayan itu tidak menolak.
"Bagaimana dengan danau di belakang, Nona? Di belakang rumah ini, ada danau yang dangkal. Danaunya indah, udaranya segar dan di sana pun juga sepi. Hanya ada suara kicau burung. Sangat cocok jika ingin menyendiri."
"Itu bagus. Jika tidak keberatan, tolong bawa ke sana."
Akhirnya Li Hua dengan dibantu oleh pelayan itu pergi ke tempat yang dimaksud. Dan benar saja, di tempat itu benar-benar sangat sunyi dan udaranya juga segar. Dan di tempat yang sepi itu, Li Hua ingin mencoba mengendalikan kemampuannya.
Dan untuk itu, Li Hua harus meminta pelayan itu pergi meninggalkan dirinya lebih dulu. Li Hua tidak bisa membiarkan lebih banyak orang tahu tentang kekuatannya.
"Sekarang kamu bisa pergi."
Mengatakannya memang mudah, tetapi bukan hal yang mudah untuk membuat pelayan itu pergi, terlebih lagi harus meninggalkan seorang wanita buta di tepi danau sendirian. Jika sampai terjadi sesuatu kepada Li Hua, bisa-bisa pelayan itu dihukum cambuk 100 kali!
"Nona, saya benar-benar tidak bisa melakukan itu. Jika terjadi hal buruk kepada Nona, bisa-bisa saya akan dihukum. Tolong kasihani saya, Nona."
Mendengar perkataan sang pelayan, Li Hua kini tidak bisa memintanya pergi lagi. Tetapi sebagai gantinya, Li Hua meminta kepada pelayan itu untuk melihat ke arah lain dan jangan melihat ke arah dirinya. Dan untung saja pelayan itu setuju.
Kini, Li Hua bisa memulai untuk memfokuskan pikirannya. Ia duduk bersila dengan tegap di depan danau, kemudian dengan lembut salah satu tangan Li Hua menyentuh air di danau itu, dan sesaat kemudian, Li Hua bisa melihat Shu Hua dan Xiao Yan yang saat ini sedang ada di pasar.
Li Hua tidak bisa melihat wajah mereka. Li Hua hanya tahu dari suara. Li Hua hanya bisa melihat tubuh, dan tidak dengan wajah.
Penglihatan itu berlangsung beberapa saat sampai tiba-tiba air danau itu meledak dan membuat pakaian Li Hua basah. Dan hal tidak masuk akal itu tentu saja membuat pelayan yang ada di belakang Li Hua langsung kaget dan ingin cepat-cepat membawa Li Hua menjauh dari danau itu.
"Nona, sepertinya berbahaya duduk di dekat danau itu. Tidakkah lebih baik Nona menjaga jarak? Dan tidak bisakah kita pergi saja, Nona?" Pelayan tersebut jelas takut pada situasi itu.
"Tidak apa-apa. Tadi itu hanya ikan besar yang tidak sengaja terpegang oleh tanganku. Dan jika kamu ingin pergi, tidak apa. Aku akan tetap di sini beberapa saat lagi," jelas Li Hua.
Pelayan itu tampak bimbang. Di satu sisi dia takut dan ingin pergi, tetapi di sisi lain dia khawatir kepada Li Hua. Rasanya tidak benar membiarkan Li Hua sendirian di sana. Dan tepat ketika dia benar-benar bimbang, suara halus Hao Lin terdengar.
"Kamu bisa pergi. Biar aku saja yang menjaganya di sini," ucap Hao Lin.
Setelah mendapatkan perintah langsung dari Hao Lin, pelayan itupun langsung pergi. Dan kini, di tempat itu hanya ada Hao Lin dan Li Hua.
"Kamu sedang apa?" tanya Hao Lin.
"Aku sedang berusaha untuk mempertajam kemampuanku. Semakin kesini, aku semakin merasa jika pengetahuan dasar itu harus dipahami dengan baik. Aku harus tahu segala hal tentang tempat ini supaya bisa bertahan hidup," jelas Li Hua.
"Kemampuan kalian berdua... itu benar-benar sesuatu yang mustahil. Bagaimana mungkin seorang manusia bisa melakukan hal seperti itu? Kalian seperti bukan manusia, tetapi seperti dewi yang turun dari langit. Apa itu adalah jati diri asli kalian?" Hao Lin kembali bertanya.
Li Hua tertawa. Dewi? Dari langit? Tentu saja tidak mungkin! Di dunia tempatnya berasal, Li Hua hanya gadis buta biasa yang mencoba untuk tetap melanjutkan hidup ditengah begitu banyak cobaan yang membuatnya ingin menyerah. Dan hanya gara-gara jatuh ke dalam sumur cincin itu... kehidupannya berubah total!
"Tidak. Kami hanya manusia biasa. Kami sama seperti kalian. Hanya saja... sedikit hal membuat kami terlihat berbeda. Tapi semua itu tidak mengubah fakta bahwa aku dan Shu Hua hanyalah manusia biasa. Kami akan terluka saat kami disakiti," ucap Li Hua.
"Apapun itu, aku senang bisa kenal dengan kalian berdua. Dan jika boleh aku bertanya, kamu melakukan apa sampai basah kuyup seperti ini?" tanya Hao Lin.
"Ada sesuatu yang harus aku lakukan. Dan jika kamu tidak keberatan, boleh aku melanjutkan pekerjaanku?" tanya Li Hua dengan senyuman canggung.
"Iya. Silahkan. Aku akan menjaga kamu dari belakang."
Sekali lagi, Li Hua berusaha untuk fokus, duduk dengan tegap dan kemudian menyentuh dasar danau itu lagi dan kali ini ia melihat terlalu jauh.
Istana besar... sebuah perayaan, tangisan dan amarah yang berapi-api dengan pakaian merah menyala!
Itu sebuah pernikahan!
"Li Hua!" teriak Hao Lin saat menyadari darah keluar dari mata Li Hua yang tertutup dengan kain putih.
Teriakan Hao Lin membuat fokus Li Hua pecah dan akhirnya penglihatan itupun menghilang. Dan saat sadar, Li Hua pun merasakan ada cairan yang keluar dari matanya; walaupun Li Hua tidak tahu cairan apa itu, tetapi Hao Lin memberitahu jika itu adalah darah.
"Matamu berdarah!" seru Hao Lin yang tampak panik.
Saat itu belum sempat Li Hua menjawab, tiba-tiba saja Li Hua merasa tubuhnya ringan, terhisap ke dalam lubang hitam dan kemudian secara tiba-tiba kesadarannya pun langsung hilang.
Li Hua jatuh pingsan dalam pangkuan Hao Lin.
-Bersambung-
Sungguh penasaran pasti shu hua bakal ngecincang Hao Lin dan Xiao Yan bakal kena nih 😄